
Santi masih mengingat-ingat dulu, saat bersama mamanya. Hanya dengan mamanya dirinya merasa bebas, tidak ada beban dalam hidupnya, mamanya adalah partner terbaik, saat papanya terus mengekang dirinya. Namun, saat mamanya menyetuji papanya menyewa orang untuk menikahinya, Santi begitu kecewa dengan mamanya.
“Tapi, aku sempat kecewa dengan mama, yang sama sekali tidak bisa membelaku saat papa membayar orang untuk menikahiku. Mama terlalu takut dengan papa, mama terlalu tunduk dengan papa, apa pun yang papa lakukan, mau itu benar atau salah, mama selalu ikut saja dengan peraturan papa yang kadang tidak masuk akal. Entah kenapa papa bisa menjadi orang tua yang seperti itu. Otoriter, over protektif, apa-apa dilarang, dan akhirnya peraturan yang papa buat, aku langgar semuanya. Aku salah sih, aku sampai seperti ini. Papa melakukan itu semua juga mungkin karena sangat menyayangiku, ingin aku menjadi yang terbaik. Intinya seperti itu, tapi papa terlalu mengekangku sekali, membuat aku berontak dengan keadaan,” ucap Santi.
“Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknnya, Santi. Tapi, tidak boleh terlalu mengekang juga, karena itu akan membahayakan pergaulan anaknya. Ya seperti kamu sekarang. Harusnya sejak anak berusia remaja, orang tua menanamkan rasa saling percaya, anak harus mempercayai orang tua, begitu juga orang tua terhadap anaknya. Kalau orang tua maunya anak yang terbaik, tapi mengekang, malah akan menjerumuskan anaknya ke dalam lubang hitam. Benar begitu, kan?” ucap Arya.
“Iya sih, semakin anak dilarang, semakin penasaran ingin melakukannya, Ar,” jawab Santi.
“Ya sudah, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Ini juga pelajaran bagi kamu, kamu akan memiliki anak, dan tanamkan rasa saling percaya saat nanti anak kamu tumbuh dewasa,” tutur Arya.
“Apa aku bisa mengasuhnya seorang diri, Ar? Apa bisa aku mengasuhnya hingga ia dewasa dengan kekuatanku sendiri?” ucap Santi dengan raut wajah yang sedih, seolah dia tidak ingin pernikahannya dengan Arya selesai di dua semester saja.
“Jangan membicarakan yang belum terjadi. Kita memang harus menata masa depan supaya lebih baik, tapi bahan untuk menata masa depan masih berada di dalam perutmu. Lalui apa yang akan terjadi sekarang, Santi. Untuk itu kita pikirkan nanti,” ucap Arya.
Santi tidak tahu kenapa dia bisa bicara seperti itu. Seolah dia tidak ingin pernikahannya nanti dengan Arya berlalu dengan cepat, hanya sebatas di dua semester saja. Santi ingin pernikahan yang sempurna. Entah kenapa dengan Arya dia bisa seperti ini, merasakan hal yang nyaman, apalagi saat mendengar nasihat dari Arya. Tapi, Santi tahu diri, Arya melakukan ini hanya untuk menutupi aibnya saja. Dengan Arya seperti itu saja Santi sudah lega, ada orang yang bisa menerima dirinya apa adanya, tanpa pamrih, tanpa dibayar atau disogok oleh orang tuanya. Arya sendiri yang berniat untuk menikahi Santi, supaya menutupi aib Santi, agar anaknya tidak lahir tanpa ayah.
“Ar ...,” panggil Santi lirih.
“Iya, kenapa?” tanya Arya.
“Terima kasih, kamu sudah sampai sejauh ini menolong aku, dan kamu bertanggung jawab penuh untuk semua ini. Bahkan kamu ingin menikahi aku, karena untuk mempertanggung jawabkan kamu yang sudah membawaku kabur sampai sini. Aku sangat berterima kasih, Ar. Aku merasa berutang budi padamu, Ar,” ucap Santi.
“Jangan bicara seperti itu. Aku seperti ini memang aku harus tanggung jawab karena membawamu kabur. Dan, tidak mungkin juga kita satu rumah belum menikah? Aku juga tidak mungkin seenaknya menyentuh kamu tanpa ikatan, Santi?” ucap Arya.
“Memang ada niatan nyentuh aku?” tanya Santi.
“Ya kan nanti kalau kamu mau melahirkan, aku bakalan nemenin, aku yang bakalan gendong kamu, aku yang bakalan sering menemani kamu, membantu kamu, memang kalau kamu butuh aku bantu memapah kamu ke kamar mandi misalnya, aku tidak menyentuh tanganmu?” ucap Arya.
“Aku kira mau nyentuh apa?” ucap Santi yang pikirannya udah ke mana-mana mendengar Arya akan menyentuhnya.
“Yee ... lagian mau nyentuh apa? Aneh-aneh pasti pikiranmu!” tukas Arya. “Lagian, kamu saja yang minta tidur terpisah, bagaimana aku bisa nyentuh kamu setelah menikah? Aku juga mengerti sih bagaimana perasaan kamu, yang nantinya akan menikah dengan aku, orang yang baru aku kenal beberapa hari,” ucap Arya.
“Lagian aku juga terpaksa kok. Karena kamu terus mengancam mau mengembalikan aku pada orang tuaku,” ucap Santi.
“Ya iyalah, jelas akan aku kembalikan, kalau kamu gak mau ikut aturanku!” tegas Arya.
__ADS_1
“Tuh, ngancem lagi, kan?” ucap Santi kesal.
“Sudah sana tidur, tuh sudah jam sebelas malam,” ucap Arya.
“Lagian kamu sih ngajak ngobrol terus?”
“Kamu juga suka, kan?”
“Apaan, sih! Udah ah aku mau tidur, dan makasih gaunnya aku suka. Bye calon suami dadakan ....” Ucap Santi dengan berjalan ala-ala model dan masuk ke dalam kamarnya dengan melambaikan tangannya genit.
“Dasar, Santi!” tukas Arya dengan tersenyum.
Entah apa yang ada di dalam hati Arya, mendengar Santi menyebut dirinya calon suami dadakan membuat darahnya berdesir lirih, dan detak jantungnya semakin tidak karuan. Tingkah Santi yang genit tadi masih saja membayang di depan matanya.
“Kamu itu sebenarnya asik kalau diajak ngobrol. Sayangnya kamu kadang terlalu emosian orangnya,” gumam Arya.
Arya membereskan kopernya, dia membawanya masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang bersebrangan dengan kamar Santi. Pintunya salin berhadapan. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Arya melihat pintu kamar Santi yang sudah tertutup rapat.
Arya sebenarnya masih ingin berbicara dengan Santi soal pertemuannya tadi dengan mamanya Santi. Tapi, dia takut mengganggu mood Santi yang sedang baik. Dia juga tidak ingin membuat Santi marah.
Arya merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah dia membersihkan badannya. Rasanya dia ingin cepat-cepat istirahat, karena dia merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Baru saja Arya merebahkan tubuhnya, suara ketukan pintu dan suara Santi terdengar di balik pintu membuat Arya harus terpaksa beranjak lagi dari tempat tidurnya.
“Arya ....” Panggil Santi lirih dengan mengetuk pintu kamar Arya.
“Sebentar,” ucapnya dengan berjalan mendekati pintu.
Arya membuka pintunya, dia melihat Santi yang masih memakai gaun pengantinnya.
“Ada apa? Kok masih pakai gaun itu?” tanya Arya.
“Tadi aku foto-foto dulu pakai gaun ini, terus mau lepasin aku gak bisa melepas resletingnya, Ar,” jawab Santi.
“Lalu?” tanya Arya.
“Ehm ... boleh minta tolong bukain resletingnya? Mbak Sri sama Mbak Tati kan sudah tidur pastinya?” pinta Santi.
__ADS_1
“Ehm ... tapi ini Reslesting sampai bawah sekali, Santi?” ucap Arya.
“Ya mau gimana lagi, aku gak bisa bukanya, nyangkut di bagian atas, Ar. Padahal saat tadi aku pakai sendiri mudah kok,” ucap Santi.
“Ya sudah aku bantuin,” ucap Arya.
Arya perlahan menurunkan reslesting gaun Santi. Ada perasaan yang aneh pada diri Arya. Jantungnya berdegub kencang, apalagi dia melihat punggung Santi yang putih, bersih, dan mulus. Sungguh sangat sempurna sekali, kulitnya saja sangat bersihn dan mulus.
“Sudah, Ar? Jangan dilihat, nanti ada yang bangun,” ucap Santi dengan terkekeh.
“Apaan sih, ini emang nyangkut, dikit,” ucap Arya, karena memang resletingnya sedikit tersangkut. “Sudah, sana ganti baju terus tidur. Besok aku akan ajak kamu ke suatu tempat,” ucap Arya.
“Oke,” jawab Santi. “Jadi sudah nih lihatnya? Mau lihat lagi gak?” ucap Santi dengan tertawa.
“Gak usah macam-macam, giliran nanti udah sah aku sentuh kamu baru tahu rasa!” ucap Arya.
“Jangan dong! Harus sesuai kontrak dan perjanjian awal!” tukasnya.
“Makanya gak usah macam-macam kamu!”
“Iya enggak! Udah aku mau tidur!” Santi langsung masuk ke dalam kamarnya.
Kesal, tapi Santi malah tertawa karena melihat ekspresi wajah Arya saat melihat punggungnya sangat lucu. Pipinya memerah, dan sangat gugup sekali wajahnya.
“Kamu benar-benar memperlakukan perempuan dengan baik, Ar. Beruntung sekali kalau perempuan itu dicintai dan dimiliki kamu. Sayang sekali, kamu menikahiku, hanya untuk membantu aku keluar dari masalahku yang pelik ini saja. Bukan karena kamu mencintaiku,” ucap Santi lirih.
Santi menggantung gaunnya di lemari. Dari tadi dia pandangi terus gaun yang cantik itu. Entah kenapa Arya bisa tahu selera model gaun yang ia sukai.
Santi mencoba memejamkan matanya, tapi bayang wajah Arya yang lucu tadi masih terbayang di matanya. Ekspresi wajah Arya yang lugu dan setengah takut saat mebuka resleting gaunnya masih Santi ingat. Santi tersenyum sendiri membayangan wajah Arya yang sangat lucu dan tampan. Ya, Sabirna akui, Arya memang sangat tampan, dan Arya adalah sosok laki-laki yang berbeda dengan laki-laki yang ia kenal.
“Andai bukan pernikahan kontrak, andai juga Arya menikahiku karena memang menginginkan aku dan mencintaiku? Mungkin aku akan menjadi wanita yang paling sempurna karena sudah memiliki dirinya. Sayang sekali dia hanya menikahiku karena ingin menolongku.” gumam Santi.
“Eh, aku kok malah memikirkan itu? Apa jangan-jangan aku sudah mulai jatuh hati dengan Arya? Ah, masa secepat ini? Aku yakin ini hanya perasaan kagum saja padanya. Aku hanya mengaguminya, bukan karena aku mencintainya, atau aku jatuh cinta padanya,” ucapnya lirih.
Santi masih tersenyum membayangkan Arya. Dia masih belum bisa memejamkan matanya karena dia masih merasakan bayang-bayang wajah Arya yang belum lepas dari lensa matanya.
__ADS_1