
Santi masuk ke dalam mobilnya. Arya lalu mengemudikan mobilnya. Santi sudah merasa lega karena sudah tahu semuanya dari Zahra sendiri. Meski Zahra merelakan Fano untuk dirinya, tapi Santi masih berpikir untuk itu. Santi tetap tidak ingin jatuh ke lubang yang sama dengan kembali pada Fano.
“Bagaimana tadi?”
“Ya, seperti yang dikatakan Fano. Zahra memang yang menginginkan becerai,” jawab Santi.
“Lalu ini mau menemui Fano atau pulang?”
“Pulang dong, Mas? Ini Anin sudah tidur lho? Mungkin dia sudah lelah tadi nangis sambil teriak-teriak,” jawab Santi.
“Ya sudah kita pulang.”
Sesampainya di depan rumah Santi, Arya langsung turun dan membukakan pintu Santi. Saat sedang membukakan pintu Santi, tiba-tiba tubuh Arya terhuyung. Arya jatuh karena dipukul oleh seseorng yang tak lain adalah Fano. Melihat suaminya jatuh terhuyung tidak berdaya, dan Fano terus memukuli wajah Arya, Santi mendudukkan Anin dengan hati-hati dan dia langsung berlari untuk menghentikan perkelahian itu.
“Fano!” pekik Santi terperangah setelah keluar dari mobilnya. “Hentikan! Hentikan Fano!” teriak Santi, tapi Fano terus menghujani Arya dengan pukulan di wajahnya.
“Fano, stop!” teriak Santi.
“Jadi kau malah pergi dengannya? Dia yang membuat kamu tidak datang untuk merayakan ulang tahunku?!” Fano semakin mengamuk, dia memukul Arya lagi, anehnya Arya tidak melawannya. Ia membiarkan saja Fano memukulinya.
Padahal kalau mau, Arya pasti mau mengajak Fano berduel. Tubuh mereka sama-sama tegapnya, sama-sama tingginya, sama-sama kekarnya, pasti bisa terjadi perkelahian hebat. Tapi, Arya malah diam saja. Tentu membuat Fano semakin gemas ingin memukulnya terus.
Santi langsung bersimpuh ke bawah, meraih tubuh Arya yang sudah terkulai lemas. Dipenganinya wajah Arya denga hati terpukul. Darah segar mengalir disudut bibir lelaki yang sangat Santi cintai. Santi menatap wajah Arya yang rupawan itu dengan perasaan bersalah.
“Cukup, Fan! Cukup!” teriak Santi hampir menangis. Ditepiskannya ayunan tangan Fano yang akan memukul Arya lagi. “Cukup, Fano! Cukup!”
“Biar dia tahu akibatnya bila menantangku!” erang Fano kalap. Bahunya naik-turun karena kemarahannya yang meledak-ledak.
“Siapa, Fan? Siapa yang ingin menantangmu, hah?! Arya tidak salah apa-apa!” pekik Santi pilu.
“Tidak seorang pun yang bisa menghalangiku untuk kembali padamu, Santi!” erang Fano.
“Tapi kau tidak seharusnya main pukul orang begini, Fan!”
“Dia ingin menghancurkanmu, Santi! Dia ingin memisahkan kamu dariku!” erang Fano. “Dia akan menghalangi kita untuk kembali bersama lagi, San!”
“Kau salah besar, Fan! Justru Arya yang menyelamatkan hidupku, dan Anin. Saat dulu aku terpuruk dalam lumpur nista dan hina karena kamu. Dan, hanya Arya yang mau menoleh kepadaku, yang menolongku bangkit!”
“Tapi dia ingin merebutmu dariku! Merampas Anin dariku! Dan akan menghalangi kau untuk kembali padaku?”
“Siapa yang akan kembali padamu, Fano? Siapa? Aku? Tidak! Aku tidak akan pernah mau kembali padamu!” teriak Santi.
Saat itu air mata Santi meluncur jatuh. Menetes membasahi wajah Arya yang berada di hadapanya. Santi bermaksud untuk mengahpusnya, tapi tangan Arya lebih cepat menangkap jemari Santi. Sekejap kedua tangan mereka bergenggaman. Kulit mereka bersentuhan dengan begitu lekat. Seperti ingin mengalirkan kasih sayang yang sudah lama tidak teralirkan.
Santi mengusap wajah Arya yang basah karena air matanya. Lalu ia memapah Arya untuk berdiri. “Sudah sana pulang! Aku tidak akan bercerai dengan Arya! Semua masalahku sudah selesai dengan Arya, aku hanya ingin tahu saja, bagaimana kamu, ternyata masih sama, kau begitu arogan!” ucap Santi dengan menatap sengit pada Fano.
“Gak! Gak bisa begini, San? Aku sungguh ingin kembali padamu, Santi?” erang Fano.
__ADS_1
Santi hanya diam saja, dia tidak mau lagi berurusan dengan masa lalunya, tapi dia juga harus menyelesaikannya dengan cara baik-baik dengan Fano. Santi melihat asistennya keluar, karena mendengar keributan di luar. Santi memanggilnya, dan ia meminta bantuannya untuk mengambil Anin, dan membawa Anin masuk ke dalam. Takutnya Anin terbangun, dan takut melihat perkelahian.
“Bawa Anin masuk, Mbak. Saya masih ada urusan,” ucap Santi.
Santi masih memegangi tubuh Arya erat. Di hadapannya ada Fano yang wajahnya masih dipenuhi dengan kemurkaan.
“Aku pernah begitu mencintaimu, Fano ....” ucap Santi lirih. “Itu dulu, dulu Fano. Namun, apa yang kau lakukan padaku? Kau tidak peduli padaku yang tengah mengandung anakmu, kau bahkan menyerahkanku pada laki-laki lain? Dan laki-laki itu adalah Arya.”
“Sudah ku bilang, dulu aku belum siap secara materi untuk menikahimu, Santi!”
“Bukankah hanya cinta yang bisa merekatkan perkawinan?” tanya Santi pilu. “Dan sekarang sudah terlambat, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatiku untukmu, Fan,” ucap Santi.
“Gak, aku gak percaya! Kau masih mencintaiku kan, San?! Kau tidak mungkin meninggalkanku, Santi!” hardik Fano tidak terima. “Setelah aku becerai, dan kamu bercerai, kita akan membentuk keluarga yang utuh, Santi!”
“Kembalilah pada Zahra. Binalah keluarga yang kau idamkan bersama Zahra,” ucap Santi.
“Hanya bersamamu aku ingin mewujudkan impian itu, San! Hanya bersamamu!” seru Fano kalap.
“Getaran cinta kita hanyalah rekah masa lalu, Fan,” bisik Santi parau. Air matanya mengintip dari balik bulu matanya. “Hanya akan menyesatkan jika kita menjalaninya. Pergilah dari hidupku, Fan. Tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi.”
Santi memutar tubuhnya. Ia mengajak Arya untuk masuk ke dalam. Ia memapah Arya dan sesekali air matanya terjatuh. Kini santi tahu sekali perbedaan mendasara antara Fano dan Arya. Fano mempertahankan keinginannya dengan sikap berkuasa. Sedangkan Arya, dengan sabar menghadapi sikap dirinya yang sudah keterlaluan. Kasih sayang, cinta, dan kesabaran Arya membuat Santi yakin, hanya Arya yang bisa membuat dirinya bahagia.
Melihat Santi dan Arya berjalan semakin menjauh, membuat Fano semaki geram. Fano kira Santi tidak serius memutuskan itu, tapi sedikit pun Santi tidak kembali menoleh Fano.
“Kemabalikan Anin padaku! Aku ayahnya!” teriak Fano frustrasi. “Kalian tidak maungkin bisa melarikan Anin! Tidak mungkin memisahkannya dariku, dia anakku! Aku akan menuntutnya di pengadilan nanti, camkan itu!”
“Maksudmu?”
“Kita bicara di dalam. Di luar ada orang gila baru, aku takut dia culik kamu lagi,” ucap Arya dengan menyimpulkan senyumannya.
Mereka masuk ke dalam kamarnya. Anin sudah tertidur pulas di dalam. Santi mendudukkan Arya di ranjang, lalu mengambil kotak obat, untuk mengobati luka Arya. Selesai mengobati luka Arya, Santi berjalan ke arah meja lagi, menaruh kotak obatnya, dan mengambil kertas di laci. Surat gugatan yang sudah di tandatangani Arya.
Santi merobeknya di depan Arya. “Selamanya kamu milikmu, kita akan terus bersama,” ucap Santi lalu meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
“Kau yakin?” tanya Arya.
“Yakin.” Jawab Santi tanpa ragu.
“Kalau yakin, aku punya sesuatu untukmu, sebentar aku cari.” Arya beranjak ke lemari, untuk mengambi surat dari Naira. Naira menitipkan surat pada Arya untuk Santi.
“Ini kamu baca.” Arya memberikannya pada Santi.
“Apa ini?”
“Baca saja itu dari Naira.”
“Naira?”
__ADS_1
Arya mengangguk, lalu Santi membacanya. Di dalam surat itu, Naira hanya meminta maaf pada Santi, dan dia bilang, dia tidak akan mengusik hidup Santi dan Arya lagi, dan melarang Santi untuk tidak menceraikan Arya.
“Ini benar dari Naira?”
“Iya benar, ini ada videonya juga.”
Arya membukakan video Naira. Di dalam video yang berdurasi lima menit itu, Naira meminta maaf pada Santi. Dia mengenakan gaun putih seperti gaun pengantin. “Aku sudah bahagia, San. Ini suamiku. Sekarang kau berhak bahagia dengan Arya.” Itu kalimat terakhir Naira di dalam video.
“Jadi dia sudah menikah?”
“Iya baru kemarin. Papa kan ke luar kota sama ke nikahannya Naira. Papamu itu teman lamanya papanya Naira. Nih foto papamu di sana. Dan kenapa Naira mau menerima perjodohan ayahnya lagi, ya karena dia takut papamu akan marah besar pada ayahnya,” jelas Fano.
“Sudah ya, San? Tidak ada perjanjian lagi, tidak ada hitam di atas putih lagi dalam pernikahan kita. Kita jalani pernikahan kita dengan normal lagi, dan kita akan tinggal di rumah baru kita, tapi bukan rumah yang kemarin. Itu tidak jadi kubeli,” ucap Arya.
“Ya aku mau, asal sama kamu, Mas. Di mana pun,” jawab Santi.
“Aku mencintaimu, San.”
“Aku pun sama, Mas Arya.”
“Tidak ada lagi perjanjian apa pun, perjanjian kamu dan Naira, dan perjanjian pernikahan dua semester kita.”
“Iya tidak ada lagi, Mas. Yang ada hanya kita bertiga, aku, kamu, dan Anin.”
Santi memeluk tubuh suaminya, mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama lagi selamanya.
“Kita buat adik untuk Anin, yuk?”
“Ayuk ... aku sudah siap hamil lagi, aku sudah melepas KB ku,” jawab Santi.
“Kau kemarin bukannya melakukan dengan Fano?”
“Enak saja! Tidak lah! Dia menciumiku saja!”
“Sampai berbekas?”
“I—iya ... ma—maaf, tapi kalau kamu gak mau denganku lagi, ya sudah kita ....”
“Kita buat adik untuk Anin sekarang. Sudah lama aku liburan, Santi ... aku akan hilangkan jejak ciuman Fano di tubuhmu, dan sekarang hanya aku yang akan menyentuhmu, hingga nanti, hingga Tuhan mengambil nyawaku.”
“Hanya kamu yang aku izinkan untuk melakukannya lebih, Mas. Lakukanlah semaumu, kita bikin adik yang banyak untuk Anin, biar rumah kita ramai,” bisik Santi mesra.
“Boleh, ayo kita lakukan sekarang.”
Mereka kembali meleburkan rindu dan hasratnya setelah lama tidak tersalurkan. Mereka tidak akan membiarkan seorang pun memisahkan mereka dengan Anin.
“Berjanjilah untuk menjadikan cinta kita ini sebagai yang terakhir. Selamanya. Tak akan pernah tergantikan.” Bisik Arya yang sekarang sedang mencumbu Santi, di atas tubuh Santi.
__ADS_1