
Arya mengajak Santi keluar untuk menikmati alam, menghirup udara segar, menyejukkan mata dengan suasana bukit dan pepohonan hijau.
“Kita mau ke gunung, Ar?” tanya Santi.
“Kita mau ngopi santai sambil ngobrol di tempat yang sejuk dan indah, pokoknya kamu pasti suka suasananya,” ucap Arya.
“Hmm ... pasti kamu sering ke sini?” tanya Santi.
“Ehm ... belum sih, baru kali ini. Aku tanya-tanya sama temanku yang sudah pernah ke sini, katanya enak sih tempatnya,” jawab Arya.
“Aku kira kamu pernah ke sini dengan kekasihmu dulu?” ucap Santi.
“Enggak pernah, sudah jangan bahas itu. Kita ke sana, mau bahas soal kita. Kita butuh suasana dingin dan jernih, untuk pikiran kita. Supaya tidak sepaneng terus,” ucap Arya. “Kamu juga sepertinya butuh suasana yang cukup fresh, biar pikiran kamu tenang, lihat hijaunya alam, merasakan sejuknya alam, dan bikin kita rileks,” imbuh Arya.
“Iya sih, suasananya cukup memanjakan mata, Ar,” ucap Santi.
“Makanya aku ajak kamu ke sini,” ucap Arya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Arya dan Santi sampai di suatu tempat yang indah. Arya langsung memarkirkan mobilnya, dan mengajak Santi jalan-jalan melihat indahnya pemandangan sebelum dia sampai di cafe.
Tangan Arya dari tadi terus menggamit tangan Santi. Itu semua karena medannya agak terjal, dan agak licin juga. Jadi, Arya menjaga Santi, takut Santi terpeleset atau terjatuh.
Setelah puas berjalan-jalan. Arya mengjak Santi istirahat, dia memilih cafe untuk istirahat sambil menikmati kopi dan makanan. Arya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Santi soal pertemuannya dengan orang tuanya.
“Santi, aku mau bilang sama kamu, tapi kamu jangan marah, ya?” ucap Arya.
“Mau bilang apa?” tanya Santi. “Aku gak marah asal kamu gak menyuruhku pulang, lebih baik aku menikah sementara sama kamu, daripada aku disuruh pulang,” ucapnya.
“Oke, aku mau jujur sama kamu, kalau kemarin pas aku pulang ke Jakarta, aku menemui kedua orang tuamu,” ucap Arya.
“Sudah kuduga, pasti kamu menemuinya? Untuk apa sih, Ar? Aku kan udah nurut kamu, Ar? Mau kamu apa sih?” ucap Santi kesal.
“Aku Cuma mau bilang, kalau aku yang membawa kamu kabur, aku juga bilang aku akan menikahimu. Tapi, papa kamu melarangnya,” jelas Arya.
“Gila kamu! Pasti papa akan nyuruh orang untuk membawa aku pulang! Ar, aku gak mau pulang! Pasti ini kota sudah banyak orang suruhan papa!” ucap Santi panik. “Aku gak mau menikah sama orang itu, Ar?” Santi benar-benar takut dan panik, kalau papanya akan menyuruh orang dan menjemputnya pulang, lalu disuruh menikah dengan laki-laki bayaran papanya.
“Papa kamu gak akan ke sini. Gak akan menyusul kamu. Tenang saja, kamu di sini aman. Papa kamu sepertinya sangat kecewa sama kamu, San. Dia malah membiarkan kamu, dan menyuruh aku untuk tidak menikahi kamu, supaya kamu sendirian, hidup sendiri apa-apa sendiri. Tapi, beda dengan mamamu, mamamu merestui aku untuk menikahimu, dan gaun itu, itu adalah pemberian mamamu, mamamu yang membuatnya sendiri untuk kamu. Mama kamu juga menitipkan ini untuk kamu. Beliau sangat khwatir dengan kamu. Sebenarnya beliau ingin sekali menghadiri pernikahan kita, tapi mama kamu takut dengan papamu. Kamu tahu papa kamu seperti apa, kan?” jelas Arya, dengan memberikan amplop cokelat yang ia ambil dari dalam tas slempangnya.
Santi terdiam, tidak terasa air matanya menetes karena merindukan mamanya. Hanya mamanya satu-satunya orang yang mengerti Santi, dan tahu apa yang Santi rasakan. Santi membuka amplop cokelat yang Arya berikan tadi. Tidak Santi sangka mamanya memberikan ia uang banyak sekali. Santi tahu, pasti mamanya menguras semua uang dari tabungannya, karena jumlahnya sangat banyak sekali.
“Sudah jangan nangis, kalau kamu pengin bicara sama mamamu, ini telefon saja atau video call,” ucap Arya.
“Aku belum siap untuk bicara dan menatap wajah mama, Ar,” ucap Santi.
“Ya sudah nanti saja kalau sudah siap. Sudah jangan nangis, tuh makanannya di makan, lalu kita pulang, ya?” ucap Arya.
“Aku sudah lega, sudah memberitahukan ini sama kamu, San. Aku dari kemarin bingung, bagaimana cara bilangnya, aku takut kamu marah sama aku,” ucap Arya.
“Aku memang kecewa sama kamu, tapi mau bagaimana lagi, kamu sudah ke sana. Memang seharusnya begitu, kamu pamit sama orang tuaku untuk menikahiku. Aku tidak peduli papa tidak setuju, asal mama sudah merestui,” ucap Santi.
“Ibu dan bapakku juga tahu, dan mereka juga merestui aku menikahimu, Santi,” ucap Arya. “Bahkan bapak membujuk papamu, supaya merestui kamu menikah denganku. Ternyata bapak itu kenal dekat dengan papamu, tapi setelah papamu jarang ke ruko yang di tanah abang yang dekat dengan ruko milik bapak, jadi mereka jarang ketemu lagi. Tapi, papamu bersih keras tidak mau merestui pernikahan sementara kita ini,” imbuh Arya.
__ADS_1
“Ibu dan bapak kamu? Yakin mereka setuju? Dan papa kenal sama bapaknya kamu?” tanya Santi tidak menyangka.
“Iya, katanya nanti akan ke sini kalau kita menikah. Aku tidak mau bohong sama ibu dan bapak, soalnya menikah kan sesuatu yang sakral, Santi? Meski pernikahan kita dalam perjanjian, dan hanya akan berlangsung satu tahun saja,” ucap Arya.
“Iya, bapakku kenal dekat dengan papamu,” jawab Arya.
“Terima kasih, Ar. Kamu benar-benar laki-laki yang baik. Aku tidak tahu harus bilang apa selain terima kasih dengan kamu. Sekali lagi terima kasih, Ar,” ucap Santi dengan menggenggam tangan Arya.
“Iya sama-sama. Jadi kita ada saksi kalau kita menikah, dan kita enggak bohong sama orang tua kita, meski kita bohong, karena menikah di atas perjanjian kontrak,” ucap Arya.
“Iya, Ar. Setidaknya mereka tahu, meski papaku gak mau tahu,” ucap Santi.
“Mungkin papa masih kecewa sama aku, aku seperti ini, padahal papa sangat menyayangiku. Tapi, cara papa menyayangiku itu sangat salah. Bukan sayang tapi mengekang,” ucap Santi.
“Sudah, jangan seperti itu? Nanti juga papa kamu akan luluh hatinya. Sudah yuk pulang? Masih banyak yang harus kita persiapkan,” ucap Arya.
“Ya sudah yuk, tapi sebelum pulang mau enggak foto denganku di sana, di jembatan itu? Pemandangannya indah sekali, Ar,” pinta Santi.
“Boleh yuk ke sana,” ajak Arya.
Mereka berfoto bersama. Berganti beberapa pose untuk mendapatkan foto yang bagus. Setelah puas dengan foto-foto dan melihat pemandangan alam dari atas jembatan gantung, Santi mengajak Arya untuk pulang.
Di dalam perjalanan pulang, Santi terus memandangi hasil jepretannya tadi. Dia melihat foto yang bersama Arya. Santi tersenyum memandanginya, tidak menyangka hasil fotonya sangat bagus-bagus. Ada foto yang diambilkan orang, yang menampakkan Arya sedikit merapatkan tubuhnya ke tubuh Santi, seperti memeluk.
“Kalau saja aku bertemu Arya dari dulu? Pasti enggak seperti ini ceritanya? Ah sudah jangan menghayal kamu Santi! Untung saja kamu kenal dan kabur sama orang baik? Kalau enggak gak mungkin dia memberikan uang titipan dari mama ini?” gumam Santi.
Arya dari tadi memerhatikan Santi yang senyum-senyum sendiri melihat foto di ponselnya.
“Lucu saja sih, lagian jatuh cinta gimana sih?” ucap Santi.
“Ya kali saja?” ucap Arya.
Ditengah perjalanan mereka terjebak hujan lebat, sehingga jarak pandang ke depan tidak terlihat karena tertutup hujan lebat dan angin. Tidak mungkin Arya melajukan mobilnya untuk pulang dan menerobos derasnya hujan, karena itu sangat membahayakan, apalagi medannya juga membahayakan.
“Santi, kita cari tempat berteduh dulu sebentar, ya? Biar hujan agak reda. Gak kelihatan sekali jalannya,” ucap Arya.
“Ar, mau neduh di mana? Ini di tengah hutan lho?” ucap Santi.
“Kayaknya ke depan sedikit lagi ada vila atau apa. Kita ke sana mau?” tanya Adhan.
“Ehm ... kalau pulang malah membahayakan, lebih baik memang kita menepi, Ar,” jawab Santi.
“Ya sudah kita jalan ke depan sedikit lagi,” ucap Arya.
“Pelan-pelan, Ar,” ucap Santi dengan sedikit takut.
“Iya, ini pelan kok? Duh hujannya makin deras sekali, Santi? Benar-benar bahaya sekali kalau kita melanjutkan perjalanan untuk pulang,” ucap Arya.
“Ya sudah, makanya kita menepi dulu, Ar,” ucap Santi.
Beruntung ada sebuah penginapan di sepanjang jalan yang dilalui Arya dan Santi. Banyak juga orang yang meneduh di sana, karena hujang benar-benar sangat deras. Mobil pun banyak yang menepi di sana. Beruntung ada cafe juga di sebelah Vila.
__ADS_1
“Kita turun, terus masuk ke caffe itu ya?” ajak Arya. “Atau kita sewa vila? Di kamar berdua?” imbuhnya dengan terkekeh.
“Gak! Ntar kamu macem-macem sama aku!” jawabnya.
“Ya kali saja?” ucap Arya. “Itu di sebelah ada payung, kamu pakai saja,” ucap Arya.
“Lalu kamu?” tanya Santi.
“Gak usah, kamu saja,” jawab Arya.
“Yakin? Hujannya deras lho?” ucap Santi.
“Ya sudah sini payungnya, kita pakai sama-sama,” ucap Arya.
Arya keluar, dan membukakan pintu Santi. Mereka berjalan ke arah cafe yang ada di sebelah Vila. Tidak menyangka cuacanya akan seekstrim ini. Padahal dari siang cerah sekali, setelah sore malah hujan deras, sampai jalan tidak terlihat.
Arya memesankan minuman hangat untuk Santi, dan cemilan untuknya. Mereka berbincang sambil menikmati minuman hangat dan makanan ringan. Cacing-cacing di perut Santi sudah berdendang lagi.
“Lapar, ya?” Tanya Arya yang mendengar perut Santi berbunyi.
“Iya, Ar. Lapar sekali,” jawab Santi.
“Sebentar aku pesankan makanan untuk kamu.” Arya lansung memesankan makanan untuk Santi. Beruntung menu makanan di cafe cukup lengkap dan bervariasi.
Arya kembali duduk setelah memesankan makanan untuk Santi dan dirinya. Santi masih menikmati roti bakar dengan segelas susu coklat hangat yang ia pesan tadi.
“Ditunggu, ya? Masih bisa diganjal susu dan roti kan laparnya?” tanya Arya.
“Masih, sih. Terima kasih ya, Ar?” ucap Santi.
“Iya sama-sama. Kalau lapar kamu bilang saja, Santi? Biar enggak gini. Kasihan anak kamu, untung saja kita sedang di cafe yang lengkap menu makanannya? Kalau enggak? Kasihan anak kamu,” ucap Arya.
“Ya sebenarnya aku dari tadi masih lapar, tapi malu mau bilang kamu,” jawab Santi.
“Pantas saja cemilan di mobil dihabiskan kamu semua?” guraunya.
Arya masih melihat wajah Santi yang terlihat sangat cantik dan natural. Tidak sengaja, tangan Arya tergerak untuk mengusap bibir Santi yang ada bekas susu cokelatnya.
“Ih, apa Ar?” tanya Santi yang kaget, tangan Arya tiba-tiba terjulur untuk mengusap bibirnya.
“Sebentar, kamu belepotan, nih ada sisa susu cokelat yang menempel di bibir kamu,” ucap Arya dengan mengusap bibir Santi.
“Masa sih? Makasih, Ar,” ucapnya dengan sedikit grogi.
“Iya, sama-sama. Jangan kayak anak kecil dong?” ucapnya.
“Ih apaan sih, Ar? Mana aku tahu aku belepotan?” ucap Santi.
Demi apa Santi benar-benar gugup. Detak jantungnya semakin berpacu mendapat perlakuan Arya yang seperti itu.
“Tenang, Santi. Jangan terpancing keadaan. Arya gini Cuma perhatian kok? Enggak lebih?” gumam Santi.
__ADS_1