Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 47 - Membahagiakan Orang Yang Aku Cintai


__ADS_3

Santi tidak henti-hentinya mempertanyakan statusnya pada mamanya. Ia juga tak henti menghujat mamanya dan menyesai sikap mamanya yang menutup-nutupi kenyataan sebenarnya.


“Kenapa?” Ratapnya dengan bercucuran air mata. “Kenapa mama menutup-nutupi status aku ini? Kenapa tidak ada satu pun orang di rumah yang memberitahuku kalau aku hanyalah anak pungut?”


Halimah hanya bisa menangis, ia memang salah menutupi semua itu, hanya karena Hermawan tidak mau kalau Santi tahu siapa ayah kandungnya. Arya dan kedua orang tuanya hanya terdiam melihat kejadian yang sama sekali tidak pernah mereka duga kalau Santi bukan anak kandung Hermawan. Sesekali Arya mengusap punggung Santi.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Santi,” ucap Halimah dengan suara lirih. “Bagi papa kau tetap anak yang sangat dicintainya, kamu adalah kebanggaan papa, Nak. Anak yang sangat kami cintai.”


“Kalau aku tahu, aku tidak akan setega ini pada papa ...,” rintih Santi pilu. “Aku tidak akan melawannya, tapi sekarang, lihat apa yang telah aku lakukan? Aku malah membayar semua kebaikan papa dengan menjadi anak durhaka.”


“Tenang ya, Sayang?” Arya mengusap bahu Santi lalu memeluknya. “Berdoalah, semoga papa selamat dan kakinya tidak perlu diamputasi. Semoga kamu masih diberi waktu untuk membahagiakan papa dan memperbaiki semua kesalahan yang sudah pernah kamu lakukan.” Tutur Arya dengan terus menenangkan Santi.


Kehadiran Santi di rumah sakit bukan hanya mengundang keingitahuan orang-orang di sana. Para perawat, pembesuk, bahkan pasien bergantian menghampiri untuk berkenalan dengan model favorit mereka yang selama ini hanya wajahnya saja yang bisa mereka lihat di layar kaca.


Sebagai public figure, orang-orang merasa berhak mengetahui kehidupan pribadi Santi. Mereka tidak hanya bertanya mengapa Santi ada di rumah sakit, tapi juga pertanyaan-pertanyaan kritis lain yang masih menyisakan keingintahuan mereka, karena belum tuntas dikupas di acara gosip yang pernah muncul di televisi.


Suasana di koridor rumah sakit, tempat Santi menunggu malah jadi seperti jumpa fans. Santi harus melayani pertanyaan dan permintaan tanda tangan. Wartawan pun banyak yang datang untuk meminta keterangan Santi. Arya dengan sigap mendampingi istrinya, dia tahu istrinya sedang kacau, ditambah dengan banyaknya fans Santi, dan para wartawan yang ingin tahu tentang Santi, membuat Santi tidak nyaman.


“Mohon maaf, istri saya sedang terkena musibah, jadi tolong jangan seperti ini,” cetus Arya.


“Tolong, tolonglah saya,” pinta Santi kewalahan. “Saya sedang mendapat cobaan. Tolong beri saya privasi untuk berada di tengah keluarga saya, beri saya waktu untuk diri saya sendiri,  untuk melalui masa-masa sulit ini bersama  keluarga saya.” Santi menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Iya, kami minta tolong, kami sedang terkena musibah, ada baiknya nanti saja dilain waktu kalau mau bertanya lainnya,” tutur Arya.


Arya dengan dibantu Pak Rozak  berhasil mengondisikan semuanya. Wartawan dan para fans Santi pergi satu-persatu. Sejak Santi di Jakarta, memang dirinya jarang keluar rumah kecuali dia ke rumah mamanya, atau diajak Arya. Itu pun Santi harus memakai penutup wajah, atau masker untuk menutup wajahnya supaya tidak diketahui orang. Beruntung dia sudah cuku lama vakum di dunia intertain, karena dia hamil di luar nikah, jadi hanya dengan penutup wajah saja orang tidak mengenalinya, kecuali yang memang sudah mengenal Santi sekali.


Santi kembali duduk di bangku tunggu, dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Arya mengusap kepala Santi, menenangkan Santi yang mungkin hatinya masih sangat kacau.

__ADS_1


Dokter Yanuar, dokter yang menangani operasi Hermawan keluar dari ruang operasi dengan raut wajah yang terlihat ada secercah harapan Hermawan keadaannya baik-baik saja dan operasainya berjalan dengan lancar.


“Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan papa saya? Apa papa baik-baik saja, dan operasinya berjalan lancar?” Tanya Santi dengan suara bergetar, karena dia dari tadi ketakutan, papanya kenapa-napa.


“Operasi kaki Pak Hermawan berlansung dengan baik, dan lancar,” jelas Dokter Yanuar lega. Begitu keluar dari ruang operasi , ia tampak tersenyum. “Namun, Pak Hermawan masih harus melewati masa kritisnya. Beliau masih belum sadar dari koma.”


Santi langsung memeluk mamanya begitu mendengar kabar baik tersebut. Setelah itu ia bergantian memeluk ibu mertuanya, lalu suaminya, seakan ingin membagi kelegaan karena satu cobaan telah berhasil dilalui. Operasi papanya berjalan dengan lancar, sekarang tinggal melewati ujian terkahir dan terberat. Menantikan papanya sadar dari koma, dan memenuhi permintaan Naira yang menurutnya sangat berat.


Memang seharusnya pernikahan dirinya dengan Arya sudah selesai, tidak usah lagi dilanjutkan, karena pasti akan ada hati yang tersakiti, yaitu Naira. Namun, dengan keseriusan Arya yang ingin melupakan Naira, dan kegigihan Arya yang serius belaja mencaintainya, membuat dirinya percaya, dan tidak ingin berpisah dengan Arya, apalagi dirinya sudah jatuh cinta dengan Arya, karena kebaikan dan perhatian Arya yang tak henti-henti pada dirinya.


Hermawan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Santi menunggui di sisinya. Ia duduk di samping pembaringan papanya dengan menggengga tangan papanya erat, sambil tak henti-hentinya berdoa. Hermawan tampak terlelap dengan kondisi yang lemah. Masih belum sadar dari masa kritisnya.


“Bangunlah, Papa ...,” bisik Santi sedih. “Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan. Beri aku waktu untuk memperlakukan papa sebagai sebenar-benarnya seorang papa.”


Santi menciumi tangan papanya dengan berlinang air mata. Dibelai-belainya rambut papanya dengan sepenuh kasih. Wajah Hermawan tampak pucat, matanya terpejam rapat. Santi tidak tega melihat kondisi papanya yang mengenaskan. Perban tampak membalut beberapa bagian tubuhnya. Gumpalan darah yang menghitam tampak meresap menodai perban.


Meski begitu, Santi dapat merasakan penderitaan Hermawan ketika mengalami kecelakaan itu. Betapa tidak tertahankannya rasa sakit yang harus ditanggung oleh papanya.


“Maafkan aku, Papa.” Bisik Santi sambil menghapus air mata yang meleleh di pipinya. “Aku betul-betul anak yang tidak tahu diri, kalau papa siuman nanti, akan aku abdikan hidupku untuk berbakti padamu, Pa,” lirihnya.


Ketika akhirnya Hermawan memperoleh kesadarannya kembali, Santi yang pertama kali dilihatnya. Samar-samar ia melihat putrinya yang sedang duduk di sisi ranjang, memegan erat tangannya, dan kepala Santi menunduk sambil tak putus-putusnya membisikkan doa.


Setelah beberapa jam menunggu, Santi merasakan tangan papanya yang semula diam, kini mulai bergerak perlahan dalam genggamannya. Santi serentak mengangkat wajahnya, melihat kelopak mata papanya mengerjap-ngerjap.


“Papa ...,” panggil Santi lega sekaligus terharu. “Ini aku, Papa ... Syukurlah papa sudah sadar.”


Lalu Santi bangkit menghambur ke pintu, menjulurkan wajahnya keluar, memanggil mama, suami, dan mertuanya dengan penuh bahagia, mengabarkan berita gembira itu kepada semuanya.

__ADS_1


“Dokter ... Suster ....” Panggilnya dengan berlari ke ruangan perawat. “Papa sudah siuman,”


“Mama, papa sudah siuman, Ma. Papa sudah siuman, Mas,” ucapnya pada mama dan suaminya dengan wajah penuh bahagia.


Dengan setengah berlari Santi kembali ke sisi ranjang papanya. Menatap wajah papanya dengan perasaan campur aduk. Santi menyeka air matanya yang menggenang, saat Dokter Yanuar mengabarkan berita bagus, papanya sudah baik-baik saja, tinggal perawatan dan pemulihan kesehatannya. Tuhan ternyata mengabulka doanya. Memberinya kesempatan untuk mendampingi papanya melewati masa-masa kritis.


“Aku tidak tahu, kalau papa sampai pergi meninggalkanku, aku dengan siapa kalau papa pergi, sedangkan Arya, pun sebentar lagi akan meninggalkanku,” batin Santi dengan menatap papanya dengan sendu, lalu bergantian menatap Arya yang berada di depannya, di sisi kiri pembaringan papanya.


Hermawan menggerak-gerakkan mulutnya dengan lemah, menghadap ke arah Santi. “Jangan menangis, Santi,” bisik Hermawan lirih. “Aku rela kehilangan nyawa sekali pun,  asalakan kau kembali padaku.”


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Papa,” sahut Santi terisak. Diraihnya telapak tangan papanya, lalu diletakkan ke pipinya, sehingga papanya bisa merasakan air mata mengalir di wajah Santi. “Engkaulah papa terbaik dalam hidupku.”


^^^


Selama beberapa hari Hermawan dirawat di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya. Operasi kakinya menunjukkan perkembangan yang baik. Hermawan masih harus menggunakan kursi roda untuk alat bantu bergerak sambil menunggu gipsnya dibuka.


Selama Hermawan dirawat di rumah sakit, Santi tidak sekejap pun meninggalkan. Ia menemani papanya hingga kondisinya membaik. Pun dengan Arya, ia juga setia mendampingi istrinya yang sedang menemani pemulihan papanya di rumah sakit. Anin ia percayakan pada ibu mertuanya dan baby sitter yang ia sewa. Kadang Arya pun menyempatkan merawat Anin saat dia ada waktu lama di rumah.


Hermawan padahal sudah menyuruh Santi di rumah saja karena sedang memiliki bayi, tapi Santi tetap ingin menemaninya di rumah sakit. Ia tidak mau melewatkan sehari pun untuk tidak menemani papanya.


“Kasihan Anin kalau kamu di sini terus, San? Papa ada mama di sini,” ucap Hermawan saat selesai disuapi bubur oleh Santi.


“Izinkan aku menggantikan ribuan hari yang hilang,” kata Santi sungguh-sungguh. “Aku ingin selama mungkin berada di samping papa. Saat-saat yang paling berharga dalam hidupku, yang telah kusia-siakan selama ini.”


Santi tidak mau lagi kehilangan momen kedekatan dengan papanya yang seperti sekarang, yang ia rasakan damai saat bersama, tidak seperi saat dulu, selalu ingin jauh-jauh dari papanya yang sangat mengekang dirinya. Sekarang Santi sadar, papanya melakukan semua itu karena papanya tidak mau dirinya terjerumus ke dalam pergaulan yang salah yang akan merugikan dirinya sendiri, ternyata benar, saat dia menentang papanya, hidupnya tidak baik-baik saja. Dirinya hamil dengan kekasihnya, tapi kekasihnya tidak mau bertanggung jawab.


“Andai saja aku tahu sikap papa yang otoriter, dan tujuan papa mengekangku, aku tidak akan pernah menentangnya. Semua yang papa lakukan demi kebaikanku, bukan karena papa jahat denganku. Sekarang, aku akan abdikan hidupku untuk papa dan mama, pada siapa lagi aku abdikan hidupku kalau tidak kepada orang tuaku? Suami? Aku sebentar lagi mungkin akan berubah status menjadi janda, aku tidak lagi punya Mas Arya, sosok penyemangatku, aku hanya punya mama dan papa saja ke depannya, juga Anin. Dan, mereka harus aku bahagiakan dengan caraku. Aku harus bahagiakan mereka, orang-orang yang aku cintai,” batin Santi.

__ADS_1


__ADS_2