Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 35 – Perempuan Paling Beruntung


__ADS_3

“Kok belum berangkat, Ar?” tanya Santi yang baru keluar dari kamar mandi.


“Sengaja nungguin kamu keluar dari kamar mandi,” jawab Arya. “Aku berangkat, ya?” Arya mendekati Santi lalu mencium keningnya.


“Hmm ... hati-hati,” jawab Santi dengan mencium tangan Arya.


Arya memandangi wajah Santi, dia manatapnya lekat, lalu mengulas senyuman dan menarik hidung Santi. “Nanti malam, jangan makan dulu, ya? Aku pengin ajak kamu makan malam, aku usahakan pulang sebelum jam tujuh,” pinta Arya.


“Cie mau ajak dinner nih? Boleh deh boleh. Aku tunggu kamu pulang.” Santi tersenyum dengan hati yang berdebar mendapat perlakuan romantis dari Arya. Ya, menurut Santi ini adalah momen romantis pemula setelah dia tahu siapa Arya sebenarnya, dan setelah Arya putus dari Naira. “Ayo aku antar keluar,” ajak Santi.


Arya keluar dari kamarnya bersama Santi. Arni dan Rozak melihat mereka yang baru saja keluar dari kamar. Santi terlihat sudah rapi dan wajahnya berseri seperti habis mandi. Arya pun begitu, tapi Arya tidak mandi, dia hanya membersihkan wajahnya saja.


“Ehem ... langsung tancaaappp ....!” kelakar Rozak.


“Pengantin baru maklum, Pak,” bisik Arni di telinga Rozak, tapi Arya dan Santi masih mendengar.


“Ini ibu sama bapak ada apa, ya? Kok bisik-bisik? Jangan iri dong, kalian juga pernah mengalaminya?” ucap Arya.


“Gak capek kamu? Main langsung tancep saja?” tanya Rozak.


“Ih bapak ini. Lihat tuh istriku malu, kan?” ucap Arya. “Sudah Arya pamit dulu, Pak, Bu. Titip Santi, ya?” pamit Arya.


“Iya, ibu senang sekarang ada temannya, gak kesepian lagi kalau bapak sama kamu pergi kerja,” jawab Arni.


“Ya sudah aku berangkat, ya?” Arya mencium tangan ibu dan bapaknya, juga mengecup kening Santi lagi di depan ibu dan bapaknya.


“Hmmm ... ibu sekarang gak dicium nih?” protes Arni.


“Wah ... ibu mulai cemburu nih?” ucap Arya.


“Ada saingannya sekarang ya, Bu?” ucap Santi.


“Gak apa-apa, sudah biasa ibu protes, meski gak ada kamu, San,” jawab Arni.


Arni dan Santi mengantar Arya sampai teras depan rumahnya. Santi baru kali ini merasa sangat bahagia. Dalam keadaan terpuruknya ada seseorang yang membangkitkannya lagi.


Semua perempuan ingin memiliki suami yang mencitainya, dan ibu mertua yang baik. Santi sudah memiliki salah satunya, ia mendapat mertua yang baik, tapi suami  belum mencintai dirinya.

__ADS_1


“San, ibu bikin asinan lho, kamu mau?”


“Hmm ... sepertinya segar sekali makan asinan, Bu?” jawab Santi dengan wajah berbinar, mendengar asinan.


“Makan di sini, ya? Sambil menikmati sore, sebentar ibu ambilkan.” Arni mengambil asinan di kulkas yang ia buat tadi pagi untuk Santi.


Santi duduk di kursi yang ada di teras, dia  mengambil majalah resep makanan yang ada di meja, lalu membukanya. “Aku harus bisa belajar memasak, masa aku tidak bisa apa-apa? Malu dong sama ibu mertua?” batin Santi dengan membaca resep ayam bakar madu.


Seorang di depan rumah Arya mengendap dan melihat Santi yang sibuk membaca majalah. Perempuan itu menajamkan matanya saat melihat perut Santi yang sudah membuncit. Sebetulnya perempuan itu sudah dari tadi di depan rumah Arya, saat Arya keluar hendak pamit ke kantor, perempuan itu sembunyi di sebelah rumah Arya supaya tidak ketahuan. Perempuan itu juga melihat Arya yang mencium kening Santi saat akan berangkat ke kantor.


“Sudah hamil? Istri Arya sudah hamil? Masa Arya menghamilinya? Gak mungkin, pasti itu bukan anaknya Arya! Sebentar-sebentar, aku kok gak asing dengan wajah perempuan itu? Gak asing sekali, dan aku sering melihatnya, tapi di mana?” batinnya.


Perempuan itu adalah Naira. Tadi sebetulnya Naira ingin menemui Arya dan ibunya, entah apa yang ada di pikirannya, hingga ia ingin meminta restu pada ibunya Arya, meski Arya sudah memutuskannya.


“Itu model yang kemarin sedang kena scandal, kan? Yang hamil dengan kekasihnya itu, dan kekasihnya katanya tidak bertanggung jawab? Ya, dia pernah jadi model saat ada event di kantorku. Asyanti Hermawan, iya benar dia Asyanti. Masa Arya yang menghamilinya? Gosip itu kan sudah berlalu lama?” batin Naira.


Siapa yang tidak mengenal Santi? Meski dia hanya sesekali menampakkan wajah di layar kaca, tapi banyak sekali perusahaan besar dan brand-band ternama yang bekerja sama dengan dirinya, dia salah satu model yang sedang naik daun saat itu, dan kariernya hancur karena scandalnya tersebut.


“Ini asinannya, kamu pasti suka.” Arni duduk di sebelah Santi, dia mengambilak asinan ke mangkuk kecil lalu menyuapi Santi. “Ayo ibu suapi kamu, aaa ....”


“Ibu ... Santi bisa makan sendiri,” ucapnya.


“Baiklah ....” Santi membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari ibu mertuanya.


“Bagaimana?” tanya Arni.


“Ini enak sekali, Bu. Segar sekali rasanya,” jawab Santi.


“Ini ibu khusus buatkan kamu yang kata Arya kamu sedang ngidam asinan bogor,” ucap Arni.


“Sebetulnya gak ngidam, Bu. Cuma kepengin saja,” jawab Santi.


“Sama saja pengin sama ngidam, San? Ayo buka lagi mulunya lagi, ibu suapi kamu saja.”


“Ibu ... Santi makan sendiri saja,” ucap Santi.


“Ya sudah, ibu juga pengin cicipi asinannya.”

__ADS_1


“Bu, ibu bisa ajari aku masak?” pinta Santi.


“Masak? Kamu yakin mau  belajar masak?” tanya Arni setengah tidak percaya.


“Iya, Bu. Aku gak bisa masak, kasihan dong Mas Arya punya istri gak bisa masak?” jawab Santi.


“Nanti ibu ajari kamu, tapi ibu gak mau kamu lelah, kamu sedang hamil, jangan capek-capek,” tutur Arni.


“Apa memasak sangat melelahkan, Bu?” tanya Santi.


“Ya tidak begitu, tapi kamu sedang hamil, di sini ada asisten, ibu saja jarang masak, kamu tidak usah repot-repot, pokoknya ibu gak masalah punya menantu tidak bisa masak sekali pun, asal menantu ibu bisa menghargai suaminya, bisa menghargai anak ibu, pun dengan orang tuamu, bisa menghargai anak ibu, juga menghargai ibu dan bapak. Ibu tahu, papamu masih sangat kecewa, tapi ibu dan bapak tahu papamu, dia itu orang baik, meski dia masih kecewa dengan kamu, dengan ibu dan bapak, papamu biasa saja, sering ngobrol akhir-akhir ini dengan bapak kalau sedang di ruko,” jelas Arni.


“Papa di ruko, Bu? Ketemu ibu dan bapak juga?” tanya Santi tidak percaya.


“Iya, kemarin kami ngobrol, ya ngobrol biasa, masalah ruko yang sekarang lagi sepi pengunjung,” jelas Arni.


“Aku kangen sama papa. Papa pasti sangat kecewa, bahkan membenciku,” ucap Santi dengan menunduk.


“Siapa bilang? Papamu sebetulnya tidak marah denganmu. Wajar papamu kecewa, tapi bapak yakin papamu pasti akan mengerti suatu hari nanti. Buktinya sama bapak, ibu, dan Arya, papamu biasa saja?” Rozak mendengarkan obrolan mereka di dapan, lalu dia bergabung.’


“Santi kangen sama mama dan papa, Pak, Bu,” ucap Santi.


“Nanti kita atur waktu untuk ketemu sama mama dan papa kamu, ya? Kamu yang sabar, pokokny kamu harus sehat, supaya anak kamu juga sehat. Ini ada cucunya ibu sama bapak lho?” ucap Arni.


“Terima kasih ya, Bu, Pak? Meskipun ibu dan bapak tahu bagaimana saya, bagaimana masa lalu saya, dan tahu keadaan saya yang mungkin ini adalah aib untuk keluargaku, ibu dan bapak masih bisa menerimaku, juga dengan Mas Arya,” ucap Santi.


“Ibu pernah merasakan ada di posisimu, Nak. Sudah jangan memikirkan apa-apa, kamu harus buang segala pikiran negatif, kamu harus fokus dengan kehamilan kamu,” tutur Arni.


“Iya, bu. Sekali lagi terima kasih,” ucap Santi.


“Sudah ayo masuk, sudah mau petang. Pamali orang hamil mau maghrib di luar,” ajak Rozak.


Santi menuruti apa kata mertuanya. Mereka masuk ke dalam, dan melanjutkan mengobrol, karena Arni melarang Santi masuk kamar, takutnya Santi malah tidur, karena sudah menjelang maghrib.


“Mungkin aku perempuan yang paling beruntung, dalam keadaanku yang seperi ini, masih ada yang menerimaku. Aku punya suami yang baik, meski belum bisa mencintaiku, dan mertua yang baik juga,” batin Santi.


Sedangkan Naira, di depan rumah Arya, ia masih terdiam setelah melihat perlakuan ibu dan bapakanya Arya pada Santi. Mereka sepertinya sangat menyangi Santi.

__ADS_1


“Ya mungkin karena ayah dan ibu tidak bisa menerima orang tua Arya, ibu jadi sakit hati, apalagi ayah sudah keterlaluan sekali ucapannya. Tapi, aku masih belum bisa terima, kalau Arya menikahi perempuan yang sedang hamil, dan anak yang dikandungnya bukan anak Arya. Aku harus bisa merebut hati Arya kembali, tidak peduli ibu dan bapaknya yang tidak merestui, dan tidak peduli dengan aku yang akan dijodohkan!” batin Naira.


__ADS_2