
Hermawan tidak akan melepaskan Halimah begitu saja. Hermawan mencoba menemui Herdidak di rumahnya, tapi Halimah tidak mau ditemuinya, dengan alasan dia malu bertatap muka dengan suaminya karena dia sudah mengkhianatinya.
“Aku relakan dia untukmu, asal aku bisa bertemu dia lagi, sebelum semuanya usai,” ucap Hermawan pada Herdika.
“Memang seharusnya mas lepaskan Halimah. Ini juga karena mas yang terlalu asik dengan bisnis baru mas, hingga lupa dengan istrinya yang kesepian,” ujar Herdika. “Aku akan menikahinya, nanti setelah mas menceraikannya,” pungkasnya.
“Aku memang salah, tapi harusnya sebagai wanita dia harus bisa mejaga dirinya, dia harus bisa menjaga kehormatannya sebagai istri, bukan malah menjatuhkan harga dirinya!” cetus Hermawan. “Aku tidak akan hidup dengan perempuan yang tidak punya harga diri, perempuan yang kotor seperti dia!”
“Bagus kalau mas akan melepasnya,” ucap Herdika.
“Izinkan aku bertemu Halimah sebentar,” pinta Hermawan, dan setelah itu, aku tidak akan mengganggu hidupnya lagi,” pungkasnya.
Halimah yang mendengar percakapan antara adik dan kakak itu, akhirnya dia keluar. Sebetulnya Halimah masih sangat mencintai Hermawan, dia benar-benar khilaf melakukan semua itu dengan adik iparnya. Hal yang memang sungguh memalukan, dia tidak bisa menjaga nama baik suaminya, tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang istri, dia mempertaruhkan harga dirinya hanya karena kepuasan sesaat.
“Dika, kamu bisa masuk sebentar aku mau bicara dengan Mas Hermawan,” ucap Halimah dengan berjalan mendekati mereka.
“Iya, silakan bicara,” jawab Herdika.
Herdika masuk ke dalam, membiarkan mereka bicara bedua. Herdika tahu mereka masih sama-sama saling mencintai, tapi bagaimana pun anak yang ada di dalam kandungan Halimah adalah anaknya, karena selama dua tahun Halimah tidak pernah merasakan sentuhan Hermawan, dan dia membutuhkan itu, akhirnya terjadilah hubungan gelap dirinya dengan Halimah hingga membuahkan hasil.
“Kandunganmu sudah terlihat, Lim?” tanya Hermawan. “Berapa usianya?”
“Sudah masuk delapan bulan, Mas,” jawabnya.
Dua bulan Halimah meninggalkan rumah, itu artinya saat Halimah memberitahukan bahwa dirinya hamil, kehamilannya sudah masuk bulan keenam.
“Kau tega, Lim,” desah Hermawan.
“Maafkan aku, Mas,” ucapnya lirih.
“Kamu yakin dengan keputusanmu untuk mengakhiri semuanya denganku?” tanya Hermawan lagi.
“Untuk apa aku bertahan, Mas? Aku ini hamil anak orang, aku sudah mengkhianati pernikahan kita, aku malu mas,” ucapnya dalam tangis.
“Kalau itu maumu, aku bisa apa. Aku minta maaf, jujur aku tidak tahu harus berbuat apa, kamu memang salah, tapi kamu istriku, dan aku pun ikut andil dalam masalah ini, karena ini salahku juga.”
__ADS_1
“Bukan, Mas, bukan salahmu. Ini salahku.”
Hermawan melepaskan Santi, dia bilang dia yang akan mengurus perceraiannya. Selang satu minggu, Hermawan akan mengurus perceraiannya dengan Santi, tapi dia masih tidak rela melepaskan Santi.
Saat hendak berangkat, dia menerima telefon bahwa adiknya kecelakaan lalu lintas, dan itu bersama dengan Halimah. Hermawan langsung bergegas ke rumah sakit yang tadi diberitahukan polisi, dia memacu kecepatan tinggi supaya cepat sampai di rumah sakit.
Dia sampai di lobi rumah sakit. Hermawan langsung menanyakan korban kecelakaan beruntun atas nama Halimah dan Herdika.
“Korban sedang berada di ICU, yang perempuan sedang operasi, karena kehamilannya mengalami pendarahan, dan bayi harus segera dilahirkan meski belum waktunya, sedangkan korban laki-laki, dia kritis.” Itu informasi yang Hermawan dengar.
“Saya kakak dari korban yang bernama Herdika, dan suami dari Halimah, Sus. Bisa saya menemuinya?”
“Bisa, silakan pak.”
Hermawan masuk ke dalam ruang ICU, dia melihat tubuh adiknya dipenuhi alat penunjang kehidupan. Hermawan duduk di sebelah brankar Herdika. Ia genggam tangan adik satu-satunya itu.
“Kalian mau menikah, kamu yang kuat, Dik. Anakmu sebentar lagi lahir, Dik.” Hermawan terisak melihat adiknya yang terbujur lemah.
Hermawan keluar dari ICU, karena mendapat kabar dari suster kalau operasi Halimah lancar, dan bayinya perempuan. Hermawan menemui Halimah yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan, tapi bayinya masih harus dipantau dokter karena lahir belum cukup umur.
Hermawan menemani Halimah, hingga Halimah sadarkan diri. “A—aku di mana?” rintihnya. “Anakku .... Dika ....”
“Mas, Dika bagaimana? Anakku juga?” tanya Halimah.
“Anakmu perempuan, dia masih dalam pantauan dokter, karena lahir prematur. Herdika di ruang ICU, dia kritis, masa kritisnya sudah lewat, tapi dia belum sadarkan diri,” jawab Hermawan.
Halimah hanya menangis, ia tidak tahu akan seperti ini kejadiannya. Kalau saja ia mengundur waktu berangkat untuk menemui klien di luar kota, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
“Maaf, Pak. Adik bapak sudah sadarkan diri,” panggil suster.
“Dika sudah siuman, aku ke sana dulu, ya?” pamit Hermawan.
“Aku ikut, Mas,” pinta Halimah.
“Kamu masih begini, kamu baru siuaman, baru operasi jangan banyak gerak dulu.”
__ADS_1
“Aku ingin bertemu Dika,” pintanya. “Sus aku mohon, aku ingin bertemu adik iparku,” pintanya.
“Tapi ibu baru saja operasi, baru saja siuman.”
“Sus, aku mohon.”
Akhirnya Halimah ikut ke ruang ICU dengan menggunakan brankarnya. Mau bagaimana lagi, Halimah memaksa suster juga dokter, akhirnya mereka mengizinkan.
Halimah tidak tega melihat Herdika yang terbaring lemah. Pria gagah yang sudah membuat diriya dimabuk kepayang akan keindahan tubuhnya, sekarang Herdika terbaring lemah di atas brankar yang ada di ICU.
“Dika ....”
“Halimah ... maafkan aku.”
“Dik, kamu harus kuat. Anak kita sudah lahir, perempuan.” Ucap Halimah dengan terisak.
“Pasti dia cantik seperti kamu, dia pasti pandai juga, “ ucap Herdika.
“Sembuh ya, Dik?”
Herdika tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum, lalu menggenggam tangan Hermawan. “Maafkana aku, Mas,” ucapnya. “Aku titip anakku. Kalian jangan becerai, rawat anakku, aku titip dia dan Halimah.”
“Kamu jangan bicara seperti itu, Dik. Kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus kuat. Aku akan mengalah demi kebahagiaan kalian, kamu harus sembuh!” pekik Hermawan.
“Tidak, Mas. Aku titip Halimah, dan anakku. Beri nama dia Asyanti. Asyanti Hermawan. Anggap dia adalah anakmu. Sayangi dia, aku mohon sayangi dia dengan sepenuh hatimu, Mas. Sayangi Halimah, aku minta maaf, Mas.” ucapnya terbata.
“Dik, jangan bicara seperti itu,” ucap Halimah.
“Halimah, maafkan aku. Kembalilah dengan Hermawan, rawat anak kita bersama Hermawan.”
Perlahan Herdika menutup matanya, dan mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Halimah menangis, meraung, karena kehilangan. Hermawan memeluk erah Halimah yang kacau. Dan, sejak itu mereka kembali hidup bersama. Hermawan sangat menyayangi Santi.
Santi sudah bisa dibawa pulang setelah dua minggu di rumah sakit, karena keadaannya masih lemah. Hermawan menggendong Santi, dia menciumi pipinya. “Kamu anak papa. Mulai hari ini kita akan tinggal bersama, kamu akan aman dengan papa.”
Hermawan merawat Santi dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seolah dengan begitu, ia ingin menebus semua kesalahan yang terjadi di masa lalu. Mengubur semua aib yang pernah mencoreng perkawinannya. Hermawan mencintai Santi seperti permatanya sendiri. Sama seperti ia dan Halimah belajar memperbaiki kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
“Berjanjilah padaku, Halimah,” pinta Hermawan pedih. “Jangan pernah coba-coba lagi menggantikan aku diriku dalam hidupmu. Jangan pernah berikan hatimu untuk laki-laki lain lagi.”
Halimah bersumpah tidak akan mengkhianati Hermawan lagi. Ia telah memiliki seorang suami yang agung. Ketulusan dan kesetiaan Hermawan sebagai pendamping hidup telah teruji. Hermawan mau mengorbankan apa pun demi mempertahankan keutuhan dan kehormatan perkawinannya. Tidak, Hermawan tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki mana pun di dunia ini. Tidak akan pernah.