
Santi kembali masuk ke kamarnya. Dia sudah membicarakan semuanya pada kedua orang tuanya, dan kedua orang tua Arya. Santi tahu, ibu mertuanya kecewa dengan keputusannya, tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah janji dengan Naira, dan Arya pun masih sering menemui Naira, jadi untuk apa masih terus bersama, tapi Arya akhir-akhir ini sering berbohong dengan dirinya.
Arya menyusul Santi ke kamarnya, ia ingin membicarakan lagi soal keputusan Santi, dan soal dirinya yang menemui Naira.
“Apa tidak bisa merubah keputusanmu itu, San?” tanya Arya.
“Untuk apa aku merubah keputusanku, Ar? Kalau sudah jelas kamu tidak bisa membantu menyelesaikan persoalan ini, kamu malah dengan Naira, menemui Naira dan pergi bersama,” desah Santi. “Dengan begitu sudah membuktikan bukan, kalau kamu masih menginginkannya?”pungkasnya.
“Aku memang menemui Naira, tapi tidak seperti yang kamu pikir, San!” ujar Arya.
“Sebetulnya maumu apa, Ar? Kamu baik terhadapku, bilang mencintaiku, bilang ingin menyelesaikan masalah ini sama-sama, tapi kamu malah masih menemui Naira? Kamu bilang sudah tidak ingin bersama lagi, kan? Tapi, apa? Jangan bohongi hatimu, Ar. Kalau masih berharap, bilang saja,” ucap Santi.
“Bu—bukan seperti itu, San!” tukas Arya.
“Lalu seperti apa? Tidak mungkin kamu sudah tidak mencintai Naira, tapi perlakuan kamu begitu lembut dengannya,” ujar Santi.
Memang tidak mudah melupakan kenangan bersama Naira yang Arya rajut dari masa SMA dulu. Ia sudah bisa melupakan Naira, sudah bisa mencintai Santi, dan sudah tidak mencintai Naira, tapi rasa sayang pada Naira, tidak pernah hilang. Arya tidak sanggup jika sudah mendengar Naira menangis dan bilang rindu padanya. Arya tidak bisa melihat Naira yang seperti itu. Tapi, di satu sisi Arya memiliki Santi, dia juga sangat mencintai Santi, namun sulit untuk menolak Naira yang selalu ingin bertemu dengannya, padahal jelas-jelas Naira sudah ingin merusak rumah tangganya dengan Naira.
“Aku sayang dia, San. Jujur aku tidak bisa melihat dia menangis, aku memang sudah tega membuat dia seperti ini, aku terlanjur memutuskan untuk menyudahi hubunganku dengan dia, tanpa aku berpikir panjang, karena aku tidak mau bohong dengannya, kalau aku sudah menikahimu. Dan, aku juga tidak mau Anin tidak memiliki ayah kalau aku menyudahi pernikahanku dengan kamu, semua aku lakukan demi Anin, supaya dia memiliki seorang ayah, San. Apa kamu tega memisahkan aku dari Anin? Aku sangat menyayanginya bahkan mencintainya,” ucap Arya.
“Jadi apa yang kamu lakukan denganku ini semua demi Anin? Bukan karena kamu tulus mencintaiku, Ar? Ar, kenapa kamu setega itu? Aku sudah membuka hatiku untuk mencintaimu, tapi ternyata kamu pura-pura mencintaiku selama ini? Dan, kamu lakukan ini demi Anin?” pekik Santi sedih. “Aku sadar, aku mungkin yang terlalu bangga dan bahagia diperhatikan kamu, disayangi kamu, bahkan dicintai kamu. Ternyata semua itu palsu! Semua itu hanya pura-pura saja!”
“San, aku minta maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulut Arya.
__ADS_1
Santi tidak menyangka, ternyata Arya hanya pura-pura saja selama ini. Ternyata dia melakukan ini demi Anin saja, bukan karena dia tulus menerima dirinya.
“Bagaimana dia bisa tulus mencintaiku? Sedangkan aku ini wanita hina, wanita yang sudah hamil di luar nikah! Selamanya tidak ada seorang laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. Seperti Arya pun masih goyah hatinya. Aku tahu, Arya juga ingin memiliki perempuan yang sempurna, yang bisa menjaga kehormatannya, hanya dengan Arya menyerahkan semuanya, tidak seperti aku, aku ini bekas orang, bahkan Fano pun bilang aku hamil tidak dengannya, karena aku sudah tidak perawan saat melakukan itu dengan Fano. Sehina inikah aku?”
Santi menangis hingga tubuhnya bergetar, ia duduk di atas tempat tidur dengan memeluk kakinya. Arya melihat istrinya yang mungkin sudah sangat kecewa dengannya. Arya mendekatinya dia duduk di sebelah Santi, lalu hendak meraih tubuh Santi, tapi Santi menepiskan tangan Arya.
“Tinggalkan aku sendiri, Ar. Aku ingin sendiri dulu. Kamu tunggu kabar dari pengadilan saja, aku tetap akan meneruskan gugatanku, aku tidak mau memaksa seseorang untuk mencintaiku. Kamu kukuhkan hatimu dulu, kepada siapa kamu akan memberikan hatimu, menyandarkan hatimu di pelabuhan terakhir kamu. Aku tidak mau orang mencintaiku hanya separuh hati,” ucap Santi dengan terisak.
“San, jangan seperti ini! Aku minta maaf, aku memang menemui Naira, tapi ....”
“Tapi, apa?” potong Santi. “Sudah jelas semuanya, Ar. Aku ingin orang yang tulus mencintaiku, bukan karena kasihan, dan mungkin karena nafsu. Aku terima, kamu melakukan itu karena untuk memuaskan hasratmu saja. Anggap saja itu hadiah dariku. Hadiah pernikahan kita, hadiah untuk rasa terima kasihku karena kamu sudah membuatku bisa menghadapi semuanya dengan setegar ini,” ucap Santi. “Silakan keluar, Ar.”
Arya beranjak dari tempat tidur. Dia keluar dari kamar, dan menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah dengan kedua orang tua Santi.
“Bagaimana, apa Santi mau merubah keputusannya?” tanya Arni.
“Bu Halimah, tolong bujuk Santi, kenapa dia seperti ini? Bisa kan kita bicarakan ini baik-baik?” pinta Arni.
“Keputusan ada di tangan Santi. Mungkin Santi ingin menenangkan dirinya dulu. Nanti kalau sudah menemukan waktu yang pas, kami akan ajak bicara Santi baik-baik lagi,” hanya itu jawaban Halimah. “Lebih baik kamu pulang dulu, Nak Arya. Biar Santi menenangkan pikirannya dulu.”
“Ma, tolong, beri kesempatan Arya. Arya minta maaf,” ucap Arya.
“Nanti mama bicarakan dengan Santi, tolong hargai keputusan Santi,” ucap Halimah.
__ADS_1
“Pa, tolong bujuk Santi,” pinta Arya pada Hermawan.
“Papa tidak tahu harus bicara apa, papa kecewa dengan keputusan Santi yang mau-maunya menerima permintaan Naira. Kenapa tidak biarkan papa meninggal saja waktu itu? Tapi, kalau papa meninggal, siapa yang akan jaga Santi? Kamu memang menjaga anak dan cucuku dengan baik, tapi hatimu tidak bisa berbohong, kamu masih menginginkan Naira. Tidak ada wanita di dunia ini yang mau diduakan, Arya. Silakan kamu renungi baik-baik, ke mana harus kau tambatkan hatimu. Jika kamu hanya merasa kasihan pada anakku, lebih baik tinggalkan Santi, karena aku pun masih bisa mencintainya dengan tulus, meski dia bukan anak kandungku,” ucap Hermawan. “Pulanglah, renungkan masalah ini, dan teguhkan hatimu, jika kau pilih Naira, mintalah restu pada ibumu, dan biarkan anakku sendiri, aku masih bisa merawat anakku dan cucuku,” pungkasnya.
“Tolong bujuk Santi, Pak Hermawan,” pinta Arni.
“Saya akan bicara baik-baik dengan Santi,” jawab Hermawan.
“Her, kamu pasti tahu, mana yang terbaik untuk Santi, bujuk dia.”
“Aku tidak tahu, Zak. Aku tidak mau memaksakan Santi lagi. Dia sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dirinya,” jawab Hermawan. “Berbesanan atau tidak berbesanan, kita tetap teman, Zak. Kamu jangan khawatir soal itu. Aku menghormati keputusan anakku,” ucap Hemawan.
Hermawan memang kecewa dengan Arya, apalagi sampai Arya menemui Naira. Dia pun kecewa dengan Santi, yang mempertaruhkan pernikahannya demi dirinya. Selepas Arya pulang dengan kedua orang tuanya. Hermawan masih duduk terpekur di kursi ruang tengah. Dia membayangkan bagaimana perasaan Santi saat mempertaruhkan pernikahannya demi dirinya.
“Aku selalu membuat Santi menderita, Lim. Maafkan aku,” ucap Hermawan. “Harusnya biarkan aku mati saja, daripada dia mempertaruhkan pernikahannya hanya demi aku,” lanjutnya.
“Kamu jangan bicara seperti itu, Mas. Santi melakukan semua itu karena dia sayang denganmu. Meskipun Santi keras kepala, tapi hatinya lembut, dia selalu tulus mencintai seseorang, Mas,” ucap Halimah.
“Tapi tidak dengan seperti ini. Apa tidak ada orang lain selain perempuan yang bernama Naira itu, yang mendonorkan darahnya untukku?”
“Mungkin memang tidak ada, Mas, makanya Santi meminta pada Naira,” jawab Halimah.
Santi masih duduk terpaku, menatap foto-foto Arya dengan Naira di sosial media Naira. Santi tidak menyangka Arya pernah merencanakan ingin memiliki rumah mewah seperti yang diberikan untuk dirinya. Ternyata rumah itu persis dengan rumah impian Naira dan Arya waktu dulu mereka pacaran.
__ADS_1
“Persis, persis sekali. Aku tahu sekarang, ternyata Arya belum bisa melupakan Naira. Memberikan rumah untuk aku saja, mirip dengan rumah impian Naira? Apa jangan-jangan itu rumah sebetulnya mau diberikan pada Naira? Tapi, karena aku istrinya jadi ia berikan padaku, lalu nanti dia membawa Naira ke dalam rumah tanggaku jadi istri kedua? Gila, ini benar-benar gila! Aku tidak menyangka Arya seperti itu, tega sekali dia seperti itu padaku!” batin Santi.
Santi tidak mau ambil pusing lagi, keputusannya sudah mantap untuk berpisah dengan Arya. “Kalau tidak ada kejadian donor darah, mungkin aku tidak pernah tahu, kalau mereka masih saling bertemu,” batin Santi.