Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 12 – Gaun Pengantin


__ADS_3

“Bagaimana, Ar?” tanya Santi dengan memperlihatkan gaun putih yang cantik, yang sudah membalut tubuhnya sempurna.


Meski di kehamilannya yang akan memasuki bulan ke enam, perut Santi masih terlihat kecil, tidak terlihat terlalu membuncit. Memang postur tubuhnya yang seperti itu, tinggi dan sempurna, tidak heran karena dia seorang model yang cukup terkenal. Jadi, sedang hamil enam bulan perutnya tidak terlalu terlihat membuncit.


“Ehm ... sempurna,” jawab Arya dengan senyuman yang menampakkan dirinya kagum dengan kecantikan Santi.


“Tapi, perutku, Ar? Masa ada pengantin yang sudah membuncit seperti ini?” keluh Santi. “Apa nanti aku pakai stagen saja biar bisa tersembunyi perut buncitku?” imbuhnya.


“Kamu mau membunuh anakmu, San?!” tukas Arya.


“Aku malu, Ar,” ucapnya dengan menunduk.


“Di sini tidak ada yang mengenalimu, Santi. Paling Mbak Sri dan Mbak Tati saja, terus pemilik rumah ini yang dikontrak kita?” ucap Arya.


“Tapi bagaimana kalau penghulu tanya?” tanya Santi.


“Kamu tidak usah pusing mengurusi itu. Aku yang akan mengurus semuanya! Pokoknya kamu jangan aneh-aneh! Enggak ada acara pakai stagen, dan menyembunyikan perut buncitmu itu. Sudah cukup kamu menyiksa anakmu dari kemarin, Santi!” tegas Arya.


“Dari kemarin kapan? Sok tau!” tukas Santi.


“Mbak Sri bilang kamu dari kemarin mukulin perut kamu. Maunya apa sih? Kasihan anak kamu!”

__ADS_1


“Anak ini menyusahkan hidupku, Arya. Aku ditinggal pergi kekasihku, lalu dikekang sama papa dan di suruh nikah sama orang bayaran papa? Lalu anak ini menyengsarakan hidupku, dia membuat aku diputuskan kontrak kerjaku secara sepihak oleh beberap agency. Untuk apa dia hidup, Arya? Kalau pun hidup, dia tidak mungkin bahagia, dia tidak diakui ayah kandungnya, dia jadi anak haram. Jadi, lebih baik dia lenyap dari dunia ini,” ucap Santi yang semakin ngelantur dengan tatapan kosong.


“Kamu sadar gak sih bilang gitu? Anak kamu berhak bahagia Santi! Jangan pikirkan apa pun, fokus dengan kehamilanmu, aku janji, aku akan beri modal kamu untuk kembali kamu buka butik. Kamu gunakan kemampuan kamu sebagai desainer lagi, kamu pasti bisa, Santi. Jangan seperti itu, jangan menyerah, semua pasti ada jalan keluarnya,” tutur Arya.


“Modal buka butik tidak satu dua juta, Arya! Puluhan juta, bahkan sampai ratusan juta! Mau dapat uang dari mana kita?” ucap Santi.


“Aku punya tabungan, semoga itu cukup untuk modal awal usaha kamu setelah kita menikah. Anggap saja itu hadiah pernikahan dariku untukmu. Di luar dari mahar. Anggap itu hantaran atau sesrahan dariku. Modal untuk buka usaha kamu,” ucap Arya.


Meski Arya bilang ke mamanya Santi dan orang tuanya, uang pemberian dari mamanya Santi untuk membuka usaha Santi, tapi sebenarnya Arya memang sudah menyiapkan anggaran untuk modal kerja Santi. Mau gimana lagi? Santi sering meminta untuk kerja, sedang tiga bulan lagi Santi akan melahirkan. Perusahaan mana yang akan menerima Santi untuk bekerja? Wanita yang sedang hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan tentu sulit untuk mencari pekerjaan. Karena itu, Arya berinisiatif untuk membuka butik dari uang tabungannya sendiri untuk Santi, dan uang dari mamanya Santi akan ia kasihkan nanti pada Santi di saat waktunya sudah tepat.


“Ngayal kamu! Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?!” tanya Santi yang seperti tidak percaya pada Arya.


“Siapa yang mau sementara? Orang kamu yang mau?” ucap Santi.


“Aku? Bukannya kamu yang menolak?” ucap Arya.


“Tapi kamu tang minta hanya satu tahun saja, kan?”


Arya sebenarnya tidak mau main-main dengan pernikahan. Dia minta hanya satu tahun, karena dia tahu, Santi tidak menginginkan pernikahan ini. Dan, memang Arya hanya ingin sebatas membantu saja. Daripada sering bersama, tapi tidak ada ikatan, itu nantinya akan membahayakan buat dirinya dan Santi. Nantinya pasti akan menimbulkan fitnah, dan bisa jadi Santi menjadi bahan gunjingan orang.


Namun, Arya paham dengan Santi. Dia hanya ingin kekasihnya kembali lagi padanya. Arya pun sama, dia masih tetap mengharap Naira, mencintai Naira, tapi tidak mungkin dirinya bersatau dengan Naira, terlebih ayahnya Naira sudah mengolok-olok ibunya.

__ADS_1


Arya pun tidak mengerti, kenapa dia sangat simpati dengan Santi. Melihat Santi dengan keadaan seperti sekarang ini, membuat Arya mengingat cerita ibunya, saat ayahnya pergi meninggalkan ibunya dengan keadaan sedang mengandung dirinya.


“Santi, jangan bahas ini, ya? Aku memang baru mengenal kamu, tapi aku tahu kamu wanita baik-baik. Kamu hanya jatuh pada pergaulan yang salah, kalau kamu bukan wanita baik, kamu pasti tidak menjadi lulusan terbaik, tidak menjadi model yang terkenal, tidak menjadi pengusaha butik dan salon yang sangat terkenal. Kamu hanya jatuh di waktu dan tempat yang salah, Santi. Aku mohon, jangan pernah kamu bahas lagi soal pernikahan kita yang hanya sementara. Kalau kamu mau, aku akan buang surat perjanjian kita, dan aku akan menjadi suami kamu sungguhan tanpa ada perjanjian seperti ini. Hanya dua semester saja, dan selama kita bersama, kita tidak boleh tidur satu kamar selama menikah. Aku tidak masalah menikahi wanita yang hamil di luar nikah, aku tidak mempermasalahkan cinta, mau kamu tidak cinta aku, aku tidak cinta kamu, aku hanya menyelamatkan anak yang tidak berdosa yang ada di dalam rahim kamu. Hanya itu tujuanku. Aku tidak ingin ada anak yang seperti aku, dan aku tidak ingin kamu merasakan apa yang ibuku rasakan, Santi,” ucap Arya dengan menggenggam tangan Santi.


“Sebelum aku bertemu kamu, aku merasa aku ini tidak pantas untuk dinikahi laki-laki lain selain orang yang telah membuatku seperti ini. Aku memang salah memilih tempat untuk protes pada diriku sendiri yang terlalu menurut saat dikekang papa. Aku seperti ini karena aku ingin protes pada papa, kenapa aku sudah dewasa tapi masih di ikuti oleh orang suruhan papa. Bahkan aku kuliah di luar negeri dua orang bodyguard suruhan papa terus menjagaku. Aku heran, kenapa aku sedikit pun tidak diberi kebebasan oleh papa? Apa salah aku bergaul dengan teman sebayaku, menikmati masa kecil yang indah, masa remaja yang indah, masa SMA yang katanya indah. Aku hanya di fokuskan oleh papaku supaya menjadi yang terbaik dan terhebat. Hidupku hanya ke bimbel, les modeling, dan entah apa lagi yang papa atur. Aku merasa aku ingin bebas, dan setelah aku bertemu Fadli, aku merasa duniaku berubah, dia mampu membawaku terbang bebas, menggepakan sayapku lebar-lebar, dan terjadilah hal yang tidak terduga, aku menyerahkan semuanya pada Fadli hingga aku seperti ini.” Santi menceritakan tantang kehidupannya sedikit  pada Arya.


“Mungkin Fadli kecewa, karena saat pertama kali aku melakukannya dengan dia, aku sudah tidak perawan lagi. Dan, itu karena aku ... aku dinodai oleh orang kepercayaan papa. Ya, bukan aku dinodai karena diperkosa dia. Kami sama-sama saling suka, saling mencintai. Itu terjadi saat aku SMA. Aku sudah muak dengan yang namanya dikekang oleh papa, aku nekat mau menjalin hubungan sama sopir kepercayaan papa. Dia masih muda, dia tampan, gagah, belum menikah, dan bilang sangat mencintaiku. Aku yang merasa masa remajaku terenggut papa, terenggut kebebasan berteman, aku pulang pergi sekolah dengan sopir dan dua bodyguard, akhrinya sopirku yang menyelamatkanku, aku bisa menikmati memiliki pacar waktu SMA, dan kami menjalin hubungan itu diam-diam di belakang papa, hingga aku menyerahkan semuanya. Setelah dua tahun hubungan itu berjalan, dia pergi tanpa pamit, dia hanya meninggalkan surat, kalau dia mau menikah. Aku saat itu benar-benar kacau, lalu saat aku kuliah aku mulai diam-diam bergaul bebas dengan teman, gonta-ganti pacar, sampai aku menyelesaikan kuliahku di luar negeri, aku masih sama, meski ada dua orang suruhan papa, aku sudah bisa membayar dia lebih, supaya aku bisa bebas. Kelam sekali hidupku, Ar. Kamu orang baik, tidak seharusnya kamu menikahi wanita yang kotor seperti aku,” ucap Santi dengan mata berkaca-kaca setelah menceritakan semuanya pada Arya.


Dia tidak menyangka bisa menceritakan semuanya pada Arya, padahal dia baru mengenal Arya beberapa hari yang lalu. Belum ada satu bulan, tapi sudah bisa diajak ngobrol baik-baik, dan Arya juga menjadi pendengar baik saat Santi menceritakan semuanya.


“Memang tidak boleh gitu orang  baik menikah dengan orang tidak baik. Justru itu malah nantinya bisa saling melengkapi supaya lebih baik, kan? Aku tidak peduli bagaimana masa lalu kamu, Santi. Aku hanya ingin kamu tidak sendiri saat melalui semua ini. Aku akan menemanimu, kamu jangan takut, kamu tidak sendirian,” ucap Arya.


“Terima kasih, Ar. Meski sementara kamu menemani aku, setidaknya kamu sudah menyelamatkan aku dari kekangan papaku. Entah kenapa papa bisa seperti itu padaku. Aku tidak tahu apa salahku, sehingga aku tidak diberikan kebebasan sama sekali untuk bergaul dengan temanku. Temanku hanya itu-itu saja, dan itu pun yang lolos seleksi papa untuk berteman denganku, Ar. Gila papa sampai sebegitunya dengan aku,” keluh Santi.


“Kamu perempuan, papamu tidak salah mengekang kamu seperti itu, karena dia sangat menyayangimu, Santi? Lalu bagaimana dengan ibumu?” tanya Arya.


“Mama. Aku kangen mama, dia yang bisa mengerti aku. Mama yang selalu membuat aku merasakan menjadi orang yang bebas. Mama kadang diam-diam berbohong sama papa, supaya aku bisa ikut nonton bareng teman tanpa bodyguard, kadang mama yang ajak aku keluar, lalu dia mempertemukan aku dengan teman-teman, dan mama menungguku di tempat yang sudah kami janjikan. Mama selalu tahu apa yang aku inginkan. Bahkan, mama pernah bilang sama aku, mama akan membuatkan gaun yang sangat cantik saat aku akan menikah. Tapi, aku mengecewakan mama, aku hamil di luar nikah, yang membuat mama merasa kecewa sekali, dan mama tidak sudi membuatkan gaun untukku,” ucap Santi.


Arya melihat gaun pemberian Halimah yang masih dipakai Santi. Semarah apa pun seorang ibu, dia pasti masih sangat menyayangi anaknya. Halimah masih sangat menyayangi Santi, buktinya dia sampai rela menguras semua tabungannya untuk Santi, dan memberikan gaun yang ia buatkan untuk Santi.


“Andai kamu tahu itu gaun dari mamamu, San. Pasti kamu sangat bahagia, mamamu memberikan gaun itu padamu. Mamamu juga memberikan uang untuk kamu, untuk calon cucunya. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku menyampaikan semua ini padamu. Kamu akan marah atau bagaimana aku tidak tahu,” gumam Arya.

__ADS_1


__ADS_2