
Mereka melangkah bersisian di sepanjang pantai berpasir putih di teluk Jakarta. Senja mulai turun menggoreskan warna-warna keemasan di cakrawla. Gugusan awan seperti hamparan sutra yang berkilau, membiaskan sisa-sisa pantulan cahaya yang hampir berakhir. Seolah tak rela membiarkan matahari merayap turun ke peraduannya. Pemandangan yang demikian memukau seperti tertuang dalam kanvas para pelukis yang sedang jatuh cinta.
Burung-burung camar terbang rendah di atas ombak bergulung. Berkicau riuh dan merdu seolah menyenandungkan simfoni alam yang merayu. Angin mendesah lirih seperti rintihan seorang gadis yang merindukan perahu kekasihnya berlabuh menambatkan sauh. Nyiur melenggok merunduk mengikuti embusan angin seperti tunduk dan pasrah pada pengabdian cinta. Menciptakan suasana yang syahdu menghanyutkan.
Sebelum turun tadi, Fano telah melepaskan jas dan dasinya, meninggalkannya di dalam mobil. Lalu ia membuka kancing kemejanya, sehingga otot di dadanya yang bidang mengintip ke luar. Jantan, dan menggairahkan. Potongan rambutnya yang dulu mengikuti trend anak muda kekinian, kini ia menata rambutnya lebih rapi, fresh, layaknya seorang CEO yang gagah dan tampan. Helai-helai remabutnya tersibak-sibak diterpa angin, membuat Fano tampak seperti pria sejati yang menggetarkan hati. Bulu-bulu halus di sekitar pipi dan dagunya pun dibiarkan tumbu rapi. Membuat semua perempuan pasti rela melakukan apa saja untuk memilikinya.
Santi juga sudah menanggalkan sepatu heels nya di mobil Fano. Berdua mereka berjalan menyusuri tepi pantai dengan bertelanjang kaki. Merasakan butir-butir pasir yang lembut menyentuh telapak kaki mereka.
Santi menatap wajah Fano dari samping yang terlihat begitu tampan. Entah hatinya riuh, bergemuruh, seperti suara angin dan ombak yang menyatu. Mendendangkan rasa rindu yang entah itu rindu karena benar-benar rindu, atau pura-pura rindu karena hatinya telah terluka karena Fano. Fano melirik ke samping, karena sepintas melihat Santi yang memandangi dirinya. Benar, Santi sedang memandang lekat wajahnya. Fano meraih tubuh Santi, lalu merapatkan ke sisinya. Jantung Santi semakin berpacu karena Fano memperlakukannya lembut, apalagi sesekali Fano membenarkan rambut Santi yang berantakan karena terkena angin.
“Aku membencinya, sangat membencinya,” pekik batin Santi kalut. “Aku tidak boleh terhanyut dalam rayuan mautnya lagi. Tidak akan kuizinkan dia menyentuhku lagi, aku masih suami Arya, iya dia suamiku, dia yang berhak atas aku!” batin Santi merintih, tapi dia semakin hanyut dalam dekapan Fano.
Fano menghadapakan Santi ke depannya. Fano menatap lekat wajah Santi, lalu ia mengambil tangan Santi dan menggenggamnya erat-erat. Dan Santi membiarkannya. Ia memahami mengapa dulu ia begitu mencintai pria yang ada di depannya. Ya semua karena Fano mampu membuat Santi terpikat ketampanannya dan kelembutan hatinya.
“Aku tidak bahagia dengan perkawinanku, San,” cetus Fano sendu. “Kini baru kusadari, perkawinan tidak mungkin dijalani tanpa cinta.”
Santi tertegun menatap Fano, ia menggigit bibirnya keras-keras. “Mengapa aku membiarkan dia seperti ini, mengapa aku biarkan dia menggengam tanganku dengan hangat seperti dulu, merangkul tubuhku dengan mesra seperti dulu. Mengapa aku masih menerimanya? Sekali pun dia telah begitu melukai dan menyakiti hatiku?” batin Santi.
“Aku menyesal dulu tidak menikahimu,” sambung Fano muram. “Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Hingga kini aku tak pernah berhenti menyesali, maukah kau memaafkanku, Santi?”
“Aku sudah memaafkanmu, Fan,” jawab Santi. “Kenapa tidak bahagia? Lalu apa urusannya denganku, kalau pernikahanmu tidak bahagia?”
“Aku ingin kembali denganmu, aku akan bercerai dengannya, San. Dan, setelah kemarin aku mendengar kamu bicara dengan pengacara di restoran dekat salon kamu, bahwa kamu akan bercerai dengan suamimu aku semakin memantapkan untuk menemuimu lagi, dan membicarakan semua ini,” ucap Fano.
“Kamu dengar aku bicara dengan pengacaraku? Apa kamu di situ?”
“Ya, aku di situ, aku yang memesankan minuman kesukaanmu juga, yang kata pelayannya itu ada give away buat pengunjung restoran terpilih,” jawab Fano.
__ADS_1
“Jadi itu minuman dari kamu?”
“Iya, spesial untukmu,” jawab Fano. “Jadi benar apa kamu akan bercerai, San?” tanya Fano.
“Aku memang akan bercerai dengannya, Fan. Aku dan dia memang menikah hanya dua semester saja. Ya karena dia ingin anakku lahir ada ayahnya. Dia yang menolongku kabur, Fan. Dia yang menemani aku kabur, saat papa akan menjodohkanku dengan orang yang papa bayar itu. Setelah kamu menolak untuk menikahiku, dan aku hubungi kamu, tapi kamu bersih keras menolak menikahiku, aku kabur, dengan mobil pengantin. Dia yang membawa mobil pengantin, dia sopir mobil itu, tapi ternyata dia bukan sopir, dia malah pemilik dari persewaan mobil yang papa sewa itu, untuk mobil pengantin,” jelas Santi.
“Jadi kalian menikah dalam perjanjian?”
“Iya, tapi baik mama dan papa sangat merestui hubungan kami, ibu dan bapaknya juga, merestui kami, bahkan Anin, dia menjadi cucu kesayangan mereka,” jawab Santi.
“Anin? Apa itu anak kita, San? Dia perempuan?”
“Iya, Anin, anakku dan kamu, dia perempuan, cantik, menggemaskan, dan dia adalah cucu kesayangan kakung dan utinya. Mereka sangat menyayangi dan mencintai Anin, pun dengan Mas Arya, dia bukan ayah kandungnya, tapi dia begitu menyayangi dan mencintai Anin sepenuh hatinya. Bahkan kita akan bercerai pun dia masih menemui Anin, karena dia tidak mau jauh dari Anin, pun Anin, dia tidak mau jauh dari Mas Arya,” jelas Santi.
“Kenapa kamu pergi saat itu, San? Aku datang karena aku ingin menikahimu, aku ingin menebus semua kesalahanku.”
“Aku ingin menikahimu, karena aku tidak mau dijodohkan, San,” ucapnya.
“Nyatanya kamu menikah dengan orang yang dijodojkan denganmu, kan?” ucap Santi.
“Iya, karena papaku saat itu memaksaku, hingga papa mencoba bunuh diri, dan akhirnya aku lakukan apa yang papa inginkan,” ucap Fano.
Santi hanya diam mendengar ucapan Fano, entah itu benar atau tidak, tapi dari sorot wajah Fano tidak ada kebohongan sama sekali.
Fano melangkah maju, kini dia berdiri tepat di hadapan Santi. Digenggamnya kedua tangan Santi lagi, di tatapnya Santi dengan sorot mata yang sangat dikenali Santi. Sorot mata yang dulu begitu lekatdi hati Santi, sorot mata yang sangat tulus. Dulu, dulu sekali, ketika cinta masih terasa begitu menggetarkan.
“Pantai ini yang menjadi saksi, Santi,” bisik Fano. “Hanya kaulah yang aku cintai, hanya kau yang mampu mewarnai hidupku,” cetus Fano.
__ADS_1
Santi hanya terdiam dengan menatap wajah Fano yang sangat sendu, saat mencurahkan isi hatinya.
“Selama ini kau masih bertakhta di hatiku, Fan. Tak pernah kulupakan. Meskipun kau pernah mengecewakanku,” batin Santi. “Tidak! Tidak ada lagi Fano. Bukan. Bukan Fano yang ada di hatiku saat ini, Arya yang ada di hatiku, bukan Fano. Ini emosi sesaatku, karena Arya mengecewakanku, jangan balas Arya yang diam-diam menemui Naira dengan seperti ini, Santi! Jangan biarkan kamu dihinakan Fano lagi!” batin Santi makin tak keruan, dua sosok pria sekarang ada di hatinya, Arya –suaminya– dan Fano –mantan kekasihnya– yang juga ayah kandung Anin.
Santi membiarkan Fano memeluknya, ia memejamkan matanya ketika Fano memagut bibirnya. Mengulumnya dalam gelora kerinduan yang meluap-luap. Dan, Santi terlambat menyadari, ia pun membalasnya dengan gairah yang sama menggebu-gebu.
“Rindu ... Betulkan rindu ini tak bisa dibendung? Sekali pun yang kurindukan telah menggoreskan luak di hatiku, yang sekarang aku pun membencinya,” batin Santi.
^^^
Satu bulan sebelum Fano ke Pekalongan untuk show, nasib buruk menimpa kehidupan Fano. Tapi, Fano bersikap biasa saja, dan tidak peduli semua itu. Bisnis properti papanya terpuruk. Proyek-proyek besar pembangunan yang dijalankan tersendat di tengah jalan. Papanya terjerat utang yang sangat besar pada rekan bisnisnya.
Tidak ada jalan lain untuk menebusnya. Hanya ada satu cara untuk meluluhkan hati rekan bisnis papanya agar mau meluapkan dana pada papanya Fano. Dan itu harus bersyarat. Syaratnya Fano harus menikahi putri rekan binis papanya itu. Gadis yang memiliki berat badan berlebih.
Meskipun berat badannya berlebih, Zahra tetap terlihat cantik, apalagi dia keturunan bule, karena papanya memiliki darah belanda. Ia mewarisi kulit yang putih bersih, seputih susu, mata yang cokelat gemerlapan, dan rambut yang berkilau keemasan. Karena dia tidak pede dengan tubuhnya yang gemuk, Zahra tidak pernah keluar dari rumah, dia membatasi bergaul, karena saat sekolah dan kulia dia bully oleh temannya, banyak cara yang ia lakukan untuk diet, tapi ujungnya dia bermasalah dengan lambungnya. Jadi dia membiarkan tubuhnya gendut. Ia semaki merasa rendah diri dengan keadaan fisiknya, hingga ia selalu mengurung diri di dalan rumah.
Tidak ada pria yang mau mendekati Zahra, apalagi menikahinya. Zahra tersingkir dari kehidupan luar di sana. sebagai anak tunggal, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Papa dan mamanya selalu sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Hari-hari Zahra lalui hanya di luar rumah. Melamun menatap ke arah jendela. Iri dengan kebahagiaan gadis-gadis di luar sana yang memiliki tubuh ramping, dan cantik. Sesekali Zahra keluar, jadia bahan bulan-bulanan mereka.
Semula Fano menolak mentah-mentah. Ia tampan, tubuhnya atletis. Kalau mau banyak sekali perempuan yang mau dengan dirinya, yang lebih cantik, seksi, tubuh indah, tidak seperti Zahra yang tubunya super besar menurut Fano.
Papanya Fano semakin putus asa saat itu. Di saat Fano menolak perjodohannya, istrinya kabur dengan pria lain yang jauh lebih muda, mungkin umurnya setengah dari umur istrinaya itu, dan bahkan lebih muda laki-laki itu daripada Fano. Laki-laki yang tampan dan bertubuh tegap, yang bukan hanya menggiurkan secara fisik dan finansial, tapi juga menggairahkan di atas tempat tidur.
Melihat papanya Fano bangkrut dan tidak bisa diandalkan lagi, ia langsung mengajukan gugatan cerai dan kawin lari bersama kekasihnya itu. Dan, saking frustrasinya papanya Fano mencoba bunuh diri agar terbebas dari semua masalah itu, utang dan perkawinannya yang hancur.
Fano sangat merasa bersalah melihat penderitaan papanya. Fano tidak menyangka papanya nekat bunuh diri, beruntung Fano cepat memberikan pertolongan saat itu, jadi nyawa papanya terselamatkan. Dan, Fano berjanji melakukan apa saja untuk membahagiakan papanya.
Fano akhirnya terpaksa menikahi Zahra demi papanya. Tapi, di kemudian hari Fano baru sadar bahwa pernikahannya dengan Zahra membawa kepuasan tersendiri. Mertuanya yang baik dan kaya raya, membelikan rumah megah bak istana. Mobil Jaguar keluaran terbaru dan termahal. Kursi direktur utama di perusahaan baru yang sengaja dibuka khusus untuk Fano. Sekarang Fano meninggalkan profesi DJ nya setelah menikahi Zahra.
__ADS_1