Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 18 – Bos Dadakan


__ADS_3

Arya memerhatikan Santi yang dari tadi menghadap ke sebelah kiri. Diajak bicara pun Santi tidak menyahutinya, entah Santi sedang memikirkan apa saat ini. Arya menepuk bahu Santi karena dari tadi tidak menyahut saat Arya panggil.


“Santi?”


Santi sedikit terjingkat saat Arya memanggilnya dengan menepuk bahunya.


“Arya? Apaan sih! Ngagetin saja kamu?!” tukasnya.


“Lagian kamu ngelamunin apa sih? Aku jadinya kan ngobrol sendiri?” ucap Arya.


“Ehm ... siapa yang melamun sih? Orang lagi lihat ruko-ruko yang ada di pinggiran jalan kok?” jawab Santi.


“Yakin enggak bohong?”


“Ngapain aku harus bohong sih?” jawab Santi.


“Ya aku kira lagi ngelamunin siapa gitu?” ucap Arya.


“Ya aku takut saja mama sama papa ke sini, terus papa malah menghancurkan rencana kita ini, lalu papa membawa aku pergi, dan menikahkan aku sama orang itu?” ucap Santi, padahal hal seperti itu sama sekali tidak terbesit di benak Santi.


Santi diam karena dia takut nantinya setelah menjadi istri Arya dirinya semakin bergantung pada Arya, dan semakin menjatuhkan hatinya pada Arya. Itu semua pasti akan sulit dijalani Santi. Apalagi dia yang awalnya meminta perjanjian pernikahan dua semester itu dilakasanakan. Padahal Arya hanya basa-basi saja menawari itu, supaya Santi mau menikah dengannya saja.


“Enggak, mama sama papa kamu enggak akan datang, tenang saja, Santi,” ucap Arya.


Santi mengangguk, mengerti apa yang Arya ucapkan, dan percaya kalau orang tuanya tidak akan datang ke acara pernikahannya besok.


Arya tahu, tidak mudah untuk Santi menikah dengan dirinya. Santi mungkin terpaksa mau menikah dengan dirinya karena takut dirinya mengembalikan Santi kepada papanya, dan akan dinikahkan paksa dengan laki-laki pilihan papanya yang sudah dibayar mahal oleh papanya Santi untuk menutupi aib keluarganya. Santi tidak mau itu terjadi. Dia lebih memilih tawaran Arya untuk menikah sementara denganya.


Arya pun tidak mengerti, kenapa dari awal tahu masalah Santi, dirinya langsung mau menikahinya. Saat itu Arya benar-benar tidak berpikir panjang dulu. Dia langsung mengutarakan kemauannya untuk menikahi Santi, hanya karena dia tidak ingin anak di dalam kandungan Santi bernasib seperti dirinya. Lahir tanpa ayah, dan setelah itu menjadi bahan gunjingan orang, kalau dirinya itu anak haram. Padahal saat itu ibunya Arya menikah resmi dulu dengan ayah kandung Arya. Tapi, entah ada masalah apa, ayah Arya malah meninggalkan ibunya Arya, dan menikahi wanita lain yang sama-sama sedang mengandung anak ayahnya. Tapi, rumor dari tetangga saat itu, ibunya Arya hamil bukan dengan suaminya, suaminya pergi meninggalkan ibunya Arya yang sedang hamil Arya saat itu.


Arni berani bersumpah, kalau Arya itu anak kandung ayahnya. Semua tetangga hanya bisa menggunjing tanpa tahu kejadian yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin Arya bukan anak kandung ayahnya? Ibunya Arya saja menikah dengan ayahnya Arya masih dalam keadaan utuh belum tersentuh siapa pun? Dan ternyata, ayahnya Arya lah yang saat itu berkhianat. Dia malah memiliki wanita simpanan, sejak sebelum menikahi ibunya Arya. Setelah menikahi ibunya Arya, ayahnya Arya masih melanjutkan hubunganny dengan wanita itu, hingga hamil, dan akhirnya ibunya Arya yang ditinggalkan saat kandungannya memasuki bulan ke delapan.


Sejak itu, ibunya Arya tidak mau lagi mengenal laki-laki. Dia berusaha mati-matian menghidupi Arya sendiri, hingga akhirnya bertemu dengan Rozak, duda yang baru saja ditinggal pergi istrinya, dan belum dikaruniai anak. Pertemuan itu terjadi saat Arya sudah dewasa.


Tujuan Arya menikahi Santi karena dia tidak ingin anak Santi bernasib sama seperti dirinya, lahir tanpa seorang ayah. Arya juga sebenarnya tidak ingin ada perjanjian pernikahan yang hanya dua semester saja. Arya ingin pernikahan itu bukan untuk hal yang main-main. Meski dirinya tidak mencintai Santi, tapi setidaknya dia sudah membantu beban hidup Santi.


Arya tidak lagi memikirkan bagaimana caranya untuk kembali bersam Naira setelah bertemu Santi. Itu yang membuat Arya merasa dirinya aneh. Bertemu Santi membuat dirinya melupakan bayang-bayang Naira. Bagaimana pun, ada atau tidak ada Santi, Arya tetap tidak bisa menikahi Naira, karena ibunya sudah terlanjur kecewa dengan sikap keluarga Naira, terutama ayahnya Naira.


Secinta apa pun Arya pada Naira, dia lebih memilih ibunya daripada menentang ibunya, dan tetap berhubungan dengan Naira. Meski dia masih sering komunikasi dan bertemu dengan Naira, Arya hanya menganggap teman saja, entah Naira menganggap apa pada Arya, toh Naira pun sampai saat ini masih mencintai Arya, dan masih berusaha terus meminta restu pada ayahnya supaya ayahnya merestui hubungannya dengan Arya, dan membujuk ayahnya supaya meminta maaf pada ibunya Arya dan Pak Rozak.


Arya tetap berkomunikasi dengan Naira, karena dia ingin hubungan silahturahminya terjaga, meski sudah bukan kekasihnya. Namun, sebelum ada Santi, Arya memang sempat ingin melanjutkan hubungannya dengan Naira. Ada niat seperti itu pada diri Arya, tapi tenyata Arya malah bertemu dengan Santi, dan tidak tahu mengapa dia malah berniat untuk menikahi Santi. Misinya untuk balikan dengan Naira, menguap begitu saja. Arya juga semakin jarang berkomunikasi dengan Naira setelah ada Santi dan berniat menikahi Santi.


Bukan karena Santi lebih segalanya dari Naira, tapi entah kenapa Arya merasa kalau Santi lebih membutuhkan dirinya daripada Naira. Dia pun tidak ingin ibunya sakit hati lagi dengan ucapan ayahnya Naira, jika dia nekat ingin kembali merajut hubungannya dengan Naira.


Arya sudah sampai di depan toko roti dan kue yang katanya cukup terkenal. Arya mengajak turun Santi, dan entah kenapa sekarang menjadi terbiasa, setelah turun dari mobil, tangan Arya otomatis menggandengan tangan Santi, dan membiarkan Santi berjalan di sampingnya. Santi pun tidak pernah menolak untuk itu, dia malah merasa aman dan terlindungi saat Arya menggamit tangannya, dan membiarkan dirinya berjalan di sisi Arya. Mereka masuk ke dalam toko, dan mulai memilih apa yang akan mereka beli.


“Ar aku mau itu.” Santi menunjuk ke arah rak asinan yang ada di toko.

__ADS_1


“Iya sebentar aku ambilkan, mau berapa? Dan, apalagi?” ucap Arya.


“Dua deh, kayaknya enak tuh asinannya. Terus aku mau kue itu, Ar.” Santi menunjukkan beberapa kue  yang ia inginkan pada Arya. Dengan cepat Arya mengambilkannya dan menaruhnnya dalam keranjang belanjaan.


“Ar, ada tape ketan, ya? Enak kayaknya, apalagi itu yang pakai daun jambu bungkusnya? Aku pengin?” ucapnya.


“Santi, kamu lagi hamil, katanya enggak boleh makan makanan yang mengandung banyak ragi, jangan dulu, ya? Yang lainnya saja,” ucap Arya.


“Iya deh, enggak,” ucap Santi.


Padahan Santi mengetes Arya, tahu apa tidak kalau perempuan hamil makan tape diperbolehkan atau tidak. Ada yang bilang boleh, ada yang enggak sebetulnya. Tapi, alangkah lebih baiknya Santi mencegah tidak makan makanan yang seperti itu, dan ternyata Arya juga tahu kalau makanan seperti itu tidak boleh dimakan oleh ibu hamil. Padahal Arya belum menikah, tapi dia tahu apa yang boleh dimakan Santi atau tidak. Arya juga terus mengawasi makanan Santi, dia tidk mau Santi makan makanan yang terlalu banyak pengawet dan zat pewarnanya. Bahkan selama Arya bersama dengan Santi, Arya yang sering mengatur makanan Santi.


“Ini apalagi, Ar? Sudah?” tanya Santi setelah mengambil beberapa kue.


“Cukup sih, nanti juga ada kue yang lain di rumah. Tapi, Mbak Siti belum sempat bikin, karena masih memasak untuk makan siang nanti,” jawab Arya.


“Ya sudah cukup deh. Kita langsung bawa ke kasir saja yuk?” ajak Santi.


“Iya, tapi biar aku yang bawa. Kamu duduk di sebelah sana, tuh ada bangku, biar kamu gak capek. Sudah sana duduk saja,” ucap Arya.


“Ih aku enggak capek, Ar,” ucap Santi.


“Sudah nurut, sana duduk. Besok bakal gak duduk seharian kamu. Irit tenaga, Santi. Nurut, ya?” tutur Arya.


“Hmmm ... ya sudah deh,” jawabnya dengan mendengus kesal.


Setelah selesai belanja, Arya langsung mengajak Santi pulang, karena dia mendapat kabar ibunya sebentar lagi sampai, sekarang sedang berada di rest area dulu. Begitu kabar yang Arya terima dari ibunya.


Rozak dan Arni sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Arya. Dari tadi mereka terus meledek Saiful yang penampilannya berubah seperti bos besar pemilik Dirgantara Tour n Travel. Kemeja yang ia pakai pun terlihat kemeja yang berkelas. Arya tak segan-segan menggelintirkan dana untuk Saiful agar Saiful mengubah penampilannya demi misinya supaya tidak dicurigai Santi.


“Aku tidak maksud kenapa Mas Arya enggak terus terang saja sama calon istrinya. Biasanya banyak yang menyamar menjadi orang kaya, malah dia menyamar jadi orang biasa saja yang kerjanya sopir?” ucap Saiful.


“Pul ... Pul ... nikmati sajalah, beberpa hari jadi bos? Kan enak, kamu di kasih asupan dana terus sama Mas Arya? Biasanya kamu jadi juru lap-lap mobil, dan juru pel ruangan Mas Arya, sekarang nikmati saja jadi Bos Besar Dirgantara?” ucap Asep.


“Gak gitu, Sep. Gue sih seneng jadi beginian, ya gak Pak Rozak? Tapi, heran saja apa tujuannya Mas Arya sih? Sampai begini?” ucap Saiful.


“Tanya tuh Asep! Biang keroknya dia tuh!” tukas Pak Rozak.


“Lah dalah ... kok aku yang kena? Kenapa aku biang keroknya?” ucap Asep kebingungan.


“Lah karena kamu gak jemput si pengantin, jadinya kan Arya yang berangkat!” jawab Bu Arni.


“Bu, tapi ada hikmahnya, Mas Arya jadinya kan kawin? Lah kalau saya yang jemput. Saya sudah punya istri, ya kali mau kawin lagi?” ucap Asep.


“Gak gitu ceritanya kali, Sep? Lagian mana ada perempuan sekelas model papan atas mau sama kamu yang udah tua?” ledek Saiful.


“Tapi sayangnya sudah hamil di luar nikah kan perempuaannya?” ucap Asep.

__ADS_1


“Mas Arya kok mau sih, Bu? Udah calon istrinya sedang hamil. Hamil anak orang lagi? Mending sama Mbak Naira saja,” ucap Saiful.


“Saya lebih setuju Arya menikahi wanita yang hamil di luar nikah, daripada sama Naira, Ipul!” tegas Bu Arni.


“Kamu itu, Pul! Kalau ngomong gak mikir! Jelas lah, lebih baik sama orang hamil di luar nikah, daripada sama anaknya Santoso yang sok itu! Sok kaya, padahal gak ada apa-apanya dibanding Mas Arya!” ucap Asep.


“Sep, mau kaya mau miskin, mau masa lalunya seburuk apa, kalau orang itu etika dan cara bicaranya baik, saya gak masalah, tapi bapaknya Naira itu sudah melukai ibunya Arya. Lebih baik dengan wanita yang hamil di luar nikah, meski bukan Arya yang menghamili, karena saya lega, Arya sudah melupakan gadis itu,” ucap Rozak.


“Iya juga sih, habisnya tuh bapaknya Mbak Naira sentimen sekali sama ibu?” ucap Saiful.


“Ya gitu lah, Pul. Namanya juga orang kaya,” ucap Arni.


“Bu, ibu kurang kaya apa, sih? Kok terima dibilang seperti itu? Ya maaf, dulu Ipul sempat dengar ucapan bapaknya Naira itu ke Ibu,” ucap Saiful.


“Sudah, Pul, jangan bahas yang itu. Sekarang kamu pikirkan akting kamu itu di depan Santi. Jadi bos tidak mudah, Pul. Kamu harus berwibawa di depan Santi dan Arya, supaya Santi enggak curiga,” ucap Pak Rozak.


“Tuh dengar, Bos Ipul! Kamu harus siapkan mental dari sekarang! Nih dua puluh menit lagi kita sampai, jangan sampai kamu bikin Santi curiga, kamu sudah baca skenario akting kamu dari Arya, kan?” ucap Arni.


“Skenario apa, Bu? Ipul kan Cuma di suruh saja nyamar jadi bos? Memang ada skenarionya?” tanya Saiful.


“Ada dong? Kalau Akting kan harus ada skenarionya? Mau gimana bicaranya, intonasi bicaranya seperti apa? Kamu harus menguasai tuh?” ucap Rozak.


“Ah bapak sama ibu ini, bikin Ipul dag dig dug saja? Sudah ah, Ipul apa adanya saja,” ucap Saiful panik.


“Jangan panik dong, Bos?” ledek Asep.


“Lu jadi sopir gue kali ini. Untung gue gak di suruh bawa asisten pribadi gue, ya?” ucap Saiful.


“Nah asisten lu kan Mas Arya tuh?” ucap Asep.


“Ah iya, ya? Kapan lagi nih ngerjain bos gue sendiri?” ucapnya dengan tertawa bangga.


“Ingat, Pul, kamu bos, ucapan kamu kudu dijaga, kudu bijaksana, jangan selenyekan!” tegas Rozak.


“Siap, Pak!” ucap Saiful.


“Dan kita juga dikerjain Ipul lho, Pak? Disuruh tunduk sama bosnya Arya sih?” ucap Arni.


“Ah iya juga ya, Bu? Arya  itu memang bikin pusing! Sekali mau nikah ribet. Gak nikah-nikah, masih sering ketemuan sama anaknya Santoso!” ucap Rozak.


“Ini untungnya, Pak. Meski sama wanita yang hamil di luar nikah, Mas Arya tidak jadi sama Mbak Naira?” ucap Asep.


“Iya, ada hikmahnya, Sep,” ucap Arni.


“Sudah mau sampai sebentar lagi, ingat kamu Pul, jangan manggil Arya dengan sebutan Mas. Panggil saja Pak Arya, atau Arya lah. Ya meski sama sopir kamu panggil saja Pak Arya, kan dia lebih tua dari kamu, biar kamu terlihat bos yang berwibawa,” ucap Rozak.


“Siap, Pak! Semoga enggak gugup dan berjalan lancar sampai besok penyamaranku,” ucap Saiful.

__ADS_1


Arya dan Santi sudah menunggu di teras rumahnya, karena ibunya sudah hampir sampai. Ada rasa gugup pada diri Santi saat menunggu keluarga Arya datang. Bayangkan saja dia mau bertemu dengan mertuanya hari ini.


“Semoga ibunya Arya baik, dan bisa memahami kondisi ini,” gumam Santi.


__ADS_2