
Sudah pukul tujuh malam, Anin belum juga pulang. Tadi Santi terpaksa menelefon Arya, menanyakan Anin rewel atau tidak, dan mau diantar pulang jam berapa. Kata Arya, Anin tidak rewel, tadi habis makan, dan sekarang sedang bermain dengan Arya. Arya juga mengirim foto Anin dengan dirinya yang sedang menemani Anin bermain.
“Kapan main bareng lagi, Bu? Ayah sama Anin kangen mainan bareng sama ibu. Anin aku antar pulang jam delapan ya, Bu?” Tulis Arya di bawah foto yang ia kirim pada Santi.
Santi tersenyum saat membaca tulisan tersebut, ia memandangi foto Anin dan Arya, bergantian. “Kalian berdua sangat mirip, meski Anin bukan darah dagingnya, kenapa hidung dan bibir Anin mirip dengan Arya? Ah mungkin karena di foto, kalau asli sepertinya beda kok,” batin Santi.
Santi bersiap untuk bertemu dengan Fano. Malam ini dia memenuhi ajakan Fano untuk makan malam. Santi memilih berangkat menggunakan taksi. Santi pamit dengan mama dan papanya untuk keluar makan malam dengan Fano. Tapi, dia pamitnya akan keluar menemui pengacaranya yang mengurus perceraiannya dengan Arya.
“Kamu mau ke mana, San?” tanya Halimah.
“Mau ketemu Jessi, Ma. Mau bicara soal gugatan cerai,” jawan Santi.
“Mama kira kamu akan bertemu Fano,” ucap Halimah.
“Kalau bertemu Fano kenapa memangnya, Ma?
“Kamu masih istri Arya, jangan macam-macam, Santi!” tukas Halimah.
“Santi mau cerai, Ma. Tidak masalah bukan?” jawab Santi. “Santi tidak mau berdebat lagi, Ma. Santi sudah ditunggu Jessi. Itu taksi yang aku pesan juga sudah datang.”
Santi langsung keluar rumah setelah pamit dengan mama dan papanya. Ia langsung masuk ke dalam taksi yang dipesannya. Santi menemui Fano di tempat yang sudah Fano beritahukan. Taksi Santi berhenti di restoran mewah, dan sudah terlihat Fano sedang menunggunya di depan restoran, dengan bersandar di mobil mewahnya.
“Maaf, sudah membuatmu menungu,” ucap Santi.
“Tidak apa-apa. Kamu sudah mau datang pun aku sudah senang sekali,” jawab Fano. “Ayo masuk,” ajak Fano.
Mereka duduk di tempat yang sudah Fano pesan. Para pelayan restoran langsung mengantar makanan ke meja mereka, karena Fano sudah memesankan menu makanan saat tiba di restoran. Makanan yang terhidang di atas meja adalah makanan yang paling mahal, dan paling rekomendasi di restoran tersebut.
“Ayo Santi, kita makan dulu, jangan dilihat saja makanannya,” ucap Fano.
__ADS_1
“Kamu pesan makanan kok banyak sekali, Fan? Kita hanya berdua lho? Mana bisa aku makan sebanyak ini? Kamu tahu sendiri aku selalu menjaga pola makanku, kan?” ucap Santi.
“Seorang ibu, harus makan yang banyak, jangan diet-diet lagi, bukannya kamu masih memberikan ASI untuk Anin?”
“Ya, Anin masih minum ASI, karena ASI ku masih lancar. Belum ada dua tahun, nanti dua tahun aku lepas ASI. Ya, meski tetap aku kasih susu formula, tapi sebagai pendamping saja,” jelas Santi.
“Ya sudah, ayo makan dulu.”
Santi menikmati makan malam dengan Fano. Ada rasa aneh dengan diri Santi. Biasanya dia makan di restoran mewah selalu bersama Arya, dan Anin. Sudah lama sekali dia tidak pernah keluar makan malam bertiga lagi setelah dirinya memutuskan berpisah dengan Arya. Sekarang, dirinya malah makan malam dengan laki-laki lain, yang tak lain adalah mantan kekasihnya, sekaligus ayah kandung dari Anin.
“Bagaimana perkembangan gugatan ceraimu, San?” tanya Fano.
“Tidak tahu, aku belum tanyakan lagi pada kuasa hukumku, yang jelas Arya tidak mau berpisah,” jela Santi.
“Aku sudah bicara dengan Zahra, aku akan mengurus perceraian, karena sudah bertemu denganmu lagi,” ucap Fano.
“Jangan lakukan itu, Fan! Meski aku bercerai, aku belum tentu akan mau dengan kamu, belum tentu aku mau kembali padamu, dan belum tentu Anin pun mau dengan kamu,” ucap Santi. “Kenapa kamu memandang perempuan dari fisik, Fan? Sepertinya Zahra sangat baik kalau didengar dari ceritamu?”
“Jadi maksudnya dia tidak bisa memiliki anak?” tanya Santi.
“Beberapa bulan yang lalu, kami memeriksakan diri ke dokter kandungan, konsultasi pada dokter kandungan, karena aku sudah ingin memiliki keturunan, ternyata rahim Zahra yang bermasalah. Kata dokter, besar kemungkinan Zahra tidak bisa memiliki anak,” jelas Fano dengan murung.
“Menyedihkan sekali,” cetus Santi iba.
“Kau tahu apa artinya perempuan yang tidak bisa memberikan anak kepada suaminya?” ucap Fano.
“Tapi itu bukan salahnya dia, Fan?”
“Bukan salahku juga kalau akhirnya aku ingin menceraikan dia, kan?” potong Fano. “Aku sudah berusaha menerima Zahra apa adanya. Tidak kah kau merasakan penderitaan yang kualami karena beristrikan perempuan gendut dengan badan yang tak jelas lekuk tubuhnya? Semua besar, dan kamu tahu perempuan di dekatku sempurna sekali bentuk tubuhnya, kamu pun begitu. Semua orang menatapku seperti iba ketika aku berjalan dengan Zahra, pasti orang membuly kami. Tapi, aku berusaha bersabar dan bertahan selama ini.”
__ADS_1
“Dan kau menyerah setalah mengetahui Zahra tidak bisa hamil?”
“Salahkah aku?” ucap Fano sedih. “Aku hanya ingin memiliki keluarga yang lengkap. Aku pernah berharapa, meski Zahra seperti itu memiliki tubuh yang tidak sempurna, dia bisa memberikanku keturunan, memberikanku kebahagiaan dengan melahirkan anak-anak yang cantik dan gagah.”
“Kamu salah kalau meninggalkan dia hanya karena dia tidak bisa memberikanmu keturunan, Fan!”
“Lalu apa yang kucari dalam perkawinan?” jawab Fano geram. “Cinta harus dijaga dan dirawat agar tumbuh semakin kuat dan indah. Dan hanya kehadiran anak-anak yang bisa mengisi kejenuhan perkawinan. Hanya kehadirn anak-anak yang membuat rumah tangga berdiri semakin kokoh.”
Santi melayangkan tatapanna ke luar jendela. Restoran yang sekarang ia kunjungi dengan Fano berada di pelataran taman yang luas dan diapit gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Di luar restoran itu terdapat air mancur yang dirancang bersusun-susun, sehingga pancaran airnya terlihat berirama dengan indah.
Fano mengulurkan tangannya, lalu menggenggam jemari Santi dengan lembut. “Maafkan aku, mungkin karena aku meninggalkanmu saat kamu hamil, sekarang aku memiliki istri yang tidak bisa memberikanku keturunan. Aku ingin kita hidup bersama, San. Kita rawat Anin sama-sama.”
“Kenapa baru sekarang?” desah Santi kecewa. “Setelah kamu mencampakkan aku, tidak mau bertanggung jawab, membiarkan aku dinikahi orang lain, dan lebih sakitnya kamu tidak mau mengakui Anin kalau dia darah dagingmu! Lalu kenapa sekarang kau minta aku dan Anin kembali?”
“Dulu aku masih ingin bebas, aku merasa masih sangat muda untuk menjadi seorang ayah,” desah Fano penuh penyesalan. “Aku kalut, aku bingung, takut, tak tahu harus berbuat apa.”
“Dan sekarang kau menyesal, Fan?!” cetus Santi pedih. “Kau baru menyadari bahwa anak memiliki arti yang demikian besar dalam hidupmu!
Fano menatap Santi dengan sungguh-sungguh. “Anin anak kita, Santi ... buah cinta kita.”
“Setelah dulu kau mencampakkanku dan tidak peduli pada kandunganku, masih pantaskah kau berkata seperti itu, Fan?” desah Santi perih.
“Aku minta maaf, aku menyesal. Izinkan aku menebus semua dosa-dosaku, mengembalikan semuanya yang telah terlewatkan. Aku mohon, kembalilah padaku, kita jalani semuanya dari awal, San,” pinta Fano.
“Aku tidak bisa, meskipun aku akan menjadi janda, Fan! Tidak akan aku kembali terperosok ke dalam jurang yang sama!” tegas Santi.
“Aku akan berubah, aku sungguh-sungguh, San. Aku ingin bersama kalian,” ucap Fano.
Santi diam menatap Fano yang memang terlihat sungguh-sungguh meminta dirinya kembali. Tapi, Santi sadar, dia seolah dipermainkan Fano.
__ADS_1
“Dulu kamu sama sekali tidak peduli padanya. Kamu bahkan tidak mau tahu apakah dia baik-baik saja? Dulu kamu pergi begitu saja, mencampakkanku dan Anin. Dulu kamu mana peduli aku mau menikah dengan siapa? Kamu mana peduli siapa yang akan menjadi ayah sambung Anin? Kalau sekarang kamu datang kembali hanya untuk merebut Anin, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Aku tidak akan kembali padamu, Fan! Meskipun aku sendiri, sudah tidak bersama Mas Arya lagi. Kamu juga harus tahu, tidak mungkin Anin akan mengenalimu, dan mau denganmu,” ucap Santi tegas.