Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 17 – Sebatas Figuran


__ADS_3

Kedua orang tua Arya sedang dalam perjalanan menuju ke Pekalongan. Mereka sengaja ingin menyaksikan pernikahan putranya. Meski Arni sedikit berat melepas Arya menikahi putri semata wayang Hermawan yang hamil di luar nikah, tapi ada rasa lega di hati Arni, karena tidak menikah dengan Naira. Arni berharap setelah Arya menikah dengan Santi, Arya nantinya akan melupakan Naira, dan tidak lagi berhubungan dengan Naira.


Meski secara diam-diam Arya menghubungi Naira, tapi Arni tetap tahu Arya masih menemui Naira dan sering bertukar kabar. Rasa sakit di hati Arni karena ucapan ayahnya Naira masih membekas di hatinya, dan mungkin sangat sulit sekali Arni melupakan atau memaafkannya.


Santi semakin bingung, ternyata kedua orang tua Arya jadi ikut menyaksikan pernikahannya dengan Arya esok pagi. Santi takut kalau kedua orang tua Arya malah nantinya membawa kedua orang tuanya juga, dan pernikahannya akan batal.


“Arya, tunggu! Kamu mau ke mana?” tanya Santi yang melihat Arya keluar dan membawa kunci mobil.


“Mau keluar sebentar, mau beli cemilan itu buat orang dekor pelaminan, kenapa? Mau ikut?” jawab Arya.


“Ar, ibu sama bapak kamu jadi ke sini?” tanya Santi dengan wajah agak panik.


“Iya sedang dalam perjalanan, dengan bosku juga katanya, bosku yang mengantarkan mereka ke sini. Daripada naik kereta atau bus, kata bosku lebih baik sama dia, supaya irit biaya,” jawab Arya.


Arya memang menyuruh Saiful menyamar menjadi bosnya, dan berhubung Saiful tidak bisa menyopir jarak jauh, karena belum memiliki Surat Izin Mengemudi, akhrinya Asep yang menjadi sopirnya. Semalam Arya sudah membicarakan semuanya supaya mereka menyamar. Saiful jadi bosnya, dan Asep adalah sopir pribadi Saiful. Itu semua hanya karena Arya tidak mau Santi tahu posisi dia sebenarnya apa di kantornya.


“Bos kamu mau datang? Yang benar saja Arya? Kalau dia kenal papa gimana?” ucap Santi dengan panik.


“Idih gak usah panik gitu sih? Ya kenal lah, siapa yang gak kenal Pak Hermawan? Pengusaha sukses, konglomerat, rumahnya gedong, di Tanah Abang juga memiliki puluhan ruko, pengusaha batik. Siapa yang gak kenal sih, San? Semuanya kenal sama papa kamu,” ucap Arya.


“Nanti kalau papa ke sini mengacaukan semuanya gimana?” tanya Santi.


“Enggak mungkin, kan aku bilang, kalau papa kamu tidak mau ke sini. Aku sudah menawarinya kemarin supaya ke sini, supaya merestui kita, tapi beliau tidak mau? Sepertinya papamu tidak akan ke sini, dan tidak akan mengurusi pernikahan kita?” ujar Arya.

__ADS_1


“Kamu yakin? Aku takut sekali kalau papa sampai sewa orang buat merusak acara kita?” ucap Santi panik.


“Panik banget sih? Takut gak jadi nikah sama aku, ya? Tenang, kalau papamu ke sini, terus merusak acara kita, aku bakal tetap menikahi kamu, kok?” ucap Arya. “Aku gak bohong, kalau aku sudah yakin untuk menikahi, aku akan menikahinya, meski ada rintangan,” imbuh Arya.


“Ya gimana gitu? Takut saja aku, Ar?”


“Jangan takut. Yuk ikut aku jalan-jalan ke luar saja, sambil cari cemilan? Soalnya Mbak Sri sama Mbak Tati kan sibuk masak-masak untuk makan siang nanti kalau ibu sudah datang, jadi tidak sempat beli atau bikin cemilan,” jelas Arya.


“Ya sudah sebentar aku ganti baju dulu, masa keluar pakai kek gini?” ucap Santi.


“Gak usah ganti, kamu cantik pakai baju itu,” ucap Arya.


“Idih masa pakai daster cantik?” ucap Santi.


Arya mengakui, Santi memang sangat cantik, mau sedang berantakan bangun tidur sekali pun Santi terlihat sangat cantik. Katanya melihat orang cantik atau tidak itu dari saat dia bangun tidur seperti apa.


Santi masih kesal dengan Arya yang langsung menyuruh Santi ikut tanpa ganti pakaian. Dari tadi masih saja ngambek sama Arya, karena Santi merasa dirinya tidak pede keluar pakai daster, apalagi rambutnya masih sedikit berantakan karena baru saja selesai membereskan kamarnya yang akan dihias menjadi kamar pengantin.


“Sudah jangan ngambek ih!” Arya menarik lembut pipi Santi karena dari tadi Santi masih saja cemberut dan terlihat menggemaskan.


“Ih apaan sih! Aku gak pede keluar gini, Ar?” ucap Santi.


“Gak Pede, atau malu karena pakaiannya gak sesuai dengan style kamu?” tanya Arya.

__ADS_1


“Ya gak pede aja sih? Kek ibu-ibu tahu?!” ucapnya.


“Kan mau jadi ibu? Gak apa-apa, aku suka kok, kelihatan keibuan,” ucap Arya.


“Kamu bisa aja sih?” ucapnya salah tingkah.


“Ih merah tuh pipinya? Kenapa?” tanya Arya.


“Gak apa-apa, udah ini mau ke mana?” ucapnya mengalihkan rasa salah tingkah dan canggungnya.


“Mau ke toko kue, kita sekalian beli juga buat nanti tamu dari Jakarta. Biar gak usah bolak-balik,” ucap Arya.


“Berapa orang sih? Yakin mama sama papaku gak datang, kan?” tanya Santi.


“Paling empat orang. Enggak, tenang saja,” ucap Arya.


Baru mengenal Arya beberapa minggu saja, Santi sudah dibuat seperti ini. Selalu saja dapat pujian baik dari Arya. Arya juga sangat perhatian dengannya. Apalagi kalau dirinya sedang badmood. Arya selalu tahu apa yang Santi butuhkan saat Santi sedang badmood.


“Jangan jatuh cinta, Santi. Dia tidak mencintaimu. Dia menikahimu karena menolong kamu, bukan karena cinta atau apa. Hanya sebatas menolong dan menyelamatkan kamu dari papa kamu,” gumam Santi.


Santi tidak mengerti kenapa perasaannya dengan Arya kadang semakin aneh, apalagi kalau Arya sedang diam dan cuek, dia semakin kesal, karena tidak ada yang mengajaknya ngobrol atau apa. Apalagi kalau mantan kekasih Arya menelfon atau chat dengannya. Santi mulai kesal dan marah dengan Arya. Mau menegurnya, Santi sadar diri dirinya itu siapa. Dia hanya sebatas figuran dalam perannya di samping Arya. Dia hanya perempuan yang diselamatkan Arya dari mara bahaya. Bukan pemeran utama yang ada di hati Arya.


“Kamu hanya sebatas figuran. Kamu harus sadar itu, Santi. Jangan berandai-andai lebih dari itu. Apalagi untuk menjadi pemeran utama di hati Arya. Jangan berharap, karena Arya tidak cinta. Jalani saja peranmu kali ini, anggap kamu menikah dengan orang asing yang tak kamu kenal, dan anggap saja ini adalah sebuah pembalajaran hidup, di mana kamu harus hidup satu atap dengan orang yang tidak mencintaimu yang menjadi suami kamu. Hanya sebatas figuran, bukan yang utama,” gumam Santi.

__ADS_1


Santi menatap keluar jendela, melihat sekeliling sampingnya, melihat deretan ruko-ruko di samping jalan raya. Matanya menerawang kosong, sambil membayangkan nasibnya nanti setelah menikah dengan Arya. Apa dia bisa bertahan melawan perasaannya yang kian aneh jika dekat dengan Arya. Sungguh ini begitu berat untuk Santi, tapi yang Santi tidak habis pikir, dia tidak berontak dalam keadaan ini, justru dia nyaman, meski nyatanya hatinya gundah gulana, dengan rasa yang sulit ia artikan saat bersama Arya.


__ADS_2