Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 42 - Aku Tidak Mau Berdebat Dengan Papa


__ADS_3

Arya langsung melajukan mobilnya untuk pulang. Ia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan perdana istrinya. Memang Santi pernah memasak saat di pekalongan, tapi gagal, karena keasinan. Santi malah menangis dan membuang masakannya.


Arya sampai di rumahnya, ia langsung masuk dan mencari istrinya.


“Ma, Santi mana?” Tanya Arya pada mama mertuanya.


“Itu di kamar, sedang menyusui Anin,” jawabnya.


“Sepertinya sudah ada yang gak sabar pengin masak masakan istri nih?” Ujar Arni.


“Iya dong? Sepertinya di foto enak sekali, gak tahu rasanya nanti,” ucap Arya.


“Enak, ibu sudah mencicipinya,” ucap Arni.


“Ya sudah aku masuk kamar dulu.” Arya langsung masuk ke kamarnya, menemui Santi.


Arya melihat Santi sedang menyusui Anin, dengan posisi memunggungi pintu kamar.


“Anin masih menyusu, San?” tanya Arya.


“Iya, Mas. Jangan ke sini dulu, aku lagi nyusuin,” ucap Santi.


“Aku kan suami kamu, San?”


“Tapi kan kamu belum pernah lihat, Ar?”


“Kata siapa? Sudah lah pas kamu mau melahirkan Anin,” jawab Arya.


“Ih itu mah beda, itu kan pas aku gak sadar, karena lagi nahan sakit? Sudah sana dulu, aku malu, Ar” usir Santi.


Bukannya keluar, Arya malah mendekati Santi dan duduk di sebelahnya.


“Oh jadi begitu, ya? Aku baru tahu? Terus kapan nyusuin akunya?”


“Ih malah kamu ke sini! Sana ih keluar, aku malu, Ar!”


“Sudah, aku ini suamimu.”

__ADS_1


Arya malah tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Ia memerhatikan Anin yang sedang menyusu ibunya.


“Ih Mas Aryaaa .... Sana ih keluar dulu?!”


“Ya ampun San .... Lagian kalau tiap malam saja aku lihat kamu menyusui Anin kok?”


“Ih mas sana dulu!”


Arya tetap tidak beranjak dari tempat tidur. Ia malah mengusap kepala Santi dan mengecup kepalanya.


“Kamu itu istriku, kenapa mesti malu? Ya sudah aku tunggu kamu di luar, ya? Nanti temani aku makan,” ucapnya.


“Iya, sana, nih Anin mau aku taruh di stroller , biar aku bisa temani kamu makan,” jawabnya.


Arya mengambilkan stroller milik Anin. Santi menaruh Anin ke dalam strollernya. Lalu mendorong keluar untuk menemani suaminya makan siang.


Arya menikmati makan siang dengan istri, dan orang tuanya, juga mama mertuanya. Ini adalah makan siang yang spesial, karena semua masakan katanya Santi yang masak. Tidak terlalu buruk sih menurut Arya, tidak seperti kemarin saat pertama masak.


^^^


Halimah pulang ke rumah pukul tujuh malam. Ia melihat Hermawan sudah di ambang pintu menunggu dirinya pulang.


“Aku tidak mau berdebat dengan, Her! Apa kamu sedikit pun gak punya hati nurani untuk bertemu Santi?” jawab Halimah.


“Untuk apa aku bertemu dengan anak yang gak tahu diri itu?”


Halimah tidak memedulikan suaminya yang masih bersih kukuh memegang pendiriannya untuk tidak menemui Santi.


Hermawan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tengah, merenung dan sedikit memikirkan Santi. Dia ingat semua tentang Santi saat dulu, saat Santi masih kecil dan sangat dekat, juga menurut dengannya.


Hermawan mengambil ponselnya, ia menelefon Santi. Saat itu dia mengambil kontak Santi pada ponsel Halimah. Dia sebetulnya rindu dengan anak perempuannya itu, tapi dia gengsi, karena sudah terlanjur kecewa.


Telefon Hermawan diterima oleh Santi. Tapi dia matikan langsung. Hermawan bingung akan bicara apa dengan Santi. Dia masih tahu anaknya pasti sangat dengan dirinya.


Sejak itu sampai enam bulan, Hermawan tidak lagi menghubungi Santi. Ia tidak mau tahu soal Santi lagi, dan dia pun cuek jika Halimah bicara soal kelucuan anaknya Santi, tidak peduli dengan apa yang Halimah bicarakan. Dia biarkan saja, hanya diam, dan tidak peduli soal Santi.


^^^

__ADS_1


“Sampai kapan papa gak mau ketemu aku ya, Ar? Aku yakin saat itu papa yang menelefonku, tapi aku hubungi aku lagi gak pernah diangkat telefonnya,” ucap Santi.


“Sabar ya, Sayang ... Nanti juga akan ketemu kok, nanti papa pasti mau bicara sama kamu lagi,” tutur Arya.


“Kapan, Ar? Sudah satu tahun papa gak mau nemuin aku, Ar. Sampai Anin tujuh bulan papa gak mau menemuiku, padahal kamu tahu sendiri aku ke sana pun papa gak mau menemuiku, sekecewa itu papa denganku, Ar?” ucap Santi dengan berlinang air mata.


“Ya mau bagaimana, Sayang? Aku yakin papa mau kok menemuimu?” ujar Arya.


Santi ingin sekali bertemu papanya, ia rindu pelukan papanya. Meski dirinya selalu beda pendapat dengan papanya, tapi dia tidak ingin kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.


Sudah hampir tujuh bulan setelah melahirkan, Santi masih ditolak kedatangannya saat akan bertemu dengan papanya. Tapi Santi tidak mau menyerah, dia tetap ke rumah mamanya. Tidak peduli akan diusir lagi dari rumahnya.


^^^


Akhirnya Hermawan mengajak bertemu dengan Santi di cafe yang Hermawan tentukan.


“Mas, aku dari butik langsung ke Cafe menemui papa ya? Gak apa-apa, kan? Apa mas mau ikut?” pamit Santi, yang kegirangan pagi-pagi mendapat chat dari papanya, yang katanya ingin bertemu dirinya.


“Kamu sendiri gak apa-apa, San? Mungkin kalian biar punya quality time bersama? Aku juga ada rapat setelah pulang kerja,” jawab Arya.


“Oke, tidak masalah, Mas.”


“Nanti kalau kamu masih di cafe sama papa, aku akan menyusul kamu,” ucap Arya.


“Baik, nanti aku berkabar denganmu,” jawab Santi.


Arya hanya mengangguk. Akhirnya usahanya tak sia-sia untuk membujuk papanya Santi agar mau menemui Santi. Arya benar-benar merasa penuh perjuangan untuk merayu papa mertuanya itu.


“Benar kata Santi, ego papanya terlalu tinggi juga gengsinya. Memintanya menemui anak perempuan satu-satunya saja penuh syarat dan aturan. Ya aku tahu beliau kecewa dengan Santi, tapi tak seharusnya papa begitu. Yang sudah ya sudah. Apalagi Santi sudah minta maaf dengannya, tapi tetap saja tidak mau menemui Santi,” batin Arya.


^^^


Sore hari dia pergi ke cafe yang diberitahukan papanya. Dia bahagia sekali karena papanya ingin bertemu dengannya. Santi melihat papanya yang sedang duduk di sebuah tempat duduk yang ada di depan, di sebelah danau buatan yang ada di cafe itu.


Santi menatap papanya dengan tatapan sendu. Ia sangat merindukan papanya, melihat papanya sudah menunggu dirinya saja dia sudah bahagia sekali.


“Papa sudah lama?” Santi duduk di depan papanya.

__ADS_1


“Sudah tiga puluh menit, sudah jangan banyak basa-basi kamu mau bilang apa? Saya tidak banyak waktu. Menunggumu saja sudah sangat menyita waktuku!” jawabnya dengan tatapan tidak mengenakkan pada Santi.


“Aku ke sini karena kangen papa, itu saja. Aku mau minta maaf dengan papa. Terima kasih papa sudah mau menemuiku, terima kasih sekali, Pa. Tapi, kalau papa ke sini hanya mau mengajakku berdebat, maaf aku tidak mau!” ucap Santi lugas.


__ADS_2