
Aku tidak menyangka Arya adalah pemilik Dirgantara Group. Pemilik jasa transportasi, dan biro perjalanan yang terkenal. Ternyata itu Arya. Orang yang dalam beberapa bulan terkahir bersamaku, dan dia adalah suamiku. Aku tadi sempat kecewa mendengar pengakuaannya. Tapi, mau bagaimana lagi, dia melakukan itu ada alasan sendiri, dan kalau aku marah, aku akan dengan siapa? Hanya dia orang yang aku percaya, hanya dia orang yang mau aku repotkan, hanya dia orang yang sekarang peduli denganku, dan tahu apa yang aku butuhkan. Bagaimana bisa aku marah dengannya? Selama ini apa yang ia lakukan hanya untukku? Padahal aku adalah orang asing baginya, aku dan dia baru kenal sebentar, dan itu pun karena aku yang mengancamnya.
Mungkin, jika saat itu Arya adalah bos yang sangat sombong, bos yang sok cool, tidak mungkin dia mau menurutiku, dan tidak mungkin juga menggantikan tugas Asep untuk jadi sopir pengantin? Tidak ada bos yang seperti Arya, yang mau menjelma menjadi sopir. Kalau yang lain, mungkin dia cari sopir dadakan, sewa sopir dadakan yang hanya sehari saja? Tapi, dia malah turun tangan sendiri, dan menjelma sebagai sopir yang sangat bertanggung jawab dengan kliennya.
Kalau bukan dengan Arya, mungkin aku sudah dikembalikan pada orang tuaku, aku mungkin diturunkan di tengah jalan, apalagi tahu aku sedang hamil? Apalagi kalau sopir itu jahat, pasti aku diapa-apain? Untung saat itu aku dengan Arya. Orang yang sangat menghargai perempuan.
Sekarang aku sudah tahu siapa dia, dan malam ini dia mengajak aku tinggal di rumahnya, bersama dengan kedua orang tuanya. Aku tidak masalah tinggal dengan ibu dan bapak mertua, tapi apa aku sanggup tinggal satu atap dengan Arya? Apalagi satu kamar? Apalagi aku dan Arya menikah hanya sebatas kontrak saja. Ada perjanjian pernikahan yang mungkin terbilang konyol. Hanya dua semester, dan setelah itu, entahlah mau dibawa ke mana nasib pernikahanku dengan Arya?
Apa mungkin aku bisa hidup dengan Arya di sana? Sedangkan Arya masih sangat mencintai Naira. Aku tidak bisa kalau seperti ini. Semakin aku dekat dengan Arya, setiap hari bersama, apalagi sampai tidur bersama dalam satu kamar, semakin aku tidak bisa membuang jauh perasaan yang mulai tumbuh. Benih-benih perhatian dan kebaikan Arya semakin tumbuh di hatiku. Aku tidak tahu ini emosi sesaat, karena aku orang yang mudah jatuh cinta, atau memang karena sudah ada benih cinta untuk Arya yang ikut tumbuh di hatiku? Ini salah, iya ini adalah sebuah kesalahan kalau aku sampai menggunakan hati. Aku tidak boleh begini, Arya baik denganku bukan karena mencintaiku, karena dia peduli, karena dia tidak mau ada perempuan yang bernasib seperti ibunya.
Sesayang itu Arya dengan ibunya. Sampai ia pun rela meninggalkan orang yang sangat ia cintai demi ibunya. Ia tidak mau melihat ibunya sakit hati lagi jika masih bersama perempuan yang dicintainya. Dia rela semua cintanya berakhir hanya karena tidak mau melihat ibunya kecewa.
“San?”
“Iya, ada apa, Ar?”
“Dari tadi kok diam kamu?” tanya Arya.
“Ya pengin diam saja, lagian kamu juga diam, kan?” jawabku.
“Kamu mikirin apa? Sudah gak usah dipikirin, kamu aman sama ibu, sama bapak di rumah. Apa kamu mikir aku akan macam-macam kalau tidur bareng? Gak akan, San. Aku tahu batasannya, meski aku suamimu.”
“Ih gak gitu, Ar? Aku gak enak saja sama kamu, aku ini dah terlalu banyak merepotkan kamu, Ar. Apa aku tetap di sini saja?”
__ADS_1
“Kalau kamu di sini saja, aku yakin Fano akan terus mengejar kamu di sini, San. Dan, aku tidak mau kamu diganggu dia. Gak ada suami yang mau istrinya digangguin pria lain. Meski kita suami-istri kontrak saja, dan tidak saling cinta. Kamu itu tanggung jawabku, San. Segala bentuk apa pun yang membuat kamu gak nyaman, juga aku berhak menyingkirkannya. Aku mau kamu aman dan nyaman denganku,” ucap Arya.
“Kalau aku jadinya terlalu nyaman denganmu bagaimana, Ar? Sedangkan pernikahan ini hanya satu tahun saja?”
“Ya, i—itu ....” Arya juga bingung menjawab pertanyaan santi. “Sudah jangan pikirkan yang belum terjadi, San. Pokoknya kamu harus mau tinggal denganku di Jakarta. Kamu ada ibu, dan kamu juga bisa ketemu dengan mamamu, pasti mamamu senang mendengar kamu akan tinggal di Jakarta.”
“Ya sudah aku nurut sama kamu saja, Ar.” Jawabku.
“Oke malam ini kita tata-tata untuk pulang ke Jakarta. Urusan butik kamu, aku banyak orang di sini, biar nanti yang urus mereka. Kalau urusan kontak dengan beberapa Agency model, itu bisa aku atur, aku bilang saja, kamu harus off karena sudah mendekati melahirkan, jadi harus pulang ke Jakarta. Kalau mau lanjut, ya bisa saja sih, sekarang kan bisa apa-apa lewat online? Apalagi pakaian?” jelas Arya.
“Oke, aku nurut mana yang terbaik,” jawabku.
Aku tidak mungkin juga menolak Arya, karena aku tidak mau Fano menggangguku. Benar kata Arya, aku akan aman tinggal di rumahnya bersama ibu juga. Mama juga pasti akan senang, karena aku semakin dekat. Mama ingin menemuiku, tapi untuk ke Pekalongan tidak mungkin satu atau dua jam sampai, dan bisa langsung pulang? Butuh waktu seharian untuk bertemu aku, dan itu tidak mungkin, karena pasti papa melarangnya, papa sudah sangat membenciku, karena aku tidak pernah mau menuruti kata papa. Ya aku memang harus ikut Arya.
“Ar ....”
“Biar saja, San.”
“Nanti marah lho? Ayo diangkat?”
Arya menggeser icon hijau di ponselnya, lalu ia loudspeaker. Aku melirik Arya, karena tidak biasanya Arya menerima telefon Naira seperti ini.
“Ada apa, Nai?”
__ADS_1
“Arya, aku ingin ketemu kamu. Aku mohon, Ar, jangan memutuskan sepihak seperti ini. Aku tahu kamu pasti bohong denganku kalau kamu sudah menikah, kan?”
Aku mengangkat bahu, dan mengernyitkan kening di depan Arya. Menikah? Kok Naira bisa tahu Arya sudah menikah?
“Kamu tidak percaya, Nai? Aku sedang dengan istriku, Nai. Silakan bicara dengannya. Aku minta maaf, bukan maksud aku untuk meninggalkanmu, karena kalau aku terus denganmu, tidak akan pernah ada ujungnya, tidak mungkin ada titik terang di mana kita akan berhenti dan merajut mimpi dalam sebuah rumah tangga. Ibuku tidak merestui, Nai,” ucap Arya.
“Aku tetap tidak percaya kalau kamu sudah menikah, Ar. Apa tidak bisa bicara baik-baik lagi dengan ibumu, Ar? Aku sudah berusaha meyakinkan ayah, Ar. Aku berusaha mati-matian supaya Ayah dan ibu mau menerimamu kembali.”
“Nai, maaf, aku tidak bisa. Dan, aku benar-benar sudah menikah. Ini ada istriku. San, bicara saja.”
Arya menyuruhku untuk bicara dengan Naira. Ini kenapa Arya tiba-tiba memutuskan Naira? Kenapa dengan Arya? Hanya karena ibu gak merestuinya Arya memutuskan Naira? Memang gak bisa membujuk ibunya lagi? Bicara baik-baik kek?”
“San, ini bicara dengan Naira, supaya dia percaya.”
“Ehm ... tapi, Ar?”
“Ayo, bicara saja. Naira, ini ada Santi, istriku.”
“Hallo, Naira?”
“Kamu jahat! Kenapa kamu menikah dengan kekasih orang?! Aku yakin, kamu hanya disewa Arya untuk jadi istrinya. Kamu bukan istri Arya, kamu hanya istri sewaan!”
Aku hanya terdiam, mendengar Naira teriak seperti itu. Aku tidak tahu mau bilang apa? Aku tidak sanggup. Naira pasti sakit hati sekali. Aku memang istri sementaranya, tapi kenapa Arya melakukan semua ini? Aku tidak sanggup bicara dengannya, karena aku tahu, jika aku menjawab yang sebenarya, dia akan semakin sakit hati.
__ADS_1