
“Menikah dengan Arya? Aku ini bodoh apa gimana sih? Bisa-bisanya aku iyain permintaan konyol dia! Sialan!!! Dia benar-benar bisa menghipnotisku! Dengan mudahnya aku mengiyakan gitu saja? Aku harus bisa cari alasan supaya dia tidak menikahiku!” gerutu Santi dalam kamarnya.
Setelah sampai rumah Santi semakin gusar memikirkan tawaran Arya untuk menikah dengannya. Bagaimana tidak gusar memikirkan itu? Arya benar-benar serius sekali mengajaknya menikah, meski dengan sebuah perjanjian. Ya, perjanjian pernikahan yang hanya berjalan dua semester saja, alias satu tahun.
Apalagi Arya langsung menghubungi pihak yang mengurus pernikahan, membuat Santi semakin kebingungan. Menolak sama saja nantinya dia akan dikembalikan kepada orang tuanya dan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, lebih tepatnya laki-laki bayaran dari orang tuanya.
“Mending sama Arya, walaupun dia sopir, tapi dia sangat tampan. Tampan sekali. Wajahnya bagaikan pahatan batu pualam yang sempurna. Hidungnya mancung, kulit putih bersih, tingginya sempurna, tubuhnya atletis, apalagi kalau pakai kaos agak ketat seperti kemarin malam, dadanya yang bidang sepertinya nyaman sekali untuk dipeluk,” ucap Santi lirih dengan tatapan menerawang membayangkan sosok Arya yang benar-benar lelaki sempurna idamannya setiap wanita.
“Ya Tuhan ... kenapa malah mikir ke situ, sih? Kenapa mikir Arya sampai segitunya?” ucapnya lirih dengan menepuk keningnya.
Keesokan harinya, Arya berpamitan dengan Santi untuk pulang ke Jakarta. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Santi di rumahnya sendiri, meski sudah ada asisten di rumah, tetap saja Arya takut Santi kabur lagi.
“Tenang saja, aku enggak kabur lagi. Aku di sini sudah nyaman, Ar. Sana kamu pulang dulu, biar ibu dan bapak kamu gak khawatir, lagian kamu sudah tiga hari meninggalkan pekerjaan kamu, ntar kamu banyak potongan! Kalau gajimu banyak potongan, bagaimana mau menghidupi aku selama satu tahun, Ar?” ucap Santi.
“Cie ... udah mantap nih mau gue kawinin?” ledek Arya.
“Ya enggak gitu, Ar! Ngawur kamu! Aku gini juga terpaksa, Ar! Terpaksa, karena takut di balikin ke rumah orang tuaku. Aku juga sudah ingin bebas dari kekangan papa yang otoriter sekali!” ucap Santi, lalu menyuapkan sarapan ke mulutnya.
“Kamu baik-baik di sini, ya? Kan udah ada Mbak Sari, kalau ada apa-apa, kamu telefon aku saja. Aku gak lama-lama di Jakarta kok,” ucap Arya.
“Lama juga gak apa-apa, tapi awas lho jangan bilang-bilang orang rumah kalau aku di sini!” ancam Santi.
“Iya enggak, ya sudah aku pamit sekarang,” ucap Arya.
Santi mengantarkan Arya sampai di teras rumah. Seperti istri yang akan melepaskan suami pergi bekerja ke luar kota saja. Arya melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya untuk ke Jakarta.
Arya masih berpikir soal dirinya yang akan menikahi Santi beberapa hari lagi. Dia sebenarnya ingin memberitahukan keluarga Santi yang mungkin sekarang masih kalang kabut untuk mencarinya. Terbesit di benak Arya untuk membicarakan semuanya pada kedua orang tua Santi secara baik-baik, dan berbicara dengan kedua orang tuanya juga, karena dia tidak biasa berbohong, apalagi dalam hal yang seserius sekarang ini.
“Sudah tiga hari aku menyembunyikan Santi, tidak baik kalau aku terus menyembunyikannya, pasti kedua orang tua Santi juga akan mencari aku, karena mobil pengantin pertama yang mereka pesan adalah di tempatku.” Arya berkata dalam hatinya, sambil memikirkan bagaimana kalau dia menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
Ponsel Arya berdering, panggilan masuk dari bapaknya. Dari kemarin Rozak sudah curiga dengan kepergian Arya ke Pekalongan. Dia mengecek di kantornya, tidak ada rombongan untuk tamu dari pihak keluarga Hermawan yang memintanya untuk mengantar ke Pekalongan. Rozak curiga karena dia juga mendapatkan slentingan dari beberapa orang yang membicarakan soal kaburnya putri Hermawan yang akan menikah. Pastinya tidak akan ada acara di keluarga Hermawan kalau mempelai wanitanya saja kabur. Tapi, Arya bilang setelah selesai dari acara pernikahan putrinya Hermawan Arya mengantarkan tamu ke Pekalongan, keluarga dari Hermawan dan istrinya.
“Arya, kamu sedang tidak bohong dengan bapak?” tanya Rozak.
“Bohong apa, Bapak? Bapak ih, telfon langsung gitu, Arya baru mangap mau nyapa malah langsung nyerocos gitu?” jawab Arya.
__ADS_1
“Kamu menyembunyikan anaknya Hermawan?” tanya Rozak.
“Maksud bapak?” tanya Arya.
“Lagi ramai anaknya Hermawan yang mau menikah kemarin kabur. Sudah tiga hari ini. Kamu kan yang antar pengantinnya? Masa kamu gak tahu?” jelas Rozak.
Arya hanya terdiam. Dari awal bapaknya menelefon dia sudah punya firasat kalau bapaknya akan menanyakan hal seperti itu pada dirinya. Arya tidak mungkin untuk berbohong lagi dengan bapaknya.
“Pak, Arya sebentar lagi sampai jakarta, nanti Arya ingin bicara sama bapak soal berita yang bapak terima. Tapi, Hermawan atau orang suruhannya tidak cari aku kan, Pak?” tanya Arya.
“Tidak ada yang mencarimu, Ar. Tapi, bukannya kamu yang menjemput pengantin untuk di bawa ke Hotel? Kenapa dia bisa kabur? Terus kamu malah tidak tahu, dan kamu malah antar keluarga Hermawan yang dari pekalongan? Bapak itu bingung, apalagi bapak baru tahu tadi dari orang-orang di ruko bapak, yang sedang belanja kain di ruko bapak.”
Pak Rozak memang memiliki Ruko khusus untuk menjual Kain. Dari berbagai model dan jenis kain ada di Ruko milik Pak Rozak. Kebetulan Ruko milik Pak Rozak yang ada di kawasan Tanah Abang dekat dengan butik-butik milik Hermawan dan milik Putrinya yang kabur itu. Jadi tentu saja Pak Rozak tahu soal kaburnya Santi dari pernikahannya.
“Nanti Arya akan jelaskan pada bapak. Tapi, Arya mohon, bapak jangan bicarakan soal ini pada ibu, ya? Arya tiga jam lagi sampai, Pak. Tunggu Arya di kantor saja,” ucap Arya.
“Baik bapak tunggu,” jawabnya.
“Tapi benar gak ada orangnya Pak Hermawan atau mungkin Pak Hermawannya sendiri yang cari Arya?” tanya Arya.
“Syukur deh kalau aman. Tunggu Arya sampai ya, Pak?” ucap Arya.
“Ya, hati-hati kamu,” ucapnya.
Meski Rozak hanya sebatar ayah sambungnya, tapi Arya sangat akrab dengan Rozak seperti anaknya sendiri. Rozak pun sangat menyayangi Arya, meski dia bertemu Arya saat Arya sudah menginjak remaja.
^^^
Sesampainya di Jakarta, Arya langsung menuju ke kantornya. Di sana Rozak juga sudah menunggu Arya yang katanya sebentar lagi akan sampai. Rozak sudah mondar-mandir seperti setrikaan di ruang kerja Arya, menunggu Arya yang tidak juga kunjung sampai, padahal katanya sebentar lagi akan sampai.
Telefon Arya berdering lagi, padahal dia sudah sampai di lobi kantornya. Semua karyawan menunduk sopan saat melihat Arya yang berjalan memasuki kantornya. Sudah tiga hari bos-nya itu tidak datang ke kantor, semua meeting terpaksa ditunda karena Arya belum bisa pulang. Arya melihat siapa yang menelefonnya, terlihat nama Santi di layar ponselnya. Dia tidak mungkin menjawabnya sekarang, karena sudah berada di depan ruang kerjanya, terlebih bapaknya sudah menunggu dia di dalam. Arya terpaksa me-reject telefon dari Santi dan langsung mengirim pesan kalau dia sedang menghadap atasannya di kantor.
Dengn cepat Arya mengubah setelan ponselnya menjadi mode diam supaya pembicaraannya dengan Pak Rozak tidak terganggu siapa pun.
“Halo, Pak! Panik banget wajahnya nih? Jangan panik-panik lah, Pak? Coba cerita, kenapa panik sekali sih?” ucap Arya sambil mendekati Pak Rozak dan mencium tangannya.
__ADS_1
“Bapak itu khawatir sama kamu! Kamu itu sebenarnya gimana sih? Beneran antar keluarga Hermawan ke Pekalongan apa enggak?” tanya Rozak dengan raut wajah yang panik.
Arya mengernyitkan keningnya dan duduk di depan Pak Rozak yang terlihat penasaran, dan tidak habis-habisnya menginterogasi dirinya.
“Bapak mau tahu sebenarnya? Tapi, bapak harus janji dulu sama Arya?” ucap Arya.
“Janji gimana? Sebenarnya itu gimana ceritanya, Arya?” tanya Rozak dengan gemas, melihat Arya senyum-senyum dengan begitu santainya.
Arya memang santai menghadapi semua ini. Dia ingin jujur dengan bapaknya, tapi dia tidak mungkin bilang dengan ibunya, karena ibunya pasti akan shocked dan darah tingginya pasti akan kambuh lagi.
“Jelaskan, Arya?! Jangan berbelit!” ucap Rozak geram.
“Iya bapak, akan Arya jelaskan semuanya,” ucap Arya.
“Jadi gini, Pak .....”
Arya menjelaskan semuanya pada Rozak. Rozak tidak percaya kalau Arya bisa melakukan hal yang sangat membahayakan itu. Rozak meminta Arya harus bicara dengan kedua orang tua Santi mengenai hal ini, dan meminta Arya jujur semuanya, karena itu salah satu tindakan yang tidak baik, bahkan mungkin dia termasuk melakukan tindakan kriminal karena menyembunyikan anak orang yang kabur.
“Gimana bisa seperti itu sih, Ar? Bapak tidak menyangka kamu malah akan nyembunyiin dia di Pekalongan. Gila kamu!” umpat Rozak.
“Ya mau gimana lagi, Pak? Dia maksa, dia ngancem mau bunuh diri, daripada bunuh diri di mobil aku gimana? Ya aku turuti saja dia mau ke mana,” jawab Arya.
“Lalu sekarang?”
“Dia baik-baik saja, aku sudah cariin dia ART di sana, dan Arya berniat mau menikahinya, Pak,” ucap Arya.
“Apa?! Menikahinya?! Kamu jangan gila, Arya! Bapak dan ibu memang tidak setuju kamu dengan Naira, tapi bukan berarti kamu harus menikahi perempuan yang hamil duluan, Ar! Dia bukan anak kamu lagi?” geram Rozak.
“Cuma sampai anaknya lahir, Pak. Kasihan kalau lahir tidak ada bapaknya. Arya juga akan bilang sama kedua orang tua Santi, menjelaskan semua seperti yang bapak minta. Arya tidak mau juga menyembunyikan Santi sampai anaknya lahir, dan sering bersamanya. Pastinya Arya yang juga harus tanggung jawab mengurus Santi kalau persalinan nanti, Pak. Tidak mungkin Arya menemani dia di sana tanpa status. Bapak tidak perlu khawatir, Arya tidak mencintainya, dan Arya tetepa mencintai Naira, meski bapak dan ibu tidak pernah menyetujuinya,” jelas Arya.
“Otak kamu di mana, Arya? Bapak tidak habis pikir kamu akan bertindak seperti ini,” ucap Rozak.
“Antarkan Arya ke rumah Pak Hermawan ya, Pak? Arya akan menjelaskan semuanya pada orang tua Santi,” ucap Arya.
“Terserah kamu, Ar! Bapak pusing ngadepin kamu. Gak habis pikir gitu, kamu bisa senekat itu! Seenak jidatmu saja!” geram Rozak.
__ADS_1
Arya masih tetap santai, dan masih tetap pada pendiriannya. Kepulangannya ke Jakarta tujuannya adalah untuk meminta izin pada kedua orang tua Santi, kalau dirinya ingin menikahinya. Dia akan menjelaskan semuanya, toh kedua satpam di rumah Hermawan sudah tahu rupanya dia, dan suruhan Hermawan juga tahu soal pergantian mobil pengantin saat itu.