Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 34 – Selamat Tinggal Masa Lalu


__ADS_3

Arya dan Santi sudah sampai di rumah Arni. Mereka di sambut hangat oeh Arni dan Rozak. Arni senang, akhirnya menantunya mau tinggal di rumahnya, jadi dia tidak akan kesepian lagi karena ada Santi di rumahnya.


“Mana menantuku.” Arni langsung memeluk Santi yang baru saja datang. “Bagaimana perjalananmu?” tanya Arni.


“Cukup melelahkan, Bu,” jawab Santi.


“Si jabang bayi gak ada masalah, kan?”


“Tidak, dia senang sekali kayaknya, dari tadi aktif di dalam perut,” jawab Santi dengan terkekeh.


“Ayo masuk, ibu sudah tata kamar kalian, biar koper kalian dibawa bibi,” kata Arni.


“Ibu mentang-mentang ada menantunya, anaknya sendiri dilupain?” protes Arya.


“Maaf, bukan ibu lupa, ibu senang sekali kalian akhirnya mau tinggal di sini, terutama Santi,” ucap Arni.


“Kamu harus betah di sini, biar ibu gak kesepian,” ucap Rozak.


“Iya, Pak. Terima kasih ibu dan bapak mau menerimaku,” ucap Santi.


“Ya sudah kalian istirahat dulu gih,” ujar Rozak.


Rozak dan Arni tahu kalau Santi sekarang sudah tahu siapa sebenarnya Arya. Beruntung Santi bisa menerima alasan Arya, dan tidak marah dengan Arya. Kalau sampai Santi kecewa pastinya Santi tidak akan mau lagi dengan Arya.


Arya dan Santi sudah di kamar mereka. Kamar Arya disulap seperti kamar pengantin. Arni yang mempersiapkan semuanya, dengan tujuan mereka semakin harmonis keluarganya.


“Ini kamarnya kayak kamar pengantin, Ar?” tanya Santi.


“Ibu nih yang menata. Ya biar seperti pengantin baru dong, San? Anggap saja ini bulan madu kita? Setelah menikah kan kita gak pernah bulan madu?” jawab Arya.


“Arya! Jangan begitu!” tukas Santi.


“Kenapa memangnya? Gak masalah kalau kita bulan madu, kan? Kita suami istri kok?” ucap Arya sambil melepas satu-persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


“A—Arya! Kamu ngapain ih!” Santi sedikit ketakutan Arya membuka kancing kemeja di depannya, dan membuka bajunya, lalu melempar bajunya ke tempat tidur.


“Aku ingin kamu, San. Ayo kita kan belum pernah melakukannya?” Arya semakin mendekati Santi, dan menyandarkan Santi di pintu kamarnya. Ia menghimpit tubuh Santi, lalu mengunci pintunya.


“A—Arya, jangan gini ih! Kamu janjinya gak begini? Kok gini? Ar, jangan kesetanan dong? Sumpah wajahmu nakutin tahu! Keningmu tidak panas, tapi aku rasa otakmu sudah agak konslet, Ar?” Santi memberanikan diri memegang kening suaminya, dia tidak mau terbawa suasana, biar saja suasanya menjadi sedikit kocak, dengan kelakuan Santi yang seperti itu. “Obatmu ditaruh di mana, hah? Minum dulu obatnya!” Santi berkata sambil mencubit dada Arya yang membuat Arya mengaduh dan mengerang


“Aarrgghhtt!” Erang Arya dengan keras. “Nakal sekali kamu, San?!” Ucapnya dengan memegang dadanya yang baru dicubit Santi.


“Arya, Santi? Kalian di dalam kenapa? Kenapa Arya?” tanya Arni dari depan pintu kamar mereka, karena mendenagar Arya mengerang seperti kesakitan.


“Ah ini Mas Arya kecepit, Bu!” teriak Santi.


“Terjepit apa, San?”


“Terjepit yang enak, Bu!” teriak Arya.


Arni ditarik oleh Rozak, karena mengganggu Santi dan Arya yang mungkin sedang asik-asik di dalam kamarnya, sampai Arya mengerang seperti sedang menikmati permaiannya.


“Ibu ini seperti tidak tahu saja suami istri lagi apa?” Rozak bergeleng dengan berkacak pinggang di depan Arni.


“Ya bisa, kalau kandungan Santi kuat, Bu? Sudah biar mereka enak-enak dulu, ibu mah gak pengertian sama anak?” tutur Rozak.


“Iya, iyaaa ... maaf, ya kan Arya sebentar lagi mau ke kantor, masa iya sempat-sempatnya begituan? Mana Santi bilang sedang capek lagi? Ya ibu gak mikir sampai ke situ kalau Arya dan Santi sedang begituan?” ucap Arni.


“Lagian tuh bocah bar-bar sekali, gak tahu di rumah banyak orang, udah kebiasaan di sana Cuma berdua, jadi teriak kencang!” ujar Rozak.


Santi masih kesal dengan suaminya, bisa-bisanya bilang kejepit yang enak pada ibunya, kan nanti jadinya ibu mertuanya mikirnya ke sana-sana?


“Sakit nih San, kamu kasar sekali, sampai merah nih?” ucap Arya dengan menunjukkan bekas cubitan Santi yang memerah.


“Lagian kamu sih, pakai acara begitu. Takut tahu aku!” jawab Santi. “Maaf deh, sini aku obatin pakai salep yang buat memar, ada kan?”


“Ada tuh di kotak obat yang ada di pojok lemari kecil,” jawab Arya.

__ADS_1


“Bentar aku ambilin.” Santi menuju ke lemari kecil, lalu membukanya dan mencari kotak obat.


Tangan Santi terhenti saat akan menyentuh kotak obat, itu karena dirinya melihat bingkai foto yang di dalamnya foto Arya dan Naira saat masih memakai seragam SMA, dan ada juga di bingkai satunya, sedang berpose mesra.


“San ketemu?” tanya Arya.


“Ah i—iya, ini ada kok. Di pojok sekali, Ar,” jawab Santi.


Santi langsung menaruh kembali kedua bingkai foto itu, lalu dia mengambil kotak obatnya, dan bergegas untuk mengobati bekas cubitan di dada Arya karena dirinya.


“Sini aku obatin.” Santi mengambil salepnya dan akan mengobati dada Arya.


Santi melihat bekas cubitan dirinya semakin membiru. Pantas saja Arya bisa mengaduh sekeras itu? Santi mengoleskan salep di dada Arya, pikiranya masih tertuju ke bingkai foto itu.


“Ternyata mereka menjalin hubungan dari mereka SMA. Aku kok semakin merasa kalau Arya suatu hari nanti akan menemui Naira lagi? Kenapa pikiranku ke situ? Padahal semalam Arya benar-benar ingin melupakannya? Tapi kenapa foto itu masih ia simpan? Ah mungkin dia lupa menyingkikannya? Positif thingking saja, San, jangan dibawa ke hati, jangan baper,” batin Santi sambil mengoleskan salep.


“Kenapa wajahnya ditekuk gini, hemmm?” Tanya Arya dengan mengangkat dagunya Santi supaya melihatnya.


“Maafin aku, kamu jadi gini?” Ucap Santi dengan mata mengembun.


“Kok kamu mau nangis? Jangan nangis dong?”


“Kamu pasti sakit ya?” Santi tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Arya. Ia menangis bukan karena menyesal sudah mencubit Arya, dia menangis karena dia takut Arya akan kembali dengan Naira, apalagi sekarang Arya sudah kemabali lagi di Jakarta, jadi kemungkinan besar Arya akan sering ketemu Naira meski sudah putus. Entah kenapa Santi bisa berpikiran sejauh itu.


“Sudah jangan nangis, sudah gak sakit, kan sudah dipeluk kamu. Sudah jangan nangis lagi, kasihan anak kamu kalau kamu nangis gini?” Arya mengusap air mata di pipi Santi, lalu mengecup keningnya. Arya reflek melakukan itu, padahal ia tidak pernah mencium kening Sinta lagi, setelah akad nikah.


“Aku mau ada meeting, mungkin aku pulang sampai jam tujuh atau jam delapan paling lambatnya, gak apa-apa kan kalau aku tinggal?” ucap Arya. “Kamu juga harus istirahat, tadi kan habis perjalanan jauh?” imbuhnya.


“Iya, aku istirahat saja, kamu hati-hati, ya? Jangan sampai tengah malam pulangnya,” ucap Santi dengan manja.


“Iya enggak, ya sudah sini kotak obatnya aku taruh, kamu bersih-bersih, lalu istirahat, mumpung,” titah Arya.


Arya menaruh kotak obat di dalam lemarinya lagi, ia melihat ada bingkai foto miliknya yang di dalamnya ada foto Naira dengan dirinya.

__ADS_1


“Apa tadi Santi lihat ini? Makanya langsung beda sekali raut wajahnya?” gumam Arya. Arya langsung membawa keluar foto itu, sebelum Santi keluar dari kamar mandi. “Selamat tinggal masa lalu,”


__ADS_2