
“Kalian benar gak makan di rumah?” tanya Arni.
“Iya, Bu. Aku sudah janji sama Santi, mau ajak makan malam di luar,” jawab Arya.
“Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan, dan selamat berkencan,” ucap Arni.
Arya dan Santi pamit dengan Arni dan Rozak untuk makan malam di luar. Arya sudah reservasi restoran untuk dinner berdua dengan istrinya. Arya melajukan mobilnya ke restoran tersebut.
“Ini gak salah kita mau makan di sini, Ar?” tanya Santi.
“Enggak, ini benar kok,” jawab Arya.
“Ini gak terlalu mewah mau makan di sini?”
“Gak, biasa saja kok, ayo turun,” ajak Arya.
Arya menggamit tangan Santi untuk masuk ke dalam. Dia mengajak ke ruangan khusus yang ia pesan tadi siang.
“Ar, aku tahu uang kamu banyak, jangan gini dong? Makan malam saja di tempat mewah begini?”
“Untuk istriku apa yang gak?” jawab Arya.
“Ya sudah aku bisa apa selain menuruti suamiku?” ucap Santi.
Mereka menikmati makan malam berdua. Sebetulnya Arya ingin mengungkapkan perasaannya pada Santi, tapi ia takut Santi salah paham, dan dianggap Santi sebagai pelarian saja, karena dirinya baru memutuskan hubungan dengan Naira. Arya sudah memikirkan itu jauh-jauh hari untuk menyelesaikan hubungannya dengan Naira yang tidak jelas bagaimana ujungnya. Dia sangat mencintai Naira, tapi orang yang paling ia cintai sejak ia kecil tidak merestui hubungannya dengan Naira. Arya mengingat ucapan ibunya, bahwa dirinya boleh memiliki hubungan dengan perempuan mana pun kecuali Naira. Nama Naira sepertinya sudah diblack list oleh ibunya Arya dari daftar nama perempuan untuk Arya.
Hampir dua jam mereka mengobrol, dansa, dan bercanda setelah makan malam, tapi Arya belum juga berani mengatakan kalau dia tidak ingin melanjutkan perjanjian pernikahan dua semesternya dengan Santi. Tapi, Santi seakan tahu tujuan Arya malam ini, dan Santi tidak boleh lengah, saat Arya hendak membicarakan maksud dan tujuannya, Santi selalu mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah malam, Ar. Pulang yuk, nanti dimarahin ibu,” ajak Santi.
“Kita suami-istri, ngapain ibu marah?” jawab Arya.
“Iya juga sih, tapi aku kan sedang hamil?”
“Ya sudah ayo pulang.”
Sesampainya di depan restoran, saat Santi akan masuk ke dalam mobil, dia mendengar perempuan bicara dengan nada tak suka di dekatnya.
“Wah ... ini istri kamu, Ar? Model yang penuh dengan scandal! Ini bukan anak kamu kan, Ar?”
“Naira? Kamu ngapain di sini?” tanya Arya.
“Gak perlu kamu tahu aku di sini ngapain, aku butuh penjelasan darimu soal wanita ini!” jawab Naira dengan menatap Santi dengan tatapan sinis.
“San, masuk dulu gih,” titah Arya.
“Iya, Ar,” jawab Santi.
“Eh ... main masuk saja kamu! Kamu tahu hubunganku dengan Arya hancur itu karena kamu!” erang Naira.
“Nai, gak ada hubungannya dengan Santi! Ini kemauanku untuk putus denganmu!” ucap Arya.
“Kamu kenapa memilih dia, Ar? Mana yang katanya mau memperjuangkan, Ar? Aku setengah mati berjuang supaya ayah merestui, tapi kamu malah menikahi perempuan ini? Yang sedang hamil, tapi bukan anak kamu? Kamu mikir gak sih, Ar?! Kalau dia perempuan kotor!”
“Kamu boleh marah karena kamu putus dengan Arya, tapi tolong jangan libatkan Santi!” teriak Arya.
“Sudah, kalian jangan ribut! Silakan urus urusan kalian! Aku tidak mau ikut campur! Asal mbak tahu, aku menikah dengan Arya karena Arya yang minta, dan tenang saja kok pernikahan kami gak lama, hanya satu tahun. Tunggu saja sampai anak ini lahir, kalau kamu mau, dan tentunya kalau Arya juga masih mau?” ucap Santi dengan meninggalkan Arya dan Naira. “Oh iya satu lagi, saya memang perempuan kotor, saya hamil duluan, saya lekat akan dunia malam dan **** bebas, tapi saya masih punya atitude saat bicara di tempat umum! Gak lihat banyak orang yang melihat tingkah bodohmu, Nona?! Semua orang yang melihat bisa menilai kok, mana yang punya sopan santun, dan mana yang tidak!” Ucap Santi dengan penuh penekanan.
“Aku pulang dulu, Ar. Selesaikan urusan kamu dengan kekasihmu!” pamit Santi.
“Santi, jangan pulang! Kita berangkat bersama, dan kamu mau pulang ke mana?”
__ADS_1
“Ke rumah kamu lah! Mau ke mana lagi? Aku gak akan tersesat, ini di Jakarta, gang tikus pun aku tahu kok, jadi dengan mudah aku bisa tahu jalan pulang ke rumahmu. Tenang, gak usah khawatir aku bisa kasih alasan pada ibu dan bapak, kenapa aku pulang sendiri,” ucap Santi. Tangan Santi melambai saat ada taksi di depannya. Ia memberhentikan taksi tersebut. “Aku pulang dulu, Ar,” pamit Santi.
“Gak! Kamu harus pulang denganku!” Arya menarik tubuh Santi yang akan masuk ke dalam taksi. “Jalan, Pak!” titah Arya pada sopir tersebut.
“Baik, Pak Arya,” jawab sopir tersebut yang kenal dengan Arya.
Arya menatap Naira dengan tatapan sinis. Dia tidak peduli dengan Naira yang sakit hati karena keputusannya. Lebih baik sakit hati sekarang, daripada nanti ibunya tetap tidak merestuinya.
“Naira, aku sudah bilang, sudah jangan ganggu aku, kita sudah sendiri-sendiri, aku tidak mungkin kembali dengan kamu. Aku sudah menikah, jadi tolong stop menemuiku, dan membikin keributan!” tegas Arya.
“Arya, tapi aku tidak bisa ....” Ucapnya dengan terisak.
“Kamu pasti bisa, Nai. Aku yakin,” ucap Arya.
“Arya, aku tidak bisa. Aku mohon, izinkan aku menunggu kamu mendapatkan restu, kapan pun kamu dapat restu dari ibu. Aku tidak bisa gini, Arya ... Aku mohon ....”
“Aku tidak bisa, Nai. Tolong jangan begini, Nai?”
“Dia bilang kamu menikah sementara, sampai anaknya lahir?”
“Iya, tapi aku tetap tidak bisa, aku tidak bisa melawan ibu. Sudah, kita cukup sampai di sini, Nai. Kamu pulang, ya? Aku pesankan taksi,” ucap Arya.
Arya juga tidak tega melihat Naira yang kacau seperti itu. Naira yang berani di depan umum bicara seperti itu, padahal ini semua bukan pribadi Naira yang Arya tahu.
“Pulang ya, Nai?” ucap Arya. Naira masih saja menangis, Arya tidak tega melihatnya, ia memeluk Naira.
“Nai, aku juga berat melepaskan kamu, tapi lebih berat lagi jika aku menikah tanpa restu dari ibu, aku tidak bisa, Nai. Kalau ada pilihan ibu atau kamu, jujur dalam hati yang paling dalam aku memilih kamu, tapi pada keadaan, aku tidak bisa meninggalkan ibu, aku sangat menyayanginya lebih dari apa pun,” ucap Arya menenangkan Naira.
“Kamu tenang saja, aku akan bantu kalian supaya ibu merestui kalian. Aku memang salah sudah masuk ke dalam hubungan kalian, tapi percayalah, kami menikah tidak saling cinta, dan hanya sementara. Kamu jangan khawatir kita akan jatuh cinta. Baik aku dan Arya, punya hati yang harus kita jaga. Sudah malam lebih baik kamu pulang, biar Arya antar kamu,” ucap Santi.
“Aku pakai taksi saja, Ar. Tenang aku gak akan kabur kok,” pamit Santi pada Arya.
“Gak, kamu pulang dengaku, gak boleh pakai taksi!” tegas Arya.
Naira masuk ke dalam taksi. Lalu Arya melanjutkan untuk pulang dengan Santi. Santi hanya diam di dalam mobil, ia tidak bicara apa-apa, tidak mau membahas apa-apa lagi dengan Arya. Sudah jelas, Arya masih sangat mencintai Naira dari cara Arya memperlakukan Naira tadi.
“Apa tujuan kamu putus dengan Naira sih, Ar? Meskipun kamu memintaku untuk terus menjadi istrimu, itu tidak akan pernah merubah perasaanmu pada Naira, Ar?” gumam Santi.
Mereka sudah sampai di rumah. Santi langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Setelah itu, ia langsung naik ke atas tempat tidur, dan mencoba memejamkan matanya. Ia tidak peduli ada Arya di sebelahnya. Santi masih diam saja, tidak mau membahas apa pun dengan Arya, karena menurut Santi semuanya sudah jelas.
Santi memunggungi Arya. Ia dari tadi sibuk menyeka air matanya, dan menahan isakan tangisnya supaya Arya tidak mendengarnya.
“Aku minta maaf untuk yang tadi, San. Itu diluar dugaanku,” ucap Arya.
“Hmmm ... gak apa-apa, aku pun paham. Istirahatlah, sudah malam. Besok aku izin untuk ketemu mama dan papa, ya?” pamit Santi.
“Papa? Memang kamu akan menemui papamu juga?” tanya Arya.
“Aku akan coba ke rumah, nemuin papa dan mama. Kalau papa mengusir ya sudah aku pergi lagi, yang penting aku sudah berusaha mencoba menemui papa, mau minta maaf, karena selama ini aku sudah banyak salah dengan mereka,” jawab Santi.
“Besok aku antar, ya?”
“Tidak usah, Ar. Aku bisa sendiri,” jawab Santi.
“Tapi, San?”
“Ar, sekarang aku paham, kamu masih sangat mencintai Naira. Sudah Ar, aku akan usahakan bantu kalian, supaya ibu bisa merestui kalian. Aku yakin ibu bisa kok, merestui kalian?”
“Kita sudah menikah, San. Tidak usah bicara begitu, sampai kapan pun hanya kamu istriku, aku akan belajar mencintaimu, San. Lupakan perjanjian itu, kita menikah itu sah, bukan kontrak!” tegas Arya.
“Apa bisa pernikahan tanpa cinta?”
__ADS_1
“Nyatanya aku sama kamu bisa, kan? Bahkan tidak saling menyentuh saja bisa? Masalah Naira, aku akan selesaikan semuanya, jangan pernah menyuruh aku kembali lagi dengan Naira, aku tidak bisa. Itu semua karena aku ingin belajar mencintaimu, San.” Ucapan Arya terdengan tulus, meski Santi tidak melihatnya.
Arya melingkarkan tangannya di perut Santi, lalu mengusap perut Santi yang sudah membuncit. Arya mencium kepala Santi, dan mendengar Santi terisak.
“Jangan nangis, maafkan aku ya, San? Sudah tidur, besok pagi aku akan ajak kamu ke kantor, sudah saatnya orang kantor tahu siapa kamu, dan apa statusku.”
“Kamu gak malu punya istri yang sedang hamil, tapi anak di dalam kandungannya adalah anak orang lain?”
“Aku tidak peduli itu, San. Ayo kita tidur.”
Arya mengeratkan pelukannya, Santi pun mengusap tangan Arya yang ada di perutnya.
^^^
P.O.V Arya
Aku memang sangat mencintai Naira, tapi bagaimana dengan ibu kalau aku memaksakan egoku ini untuk tetap dengan Naira tanpa ibu merestuinya? Itu tidak akan mungkin, yang ada ibu sakit hati jika aku seperti itu. Apalagi sampai tahu ada perjanjian pernikahan di antara aku dan Santi, pasti ibu semakin marah denganku. Aku melihat ibu bisa menerima Santi, bisa menyayangi Santi, bisa bahagia menerima pernikahanku dengan Santi, meski tahu Santi seperti apa masa lalunya, itu adalah sebuah kebahagiaan untuk diriku sendiri. Meski kadang terbesit dalam pikiranku, andai saja Santi itu Naira, pasti aku akan lebih bahagia. Tapi, sepertinya tidak akan terjadi seperti itu. Ibu tidak akan pernah menerima Naira sampai kapan pun.
Sakit hati ibu juga sakit hatiku, tapi aku sudah terlanjur mencintai Naira, jadi aku masih bisa menerima perlakuan ayahnya Naira dulu, aku menerima olokan dari ayahnya Naira saat dulu, karena memang itu adalah kenyataannya. Namun, tidak bagi ibu, ibu sudah terlanjur sakit hati dengan ucapan ayahnya Naira, meski memang kenyataannya aku ini anak yang tidak jelas siapa ayahnya. Ibu adalah korban, ibu tidak mau nasibnya seperti itu, dan ibu butuh waktu yang sangat lama untuk bisa sembuh dari kejadian itu, tapi ayahnya Naira kembali mengingatkan, dan bicara tidak menggunakan hati terhadap aku dan ibu saat itu.
Aku sudah menikah dengan Santi. Aku memilih menikahinya, meski aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin anak yang ada di kandungnya tidak bernasib sama sepertiku, lahir tanpa seorang ayah. Meski Santi bukan korban pemerkosaan sperti ibu, tapi entah kenapa aku sangat ingin menikahinya? Dengan gagahnya aku meminta restu pada orang tua Santi saat akan menikahinya, padahal aku baru mengenal Santi, aku tidak tahu bagaimana Santi, yang aku tahu dia kabur dengan keadaan hamil, dan akan dinikahkan dengan lelaki bayaran papanya karena kekasihnya tidak bertanggung jawab.
Semakin hari, aku semakin tidak bisa jauh dari Santi. Entah apa yang mengikat hati ini, hingga aku tidak bisa jauh darinya. Aku ingin selalu menjaganya, ingin selalu tanya kabar dia, dan ingin tahu dia sedang apa di rumah. Bahkan aku rela meninggalkan kerjaanku hanya ingin melihat keadaan Santi baik-baik saja atau tidak. Aku tidak mencintainya, tapi rasanya semesta dan seisinya sudah mengalihkan aku untuk selalu menjaga Santi, dan mungkin mengalihkan cintaku.
Mungkin pria lain tidak akan sudi mengawini perempuan yang sedang hamil, apalagi hamil dengan pria lain? Ada sebagian yang mau, itu pun ada embel-embelnya, ada maharnya dari pihak perempuan, supaya anaknya lahir ada ayahnya. Sedangkan aku? Sudah tahu dia akan dinikahkan dengan pria yang dibayar keluarganya, malah aku menyembunyikannya, dan menikahinya? Saat itu dipikiranku, aku ingin anak itu lahir ada ayahnya, hingga aku melupakan semuanya. Aku juga tidak tega kalau dia di jagat orang sendirian, dan dalam keadaan hamil, apalagi aku tahu dia sampai hamil seperti itu karena apa. Aku bisa saja menitipkan Santi pada Mbak Sri atau Mbak Tati, tapi aku ini orang yang mengantar dia kabur, dan aku yang harusnya tanggung jawab.
Besok, aku sudah meyakinkan diriku untuk memberitahukan statusku sekarang. Aku akan mengenalkan Santi pada karyawan kantor. Santi sekarang bagian dari hidupku, dan sudah sepantasnya dia juga dikenal oleh orang yang tahu tentang diriku. Aku tidak peduli jika ada yang bilang kenapa harus menikahi wanita yang sedang hamil, dan itu bukan anakku? Aku tidak peduli itu, aku hanya ingin semua orang kantor tahu kalau aku sudah menikah. Besok aku juga akan mengantar dia menemui orang tuanya. Aku tidak yakin Pak Hermawan mau menemuinya, beliau sangat keras kepala sekali, bahkan kalau bapak cerita soal Santi saja Pak Hermawan seperti tidak mau mendengarkannya. Kata bapak Pak Hermawan terlihat kecewa jika mendengar nama Santi.
Santi mengubah posisi tidurnya, dia menghadapku, dan tangannya memelukku. Aku peluk dia, dan kuusap kepalanya, kuusap perutnya yang semakin membuncit, dan mungkin bulan depan statusku akan berubah menjadi seorang ayah, meski anak yang di kandungan Santi bukan darah dagingku sendiri.
Santi mengerjapkan matanya, dan menatapku yang sedang memeluknya. Dia mendongak dan tersenyum menatapku. Senyumnya manis sekali, dia sangat cantik, tidak heran dia adalah seorang model, hamil saja dia tetap menjaga tubuhnya.
“Kok bangun?” tanyaku sambil mengusap
“Pinggangku sakit, Ar,” jawab Santi. “Apa karena sudah hampir melahirkan ya, Ar? Jadi pinggangku sering sakit?”
“Iya katanya begitu, kemarin kamu rutin minum vitamin dan obat dari dokter, kan?” tanyaku
“Iya sudah rutin minumnya, “ jawab Santi. “Kamu belum tidur, Ar?” tanya Santi.
“Iya, belum, belum bisa tidur,” jawabku dengan mengusap pinggangnya yang katanya sakit.
“Mikirin apa? Naira?”
“Enggak, mikir kamu yang pengin ketemu papamu, takutnya papamu masih marah sama kamu, dan tidak mau menerimamu,” jawabku.
“Kamu tidak usah memikirkan itu, aku tahu papa. Papa memang seperti itu, tapi papa sangat menyayangiku, tidak mungkin papa mengusirku kalau aku ke sana,” jelas Santi.
“Yakin kamu akan menemuinya?”
“Yakin, aku tahu papaku, aku yakin papa mengerti kenapa aku kabur, semoga papa bisa menerimaku lagi,” ucap Santi
“Ya sudah, besok dari kantorku, aku antar kamu ke rumahmu, bagaimana?” tanyaku.
“Ar, rasanya aku tidak usah dikenalkan ke kantor kamu deh, apa kamu gak malu dengan keadaanku? Aku sudah hamil besar, dan ini bukan anak kamu. Dan, semua orang itu pasti tahu aku, Ar,” ucapnya.
“Aku tidak peduli orang bicara apa, San. Kamu itu istriku, mau orang tahu soal kamu atau bagaimana, aku tidak peduli,” ucapku meyakinkan.
“Tapi aku belum siap, Ar. Aku belum siap dikenal orang kalau aku ini istrimu. Nanti saja, Ar. Nunggu aku siap, nunggu aku melahirkan dulu, aku malu, Ar. Aku harap kamu tahu perasaanku bagaimana,” ucapnya.
“Oke, kalau kamu belum siap, besok aku antar kamu menemui orang tuamu saja. Ayo tidur lagi, aku usap pinggangmu supaya enakkan dikit,”
__ADS_1
Benar, mungkin Santi belum siap diketahui orang kalau dia istriku. Aku tahu keadaannya bagaimana. Ada benarnya nanti saja kalau Santi sudah siap keadaannya. Tapi, kenapa aku khawatir Santi akan menemui papanya? Aku takut papanya tidak bisa mengendalikan emosi, kalau bertemu dengan Santi.