Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 49 -


__ADS_3

Santi sudah berada di kamarnya, ia tidak peduli dengan suamina yang dari mengajak bicara soal Naira. Santi juga tidak ingin semuanya berakhri sia-sia, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur berjanji, apalagi semua itu ia lakukan demi papanya. Ia menjadi berutang nyawa dengan Naira, karena dia pikir kalau Naira tidak memberikan darah untuk papanya, papanya tidak akan selamat.


Arya masih memandangi istrinya yang sedang sibuk menata baju di dalam lemari. Tatanan kamar Santi masih belum berubah, bahkan barang-barang miliknya yang dulu masih tersimpan rapi. Arya mengambil bingkai foto yang ada di atas lemari kecil. Banyak sekali foto Santi dan Fano yang masih terpajang.


“Masih dipajang juga foto mantanmu?” ucap Arya.


“Aku tuh kabur, jadi gak sempat nata kamarku, mama juga orangnya gak suka ikut campur kalau masalah itu,” jawab Santi dengan sibuk. “Memang kenapa kalau masih aku pajang? Kamu saja masih menyimpan foto Naira? Bahkan di ponsel dan laptopmu masih banyak foto dia. Itu ya, yang namanya sudah melupakan, dan sudah mencintaiku? Lelaki sama saja! Gak salah aku meminta bantuan Naira demi papa, dan harus melepaskan kamu sebagai permintaan Naira,” imbuhnya.


Arya hanya diam, karena dia memang masih menyimpan foto Naira di ponsel dan laptopnya. Memang dia belum sempat menghapusnya, karena dia akhir-akhir ini sangat sibuk.


“Aku belum sempat menghapusnya,” jawab Arya. “Bukan berarti aku masih belum bisa melupakannya,” pungkasnya.


“Sama saja,” tukas Santi.


Arya mendekati Santi, ia tahu Santi sedang tidak baik-baik saja. Ia memluk Santi dari belakang, “jangan seperti ini, San. Semua bisa kita bicarakan secara baik-baik,” bisik Arya.


Santi menangis, ia pun sadar kalau tidak bisa melewati semuanya sendiri. Apalagi hidupnya sudah bergantung Arya, dia tidak bisa tanpa Arya. Anin pun makin ke sini makin dekat dengan Arya. Apalagi saat ini dirinya sudah mulai aktif lagi di butik, salon, bahkan sudah mulai ada pemotretan lagi.


“Aku gak tau, Mas. Aku bingung, aku hanya ingin papa sembuh saat itu, aku tidak  memikirkan bagaimana belakangnya saat aku menerima syarat Naira. Aku kira Naira perempuan yang tulus, yang baik, tapi dia seperti itu. Di luar dugaanku sekali, Mas. Aku memang yang salah, harusnya saat itu aku tidak usah membiarkan kamu ikut terlibat saat aku kabur,” ucap Santi dengan terisak di pelukan Arya.


“Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik, San. Kamu jangan begini, jangan takut ancaman Naira dan papanya. Kalau aku tetap tidak mau dia mau apa? Aku akan berikan apa yang dia mau, untuk mahar karena dia sudah mendonorkan darah untuk papamu, asal aku tidak meninggalkanmu,” ucap Arya.

__ADS_1


“Semuanya sudah terlambat, Mas. Aku sudah menandatangani perjanjian itu. Lagian memang seharusnya kita berpisah bukan? Sesuai perjanjian itu?”


“Sudah tidak ada perjanjian itu, Santi!” tegas Arya. “Kita sudah melakukannya, San! Aku sudah menyentuhmu, apa kamu mau kita berpisah? Aku tidak bisa!”


“Aku tidak tahu, Ar! Aku bingung, tolong beri aku waktu untuk berpikir, Ar. Aku benar-benar lagi gak bisa mikir, Ar!”


Santi melepaskan pelukan Arya. Dia mendekati lemari kecil, dan mengemasi foto-foto dirinya dengan Fano. Sejak pulang ke Jakarta, dia sudah tidak lagi bertemu Fano, padahal dia sudah sering keluar ke butik, ke salon, bahkan sempat sesekali ada pemotretan untuk brand baju ternama.


Santi menaruh foto-foto itu ke dalam kotak, yang memang khusus menyimpan barang-barang milik dirinya yang berhubungan dengan Fano.


^^^


Santi sudah satu bulan tinggal di rumah orang taunya, begitu juga dengan Arya. Dia ikut dengan Santi tinggal di rumah orang tua Santi. Arya paham, Santi masih ingin menemani papanya, dia juga selalu mengantarkan papanya check-up, mengantarkan terapi juga. Santi dengan setia selalu menemani papanya terapi.


Selain itu, Hermawan juga diminta sesering mungkin berlatih, di setiap kesempatan dan berbagai tempat. Santi meluangkan banyak waktu untuk menemani papanya berlatih berjalan di rumah sakit,  di rumahnya, atau di taman. Ia seperti ingin menebus hari-hari indah yang sempat hilang di antara mereka.


“Ayo, Pa ...!” Seru Santi memompakan semangat papanya. “Sedikit lagi, Pa!”


Dengan tertatih-tatih Heramawan mencoba melangkah. Ia melihat Santi berdiri menanti di depannya. Santi mengulurkan tangannya, siap  menerima papanya.


Ketika sedang berjalan setapak demi setapak, Hermawan merasa seperti sedang menyusuri kehidupannya. Kini ia tahu ke mana harus menuju. Kini ia memahami alasannya untuk bertahan hidup. Karena ia tidak ingin kehilangan putrinya lagi.

__ADS_1


Hermawan seperti mendapatkan kekuatan. Dari hari ke hari langkah kakinya semakin mantap dan kuat. Ia menghambur ke arah Santi yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.


“Aku menyayangimu, Papa,” bisik Santi lirih. “Tak ada yang bisa menggantikanmu di dalam hidupku.”


Setelah kondisi Hermawan berangsur-angsur pulih. Santi merasa sangat lega, ia bisa menjaga papanya, merawat papanya bersama dengan mamanya. Setelah kecelakaan itu, pembawaan Hermawan berubah drastis. Ia semakin sabar dan arif. Ia menjadi sosok seorang ayah yang hangat dan penuh kasih sayang pada Santi, dan eyang yang sangat mencintai dan menyayangi Anin. Tidak ada lagi Hermawan yang suka marah-marah dan selalu menyudutkan. Hermawan telah menjadi sosok ayah yang bijaksana, yang bukan hanya memberi nasihat, namun juga memberi panutan melalui tingkah lakunya.


Hermawan juga sudah tidak lagi menjadi suami yang pemarah, dia lebih perhatian pada istrinya. Dia selalu mengucapkan kata cinta setiap hari pada Halimah, seperti saat dulu pertama mereka berumah tangga. Hermawan juga memperbolehkan Santi menjadi model lagi, tapi kali ini Santi memilih hanya menerima endors saja, tidak seperti dulu, yang kontrak di berbagai agency, bahkan kontrak untuk menjadi bintang iklan juga. Santi lebih fokus dengan Anin sekarang, juga lebih fokus mengurus butik dan salon kecantikan miliknya.


“Kamu yakin tidak akan kembali seperti dulu, San? Hanya begini saja? Terima endors saja, lalu bikin video?” tanya Hermawan.


“Iya, Pa. Begini lebih enak, bisa pantau Anin juga, kan?” jawab Santi.


Hermawan mengangguk, ia paham. Sekarang Santi sudah memiliki anak, tapi Santi juga masih memiliki bakat. Namun keputusan Santi untuk memilih jalan seperti itu juga membuat Hermawan lega, karena dunia luar seorang model tidak akan pernah baik-baik saja.


“Kamu tidak pulang ke rumah suamimu? Nanti suamimu marah?”


“Tidak, Arya tidak seperti itu, Pa? Dia tahu aku di sini juga karena aku ingin merawat papa?”


“Papa sudah sembuh, tidak apa-apa kalau kamu kembali ke rumah suamimu,” ucap Hermawan. “Seorang istri harus menuruti apa kata suami, kalau masih dalam jalur yang benar,” tutur Hermawan.


Santi hanya mengangguk, dia mengerti maksud papanya. Hermawan biara seperti itu karena dia melihat Santi dan Arya sedang ada masalah. Tidak biasanya Santi dan Arya sering diam-diaman. Arya juga jarang pulang ke rumah, dengan alasan ada pekerjaan banyak, dan harus lembur, jadi dia pulang ke rumahnya.

__ADS_1


“Papa tahu, kamu sedang ada masalah,” batin Hermawan.


__ADS_2