
Hari ini Hermawan sudah diperbolehkan untuk pulang. Santi langsung membantu mamanya mengemasi barang-barang milik Hermawan selama seminggu di rumah sakit. Santi juga akan mengantarkan papanya pulang ke rumahnya, dan sejak menemui Naira waktu itu, Santi sudah bertekad untuk pulang ke rumah papanya. Namun, Arya melarangnya. Ia tidak mau apa yang Santi lakukan itu akan mengundang banyak pertanyaan, terutama ibunya Arya. Pasti beliau akan bertanya-tanya kenapa Santi tiba-tiba ingin pulang ke rumahnya.
Mungkin mereka bisa menerima alasan karena Santi ingin menemani papanya sampai papanya pulih. Tapi, bagaimana nantinya kalau Arni tahu yang tinggal di rumah Hermawan hanya Santi saja, tidak untuk Arya.
“Kamu mau ikut kami pulang, San? Kamu mau antar papa?” tanya Hermawan.
“Iya, Pa. Santi juga akan tinggal di rumah papa sementara,” jawab Santi.
“Dengan Arya, kan?”
“Santi sama Anin saja, Pa,” jawabnya.
“Lho kenapa hanya kamu dengan Anin saja?” tanya Hermawan penasaran.
“Iya kok kamu sama Anin saja? Masa suamimu tidak diajak? Ajaklah, kan tempat kerja Arya juga tak jauh dari rumah mama-papa?” ujar Halimah.
“Iya dong Arya ikut, masa tidak ikut, Ma?” ucap Arya yang tiba-tiba muncul di balik pintu ruang perawatan Hermawan, dia baru saja mengurus semua administrasi rumah sakit Hermawan.
“Begitu dong, masa gak ikut?” ucap Hermawan. “Biar rumah papa rame, ya meski seminggu saja.
“Ya sudah mumpung ada Arya, mama urus administrasi papa dulu, ya?” pamit Halimah.
“Sudah, Bu. Tadi aku sudah urus semuanya, semua sudah beres, tinggal beres-beres, lalu menunggu surat kontrol dari dokter, dan diizinkan pulang,” jelas Arya.
“Arya ... kamu jangan begitu, kami sudah sering merepotkanmu,” ucap Halimah.
“Iya, Ar, jangan begitu lagi, ya? Kamu mau menikah dengan Santi, dan menyayangi Santi juga Anin saja papa sudah bahagia sekali,” ucap Heramawan.
“Pa, sejak aku menikahi Santi, papa sama mama itu sudah seperti orang tuaku. Tanggung jawabku juga,” ucap Arya tulus.
Santi hanya diam saja, dia memang akhir-akhir ini selalu menghindari Arya. Dia tidak mau ingkar atas janjinya pada Naira. Naira juga berperan dalam menyelamatkan papanya, dengan mendonorkan darahnya. Kalau tidak ada Niara mungkin Santi sudah tidak bisa melihat papanya lagi. Jadi Santi merasa berutang nyawa dengan Naira.
Hermawan melihat Santi dari tadi terdiam sambil memasukkan barang-barang ke dalam tas. Hermawan tahu, Santi pasti masih trauma untuk pulang, karena rumah itu adalah saksi bahwa di mana dirinya dikekang oleh sikap papanya yang keras kepala dan otoriter.
“Santi?” panggil Hermawan.
“Iya, Pa? Kenapa? Ada yang mau dibantuin?” tanya Santi.
__ADS_1
“Kamu kenapa diam, ini ada suamimu malah kamu wajahnya tegang begitu? Kenapa? Kamu takut untuk pulang ke rumah?” tanya Hermawan lembut. Dipandanginya putrinya dengan penuh pengertian. “Kalau masih trauma untuk pulang ke rumah, biar papa pulang dengan mamamu saja. Papa mengerti perasaanmu, Nak.”
Santi tersenyum, lalu mendekati papanya yang sedang duduk di kursi roda. Santi berjongkok di depan papanya. Ia genggam tangan papanya dan dicumnya kedua tangan papanya bergantian.
“Tidak, Papa. Santi tidak trauma sedikit pun,” sahut Santi tersenyum tulus. “Sekarang aku tahu, rumah itulah satu-satunya tempat yang paling hangat dan aman di dunia ini. Tempat aku menemukan orang-orang yang mencintai dan melindungiku.”
Hermawan merengkuh Santi dengan kedua tangannya. Memeluk putrinya dengan keharuan. Seperti menemukan kembali permata hatinya yang dulu hilang.
“Permisi, ini surat kontrol Pak Hermawan, dan dokter sudah memperbolehkan Pak Hermawan pulang. Ingat pesan dokter tadi ya, Pak? Tetap semangat untuk terapi, meski di rumah, dan kalau ada kesempatan senggang untuk berlatih berjalan itu malah lebih bagus, apalagi ditemani oleh keluarga yang memberikan bapak semangat,” jelas perawat.
“Iya, Sus, terima kasih,” jawab Hermawan.
Santi mendorong kursi roda papanya. Arya membantu Halimah membawakan barang-barang. Halimah sedikit curiga dengan sikap Santi yang terlihtat cuek sekali pada suaminya, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat harmonis, dan sering bercanda di mana pun tempatnya, kali ini Santi terlihat cuek sekali dengan suaminya.
“Anin nanti kamu jemput atau bagaimana?” tanya Halimah pada Arya.
“Nanti sama ibu-bapak menyusul,” jawab Arya.
“Ar, kamu ada masalah dengan Santi?” tanya Halimah dengan berbisik.
“Ya ibu lihat dari tadi tumben-tumbennya Santi cuek dengan kamu? Biasanya dia gak begitu?”
“Mungkin dia kesal sama aku, aku yang urus administrasi bapak. Dari semalam sudah berdebat soal ini, tapi aku bilang, kalau semua ini tanggung jawabku,” jelas Arya, padahal tidak seperti itu. Santi cuek dengan Arya sejak setelah menemui Naira, dan menandatangani perjanjian dengan Naira untuk menepati janjinya.
Arya menolak, dan tidak mau. Apa pun yang terjadi Arya tidak mau mempertaruhkan pernikahannya. Apalagi dia sudah sangat mencintai Santi, dan sudah menunaikan kewajibannya sebagai suami dengan Santi.
“Bagaimana bisa aku meninggalkan Santi? Dia wanita pertama yang aku sentuh dengan penuh cinta,” gumam Arya.
Mereka sudah sampai di kediaman Hermawan. Santi mengantar papanya masuk ke dalam kamarnya. Arya dan Santi membantu Hermawan berbaring di tempat tidur. Setelah itu, Santi langsung beranjak pergi, tapi Hermawan memegangi tangan Santi.
“Sebentar, papa mau bicara dengan kalian,” ucap Hermawan.
“Mau bicara apa, Pa? Santi mau ke belakang, mau bantuin mama, terus mau buatin papa bubur.” jawab Santi.
“Sejak kapan kamu mau membantu mama, dan bisa buat bubur?” tanya Hermawan.
“Santi ini sekarang bisa masak lho, Pa? Masakan istriku ini enak sekali, ya dia juga bisa buat bubur, kemarin saat aku sakit saja aku dibuatkan bubur, setiap hari masakin MP-Asi buat Anin juga,” puji Arya.
__ADS_1
“Jangan terlalu tinggi memujinya, Mas. Aku bisa seperti itu juga karena belajar dari Mbak Hani, lagian masa seorang istri gak bisa masak?” ucap Santi.
“Ya sudah, buat buburnya nanti, sekarang papa mau bicara dengan kalian,” ucap Hermawan sambil memandangi wajah Arya dan Santi secara bergantian.
“Kalian baik-baik saja, kan? Maksud papa, kalian sudah saling mencintai? Kalian menikah bukan karena perjanjian?” Pertanyaan Hermawan membuat Santi dan Arya sejenak terdiam, seakan tahu kalau pernikahan mereka berawal dari perjanjian, dan akan berakhir karena Santi merasa berutang nyawa dengan Naira.
“Arya sangat mencintai Santi, dan mencintai Anin. Anin sudah seperti anak kandung Arya sendiri, Pa,” jawab Arya. “Aku ini serius menikahi Santi, Pa. Kalau tidak, dulu aku tidak akan ke sini meminta izin dan meminta restu pada papa,” imbuhnya.
“Papa sudah melihat keseriusan kamu sejak saat itu. Tapi, pesan papa, meski kamu sangat menyayangi Anin, kamu sangat mencintai Anin, papa minta kamu jangan sampai seperti papa, yang mengekang anaknya, karena papa terlalu khawatir anak papa kenapa-napa. Ternyata itu malah menjadikan anak kita berontak. Biarlah anak memilih jalannya sendiri, tugas kita hanya mendampingi saja mau ke mana dia memilih jalan, dan mengingatkan kalau anak kita salah jalan,” tutur Hermawan.
“Iya, Pa, Arya tidak akan seperti itu, doakan Arya supaya bisa membahagiakan Santi dan Anin, Pa,” ucap Arya.
“Itu pasti,” jawabnya. “Lalu kamu bagaimana? Kamu mencintai suamimu, kan?” tanya Hermawan.
“Iya, Santi mencintai Mas Arya, Pa. Papa tenang saja, Mas Arya sangat baik, dia sangat mencintaiku, Pa. Dia suami yang sangat bertanggung jawab, dan aku sangat mencintai Mas Arya,” jawabnya dengan menatap Arya dengan tatapan sendu. “Sudah papa istirahat, ya? Santi ke belakang dulu, Santi juga harus tata koper Santi di kamar,” ucap Santi.
“Iya, papa istirahat ya? Arya mau menurunkan koper dulu,” ucap Arya.
“Iya sana kalian juga istirahat, dari kemarin kalian sudah lelah mengurus papa di rumah sakit.”
Arya dan Santi keluar dari kamar papanya. Mereka saling diam, Arya meraih tangan Santi, tapi Santi langsung menepiskannya, dan langsung berjalan ke arah mobil Arya untuk mengambil kopernya. Arya mengekori Santi yang sudah berjalan lebih dulu.
“Kopermu bawa pulang lagi saja, Mas. Aku butuh waktu sendiri, tolong mengerti,” ucap Santi.
“Hei jangan bicara begitu, kita bisa menghadapi semuanya bersama, San. Biar Naira seperti itu, kamu jangan seperti ini. Aku tanya sama kamu, kamu mau pisah dengan aku? Setelah apa yang telah kita lalui bersama kamu akan meninggalkan aku begitu saja?”
“Aku berutang nyawa dengannya, Mas. Kalau tidak papa tidak akan selamat, aku tidak akan bisa melihat papa lagi,” jawab Santi.
“Jawab aku, apa kamu mencintaiku?”
“Sebesar apa pun aku mencintaimu, utang tetap utang, Mas,” jawab Santi.
“Aku tidak peduli itu, aku akan bicara dengan orang tua Naira, aku yakin mereka gak tahu Naira begini, karena pada dasarnya orang tua Naira tak setuju dengan aku.”
“Naira kemarin menemuiku dengan ayahnya, ayahnya bilang dan mengancamku kalau tidak mau melepaskanmu. Apa itu yang dinamakan tidak setuju, Mas?”
Arya tidak tahu kenap bisa-bisanya ayahnya Naira ikut seperti itu. Arya tidak tahu apa motif dan tujuan ayahnya Naira yang meminta Santi meninggalkan dirinya.
__ADS_1