Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 39 - Persalinan


__ADS_3

Meski telah menjalani persiapan yang cukup dan memadai, tak urung Santi gentar juga  menghadapi hari persalinannya. Ia seperti lupa semua yang pernah dilakukannya. Lupa anjuran dokter. Semua teknik yang dipelajarinya saat mengikuti senam hamil seperti terbuang menguap entah ke mana.


Santi merasa tegang, gugup, dan panik. Belum pernah ia mengalami peristiwa yang demikian penting dalam hidupnya ini. Berjuang menyambung nyawa, melahirkan anak dalam kandungannya.


Ketika di dorong di atas brankar menuju ruang bersalin malam itu, Santi menengadah menatap Arya yang berjalan menemani di sisi brankar. Dicengkeramnya tangan Arya erat-erat. “Jangan tinggalkan aku, Ar,” desahnya ketakutan. “Berjanjilah untuk menemaniku melewati detik-detik bersejarah dalam hidupku.”


“Kamu pasti sanggup melakukannya, San,” sahut Arya menghibur. Diusapnya punggung tangan Santi untuk menyalurkan kekuatan, lalu ia mencium punggung tangan Santi dan kening Santi.


“Siapkah aku menjadi ibu, Ar?” ucap Santi tertekan. “Aku tak ingin mengulangi nasib yang kualami pada diri anakku,” desahnya dengan menahan sakit di perutnya.


“Ambil hikah dari keadaan yang kau alami dengan papamu.” Kata Arya membesarkan hati Santi. “Sekaranglah kesempatan bagimu untuk membuktikan bahwa mencintai anak bukan dengan cara mengatur dan mengekangnya,” tutur Arya.


“Tapi, untuk memberikan yang terbaik, kadang orang tua terpeleset dengan cara memaksakan kehendak mereka kan, Ar?” tanya Santi sedih. “Dibutuhkan kekuatan untuk bisa mengingatkan diri kita agar tidak menjadi orang tua yang otoriter, melainkan harus menjadi orang tua yang bijaksana. Membimbing, bukan melarang tepatnya,” desah Santi.


“Ketika kamu kabur dari rumahmu dulu, kamu memiliki kekuatan basar dari dalam dirimu, Santi.” Ujar Arya dengan tersenyum tulus. “Dan sekarang aku percaya, kamu juga punya kekuatan luar biasa untuk menjadi ibu, yang mampu melahirkan dan mencintai anakmu. Membiarkan tumbuh menjadi apa pun yang dia inginkan.”


Santi menganguk mengerti apa yang Arya bicarkan. Santi masih harus menunggu pembukaan jalan lahir. Arya setia menemaninya, mendampinginya, tidak sedikit pun meninggalkannya. “Janji ya, harus kuat. Kamu perempuan yang kuat, San,” bisik Arya.


“Iya, temani aku ya, Ar. Sampai anakku lahir,” jawab Santi.


“Iya, aku di sini,” jawab Arya.


Santi masih menggenggam tangan Arya. Sesekali terlihat Santi meringis menahan sakit, dan air matanya terus menetes. “Ar, kalau ada apa-apa dengan aku, kamu jaga anakku ya, Ar? Sayangi dia dan cintai dia seperti anak kandungmu sendiri,” ucap Santi yang terdengar ngawur di telinga Arya.


“Jangan bilang macam-macam. Kamu pasti baik-baik saja, Santi,” ucap Arya dengan menyemangati Santi.


“Ar boleh aku bilang sama kamu?”


“Mau bilang apa, Santi?” tanya Arya.

__ADS_1


“Mungkin aku terlalu berani mengatakan ini, aku tahu pernikahan kita hingga sampai anakku lahir, dan sekarang aku akan melahirkan anakku. Mungkin sebentar lagi kita juga akan ....”


“Jangan diteruskan, San. Aku tidak mau mendengar itu. Kamu kenapa selalu bilang seperti itu sih? Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu, aku tidak akan melanjutkan perjanjian itu, kamu selamanya akan menjadi istriku, Santi!” Arya memotong ucapan Santi.


“Ar aku belum selesai bicara, main dipotong saja?” ucap Santi kesal.


“Memang kamu mau bicara apa? Mau bicara soal perjanjian, kan?”


“Bukan, aku mau bilang aku mencintaimu, Arya. Aku mencintaimu, entah kapan perasaan ini muncul, tapi aku tahu kamu masih sangat mencintai Naira,” ucap Santi.


Arya tidak percaya Santi mengungkapkan perasaannya seperti itu. Dia selama tinggal satu kamar, tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Santi, ia takut Santi menolaknya. Dan sekarang, saat menunggu detik-detik Santi akan melahirkan, Santi mengungkapkan perasaannya pada Arya.


“Tadi kamu bilang apa, San? Aku tidak mendengarnya,” ucap Arya.


“Aku mencintaimu, Ar. Jangan tinggalkan aku ya, Ar?” jawabnya.


Arya tidak peduli di ruang bersalin ada suster dan dokter, ia mencium kilas bibir Santi, “Aku juga mencintaimu, San. Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawabnya lirih, tapi mungkin masih terdengar suster dan dokter yang ada di dalam ruangan.


“Enggak, aku memang sudah jatuh cinta padamu, San. Aku saja yang selalu tidak berani mengungkapkannya,” jawab Arya.


“Terima kasih ya, Ar, kamu sudah membalas cintaku,” ucap Santi.


“Sama-sama, Sayang. Kamu yang kuat, ya? Demi bayi kita,” ucap Arya lalu kembali mengecup kening dan bibir Santi.


^^^


Mendengar Santi akan melahirkan, Halimah bergegas ke rumah sakit. Tapi, ia beranikan dulu pergi ke rumah suaminya, untuk  memberitahukan kalau Santi akan melahirkan.


“Kau tidak mau melihat Santi yang akan melahirkan, Her?” tanya Halimah.

__ADS_1


“Untuk apa menyaksikan anak haram lahir ke dunia ini? Kamu tahu akan seperti apa jadinya? Seperti sekarang ini, Halimah!” erang Hermawan.


“Kau benar-benar kejam, Her!” desis Halimah dengan sedih. Lalu ia pergi meninggalkan Hermawan. Ia langsung pergi ke rumah sakit yang diberitahukan Arya.


Hermawan mengembuskan napasnya berat, matanya sedikit mengembun, diusapnya perlahan. Sejenak ia mengingat saat Halimah akan melahirkan Santi saat itu. Dan saat itu juga ia harus kehilangan adik kandungnya, sungguh peristiwa yang tidak pernah Hermawan rasakan.


Hermawan mengambil mobilnya, ia langsung menancapkan gas pergi entah ke mana. Di luar tidak hujan, tapi Hermawan merasa kaca mobilnya mengembun. Ia menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit bersalin. Menembus kegelapan malam yang sekelam luka di hatinya.  Melintasi jalan sepi yang sesunyi perasaanya yang telah lama meradang.


Bukan. Bukan ke rumah sakit di mana Santi akan melahirkan, melainkan ia mendatangi klinik bersalin yang lain.


Hermawan turun seperti orang tersesat dan kehilangan arah. Ia menyusuri lorong-lorong klinik bersalin sendiri, dengan langkah yang gontai, dan menuju ke arah ruang bersalin. Di sana terdengar keriuhan persiapan persalinan. Suami yang hilir mudik  di kamar bersalin, dan dengan raut wajah panik menantikan kelahiran buah hati.


Hermawan melihat seorang laki-laki yang tengah keluar dari ruang bersalin, berjalan ke arah ruang bayi, mengekori suster yang menggendong bayinya. Hermawan melihat deretan bayi-bayi mungil di dalam ruang bayi lewat kaca. Ia melihat bayi yang mungkin bayi itu perempuan. Ia menyentuh kaca itu, membayangkan bayi itu adalah bayi Santi, cucunya yang telah lahir.


Dan di saat itu pula, Santi sedang melahirkan bayi perempuan dengan lancar dan selamat. Perawat mengulurkan bayi mungil yang lucu, menaruhnya di atas dada Santi.  Dengan tidak sabar dan haru, diamatinya buah hatinya dengan penuh kerinduan seorang ibu. Seolah ia telah ribuan tahun menantikan kehadirannya.


Tetes air mata bergulis dari pelupuk mata Santi. Bersyukur dan bahagia. Tidak puas-puasnya ia memandangi bayi dalam dekapannya, menyaksikan keajaiban Anugerah Tuhan di depan matanya. Seperti melihat dirinya sendiri dalam bentuk mini.


Bayi itu berkilauan,  karena kulitnya seputih mutiara. Alisnya tebal, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, cantik jelita seperti ibunya. Arya duduk di samping Sani, mengusap-usap pipi bayi itu dengan penuh kasih sayang.


“Cantik sekali anak papa,” ucap Arya dengan terus mengamati bayi yang masih di atas dada Santi.


“Kamu jadi memberikan nama Anindya kan, Ar?” tanya Santi.


“Jadi, Anindya Putri Dirgantara,” jawab Arya.


“Yakin mau memberi nama belakangmu di nama anakku?” tanya Santi ragu.


“Iya, kenapa tidak yakin? Dia kan anakku juga?” jawab Arya lugas.

__ADS_1


Saat itu, Halimah masuk, ia baru saja sampai, tapi langkahnya terhenti saat melihat kebahagiaan putrinya dengan Arya. “Harusnya mama juga mendampingimu, Nak. Mendampingi kamu melalui detik-detik paling sulit namun membahagiakan dalam hidupmu,” gumam Halimah.


__ADS_2