
Rozak melihat putranya yang gelisah. Gelisah dengan keputusannya. Iya keputusannya. Harusnya dia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan untuk menikahi Santi. Meski dia tahu siapa Santi, dan dari mana asal keluarganya, bibit, bebet, bobotnya. Harusnya Arya tidak sesingkat itu memutuskan untuk menikahi Santi.
“Kamu itu mbok ya kalau mau ambil keputusan dipikir matang-matang dulu, Ar? Jelas Hermawan tidak setuju kamu menikahi anaknya yang sudah hamil duluan? Bapak sebenarnya juga tidak setuju, tapi bapak melihat kamu, seperti jatuh cinta pada Santi,” ucap Rozak.
“Yeee jatuh cinta! Arya Cuma kasihan saja, Pak. Kalau bukan Arya yang bertanggung jawab siapa lagi? Arya yang bawa dia kabur lho pak?” ucap Arya.
“Tapi dia kan yang minta? Bukan kamu yang bawa kabur kan?” ucap Rozak.
“Iya juga sih, tapi dia kan di sana enggak tahu mana-mana pak? Udah minta kaburnya ke pekalongan? Sok-sok an kek tahu daerah sana. Iya sih dia memang asli sana, kedua orang tuanya asli dari Pekalongan, tapi harusnya enggak usah jauh-jauh,” ucap Arya.
“Tapi, kalau bapak pikir-pikir, mending nikahi saja Santi, daripada kamu menikah dengan anaknya Santoso, yang sudah memaki ibumu. Bapak saja tidak rela dan sangat marah waktu Santoso memaki ibumu. Ya waktu itu memang kita kan lagi susah, pantas Santoso berkata sok seperti itu. Seperti Naira wanita paling cantik saja, dia bisa bicara sesuka hati menjelekkan ibu kamu,” ucap Rozak dengan mengingat perlakuan ayah Naira waktu dulu. Saat Arya meminta restu untuk hubungannya dengan Naira.
Kedatangan Arya dan kedua orang tuanya bertujuan baik. Tapi, karena Arya anak orang biasa, dan kedua orang tua Naira tahu latar belakang ibunya Arya dulunya seperti apa. Dengan keras mereka menolak Arya untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Naira.
“Sudah jangan bahas Naira, Pak. Lagian selama ini Arya sama Naira masih berhubungan baik. Dalam artian kami tidak bisa kembali lagi seperti dulu, tapi masih berteman baik,” ucap Arya.
“Bapak saranin, lebih baik kamu jaga jarak dengan Naira. Luka tiga tahun lalu masih membekas di hati ibumu. Bapak tidak mau membuat ibu kamu sedih, ibu kamu terluka karena mengingat perlakukan kedua orang tua Naira,” tutur Rozak.
“Iya, Pak. Arya tahu kok kalau itu. Masalahnya sekarang, Arya bingung cara bilangnya ke ibu bagaimana soal Santi,” ucap Arya.
“Bapak saranin kamu tidak usah nikahi dia, Ar,” ucap Rozak.
“Idih, bapak plin-plan banget jadi orang tua? Jangan labil kek anak SMA dong pak?” ucap Arya kesal. Seperti itu Rozak, kalau memberi saran pada Arya kadang keluar labilnya. Tapi, dia tidak pernah mengekang Arya, dan terserah Arya kalau itu yang terbaik untuk Arya.
“Ya bukannya bapak labil, bapak takut saja, karena kamu tidak cinta sama Santi. Menikah kok gak ada rasa cinta? Susah, Ar!” ucap Rozak.
Arya hanya diam saja. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Santi seperti itu justru dirinya ingin menguatkan Santi. Dia tahu kalau Santi sebenarnya takut melangkah sendiri dengan keadaan seperti itu, meski Santi terus menolak untuk dinikahi dirinya.
^^^
Keesokan harinya, Arya bersiap untuk menemui Halimah, ibunya Santi di tempat yang telah ia janjikan kemarin sore saat menemui Hermawan di rumahnya. Arya sedikit terlambat, karena dia ingin mejelaskan kepada ibunye terlebih dahulu, kalau dirinya akan menikahi wanita yang tengah hamil lima bulan.
Setelah bedebat sedikit dengan ibunya, akhirnya Arya diizinkan ibunya untuk menikahi putri semata wayang Halimah dan Hermawan. Tadinya Arya pikir, Arya akan merahasiakan semuanya dari kedua orang tuanya, tapi dia tidak ingin ibunya nanti tahu belakangan dan akan membuat ibunya marah pada dirinya. Walau bagaimana pun Arya harus meminta restu pada kedua orang tuanya.
“Kamu itu, ibu melarang kamu dengan anaknya Santoso, tapi malah mau menikahi perempuan yang hamil di luar nikah, dan yang menghamilinya enggak mau tanggung jawab. Apa tidak ada cara lain selain menikahi dia, Ar?” ucap Arni.
“Bu, aku hanya ingin anak Santi lahir ada ayahnya, memiliki orang tua lengkap. Dan tahu siapa ayahnya meski bukan ayah kandungnya,” ucap Arya. “Arya kasihan kalau ada anak yang bernasib seperti Arya, yang mengenal figur seorang bapak saat sudah dewasa,” ucap Arya.
__ADS_1
“Jangan samakan nasib orang lain seperti nasibmu. Siapa tahu dia lebih beruntung dari kamu meski dia lahir tanpa ayah?” ujar Arni.
“Tapi, Bu?”
“Ibu bukan tidak setuju, tapi apa tidak ada perempuan lain selain Santi itu?”
“Ada, Bu. Arya masih sangat mencintai Naira, tapi Arya sadar Arya tidak bisa bersama, karena Arya menghargai ibu, dan masih belum bisa menerima ayahnya Naira yang seperti itu pada ibu. Tapi, hati Arya tidak bisa berbohong, Bu. Arya masih sangat mencintai Naira,” jelas Arya.
“Naira lagi? Enggak ada selain Naira dan Santi? Lalu kenapa kamu ingin menikahi Santi? Apa tidak akan menyakiti hati Santi nantinya?” tanya Arni.
“Aku hanya tidak ingin anak Santi lahir tanpa seorang ayah, itu saja yang aku harapkan dari pernikahan aku dan Santi. Bahkan Santi pun awalnya menolak, karena dia masih mencintai orang yang menghamilinya, tapi tidak mau bertanggung jawab. Arya hanya menikahinya saja, Bu. Bertanggung jawab atas kaburnya Santi, dan atas anaknya Santi. Arya tidak mementingkan apa itu cinta lagi. Tolong restui Arya,” ucap Arya.
“Tapi, Nak?”
“Bu, kalau Arya anak yang tega dengan ibu dan bapak, Arya akan diam-diam menikahi Santi, tidak akan Arya minta izin dulu sama ibu,” ucap Arya.
“Ibu merestuinya, tapi ibu tidak mau ikut-ikutan kalau misal Hermawan sampai murka dengan tindakan kamu ini,” ucap Arni.
“Arya tahu resikonya, Bu. Terima kasih ibu sudah merestui Arya untuk menikahi Santi. Kalau ibu dan bapak mau datang, ibu datang saja satu minggu lagi Arya akan menikahinya,” ucap Arya.
“Ibu juga akan ikut, ibu ingin melihat seperti apa Santi itu. Putri semata wayang Hermawan,” ucap Arni.
“Tapi, jangan katakan jatidiri Arya sebenarnya ya, Bu? Santi tahunya itu Arya sopir taksi online, Bu?” ucap Arya.
“Iya, ibu tidak akan bilang sama Santi,” jawab Arni.
“Ya sudah, Arya pamit untuk menemui Bu Halimah, ibunya Santi,” pamit Arya.
“Boleh ibu ikut?” pinta Arni.
“Bapak juga akan ikut,” ucap Rozak.
“Ya, bapak sama ibu ikut saja, barangkali ada yang ingin ibu dan bapak bicarakan pada Bu Halimah,” ucap Arya.
Arya bersama kedua orang tuanya menemui Halimah di restoran yang sudah Halimah kirimkan alamatnya pada Arya. Halimah sudah menunggu Arya beberapa menit yang lalu. Dia memang agak terlambat dari rumah, karena menunggu Hermawan pergi ke kantornya. Beruntung Hermawan hari ini tidak hanya ke kantor saja. Tapi dia ada kunjungan kerja di Brebes, dan satu jam yang lalu dia baru berangkat.
Arya turun dari mobilnya bersama kedua orang tuanya. Mereka sudah sampai di depan restoran di mana Bu Halimah sedang menunggu. Arya langsung mengajak masuk ke dua orang tuanya untuk menemui Halimah. Arya sudah diberitahu oleh Halimah, di meja nomor berapa Halimah menunggunya.
__ADS_1
Arya melihat wanita paruh baya seusia ibunya duduk sendiri di meja nomor sembilan. Arya dan kedua orang tuanya langsung menghampiri Bu Halimah yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Bu?” sapa Arya.
“Nak Arya? Syukurlah kamu sudah datang. Ibu kira kamu tidak akan datang,” ucap Halimah. “Kok dengan mereka?” tanya Halimah.
“Ibu dan bapak ingin ikut menemui ibu,” jawab Arya.
“Oh, baik. Terima kasih mau menemui saya. Saya Halimah, ibunya Santi. Silakan duduk,” ucapnya dengan ramah dan sopan.
“Terima kasih, Mbak. Saya Arni, ibunya Arya. Dan, ini Rozak suami saya,” ucap Arni dengan memperkenalkan suaminya.
“Iya, salam kenal, Mbak Arni, Pak Rozak,” ucapnya ramah.
“Gini nak Arya. Ibu hanya ingin memberikan semua ini pada Santi. Ibu tidak mau dia hidup kekurangan dan menderita di luar sana, Nak,” ucap Halimah dengan suara parau karena menahan tangis.
“Bu, ibu jangan khawatirkan soal kehidupan Santi. Arya akan menjamin kebahagiaan Santi dan cucu ibu. Arya janji itu, Bu,” ucap Arya.
“Tapi, ibu mau kamu memberikan ini pada Santi. Ibu membuatkan ini sudah lama untuk Santi. Ini gaun untuk nanti dikenakan Santi saat menikah dengan kamu. Ibu membuatkan ini dari dulu, ibu ingin sekali di hari bahagia putri satu-satunya ibu, ibu ingin melihat dia memakai gaun desain dari ibu sendiri saat menikah nanti. Tapi, ibu sudah dikecewakan dengan ulah Santi. Dia malah hamil duluan, dan Fadli kekasihnya tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya ibu tidak jadi memberikan gaun ini untuknya,” jelas Halimah.
“Kalau aku bawa ini, bagaimana kalau Santi tanya? Pasti Santi sudah tahu gaun ini, kan?” tanya Arya.
“Bilang saja kamu membeli di butik mana, kalau dia tanya,” jawab Halimah. “Dan, satu lagi. Ini untuk kalian, anggap saja ini hadiah dari ibu, hadiah pernikahan kamu dan Santi,” ucap Halimah dengan memberikan amplop cokelat yang berisis segepok uang ratusan ribu.
“Bu, jangan seperti ini,” ucap Arya.
“Terimalah, Nak Arya ... ini untuk Santi dan calon cucuku,” ucap Halimah dengan terus memaksa Arya untuk menerimanya. Tapi, tetap saja Arya menolaknya.
“Arya, kalau kamu tidak mau menerima berarti kamu tidak menghargai ibu yang sudah merestuimu untuk menikahi Santi, dan diam-diam mencuri waktu dari papanya Santi untuk menemui kamu,” ucap Halimah.
Arya menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Mereka mengisyaratkan untuk menerima saja apa yang Halimah berikan, toh dia memberikannya untuk anak dan cucunya.
“Iya, Arya terima. Tapi, Arya mohon, jika suatu hari nanti Santi mau menemui ibu. Ibu harus jaga rahasia saya di depan Santi, saya tidak ingin Santi tahu saya ini siapa,” ucap Arya.
“Iya ibu akan jaga rahasia kamu, Nak Arya,” ucapnya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan Halimah bersama kedua orang tuanya juga. Arya langsung pamit, karena dia akan menyelesaikan semua pekerjaannya dulu, sebelum memasrahkan pekerjaanya pada Saiful, sekretaris pribadinya, dan pada Pak Rozak untuk sementar waktu.
__ADS_1