Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 22 – Perjanjian Dua Semester


__ADS_3

Santi terlihat cantik dengan gaun putih pemberian dari mamanya, yang akan ia pakai di acara pernikahannya hari ini. Tubuh seksinya terbalut sempurna dengan gaun itu, dipadu dengan riasan wajahnya yang terkesan natural dan anggun. Santi masih berdiri di depan kaca, menatap pantulan dirinya dari kaca, melihat tubuh indahnya yang sempurna. Namun, binar kebahagiaannya surut saat melihat perutnya yang sudah sedikit terlihat membuncit.


“Maafkan mama ya, Nak? Mama sudah menyusahkan kamu, dan menyusahkan banyak orang. Bahkan orang sebaik Om Arya pun ikut terlihbat. Mama janji, mama  akan menyayangimu, dan membesarkan kamu sebaik mungkin, meski mama harus sendirian merawatmu, karena pernikahan mama dan Om Arya hanya sementara,” gumam Santi.


Arni tersenyum melihat menantunya sudah siap dengan gaun yang cantik. Arni mendekatinya, dan mengusap bahu Santi seraya mengulas senyumannya. “Kamu cantik sekali, San. Ibu titip Arya ya? Ibu tahu, pernikahan ini mendadak, dan kalian sama-sama tidak mencintai, tapi ibu yakin, kalian bisa saling  mencintai seiring berjalannya waktu.”


“Doakan kami ya, Bu?” Hanya itu yang Santi ucapkan, ia tidak tahu harus berkata apa, tidak mungkin dia mengatakan pernikahannya dengan Arya hanya sementara saja, hingga bayi yang dikandungnya lahir.


“Ibu akan selalu mendoakan kalian. Ayo keluar,” ajak Arni.


Di luar, Arya sedang menerima telefon dari Halimah, orang tua Santi. Arya sedikit mengobrol dengan mamanya Santi sebelum penghulu datang.


“Mama titip Santi ya, Ar? Mama tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih denganmu, karena kamu mau menikahi Santi. Maafkan mama dan papa yang tidak bisa menyaksikan pernikahan kalian. Kamu tahu sendiri bagaimana papanya Santi, kan?”


“Mama tidak usah khawatir, aku akan menjaga Santi, Ma. Santi akan baik-baik saja di sini.”


“Sekali lagi, terima kasih, Arya. Mama tutup telefonnya, ya? Ada pelanggan datang, dan papanya Santi juga sudah datang.”


“Iya, Ma. Mama sehat-sehat, ya? Gak usah mikirin apa-apa, Santi di sini baik-baik saja. Nanti kalau sudah ada waktu senggang, Arya dan Santi akan telefon mama.”


Arya menyudahi percakapannya dengan mama mertuanya. Ia tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang ketika anaknya menikah, tapi tidak bisa mendampinginya.


“Aku sudah janji akan menjaga Santi, ya hanya itu tugasku, tapi bukan untuk mencintainya. Cinta ini belum bisa berpindah pada perempuan lain, hati ini masih berhenti di Naira,” gumam Arya.


Arya duduk di depan penghulu, ia sudah siap mengucapkan janji sucinya, ia sudah siap menjadi suami dari Asyanti Hermawan.


“Saya terima, nikah dan kawinnya Asyanti Hermawan binti Hermawan, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!”

__ADS_1


Suara Arya jelas, lugas, dan tegas saat mengucapkan qobul di depan penghulu. Semua saksi mengucapkan sah, itu artinya Santi dan Arya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Santi mencium tangan Arya, lalu Arya mengecup kening Santi dan menyematkan cincin di jari manis Santi. Pun Santi, ia menyematkan cincin di jari manis Arya.


Setelah selesai acara, keluarga Arya berpamitan untuk pulang. Arni sebetulnya masih ingin bersama menantunya, tapi dia tahu, pengantin baru pasti butuh waktu berdua. Meski mereka tidak saling cinta, tapi Arni berharap Arya bisa mencintai Santi, itu sebabnya Arni memilih pulang saja.


“Yakin ibu gak mau di sini dulu?” tanya Santi.


“Ibu masih ingin sekali di sini, tapi ibu kan paham, kalian pengantin baru. Jadi ibu tidak mau mengganggu momen indah kalian di malam pengantin kalian,” jawab Arni.


“Bu, kalau masih ingin di sini, ibu sama bapak bisa kok di sini dulu?” ucap Arya.


“Tidak dong, bapak banyak pekerjaan,” jawab Rozak.


“Titip anak bapak yang bandel, ya?” ucap Rozak dengan menepuk bahu Santi.


“Iya, Pak. Nanti kalau Mas Arya bandel, Santi suruh Mas Arya tidur di teras rumah,” ucap Santi dengan terkekeh.


“Ih tega sekali kamu, San?” ucap Arya.


“Oh begitu ya Pak Saiful?”


“Iya dong, biar bisa merasakan sejuknya udara tengah malam, dengan ditemani nyamuk-nyamuk yang caper dengan maut,” jawab Saiful.


“Caper dengan maut bagaimana nih?” tanya Asep.


“Ya caper gitu, sudah tahu kalau dekat pasti mati, masih dekat-dekat dan gigit?” jawab Saiful.


Semua terbahak dengan kekocakkan Saiful. Arya tidak sia-sia membayar Saiful dengan mahal untuk akting menjadi bos, menggantikan Arya.

__ADS_1


^^^


Setelah keluarga Arya kembali ke Jakarta, sekarang hanya tinggal Arya dan Santi saja di rumah, asisten di rumah juga pulang, karena mereka sudah terlalu capek dari kemarin. Arya sengaja meliburkan asistennya, karena kemarin mereka kerja lembur untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Santi.


Arya mengajak Santi duduk di ruang tengah. Ia membawa map berwarna kuning, dan di dalamnya ada sebuah kertas yang isinya surat perjanjian kontrak pernikahan dua semester.


Arya menyodorkan itu pada Santi. “Apa ini, Ar?” tanya Santi.


“Kita pernah membahas ini kan, San?”


“Oh iya, aku sampai lupa. Pasti ini perjanjian dua semester itu, kan?”


“Ya seperti itu?”


“Kocak ya, kita? Kamu lebih-lebih, bukannya biarkan aku sendiri, malah nikahin aku? Sudah Cuma setahun saja?” ucap Santi ambigu.


Kening Arya berkerut, dan alisnya sedikit bertaut mendengar ucapan Santi. “Maksudmu Cuma satu tahun saja  bagaimana, San?” tanya Arya.


Santi gugup, ia tidak menyadari ucapannya tadi yang mengeluh hanya satu tahun saja. “Oh itu, maksudnya kenapa setahun? Kok enggak beberapa bulan saja gitu? Mungkin setelah aku melahirkan kamu langsung menceraikan aku?” jelas Santi dengan berusaha tenang.


“Kalau sampai anak kamu lahir, nanti siapa yang akan menemani kamu? Kalau kamu kerepotan mengurus anak? Lagian kalau habis melahirkan aku menceraikan kamu, ya semua pasti marah sama aku, aku tega ninggalin kamu yang baru saja melahirkan, apalagi aku sudah dipercaya mama dan ibu untuk menjaga kamu. Hanya bapak sih yang tahu, aku mau menikahi kamu sampai anak kamu lahir, tapi tetap saja, bapak menyuruh supaya kita terus bersama. Tapi aku tahu, kita sama-sama mencintai orang lain, kamu masih mencintai Fano, dan kamu tahu sendiri aku masih mencintai Naira?” ucap Arya.


Santi mengulas senyuman saat Arya berkata seperti itu. Rasanya dadanya sesak, dan seperti di tusuk oleh ribuan jarum. “Iya sih, memang seperti itu keadaannya,” ucap Santi dengan membaca perjanjian dua semester.


“Oke, aku tanda tangan di mana, Ar?” tanya Santi.


“Di sini, di atas materai. Itu perjanjian aku rangkap dua, satu untukku, dan satu untukmu,” ucap Arya. Santi hanya mengangguk dan menandatangani surat perjanjian pernikahan dua semester itu.

__ADS_1


“Lucu sekali, menikah hanya sementara. Semoga selama aku dengan Arya, aku tidak terbawa perasaan oleh kebaikannya. Semua ini hanya demi kamu, Nak. Maafkan mama, mama yakin semua akan baik-baik saja. Ingat, jangan baper ya, San? Kamu pasti bisa kok,” gumam Santi dalam hati.


Santi memberikan surat perjanjian itu pada Arya, dan Santi juga menerima satu lembar, lalu ia melihatnya kembali, dan membaca sekilas. Santi memang perempuan yang mudah baper, dan jatuh cinta. Dia takut akan terbawa perasaan dengan Arya nanti saat bersama. Apalagi Arya baik, dan selalu memberikan perhatian padanya, meski perhatian kecil yang Arya berikan untuknya.


__ADS_2