
Anin masih belum mau lepas dari gendongan Arya, padahal Arya mau menyetir mobil. Anin masih erat memeluk Arya. “Nin, ini ayah mau nyetir mobil lho? Masa gini? Duduk sama ibu, ya?” ucap Arya pada Anin, tapi Anin menggeleng.
Anin masih melihat ke arah mobil Fano yang belum juga melajukan mobilnya, dan setelah Fano melajukan mobilnya, Anin baru mau digendong ibunya. “Kamu takut mau diambil Papa Fano?” tanya Arya, dan Anin mengangguk menjawabnya.
“Dia tidak akan pernah mengambil kamu dari ayah, percayalah,” ucap Arya di depan Anin dan Santi. “Ayo masuk, kita pulang.”
Santi tidak menyangka anaknya akan setakut itu dengan Fano, sampai Fano belum pergi pun Anin masih memeluk Arya dengan kencang, takut sekali kalau Fano datang lagi untuk mengajak dirinya.
“Maafkan ibu ya, Nak? Jujur ibu pun sudah tidak mau lagi bertemu dengan papamu itu. Tapi, ibu masih ingin mengetes seberapa sabar ayahmu jika ibu begini. Kita masih akan tetap sama-sama kok. Ibu, kamu, dan ayah, kita akan terus bersama,” batin Santi dengan mendekap Anin yang ada di pangkuannya.
“Kamu lapar gak, Bu?” tanya Arya.
“Ehm ... sedikit,” jawab Santi.
“Mampir makan dulu, ya?” ajak Arya.
“Ya sudah, mau makan di mana?” tanya Santi.
“Enaknya makan apa, ya? Ini sebetulnya sudah lewat jam makan siang sih?” Arya berpikir sejenak untuk mencari menu yang pas untuk makan siang yang sudah menjelang sore.
“Aku pengin nasi padang, Mas,” pinta Santi.
“Cocok itu, jam segini makan nasi padang, pas sekali jam nya seperti saat pertama kali kita makan nasi padang bersama, tapi beda kota. Kita makan di pekalongan saat itu,” ucap Arya.
“Kamu masih ingat?” tanya Santi.
“Semua yang aku lalui bersamamu aku masih mengingatnya, San,” jawab Arya.
“Yakin semua?” tanya Santi.
“Yakinlah, dari kamu mengancamku mau bunuh diri saat mau kabur, makan nasi padang bersama, beli pakaian kamu, terus mau makan nasi megono gak jadi karena kamu ngambek, dan akhirnya lima porsi kamu makan sendiri, aku disisain bubur kacang ijo saja? Terus apa lagi ya?”
“Ternyata kamu masih ingat semua, Ar,” potong Santi.
“Ya masa lupa gitu saja, San? Itu adalah pengalaman pertamaku, ketemu perempuan, dan langsung ngajak nikah, padahal perempuan itu sedang hamil, dan dia hamil bukan denganku. Tapi, entah kenapa kau begitu cepat mengalihkan duniaku tentang Naira, dan cinta untuk Naira pun semakin terkikis habis,” uap Arya. “Sayangnya sih kamu minta pisah, dan aku gak tahu bagaimana caraku melupakanmu saat nanti kita berpisah. Melupakan kamu dan Anin adalah hal terberat dalam hidupku, San,” ungkap Arya.
“Sama mas, aku pun tidak bisa melupakanmu, bagaimana bisa aku melupakanmu, kalau kamu itu orang yang terbaik yang hadir dalam hidupku. Kamu yang mengajarkanku banyak hal, kamu yang selalu perhatian, support aku saat aku terpuruk, dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang kamu berikan untukku, Mas. Aku melakukan ini karena aku terlanjur sudah berjanji dengan Naira, kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu, Mas. Aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji, apa pun itu, bagaimanapun, dan kapan aku bisa membayar janjiku, aku akan bayar tunai janjiku.” Ucap Santi dalam hatinya saja.
“Kita pasti bisa kok, Mas,” ucap Santi sedih.
“Ya aku harus belajar, tapi ini adalah pelajaran terberat dalam hidupku, San. Belajar melupakan adalah hal yang terberat, daripada belajar mencintai. Semudah itu aku mencintaimu, tapi seberat ini aku akan melupakanmu,” tutur Arya dengan tatapan sendu.
“Sama, Mas. Aku malah lebih takut saat nanti aku bercerai darimu, aku semakin tidak bisa melupakanmu, apalagi Anin, pasti dia akan rewel tanpa kamu. Kemarin kita pisah hampir sepuluh bulan saja Anin rewelnya kebangetan, untung mama dan papa paham, kalau Anin kangen kamu, dan aku tahu, saat aku bekerja, mama dan papa membawa Anin ke tempatmu. Sekental itukah ikatan batin kalian? Padahal kalian orang yang berbeda, Anin bukan anak kandungmu,” batin Santi.
“Kita sama-sama belajar lagi, Mas. Bedanya belajar saling melupakan, kalau dulu kita belajar saling mencintai,” ucap Santi.
__ADS_1
“Iya, mungkin seperti itu,” jawab Arya. “Apa kalau kita bercerai nanti kamu akan langsung kembali dengan Fano?” tanya Arya.
Santi sejenak terdiam. Dia berpisah dengan Arya bukan karena Fano, tapi karena janjinya pada Naira. Bagaimana bisa Santi mau dengan Fano, kalau di hati Santi hanya Arya yang bertakhta? Bukan Fano. Fano hanyala masa lalu kelamnya yang kembali hadir, tapi Santi akui, gairah Santi seketika muncul kembali saat disentuh Fano malam itu. Pertahanannya runtuh dengan sentuhan lembut Fano yang mematikan sebagian sistem syarafnya.
“Aku tidak tahu, mungkin aku lebih baik kembali ke awal tujuanku,” jawab Santi.
“Apa itu?” tanya Arya penasaran.
“Aku ingin membesarkan Anin sendiri, itu tujuanku yang pertama, lebih tepatnya saat aku kabur, aku sudah memikirkan itu, tapi kamu hadir dengan membawa sejuta kebaikan dan cinta, yang membuatku lupa akan tujuan awalku, yaitu membesarkan Anin sendiri, menjadi orang tua tunggal bagi Anin. Kau datang membawakan keajaiban dalam hidupku kala itu, Mas,” ucap Santi.
“Lalu kenapa kau minta cerai, San?”
“Janjiku pada Naira, Mas. Aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Aku akan tepati janjiku pada Naira. Mengembalikan kamu, dan aku yakin kalian masih sama-sama saling mencintai,” ucap Santi.
“Kita kan bicara itu lagi dengan baik-baik, San?”
“Iya sih bisa, tapi tetap saja, janji itu utang, Mas,” ujar Santi.
Arya sebetulnya ingin menyampaikan kalau Naira sudah tidak peduli dengan itu. Kemarin Naira memberikan kabar pada Arya, kalau dirinya tidak akan mengusik lagi ketentraman keluarganya, dan Naira memintanya untuk tetap bersama Santi, jangan bercerai. Tapi, kalau Arya ceritakan sekarang, Santi bakalan tidak percaya. Biar saja, katanya nanti Naira akan menjelaskannya pada Santi, tapi entah itu kapan.
“Lalu apa Fano akan menceraikan istrinya? Kenapa dia mau menceraikan istrinya? Apa karena kamu?” tanya Arya.
“Istrinya tidak bisa memberinya anak, Mas. Katanya istrinya yang minta diceraikan,” jawab Santi.
“Tidak ada wanita yang ingin bercerai sebetulnya, San. Kecuali memang rumah tangganya sangat genting dan menyakitkan. Tapi, kalau hanya karena tidak bisa memberikan anak, kan masih bisa lewat jalan lain, kesepakatan adopsi atau program apa gitu? Apa harus gitu, dia selesaikan semuanya dengan cara bercerai?” ucap Arya.
“Tapi, tidak harus bercerai, kan?” ucap Arya.
“Ya gak tahu sih, kan mereka yang ngejalanin? Lagian dia mu cerai atau tidak sama sekali tidak ngaruh dalam hidupku? Ya mungkin ngaruh sih, dia kan bilang mau menikahiku, dan mungkin aku akan setuju, kalau dia serius,” ucap Santi.
Arya merasakan Santi sedang labil sekali, tadi bilang dirinya akan merawat Anin sendiri saat setelah bercerai, sekaran malah dia bilang mau kembali pada Fano?
“Kau ini kenapa sih, San? Kok kelihatannya sangat labil sekali? Lagi balik masa remaja apa sih nih orang?” batin Arya.
^^^
“Aku sudah memutuskan, Ra. Aku akan menceraikanmu. Aku sudah menemukan Santi, dia juga akan bercerai dengan suami sementaranya,” Ucapan Fano membuat Zahra kelu. Ia tidak menyangka suaminya akan bicara seperti itu.
“Iya, kita sudah pernah membahasnya bukan?” jawab Zahra.
“Iya, aku yang akan mengurusnya, Ra. Aku juga sudah terima konsekuensinya, jika nanti aku harus berhadapan dengan orang tuamu, dan papaku,” ucap Fano.
“Masalah itu, biar aku yang urus. Kita kan sudah sepakat untuk berpisah, Mas? Karena mas tahu sendiri, aku tidak bisa memiliki anak,” ucap Zahra.
“Iya nanti kita bicarakan sama-sama,” ucap Fano. “Oh ya, tadi aku ketemu Santi lagi, aku tadi habis ajak anakku juga.”
__ADS_1
Zahra hanya tersenyum mendengar penuturan Fano. Sakit sekali rasanya mendengar orang yang sangat dicintainya bertemu lagi dengan mantan kekasih lamanya, yang sudah memberikan buah hati.
“Aku akan ketamu pengacara, Ra. Aku akan urus perceraian kita secepatnya,” ucap Fano. “Tolong siapkan berkasnya ya, Ra? Aku mau mandi dulu, lengket sekali badanku,” pinta Fano. Fano langsung pergi ke kamarnya, untuk membersihkan badannya. Sedangkan Zahra, dia masih terpaku, dia tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Suaminya sudah menjatuhkan talak padanya.
Zahra tidak menyangka suaminya benar-benar menginginkan berpisah. Meski itu juga suatu perminaan dirinya juga supaya Fano menceraikan dirinya, tapi bohong kalau hati Zhara tidak hancur saat suaminya akan pergi meninggalkannya, menceraikannya, dan menikahi kekasih lamanya.
Zahra cemburu sekali ketika mengetahui Fano kembali bertemu dengan Santi. Apalagi dulu Fano sering memamerkan setiap kali Santi muncul di berbagai sosial media, saat sedang mereview produk. Wanita yang sempurna, cantik, cerdas, terkenal, dan telah menghadiahkan seorang anak pada Fano. Hal yang sama sekali tak bisa dilakukan oleh Zahra.
Sejak menikah dengan Fano, Zahra memang telah berjanji untuk mencintai laki-laki itu dengan sepenuh jiwanya. Fano pun bersikap baik padanya dan mau menerima kekurangan dalam diri Zahra. Fano juga tidak malu berjalan di samping Zahra, meski Zahra tahu bagaimana orang-orang memandang iba pada Fano. Seorang pria tampan beristrikan seorang perempuan dengan postur tubuh sama sekali tidak sempurna.
Tapi, Fano tetap memperlakukan Zahra dengan sepenuh kasih sampai akhirnya dokter memvonis Zahra tidak bisa memiliki anak karena rahimnya bermasalah cukup parah. Dunia Zahra menjadi porak-poranda, begitu juga dengan perkawinannya. Ia tahu sekali betapa Fano merindukan kehadiran anak di tengah-tengah mereka. Sebagai laki-laki Fano mengharapkan keturunan untuk mewarisi namanya.
Namun, takdir tak mungkin dirubah lagi, Zahra harus menerima kenyataan ini. Karena kemungkinan terbersar, Zahra tidak bisa memberikan Fano keturunan, dia tidak mungkin melahirkan anak-anak dari rahimnya. Zahra harus merelakan kepergian Fano, karena Zahra sangat mencintinya, dan ia rela berkorban asalkan Fano bahagia.
Dan Fano terus terang mengakui bahwa dirinya tidak akan berpaling kepada perempuan lain. Dia hanya meminta izin pada Zahra untuk kembali pada mantan kekasihnya dulu. Dari keputusan Fano itu, Zahra bisa menilai betapa berbudi dan betapa setianya Fano sebagai laki-laki. Buktinya, ketika ia memiliki kesempatan untuk menikahi peremuan lain, Fano malah memilih kembali kepada mantan kekasih lamanya.
“Ah ... andai saja aku bisa mempertahankanmu, Mas?” batin Zahra.
Zahra menyiapkan semua berkas perceraiannya dengan menangis sesegukkan, karena rumah tangannya akan berakhir di depan hakim. Betapa Zahra mencintai Fano, ia tidak bisa membendung rasa itu, ia sangat mencintai pria yang sudaha hidup dengan dirinya cukup lama. Tapi, mau bagaimana lagi? Dirinya tidak sempurna.
“Sudah tubuhku tidak sempurna seperti wanita pada umumnya? Ditambah aku tidak bisa memberikan dia anak? Lengkap sudah penderitaanku. Mungkin jika rahimku tidak bermasalah, aku bisa hamil, dan pasti Fano bisa mencintaiku,” batin Zahra pedih.
^^^
Hari ini adalah hari ulang tahun Fano. Mungkin hari ulang tahun Fano ini, hari ulang tahun terakhir bagi Zahra. Jadi Zahra ingin sekali malam ini akan merayakannya berdua dengan Fano.
Zahra sengaja memasak makanan istimewa kesukaan suaminya. Zahra juga membeli black forest yang besar dengan hiasan buah cery di atasnya, dan tabura cokelat yang lezat. Ia juga menata meja makannya denan lilin dan mawar. Sungguh terlihat sangat romantis sekali untuk malam nanti.
Zahra sudah membayangkan bagaimana wajah Fano ketika melihat kejutan yang disiapkan dari dirinya.
“Biarlah ini menjadi yang terakhir, asalkan menjadi bagian yang terindah yang tak akan dilupakan Fano seumur hidupnya,” batin Zahra perih.
Zahra memilih gaun yang tercantik dan termahal untuk menyambut Fano pulang, dan merayakan ulang tahun Fano bersama. Sebuah gaun malam berwarna maroon kemialuan dengan leher terbuka yang terbuat dari beludru. Gaun berludru itu dilapisi dengan paduan chiffon transparan yang menjadikan gaun itu tampak semaki mewah dan membuat kulit Zahra terlihat semakin putih berkilau.
Zahra merias wajah secantik-cantiknya. Memilih sapuan make-up yang bernuansa sama dengan gaunnya, lalu membiarkan rambut indhanya tergerai bebas. Setelah puas melihat penampilannya di depan cermin, Zahra duduk menunggu Fano pulang di ruang makan.
“Aku akan membuat pesta yang paling berkesan untukmu, Fan. Sebelum akhirnya kita berpisah untuk selamanya,” desah Zahra sedih.
Zahra sudah menunggu Fano cukup lama. Tidak biasanya Fano pulang sampai melebihi jam makan malam. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Waktu terus berputar, tapi Fano tak kunjung pulang. Sampai pada akhirnya telepon genggam yang ada di depannya berdering dan memperlihatkan nama Fano di layarnya. Dengan segera Zahra menggeser icon hijau di layar ponselnya.
“Fan, apa kamu masih lama pulangnya?” tanya Zahra dengan begitu gugup.
“Maaf, Ra. Aku pulang terlambat malam ini.” Terdengar suara Fano dari seberang, seperti sedang terburu-buru. “Aku baru keluar dari kantor, tapi dari kantor akui akan langsung pergi dengan Santi dan Anin ke restoran favoritku. Aku akan merayakan ulang tahunku bersama mereka.”
Zahra sejenak diam, mendengar penuturan Fano. Dan, belum sempat Zahra menyahuti Fano, Fano sudah mengakhiri panggilannya sepihak. Sekejap Zahra tercenung, tidak tahu harus berbuat apa. Dengan putus asa diletakkannya telepon genggamnya di depannya lagi. Lalu ia memandangi semua makanan yang sudah susah payah ia masakkan, kue ulang tahun yang sudah ia pesan, dan meja yang telah di tata indah. Ia duduk seorang diri dengan air matanya berlinang.
__ADS_1
“Semua yang aku siapkan sia-sia. Harusnya kau tidak usah menyiapkan semua ini, Zahra? Untuk apa? Kalau pun Fano pulang, juga tak akan mengubah keadaan yang memang sudah seharusnya berpisah! Juga tidak akan merubah perasaan Fano untuk tulus mencintaimu!” batin Zahra pedih.