Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 28 – Mantan Kekasihnya Kembali


__ADS_3

Naira tidak menyangka Arya ternyata sudah menikah. Naira benar-benar kecewa dengan sikap Arya yang seperti itu. Dirinya sudah berjuang meminta restu pada ayah dan ibunya supaya merestui hubungannya, tapi Arya malah menikahi perempuan lain, tanpa memberitahu, tanpa membicarakannya lebih dulu.


“Ayah bilang apa, dia itu sama kayak bapaknya? Bajingan, suka gonta-ganti perempuan! Ayah menyesal baik dengan dia lagi! Lupakan dia, bapak akan jodohkan kamu dengan laki-laki yang lebih dari bajingan tengik itu!” erang Santoso penuh kermurkaan.


“Naira mencintai Arya, Yah,” rintihnya dalam pilu.


“Cinta tidak sebodoh itu, Naira! Kau salah mencintai orang, kalau dia tulus mencintaimu, dia tidak mungkin menikahi perempuan lain! Cukup kamu mengecewakan ayah, Nai!”


Santoso berlalu meninggalkan Naira yang masih duduk tersungkur di lantai, di ruang tamu rumahnya. Ibunya dari tadi menenangkan Naira yang masih menangis, seusai Arya memutuskan hubungannya.


“Aku akan kembali mendapatkanmu, Arya. Aku yakin kamu belum menikah, itu hanya alasan kamu saja! Aku tidak terima kamu memperlakukan aku seperti ini, Ar!” batin Naira penuh dengan kekecawan.


^^^


Arya lega sudah bisa jujur dengan Naira soal pernikahannya dengan Santi. Meski hatinya harus sakit saat memutuskan itu. Dia tidak mau masalahnya semakin runyam, ditambah ia juga bohong dengan Santi soal pekerjaannya. Arya juga sedang memikirkan bagaimana caranya untuk jujur dengan Santi soal pekerjaannya.


“Satu persatu akan aku selesaikan semua masalahku. Aku sudah lega, sudah mengatakan yang sebenarnya pada Naira, meski aku pun sakit. Aku tidak mau semua ini berlarut, aku juga tidak mungkin meminta restu pada ibu dan bapak, kalau aku ingin serius lagi dengan Naira. Apalagi kalau ibu dan bapak tahu, kalau pernikahanku dengan Santi adalaha pernikahan hitam di atas putih. Aku memang pernah bilang dengan bapak, kalau aku akan menikahi Santi sementara, itu karena aku tidak percaya ibu akan merestuiku, tapi setelah aku tahu ibu merestui aku dan Santi, aku bilang sama bapak, aku menikahi Santi tidak sementara saja. Ya aku harus menyelesaikan kebohongan ini, entah nanti bagaimana tanggapan Santi setelah aku jujur,” batin Arya.


Arya melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Badannya sudah terasa pegal, apalagi seharian ini dia sangat sibuk, dan besok pagi juga dia harus kembali ke Pekalongan karena sudah rindu dengan Santi. Entah kenapa dia merasa ada yang kurang saat jauh dari Santi, padahal dia baru saja mengenal Santi, dan menikahinya juga karena tidak mau melihat Santi hamil tanpa suami.


“Kamu dari saja, jam segini baru pulang?” tanya Arni.


“Banyak sekali urusan yang harus Arya selesaikan, Bu,” jawab Arya.

__ADS_1


“Kamu kapan balik Pekalongan? Ibu ingin ikut, pengin lihat Santi,” tanya Arni.


“Besok siang Arya ke Pekalongan, Bu,” jawab Arya. “Pak, Bu bisa kita bicara?”


“Bicara apa?” tanya Rozak.


“Kita duduk di sana, Pak.”


Mereka duduk di kursi ruang tengah. Arya ingin menceritakan semuanya, ingin cerita kalau dirinya sudah benar-benar tidak berhubungan dengan Naira, dan akan fokus pada Santi.


Arya menarik napasnya dengan berat sebelum mengatakan semuanya. “Bu, Pak, tadi Arya ke rumah Naira.” Ucapan Arya membuat tatapan ibu dan bapaknya menajam.


“Kamu bilang apa? Menemui Naira? Kamu mau apa, hah?” tanya Arni dengan tatapan penuh kekecewaan, karena putranya masih berhubungan dengan anaknya Santoso.


“Arya, bapak kira kamu bisa menerima keadaanmu sekarang, yang sudah menjadi suami, tapi kenapa kamu masih menemui perempuan itu?” ucap Rozak.


“Ibu kira kamu masih dengan dia. Syukur kalau kamu memutuskan semua itu. Ibu sudah kadung sayang dengan Santi, meski dia keadaannya seperti itu, dan masa lalunya seperti itu. Semua orang pasti memiliki masa lalu kelam, dan tidak ada orang yang ingin terus terikat pada masa lalunya. Santi butuh support dari ibu, dia sedang mengandung, meski bukan anak darimu, setidaknya ibu bercermin pada diri ibu sendiri, kakung dan utimu sangat sayang dengan kamu, meski kamu bukan anak bapak. Masa ibu tidak boleh sayang dengan anaknya Santi, meski anaknya bukan darah dagingmu?”


“Terima kasih, Bu. Sekarang tinggal satu lagi yang ingin Arya selesaikan, Bu. Arya ingin jujur dengan pekerjaan Arya pada Santi. Aku tidak mau membohonginya lagi, Santi juga sudah sedikit curiga soal nama perusahaanku, ibu tahu kan, itu memakai nama belakangku?” jelas Arya.


“Lebih cepat lebih baik, Ar. Memang seharusnya kamu jujur dengan Santi, sebelum dia tahu dari orang lain,” tutur Rozak.


“Benar kata bapak, kamu harus jujur, meski nantinya Santi akan kecewa, tapi setidaknya kamu tidak lagi membohonginya,” ucap Arni.

__ADS_1


“Iya, rencana besok Arya akan jujur dengan Santi, Bu. Aku juga semakin tidak tega kalau harus meninggalkan dia lama-lama. Dengan status kerjaku adalah sopir travel, tidak mungkin akan libur terus kan, Bu?” ucap Arya.


Setelah mendapat dukungan dari ibu dan bapaknya, Arya semakin yakin untuk jujur dengan Santi, apa pun tanggapan Santi nanti, marah atau tidak itu urusan nanti. Pasti Santi juga akan tahu, Arya membohongi dirinya karena apa.


^^^


Arya sudah bersiap untuk berangkat ke Pekalongan, ia lebih dulu membelikan oleh-oleh untuk Santi. Asinan bogor pesanan Santi yang dari semalam Santi ingatkan melulu. Tadi pagi pun Santi juga mengingatkan lagi untuk tidak lupa membawakan asinan bogor yang ia pesan. Sebetulnya di toko kue yang ada di dekat butik Santi juga ada asinan bogor, tapi tidak seenak yang biasa Santi makan saat di Jakarta.


Arya sudah tidak sabar melihat ekspresi istrinya nanti saat pulang membawa oleh-oleh yang diinginkannya dari kemarin.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Arya sampai di depan rumahnya. Ia melihat ada mobil terparkir di depan rumahnya, entah mobil siapa Arya tidak mengenalinya.


“Mobil siapa ini?” tanya Arya lirih.


Arya langsung masuk ke dalam. Ia melihat Santi duduk di depan seorang laki-laki, entah siapa Arya tidak tahu. Mungkin rekan kerja Santi. Tapi, jika rekan kerja, tidak mungkin laki-laki itu menggenggam tangan Santi dan menatap wajah Santi dengan penuh kerinduan.


“San, siapa?” tanya Arya yang melihat raut wajah Santi sedikit sendu.


“Ar, maaf bisa aku jelaskan,” ucap Santi dengan melepaskan tangan pria itu.


“Oh lanjutkan saja. Ini ada oleh-oleh buat kamu, aku taruh di kulkas, ya? Biar asinaannya enak waktu dimakan nanti,” ucap Arya.


“Iya, Ar,” jawab Santi.

__ADS_1


“Fano, lebih baik kamu pulang, aku sudah jelaskan berkali-kali denganmu, aku sudah menikah,” ucap Santi yang memaksa Fano untuk pulang.


Arya menghentikan langkahnya, benar dugaannya, pria itu adalah Fano, mantan kekasih Santi, dan ayah dari bayi yang Santii kandung.


__ADS_2