Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 58 - Surat Gugatan


__ADS_3

Santi menatap layar ponselnya dengan tajam. Ia tidak percaya Arya mengirim foto dirinya dengan Fano. Tidak Santi sangka, Arya tahu pertemuan dirinya dengan Fano malam ini.


“Itu namanya Jessi, San?” tanya Arya. “Sejak kapan Jessi berubah jadi laki-laki?


Santi tidak menjawab, bibirnya kelu, ia malu juga untuk menjawabnya. Arya adalah suaminya, dan dia tahu kalau dirinya baru saja menemui laki-laki lain.


“Aku tahu kita mau berpisah, tapi jangan jatuhkan harga dirimu lebih dulu, San. Kamu ini istri orang, aku tahu kok kamu sudah tidak mengharapkanku lagi, tapi setidaknya kamu bisa menjaga dirimu. Aku hanya pesan, saat kamu sudah tidak denganku lagi, jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu terjerumus ke dalam lubang yan sama seperti dulu. Kamu itu perempuan baik-baik, hanya dulu kamu terkekang oleh papamu, dan membuatmu seperti itu. Sekarang apa papamu mengekangmu lagi? Papa sudah membebaskanmu, karena kamu sudh dewasa, kamu sudah menjadi seorang ibu, harusnya kamu tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dirimu dan anakmu,” tutur Arya.


Santi masih diam saja, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Benar kata Arya, papanya sama sekali tidak marah saat tadi sore dirinya menyebut nama Fano, justru mamanya yang terlihat marah besar terhadap Santi, itu pun karena mamanya tidak ingin dirinya seperti mamanya dulu


“Aku memang salah sudah menemui Naira saat itu, tapi sedikit pun tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk kembali dengan Naira, San. Aku sudah menikah, mana mungkin aku akan kembali dengannya? Meskipin ada perjanjian di antara kamu dan Naira, aku tetap tidak akan kembali dengannnya!” tegas Arya.


“Kalau dengan kamu bertemu Fano itu untuk membalas sakit hatimu saat aku bertemu Naira, itu salah besar, San. Karena bukan itu yang membuat aku marah dan sakit hati, yang aku marah jika kamu dan Anin pergi dari hidupku, dan satu lagi, saat Fano menyentuhmu lagi, aku sangat marah besar, sudah atau belum cerai keadaan kita, aku tetap marah Fano menyentuh tubuhmu lagi, karena sejak aku menyentuhmu, aku tidak rela jika tubuh kamu disentuh oleh laki-laki lain selain diriku, kecuali kita bercerai, dan kamu menikah lagi, karena tubuhmu sudah menjadi hak suamimu!”


“Kalau aku sudah disentuh dia saat tadi bertemu apa kamu akan marah?” Santi melontarkan pertanyaan yang membuat Arya mentapa penuh amarah.


“Kau bilang apa tadi? Tadi saat bertemu kamu disentuh dia?”


“Ya, aku melakukannya!” jawab Santi sangat lugas.


“Astaga ... Santi ....” Ucap Arya lirih dengan menundukkan wajahnya.


“Kau lihat ini, Mas?! Ini bekas merah di dadaku siapa yang melakukannya? Fano, Mas! Dia yang melakukannya, kami sudah melakukannya lagi!” ucap Santi dengan tatapan nanar.


Arya melihat bagian dada dan leher Santi yang tampak banyak sekali bercak merah yang ditinggalkan Fano. Hati Arya sakit, batinnya menjerit, ia tidak tahu kenapa istrinya melakukan sejauh itu dengan mantan kekasihnya. Arya benar-benar kecewa, marah, tapi mau bagaimana lagi, memang semuanya akan segera berakhir.


Arya beranjak dari tempat tidurnya, dia keluar dari kamar Santi. Rasanya sakit sekali melihat istrinya kembali melakukan hal bodoh seperti dulu. Memang Santi menginginkan berpisah, tapi bukan berarti Santi bebas melakukan apa pun di luar sana, selagi belum resmi bercerai, apalagi dirinya melakukan dengan orang yang dulu mencampakkan dirinya, setelah merenggut manis dirnya, dan meninggalkan buah cinta di dalam rahim Santi.


Santi hanya diam, ia menangis setelah mengucapkan dan memperlihatkan semuanya pada Arya jejak merah yang ditinggalkan Fano. “Maafkan aku mas, aku sudah jahat sekali denganmu,” isak Santi.


Arya duduk di sofa ruang tamu, memijit keningnya dan sesekali mengusap air matanya. Dia terdiam dan tidak ia rasa air matanya menetes. Hingga dirinya mendengar isak tangisnya sendiri. Arya benar-benar kecewa sekali atas apa yang sudah Santi perbuat dengan Fano. Begitu tega Santi melakukan itu, padahal kurang apa dirinya? Arya juga sudah memberikan hak untuk dirinya, bahkan lebih baik, karena dia adalah suaminya.


Santi mendengar Arya yang sedang terisak, untuk kedua kalinya ia melihat Arya menangis karena dirinya. Arya menangis sampai sesegukkan, Santi mendekati Arya, dan dia bersimpuh di depan Arya.


“Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjaga diriku sebagai istrimu, aku benar-benar sudah menodai perkawinan kita. Aku minta maaf,” isak Santi.


“Duduk sini, kita bicara baik-baik.” Arya membantu Santi untuk duduk di sebelahnya. Santi duduk di sebelah Arya, dia masih menangis dan mulutnya terus mengucapkan kata maaf. “Sudah jangan menangis.” Arya mengusap air mata yang di pipi Santi.


“Jangan kau ulang lagi ya, San? Aku tidak mau kamu tambah sakit hati karena Fano. Sudah banyak ia menorehkan luka dalam hidupmu. Jangan kamu sakiti dirimu lagi. Andaikan nanti kita berpisah, carilah penggantiku yang lebih baik dariku. Sekarang kamu pikir, kalau Fano lebih baik dariku, dia tidak akan menyentuh milik orang, San. Dia akan menjagamu kalau dia menginginkanmu lagi. Aku paham dia ayah kandung Anin, tapi bukan berarti dia ayah kandung, lantas dia sesuka hati menyentuhmu lagi. Apa kamu ingin seperti dulu lagi? Dia hanya menanam benih di rahimmu, lalu kau dicampakkan saat kau ingin dia bertanggung jawab,” tutur Arya.


Santi hanya diam. Dia menunduk malu atas apa yang Arya katakan. Ia tidak menyangka Arya akan menasihatinya seperti itu. Ia kira Arya akan memarahinya dan langsung akan menalak dirinya, tapi dia malah memberikan nasihat dirinya.

__ADS_1


“Sudah jangan menangis.” Arya kembali mengusap air mata Santi. Lalu memeluk Santi.


Santi merasakan pelukan Arya yang hangat, yang ia rindukan sejak ia memutuskan berpisah dari Arya. Santi semakin terisak di pelukan Arya, dia tidak menyangka Arya masih mau memaafkan dirinya dan masih memperlakukannya dengan baik,


“Sudah malam, kamu istirahat gih,” ucap Arya.


“Iya,” ucap Santi lirih.


“Coba lihat aku, tatap aku sebentar?” pinta Arya. Santi mengeleng, dia malu untuk menatap wajah Arya. “Kenapa? Coba lihat aku,” pinta Arya lagi.


Arya mengangkat wajah Santi supaya menatapnya. Ia menatap Santi yang air matanya masih mengalir deras. “Sudah, jangan nangis, aku hanya pesan seperti tadi saja,” ucap Arya. Lalu mengecup kening Santi. Santi beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamarnya.


“San?” panggil Arya, dan dia langsung menghentikan langkahnya.


“Iya, Mas?”


“Surat gugatan kamu sudah aku tanda tangani. Aku taruh di dalam laci meja kamu di kamar,” ucap Arya.


Santi tertegun mendengar ucapan Arya. Akhirnya yang ia tunggu Arya lakukan juga. Tapi, bukannya dia senang, dan bahagia, melainkan hatinya sakit, dan dadanya sesak sekali mengdengar ucapan Arya. Padahal sepuluh bulan lamanya, dia menanti itu, dan terus mendesak kapan Arya akan menandatanganinya. Tapi sekarang, dia menyesal mendengar ucapan Arya itu. Dia benar-benar sesak mendengar ucapan Arya tadi.


“Iya, Mas.” Hanya itu kata yang terucap dari bibir Santi.


“Ini yang aku inginkan, tapi kenapa rasanya sakit sekali? Apa aku sanggup hidup tanpa orang sebaik Mas Arya? Apa aku akan menjerumuskan hidupku lagi ke dalam lubang yang sama? Hidup bersama Fano yang sudah menyakiti hatiku, dan mencampakkanku saat dulu?” ucap Santi lirih.


Santi tak henti-hentinya menangis, Arya melihat dari balik pintu saat Santi menangis hingga sesegukkan. Iya, benar kata papa mertuanya, Santi akan begitu menyesal kalau dirinya menandatangani surat itu. Dan, itu tandanya Santi masih sangat mencintainya.


“Aku tidak akan melepaskanmu, San! Aku akan terus menjagamu, dan tidak akan kubiarkan Fano mengambil kamu dan Anin!” Batin Arya dengan melihat Santi yang sedang menangis.


Arya masuk ke dalam kamar. Santi langsung mengusap air matanya lalu menaruh surat gugatan itu ke dalam laci lagi. Arya mendekati Santi dan memeluknya dari belakang. “Tidurlah, jangan  menangis terus, ini sudah keputusan kamu, dan aku menyetujuinya. Apa pun yang kamu mau aku akan coba turuti meski kamu memintaku untuk pergi darimu,” ucap Arya. “Asal beri aku kesempatan untuk di sini menemanimu, selama proses cerai berlangsung.


Santi hanya mengangguk, lalu melepaskan pelukan Arya. Dia merebahkan dirinya di tempat tidur, dengan memunggungi Anin dan Arya.


^^^


Pagi harinya Arya terbangun lebih dulu, begitu pun Anin. Santi masih dalam posisi tidurnya, memunggngi Arya dan Anin. Arya melarang Anin yang akan membangunkan Santi. “Ssstt ... biar ibu tidur, ayo sama ayah, kita ke dapur. Temani ayah bikin sarapan. Ibumu masih lelah, semalam pulang kerja malam soalnya,” tutur Arya. Anin hanya mengangguk saja.


Arya membukan lemari pendingin khusus  menyimpan ASI untuk Anin. Anin memang masih meminum ASI. Kata Santi nanti kalau sudah dua tahun saja lepas ASInya. Apalagi ASI santi masih lancar. Lalu ia memanaskan ASInya.


“Duduk sini, ini susunya diminum, kamu mau biskuit?” tanya Arya. Anin mengangguk dengan semangat. Mungkin dia bahagia, ditemani ayahnya sampai pagi, sudah lama sekali Anin tidak bersama ayahnya, jadi mungkin dia rindu tidur dengan ayahnya, dan bermain bersama ayahnya setelah bangun tidur, sperti sekarang.


“Ini biskuitnya, ayah bikin sarapan untuk ibu, dan sarapan buat kamu. Habiskan susu dan biskuitnya dulu,” tutur Arya. Anin mengangguk, ia memakan biskuitnya yang sudah Arya siapkan di wadah, dan susu di botolnya.

__ADS_1


Santi mengeliatkan tubuhnya, ia mengerjapkan matanya perlahan, ia sudah tidak mendapati Arya dan Anin lagi di tempat tidurnya. Santi ke kamar mandi untuk cuci muka, dan setelah itu ia keluar dari kamarnya. Ia melihat Anin dan Arya yan sedang duduk di depan meja makan. Arya terlihat sedang menyuapi Anin bubur, dan di depan Arya ada sepotong sandwich yang ia buat untuk sarapan, dengan di sebelahnya ada segelas susu. Di depan kursi yang kosong juga sama, ada segelas susu, dan sandwich yang masih untuh. Santi tahu, itu pasti punya dirinya yang sudah Arya siapkan untuk sarapan dirinya.


“Eh itu ibu?” Arya menunjukkan ke arah Santi yang sedang berdiri menatapnya.


“Ibu ....” panggil Anin.


“Ih pintarnya anak ibu sudah sarapan jam segini?” ucap Santi sambil mendekati Anin dan menciumi pipinya.


“Iya dong pintar ya Anin?” ucap Arya. “Sarapan dulu, San. Itu aku buatkan susu dan sandwich.”


“Terima kasih, Mas,” ucap Santi.


“Mas ....” Anin menirukan Santi memanggil Arya dengan sebutan mas.


“Eh jangan gitu, itu ayah,” tutur Santi.


“Mas ....” Ucapnya dengan lucu dan menggemaskan.


“Ayah, bukan mas, Sayang?” tutur Santi lagi.


“Yayah ....”


“Nah begitu dong pintar,” ucap Arya dan Santi bersamaan.


“Kamu hari ini ke salon, Bu?” tanya Arya.


“Nanti siangan saja,” jawab Santi.


“Ayah ke kantor?”


“Tidak, aku kerja dari rumah saja, kecuali ada meeting aku baru ke kantor,” jawab Arya. “Selama aku di sini, izinkan aku merawat Anin, karena setelah nanti aku tidak di sini, aku tidak bisa lagi menikmati momen seperti ini,” pinta Arya.


“Oh iya, papa keluar kota ke mana sih? Dihubungi kok nomornya tidak aktif? Mama juga?” tanya Santi.


“Bilangnya sih ke Palembang. Semalam dadakan, makanya aku balikin Anin, aku gak dibolehin pulang sama mama, karena buat nemanin Anin, sambil nunggu kamu pulang. Ya aku nurut saja sama mama, toh aku ini masih suami kamu?” jelas Arya.


“Iya gak apa-apa, Yah. Memang mama sama papa berapa lama?”


“Kurang tahu aku,” jawab Arya.


Hermawan dan Halimah sebetulnya sengaja meninggalkan Santi dan Arya supaya di rumah berdua, supaya mereka  memperbaiki pernikahannya yang hampir retak. Hermawan yakin Santi masih begitu mencintai Arya, dan sebetulnya dia tidak ingin berpisah dengan Arya.

__ADS_1


__ADS_2