
Arya merasa menjadi seorang ayah seutuhnya. Sejak Anin lahir, dia benar-benar menjadi papa yang siaga untuk Anin. Santi pun demikian, mereka berdua kompak menjadi orang tua untuk Anin. Meski Arya bukan ayah kandung Anin, Arya sangat menyayangi Anin seperti anak kandungnya sendiri. Arya juga rela tidak tidur semalaman kalau Anin rewel, dia yang menjaga Anin. Santi merasa hangat saat Arya sedang menimang Anin dengan penuh kasih sayang.
“Sini sama ibu, ayah mau berangkat kerja.” Santi meminta Anin yang sedang digendong Arya.
“Aku berangkat siang, San. Jadi aku lebih santai,” jawab Arya.
“Sekarang berangkatnya siang terus, ya?”
“Karena aku ingin mandiin Anin dulu, biar Anin rapi, kamu juga sudah rapi, baru aku berangkat kerja,” jawab Arya.
“Itu tugasku, bukan tugasmu, Mas,” ucap Santi. “Jangan begitu, aku tidak enak sama ibu, nanti dikira aku gak bisa apa-apa, masak tidak bisa, mandiin anak tidak bisa, malu aku mas, gak enak sama ibu,” ujarnya.
“Kamu ini kan baru melahirkan, kamu jangan kecapean dulu, apa salahnya aku menjaga kamu dan anakku?” jawab Arya.
“Ya aku merasa saja, kalau aku ini terlalu merepotkanmu, Mas,” ucap Santi.
“Sudah gak usah berpikiran yang tidak-tidak. Air untuk mandi Anin sudah disiapkan?” tanya Arya.
“Sudah, sini aku saja yang mandiin, nanti aku gak bisa-bisa mandiin Anin kalau kamu terus yang mandiin Anin,” pinta Santi.
“Ya sudah ayo bareng saja mandiin Aninnya.”
Arya memandikan Anin, Santi tercengang melihat Arya yang dengan lihai memandikan bayi. Santi saja masih takut memandikan Anin yang masih kecil.
“Kamu kok pintar sekali mandiin bayi, Mas?” tanya Santi.
“Ya karena aku belajar dulu, mempersiapkan untuk menjadi ayah yang baik,” jawab Arya.
“Belajar? Kapan belajarnya?” tanya Santi.
“Kalau aku antar kamu senam hamil, aku sekalian belajar sama suster untuk urus bayi, mandiin, memakaikan baju, merawat bayi,” jawab Arya.
“Memang suster mau ngajarin?”
“Banyak kok calon ayah yang ikut kelas itu sambil menunggu istrinya senam hamil,” jawab Arya.
“Kok kamu baru bilang?”
“Kejutan dong, Sayang?” jawabnya.
“Cie manggil sayang terus?”
“Kan aku sayang kamu?” jawab Arya, lalu mengecup pipi Santi. “Ambilkan handuknya Anin, San,” pinta Arya.
Santi memberikan handuk pada Arya, lalu mengambikan pakaian Anin. Arya memakaikan baju pada Anin, setelah selesai, Arya memberikan pada Santi untuk menyusuinya, dan dia langsung pergi mandi, untuk siap-siap ke kantor. Seperti itu setiap hari yang Arya lakukan semenjak Anin lahir.
__ADS_1
Santi menidurkan Anin yang sudah tertidur setelah menyusu. Dia menyiapkan baju kerja untuk Arya. Ia tidak menyangka Arya begitu mencintainya, dan juga menjadi ayah yang sangat baik dan siaga untuk Anin. Arya keluar dari kamar mandi, ia melihat Santi yang baru saja mengambilkan baju kerjanya. Lalu ia memeluk istrinya dari belakang dan menciumi pipinya.
“Ih apaan sih, Sayang? Jangan gini dong?” ucap Santi.
“Kenapa? Masa suaminya begini gak boleh sih?” jawab Arya dengan menatap wajah istrinya dari samping.
“Boleh, siapa yang gak boleh, tapi kamu belum pakai baju, Mas?”
“Memang kalau belum pakai baju kenapa? Kamu pengin lihat?” bisiknya di telinga Santi. “Mau aku buka handuknya?”
“Jangan macam-macam, Mas!” tukas Santi.
“Kenapa? Kan aku suamimu? Kamu belum pernah lihat, kan?”
“Ih mas mesum!”
“Idih kamu saja yang pikirannya mesum, San?” jawab Arya. “Sudah aku lepaskan, nanti malah pikiran mesum kamu tambah menjalar,” kekeh Arya dengan mengaca-acak kepala Santi.
“Ishh ... sukanya begitu?” ucapnya dengan manja.
“Sini bajunya, nanti lama-lama gini aku jadi pengin macem-macemin kamu. Kamu masih nifas soalnya, kalau sudah tidak mungkin aku ekskusi sekarang!” ucap Arya.
“Udah kepengin ya?” ledek Santi.
“Kamu itu kita menikah udah mau lima bulan tapi belum menyentuhmu,” jawab Arya.
“Iya aku paham itu. Sudah jangan cemberut gini, kamu sudah tahu aku sudah mencintaimu, kan? Itu kenapa aku berani meluk kamu setiap hari, cium kamu, kalau belum ada rasa, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, San. Aku sangat mencintaimu, tanpa tapi, aku ingin kamu mendampingiku hingga aku menua, menerima segala bentuk kekuranganmu, dan aku wajib menyempurnakan kekuranganmu itu, pun sebaliknya, aku ingin kamu melengkapi hidupku, menyempurnakan segala kekuranganku untuk menjadi lebih baik,” tutur Arya.
“Terima kasih untuk semuanya, Ar. Aku tidak tahu akan bagaimana kalau tidak bertemu kamu. Kamu sudah menyempurnakan hidupku, memberikan kasih sayang untukku dan anakku, denganmu aku sempurna, Ar,” ucap Santi.
“Jangan terima kasih terus, sudah yuk keluar, antar aku sampai teras?” ajak Arya.
“Aku malu di sini gak bisa apa-apa. Ibu punya menantu gak bisa apa-apa, udah gitu aku ini perempuan gak baik, Mas.”
“Kamu jangan bicara seperti itu, San? Ibu gak gitu kok?” ucap Arya menenangkan istrinya.
“Santi ... boleh ibu masuk?” Arni mengetuk pintu kamarnya.
“Iya, bu sebentar,” jawabnya.
Santi membukakan pintu kamarnya. Dia melihat ibunya membawakan jamu di gelas kecil, seperti biasanya setiap pagi mertuanya menyiapkan jamu untuk Santi.
“Jamunya jangan lupa di minum, ini mumpung masih anget, ini supaya asimu lancar, ya ibu tahu asi lancar juga karena mood dan pikiran kita, makanya kamu sebagai suami harus jaga hati istrimu, Ar. Perempuan setelah melahirkan moodnya kadang berantakan, kadang-kadang nangis sendiri, apalagi kalau anaknya rewel,” tutur Arni.
“Iya ibu, ibu tenang saja, aku tidak akan bikin Santi moodnya berantakan kok,” jawab Arya.
__ADS_1
“Ibu ini harus minum jamu sampai kapan?” tanya Santi.
“Sampai empat puluh hari biasanya,” jawab Arni.
“Gak ada diskon, Bu? Seminggu lagi gitu?” Santi meminta keringanan pada ibu mertuanya, untuk tidak usah sampai empat puluh hari meminum jamunya.
“Diskon memang beli baju, San?” ucap Halimah yang tiba-tiba datang dan sudah di depan kamar Santi.
“Mama ... kok udah di sini?” tanya Santi. “Papa gak marah mama ke sini?” tanya Santi.
“Gak usah pikirkan papamu, biar saja dia tetap pada pendiriannya, mama sudah bicara tapi tak didengar ya sudah, mau gimana lagi?” jawab Halimah.
“Sudah minum dulu jamunya, mama dulu setelah melahirkan kamu saja minum jamu terus,” ucap Halimah.
“Tuh mamamu juga minum jamu, ayo minum dulu,” tutur Arni.
“Bu, bosan sekali, sudah tiga minggu minum jamu terus,” protes Santi.
“Tapi manfaatnya bagus sekali, San. Kalau kamu sudah tahu manfaatnya, pasti kamu akan suka jamu. Kamu tahu kan mama juga hampir setiap sore mbok jamu mampir ke rumah? Suatu hari kamu akan merasakan seperti itu,” ucap Halimah.
Santi menerima jamu dari ibu mertuanya, dia duduk di tepi ranjang, lalu meneguk jamunya dengan cepat-cepat supaya semuanya cepat masuk ke dalam perut. Dia langsung meminum air jahe dan gula merah yang juga dibuatkan oleh ibu mertuanya supaya menghilangkan rasa pahitnya.
“Pahit sekali, Bu. Tapi gak sepahit hidupku sebelum bertemu dengan putra ibu yang tampan itu,” ucap Santi dengan terkekeh.
“Kamu itu bisa saja, San?” ucap Arni.
“Memang seperti itu, Ibu ...,” jawab Santi.
“Ya sudah antar suamimu ke depan, biar ibu sama mamamu yang jaga Anin di kamar,” ucap Arni.
“Bu, Ma, aku ke kantor dulu,” pamit Arya pada ibunya dan mama mertuanya.
Santi mengantar Arya sampai depan. Dia mencium tangan Arya dan Arya mencium kening, pipi, dan mencium kilas bibir Santi.
“Sosor terus, Ar ....” ucap Rozak yang baru saja keluar dari dalam.
“Ah bapak sukanya ganggu saja,” gerutu Arya.
“Lagian ini di luar malah main nyosor,” jawabnya.
“Ayo bapak nebeng kamu ke ruko, malas bawa motor atau mobil,” ucap Rozak.
“Nanti pulangnya gimana?”
“Angkot banyak, bus, atau taksi juga banyak. Kan mumpung searah, ya bapak ikut kamu saja berangkatnya,” jawab Rozak.
__ADS_1
Arya berangkat dengan Rozak. Rasanya setelah ada Anin, Arya tidak ingin lama-lama di kantor. Bahkan makan siang pun ia sempatkan pulang makan di rumah, dan untuk melihat Anin.