
Santi mendengar ponselnya berdering. Fano menelefonnya, dia ingin mengajak Santi dan Anin pergi jalan-jalan bersama. Tapi, Santi lama mengangakatnya, karen ada Arya di sebelahnya
“Kenapa tidak diangkat, San?” tanya Arya.
“Ehm ... gak penting,” jawabnya.
“Fano.”
“Iya Fano yang menelefon,” jawab Santi.
“Oh, ya sudah yuk Anin, ayah mandiin kamu, biar ibu angkat telefon dulu,” ajak Arya.
Arya masuk ke dalam kamar, untuk memandikan Anin. Ia membiarkan Santi menerima telefon dari Fano. Mau dengan keras Arya melarang, kalau Santi memang masih menyimpan rasa, ya percuma saja. Semalam saja buktinya Santi melakukannya? Hingga banyak sekali bekas merah di dadanya.
“Aku tidak janji, Fan,” ucap Santi.
“Nanti aku ke rumah kamu, ya agak siangan, San,” ucap Fano.
Fano ingin mengajak pergi Santi dan Anin. Entah mau diajak ke mana, Santi tidak tahu. “Ya sudah ke sini saja, Fan.” Entah kenapa Santi malah menyuruh Fano ke rumahnya, padahal ada Arya di rumahnya.
Santi masuk ke dalam kamar. Ia mengambilkan baju ganti untuk Anin, tapi ia mengambilkan bajunya bukan baju yang untuk di rumah melainkan untuk pergi.
“San ini bajunya Anin kok bagus? Kayak mau pergi ke mana?”
“Fano akan ke sini, dia mau menjemput aku dan Anin, dia pengin mengajak Anin dan aku jalan-jalan.” Jawab Santi tanpa memandang Arya.
“Kamu tadi bilang apa? Mau ajak Anin jalan-jalan dengan Fano? Aku tidak mengizinkan!”
“Mengizinkan atau tidak aku akan tetap pergi, Ar!”
Arya tidak menyangka Santi begitu labil sekarang, dia benar-benar seperti sudah diperdaya oleh Fano.
“Kita akan pergi dengan papa Fano. Papa kandungmu, Nak,” ucap Santi pada Anin, sambil menyisiri rambutnya. “Katanya Papa Fano mau membelikan baju-baju baru dan boneka yang banyak untuk Anin.”
“Cukup, San! Kau tidak boleh mengajaknya pergi dengan Fano!” erang Arya.
Anin hanya diam saja, ia sepertinya tahu kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Setelah rambutnya rapi, Anin langsung mendekati Arya, dia langsung mendekap tubuh Arya, seakan tahu makna ucapan ibunya, yang bilang akan bertemu dengan Papa Fano.
Santi ke kamar mandi untuk mandi, dan menitipkan Anin pada Arya. Dia belum mandi dari tadi. Arya tidak mau Anin dekat dengan Fano meski Fano adalah ayah kandung Anin. Ia tidak rela jika Fano mengambil Anin dan Santi dari dirinya.
Santi keluar dari kamarnya, dia sudah rapi memakai baju dan berdandan. Dia mengambil Anin dari Arya.
“Kau benar-benar keterlaluan San!”
“Dia berhak mengenal papanya, Mas!”
“Kau ini kenapa sih, San! Bisa gak kamu berpikir, lihat ke belakang, San! Dia itu pernah nyakitin kamu!”
“Aku tidak peduli itu! Kita mau bercerai, jadi tolong jangan usik apa keinginanku!”
Arya hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti apa maksud istrinya. Hanya karena Naira meminta syarat mengembalikan Arya padanya, sekarang masalahnya semakin meruncing. Fano datang kembali membawa sejuta kenangan untuk Santi.
“Ayo nak, kita nunggu papa Fano,” ucap Santi, lalu mengambi Anin dari gendongan Arya.
Santi mendengar bel pintunya berbunyi. Bergegas Santi membukakannya, dan terlihat Fano berdiri tegap dan gagah.
“Hai, pasti ini Anin ya?” ucap Fano dengan mengusap pipi Anin. Anin mengangguk, tapi ia langsung mengalihkan pandangannya.
“Ini papa, Nak. Ayo ikut papa,” ucap Fano.
Anin menepis tangan Fano yang ingin mengambil Anin dari gendongan Santi. “Ini papa, Nak. Papamu,” ucap Fano sedikit memaksa.
“Jangan dipaksa, Fan. Belum terbiasa bertemu, jadi dia begini, nanti kalau sudah biasa bertemu juga akan mau kok,” ucap Santi.
“Ya sudah yuk jalan-jalan sama papa? Kita beli baju, beli boneka, mainan, sepatu, dan lainnya apa yang Anin mau,” rayu Fano. Tapi Anin menggeleng keras, dan langsung turun dari gendongan Santi. Ia berlari ke arah Arya yang sedang berdiri di belakang Santi.
“Yah ... gak au ....” Anin memeluk erat Arya, dan bilang tidak mau dengan mata berkaca-kaca.
“Siapa dia, San?” tanya Fano.
“Harusnya saya yang bertanya anda itu siapa!” tukas Arya. “Anda mau tahu saya ini siapa? Saya ayahnya Anin, dan suami Santi!”
__ADS_1
Kedua pria itu saling menatap dari kejauhan. Tanpa satu pun yang terlihat akan mengulurkan tangan untuk berkenalan. Santi menangkap situasi genting di antara mereka. Santi bertindak cepat untuk mencairkan suasana.
“Arya ini Fano, dan Fano ini Arya. Suamiku, yang aku ceritakan semalam,” ucap Santi.
“Oh, suami? Suami sementara saja bukan? Dan kamu bilang kamu akan bercerai, kan?” ucap Fano dengan menatap lekat Arya. “Saya ayah kandung Anin!” Fano mengajak Arya berjabat tangan, dan Arya membalasnya.
“Oh ya? Ayahnya Anin?” ucap Feran dingin. “Coba kalau kamu ayah kandung Anin. Sekarang Anin umur berapa, lahir hari apa, tanggal berapa, bulan berapa, tahun berapa, lahir siang atau malam, jam berapa lahirnya, dan berapa jam Santi kontraksi untuk menunggu pembukkan? Lalu tahu tidak sudah berapa jumlag gigi Anin yang sudah tumbuh di gusinya sekarang?”
“Jangan bangga hanya karena mengerjakan tugas bab sitter, dan tugas sementara seorang ayah!” gertak Fano kasar. Ia menoleh ke arah Santi untk meminta dukungan. “Rasanya saya juga bisa membayar baby sitter untuk Anin? Lagian sebentar lagi juga kamu tidak akan di sini?”
“Kau salah! Aku tidak akan membiarkan istri dan anakku kembali pada orang yang sudah mencampakkannya!”
“Kau berlagak ingin menjadi ayah tiri teladan, ya?” ejek Fano. “Mana ada ayah tiri yang baik, menyayangi, dan mencintai anak tirinya. Yang ada seorang ayah tiri menikahi anak tirinya!”
“Pantas saja ucapanmu tidak bisa dijaga! Kau memang hidup dalam dunia yang rusak! Bagaimana bisa menjadi ayah yang baik, kalau kamu saja tidak bisa menjaga ucapanmu!” Sekarang Arya berdiri dengan wajah mengeras. Siap menumpas lawan di hadapannya. Anin yang berada di dalam gendongannya tampak sembunyi ketakukan di balik lengan Arya yang kokoh. “Kau tidak pantas mendapatkan sebuah cinta dan ketulusan!”
“Sudah! Sudah! Jangan bertengkar!” pekik Santi panik. Ia maju mendekati Fano, mendorongnya perlahan untuk menjauhi Arya. “Tolong, Fan ... tinggalkan kami dulu. Nanti kita bertemu di mall saja, aku akan menyusulmu.”
Meski telah didorong keluar oleh Santi, Fano masih sempat menoleh geram ke arah Arya.
“Pastikan dia tidak menyakiti anakku!” seru Fano mengancam.
“Kau yang menyakiti hatinya dengan menelentarkannya selama ini!” balas Arya berapi-api.
Keduanya terbakar dalam kebencian, saling mengukur siapa yang terbaik di antara mereka. Siapa yang paling berhak memiliki Anin. Ayah kandung, atau ayah tiri.
Lama setelah Fano pergi, Santi dan Arya masih duduk berdiam diri di ruang tamu. Anin masih berada dalam pangkuan Arya, dia ketakutan, menangis, hingga tertidur di pelukan Arya.
‘”Jadi, kau akan kembali padanya?” desah Arya berat, memcah kebekuan di antara mereka.
“Fa—Fano maksudmu?” sergah Santi gagap.
“Siapa lagi kalau bukan dia?” dengus Arya ketus. “Memang ada berapa laki-laki dalam hidupmu, yang melepaskan tanggung jawabnya terhadapmu? Yang mencampakkanmu setelah mereguk semua madu?”
“Fano sudah berubah, Ar,” sahut Santi perlahan. “Dia sudah menyesali semuanya.”
“Dan semudah itu kau memaafkannya?” ucap Arya kecewa.
“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, bukan?” ujar Santi kelu. “Sekarang Fano sudah menikah, tapi ia berjanji akan meninggalkan istrinya demi untuk menikahiku.”
“Istrinya sendiri yang meminta diceraikan, karena tidak bisa memberikan keturunan pada Fano.”
“Setelah dulu Fano pernah menyerahkanmu begitu saja dengan laki-laki lain,” ucap Arya pahit. “Apakah sekarang kau masih berani menempuh risiko untuk kembali padanya?”
“Bukankah kau juga mengajariku untuk memberikan kesempatan kedua? Dan, belajar dari kesalahan pertama?”
“Tapi bukan untuk kembali padanya, Santi!” pekik Arya. “Bukan untuk memberikan kesempatan padan Karena dia akan merebut kamu dan Anin dari dalam hidupku!” erang Arya kacau.
“Bukankah adil, Ar? Kau bisa kembali dengan Naira. Dan aku dengan Fano. Aku akan menceraikanmu juga karena aku berutang nyawa dengan Naira, demi untuk menyelamatkan papaku?” ucap Santi pedih. “Kalau kamu kembali dengan Naira, bagaimana nasibku dengan Anin kalau aku tidak kembali pada Fano?”
“Aku tidak akan menceraikanmu!”
“Tapi kamu sudah menandatanganinya, Ar!”
“Aku tidak bisa! Aku tidak akan melepaskanmu, San! Karena kamu dan Anin adalah hidupku, bukan Naira atau siapa pun!”
“Semua sudah terlambat, untuk apa kita tetap bersama? Kamu laki-laki baik, Ar, sedangkan aku? Aku ini perempuan kotor, aku masih jadi istrimu, tapi aku sudah berani melakukannya lagi dengan Fano, karena aku sadar, masih ada cinta yang tersisa di hatiku!” ungkap Santi dengan berlinang air mata.
“Dan, lebih banyak cintaku ke kamu sebetulnya, Ar! Tapi, aku malu, aku terlalu hina untukmu!” ucap Santi dalam hati.
^^^
Setelah mendapat izin dari Arya untuk menemui Fano di Mall, tempat di mana mereka janjian untuk mengajak Anin membeli baju, boneka, mainan, sepatu, dan yang diinginkan Anin tentunya Arya mengantar Santi sampai di depan mall tersebut. Ia tidak mau melepaskan Santi sendirian, dan itu sebagai syarat dari Arya, kalau Santi akan menemui Fano, dirinya yang harus mengantar.
“Turunlah, aku akan menunggu kamu di sini,” ucap Arya.
“Hmm ....”
“Salim sama ayah dulu, kita ke dalam ayah nunggu sini, ya? Baik-baik di dalam,” ucap Arya. Anin mencium tangan Arya, dan Arya mencium pipi Anin.
Hati santi rasanya sakit melihat Arya mengalah seperti ini, apalagi Anin pun jadi mau karena dibujuk Arya. Arya sadar, bagaimana pun Fano adalah ayah kandungnya, tapi tidak berhak bagi Arya jika Fano merebut Anin dan Santi dari hidupnya. Biar, biarkan Fano merasakan dekat dengan Anin, dan biarkan dia merasakan bagaimana membujuk Anin, mau atau tidak dengan dirinya. Arya yakin Anin tidak akan mau dengan Fano.
__ADS_1
Selama berada di dalam mall, dan memilih pakaian untuk Santi dan Anin, Santi tidak banyak bicara. Kegembiraannya lenyap seketika. Pikirannya tidak bisa lepas dari pertengkaran yang terjadi di rumahnya tadi, juga saat tadi di mobil Arya. Fano pun terlihat tegang, tampak begitu memendam kemarahan pada Arya.
“Apa dia itu sopir yang menikahimu?” tanya Fano dengan panas hati. “Dia sepertinya begitu berarti sekali bagimu dan Anin?”
“Arya maksudmu?” desah Santi kelu.
“Siapa lagi kalau bukan suamimu yang seorang sopir?” dengus Fano gemas. “Memangnya ada berapa laki-laki lagi yang menghalangi kita bersatu?”
“Dia bukan sopir, dia pemiliki Dirgantara Tour & Travel. Arya yang menyelamatkanku dan Anin, Fan,” jelas Santi. “Dia yang membantuku melewati masa-masa sulit dalam hidupku. Dan, kamu tadi bertanya siapa lagi laki-laki yang menghalangai aku dan kamu bersatu, kan? Ada, papa. Papa tidak akan mungkin setuju aku dan kamu bersatu. Papa sangat menyayangi Mas Arya. Dan, jikalau aku bercerai dengannya, aku tidak akan menikah lagi!” tegas Santi.
“Aku bisa membujuk papamu!”
“Silakan kalau bisa, Fan,” jawab Santi.
“Dia sepertinya bangga sekali, telah ikut membesarkan Anin?”
“Kamu harus ingat, Arya bukan rivalmu untuk kau enyahkan,” sergah Santi cemas. “Arya orang yang baik, dia tulus, menyayangi aku dan Anin. Aku akan berpisah dengannya karena memang ada sesutau yang mengharuskan kita berpisah.”
“Tapi, aku tidak ingin ada laki-laki lain dalam hidupmu, San!” desis Fano geram. “Saat kita menikah nanti, aku hanya ingin diriku yang ada di dalam hatimu.”
“Bagaimana kamu bisa ada di dalam hatiku? Sedangkan cintaku pada Arya begitu kuat? Dan, kamu juga belum menghadap papa, aku juga masih milik Arya?” batin Santi.
“Tidak usah memikirkan menikah dulu. Kamu belum ada kepastian bukan? Kamu masih punya istri, aku belum mendengarkan istrimu bicara sendiri padaku kalau akan menceraikamu hanya karena aku, bukankah begitu, Fan? Jadi tidak usah membahas menikah, aku saja masih berstatus istri orang!”
Kini justru Santi yang takut. Takut kalau dirinya yang tidak bisa melupakan Arya jika nanti bercerai.
Selama Santi dan Fano memilih-milih pakaian untuk Anin, Anin tidak mau dekat-dekat dengan Fano. Kalau disentuh Fano, ia langsung membuang muka. Kalau Fano membungkuk untuk menggendongnya, Anin akan berlari ke arah Santi, dan bersembunyi di balik kaki ibunya.
“Besok malam aku ulang tahun, San,” ucap Fano dengan melangkah bersisian dengan Santi untuk keluar dari butik khusus anak, ketika sudah selesai belanja baju-baju Anin. Mereka berjalan bersisian layaknya keluarga yang lengkap dan harmonis. “Kamu masih ingat ulang tahunku, kan?” Santi hanya mengangguk.
“Bagaimana aku bisa lupa, Fan? Dulu kita selalu merayakannya di dalam kamarmu,” batin Santi.
“Kita rayakan bertiga, ya? Di restoran favoritku?” usul Fano penuh harap. “Aku, kau, dan Anin. Sebentar lagi akan menjadi keluarga yang utuh. Setelah perceraianku dengan Zahra, dan perceraianmu dengan Arya. Kita akan segera menikah.” Cetus Fano dengan berbangga diri.
Fano melingkarkan lengannya di pundak Santi, sehingga ia sekaligus dapat menyentuh Anin yang berada di dalam gendongan Santi. Sekilah tangan Fano mengusap lengan Anin, tapi Anin langsung menarik tangannya dengan sengit. Seperti tersengat arus listrik yang menyakiti kulitnya.
“Dandani Anin dengan baju baru yang kubelikan tadi,” ucap Fano. Fano tergelak melihat ulah Anin yang menarik tangannya lagi saat disentuh olehnya. Dikiranya Anin sedang mengajaknya bergurau. “Aku bahagia sekali. Memiliki dua bidadari cantik dalam hidupku. Kau dan Anin” cetus Fano.
Mereka sampai di depan mall. Santi langsung menuju ke arah mobil Arya, tapi dengan cepat Fano memegangi tangan Santi. “Kita ke sini sendiri-sendiri, Fan! Jadi kau tak usah mengantarku pulang. Kamu pulang sendiri, dan aku pulang dengan Mas Arya. Tadi aku ke sini dengan Mas Arya, jadi aku harus pulang dengan dirinya!” tegas Santi.
“Gak begitu dong, San!”
“Aku dengan Mas Arya, karena supaya dia mengizinkanku keluar menemuimu!” ucap Santi, dengan menarik tangannya dari genggaman Fano.
Arya melihat Santi yang sudah keluar, dia sepertinya keberatan menggendong Anin dengan membawa beberapa paperbag dari Fano. Arya langsung mendekati mereka, yang sepertinya sedang berdebat.
“Sudah selesai?” tanya Arya.
“Sudah, Mas,” jawab Santi.
“Ayah ....” Panggil Anin, sambil merentangkan tangannya minta digendong Arya.
“Sini sama ayah, gimana senang belanja dengan Papa Fano?” ucap Arya dengan menatap Fano sengit.
“No .....”
“Kok No? Kan sudah dibelikan banyak baju?”
“Gak mau!” ucapnya sambil memeluk erat Arya, lalu menciumi pipi Arya.
Fano semakin kesal melihat kedekatan mereka. Apalagi Anin menciumi pipi Arya dengan sayang. Ingin rasanya ia yang diperlakukan seperti itu olehh Anin.
“Ini sudah kan? Kalian gak akan pergi-pergi lagi? Kalau sudah, ayo Santi, kita pulang. Barangkali ada orang dari papa yang melihat, nanti malah semakin meruncing maslaahnya,” ucap Arya.
Santi mengangguk patuh pada Arya. “Aku pulang, Fan,” pamitnya pada Fano.
“Ayo Anin, pamit dulu sama Papa Fano,” titah Arya. “Salim dulu sama Papa Fano.” Anin menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada Arya,
“Jangan begitu? Katanya anak baik, kok gitu? Ayo salim dulu sayang?” bujuk Arya, dan akhirnya Anin mau salim dengan Fano.
“Hati-hati ya, Nak?” ucap Fano. Fano hendak mencium Anin, tapi Anin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Ya sudah, kalian hati-hati,” ucap Fano sedikit kecewa, karena dia tidak bisa mencium Anin. “Jangan lupa besok malam, San,” imbuhnya.
“Iya.” Jawab Santi singkat.