Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 20 – Ipul Yang Kelaparan


__ADS_3

Santi ikut menemui tamu dari keluarga Arya. Arya juga mengenalkan Saiful adalah bosnya, dan Asep itu rekan kerjanya sekaligus sopir pribadi Saiful. Ada sedikit rasa curiga pada diri Santi melihat Saiful. Pasalnya, Saiful di mata Santi tidak cocok sekali menjadi bos. Tidak ada kearifannya seorang bos di mata Santi. Penampilannya pun kalah dengan Arya yang hanya sebatas karyawannya. Mungkin karena Saiful orangnya humoris, jadi dia terlihat seperti kurang cocok jadi bos, ucapannya juga kocak sekali.


“Bisa kan saya cuti dua minggu lebih, Pak?” tanya Arya pada Saiful.


“Oh bisa, tenang saja, karena kamu ini karyawan paling rajin, jadi saya tidak pelit kasih cuti sama kamu,” jawab Saiful dengan sedikit kaku dan gugup.


Bagaimana tidak gugup? Yang tadinya hanya tukang lap-lap mobil sama bagian kebersihan tiba-tiba di suruh menjadi bos bohongan?


Arya sebenarnya juga mengetes Saiful bagaimana reaksinya jika ia tanya. Rasanya ingin terbahak melihat ekspresi wajah Saiful tadi, dan semuanya menahan tawa saat itu.


“Makasih lho Pak Ipul, sudah mengantar kami ke sini juga, kami tidak tahu harus membalas apa pada Pak Ipul,” ucap Rozak, yang membuat Ipul semakin deg-degan.


“Ah Pak Rozak ini, santai saja pak. Bapak tahu, anak bapak ini karyawan yang rajin sekali, dari dulu, bertahun-tahun dari ikut bapakku, Mas Arya ini karyawan yang paling rajin. Berangkat juga lebih awal, nanti bantu-bantu saya lap mobil, nyapu, ngepel, dan dia adalah sopir yang rajin kejar setoran, gak pernah mengenal lelah. Makanya mau cuti dua bulan pun saya tidak masalah,” jelas Ipul. Ipul semakin lancar biacaranya, biar saja, toh dia sudah dijejali uang yang cukup banyak dari Arya, jadi ia pede saja bilang seperti itu. Padahal kenyataannya dia yang jadi tukang lap dan tukang pel di kantor Arya, dan segala keperluan Arya juga Ipul yang kadang menyiapkan.


“Ipul makin lancar saja nih? Gak sia-sia bayar Si Ipul. Tapi gak usah bilang aku juga jadi tukang lap dan pel dong, Pul? Itu kerjaan kamu! Ah biarlah, biar Ipul bahagia, terserah bagaimana yang penting Santi tidak curiga denganku.” Ucap Arya dalam hati sambil menahan tawa saat mendengar Ipul bicara,


Rozak sebetulnya juga menahan tawa, ingin sekali Rozak menjitak kepala Ipul, yang bilang Arya tukang pel dan lap-lap. Tapi, biarlah Arya yang memintanya seperti itu.


“Ayo Pak, Bu, makan siang dulu, makanan sudah siap,” ucap Santi. “Pak Saiful, dan Pak Asep, ayo makan siang dulu,” lanjutnya.


“I—iya, Mbak Santi. Wah makanannya pasti enak nih, pasti ada makanan khas sini. Megono,” ucap Ipul dengan mata berbinar, membayangkan makanan yang enak dan lezat, apalagi dia sudah lama tidak makan megono yang khas buatan orang Pekalongan, karena Pak Rozak dan Arya sudah lama tidak mengajaknya ke Pekalongan.


“Iya, ada lho megono. Saya yang minta mbak di belakang, membuat megono,” ucap Santi.


“Ibu tahu, setiap malam Santi juga sukanya makan nasi megono. Kadang sampai habis empat bungkus itu, Bu,” ucap Arya.


“Ih Mas Arya ... kan namanya juga pengin, bawaan bayiku, Mas,” ucap Santi.

__ADS_1


“Iya gak apa-apa, ibu juga pernah merasakan seperti itu saat hamil Arya. Kalau pengin ya makanan itu-itu saja yang ibu makan. Yang penting kamu dan bayi kamu sehat, San,” ucap Arni.


“Ya sudah ayo makan dulu?” Santi mempersilakan semua tamu untuk menikmati makan siang.


Seusai makan siang Santi melihat Arya yang sedang  bercanda dengan Ipu, yang tak lain bosnya Arya. Santi tidak menyangka kalau Arya sangat akrab sekali dengan bosnya yang kocak itu.


“Pantas saja Arya dapat libur lama, mereka dekat sekali, bahkan dengan ibunya Arya saja dekat. Tapi, itu Pak Ipul kok gak pantas ya jadi bos?” ucap Santi lirih.


“Mbak Santi!” Asep berdiri di sebelah Santi yang sedang melihat Ipul dari kejauhan.


“Astaga Mas Asep? Ngagetin saja!” tukas Santi.


“Ngapain ngintip-ngintip Mas Arya sama Ipul pe’a?” tanya Asep.


“Hus sama bosnya bilangnya kok gitu?”


“Ya kan memang dia bos begitu?” jawab Asep.


“Iya juga sih, tapi memang dia itu bos paling kocak, paling songong juga sih, Mbak. Ya bagaimana gak sedikit songong, ya? Dia sama karyawan saja begitu? Makanya sering dikerjai karyawan, tapi kami semua memang menghormati beliau, meski ya sedikit begitu tingkahnya,” ucap Asep.


“Ya itu harus, kalian itu harus menghargai bos kalian. Tuh Arya juga, masa sama bosnya begitu tingkahnya? Berani dia ninju lengan Pak Saiful?” ucap Santi.


“Ya memang mereka kalau bercanda begitu. Jadi orang tua Pak Saiful itu juga sudah kenal lama dengan bapaknya Mas Arya, jadi ya begitu, sudah dekat sekali. Pak Saiful juga dari dulu dekat dengan Pak Rozak,” jelas Asep.


“Oh begitu? Tapi, rasanya kok gak pantas jadi bos ya? Malah lebih cocok Arya yang jadi bos? Gak cocok dia jadi sopir. Dia berwibawa sekali, sudah begitu dia tampan, dan cocok jadi CEO,” ucap Santi.


“Iya Mas Arya memang tampan, idaman para gadis tuh. Hayo udah jatuh cinta ya sama Mas Arya? Sudah sama Mas Arya saja, aku saja ikut senang Mas Arya mau menikah dengan Mbak, cocok sekali mbak sama Mas Arya. Tampan dan Cantik,” ujar Asep.

__ADS_1


“Ah Mas Asep ini bisa saja,” ucap Santi.


“Sudah aku mau ambil makanan lagi, tuh lihat bos saya kelaparan mungkin, dari tadi makan mulu!”


“Ya sudah sana Mas Asep ambil makanan lagi. Masih banyak lho di dalam, puas-puaskan saja makannya,” ucap Santi dengan terkekeh.


Pantas saja Arya orangnya slow dan kadang sedikit kocak, bosnya saja seperti itu rupanya, dan temannya juga sama. Tapi, memang Santi sudah terkesima dengan Arya.


“San, sadar ... kamu ini istri sementara! Hanya satu tahun, San! Dia juga masih cinta tuh sama mantannya? Kamu juga masih cinta sama Fano, kan? Eh tidak, aku tidak mau mengharap Fano lagi. Dia sudah sangat mengecewakanku dan menyakitiku!” ucap Santi dalam hati.


Santi berjalan mendekati Arya dan lainnya yang sedang menikmati makanan. Ia bergabung dengan mereka.


“Sini sayang, duduk samping ibu,” pinta Arni.


Santi mengangguk, lalu duduk di sebelah calon ibu mertuanya. Santi beruntung sekali memiliki mertua yang sangat baik, dan menerima dirinya apa adanya.


“Ehh ... ada Mbak Santi? Mbak makan lagi, Mbak. Ini masakannya enak sekali, megononya mantap. Pakai sambal terasi dan ikan asin nih, Mbak. Wuihh mantap, jadi nambah berkali-kali,” ucap Saiful dengan menikmati makannya.


“Iya, Pak. Dienakin saja. Makan sepuasnya, Pak. Mumpung masih di sini, nanti kalau balik ke Jakarta kan sudah tidak ada makanan khas sini? Ada juga tidak seenak di sini, kan?” ucap Santi.


“Iya benar, Mbak. Gak enak seperti di sini. Ini saya sudah ketiga kalinya makan. Mantap ini, biar sampai besok kenyangnya,” ucap Ipul dengan terkekeh.


“Pak Ipul ini kelaparan apa doyan, ya?” ucap Arya.


“Ini dua-duanya sih! Sudah biarkan bos kamu ini makan sepuasnya! Biar kamu bisa liburan sepuasnya juga! Mau kan libur sepuasnya, Mas Arya? Pengantin baru lho?”


“Iya dong jelas mau, Pak Ipul. Tapi, jangan ganggu liburan saya dengan istri saya, jangan telfon-telfon saya mulu, nanti kalau saya sedang sama istri suruh ke Jakarta karena banyak orderan?” ujar Arya.

__ADS_1


“Tenang tidak akan. Sudah saya makan lagi, masih lapar,” ucap Ipul.


Semua tertawa melihat kelakuan Ipul yang seperti itu, Arya menggelangkan kepalanya, karena kelakuan Ipul seperti orang kelaparan.


__ADS_2