
Seusai sarapan, Arya mengajak Santi ke sebuah pusat pertokoan. Mobil Arya berhenti di depan sebuah ruko yang masih tertutup berlantai dua. Rolling doornya bercat biru muda itu masih terlihat tertutup rapat.
“Ini toko siapa, Ar?” tanya Santi.
“Ayu turun, nanti aku ceritakan di dalam,” jawab Arya.
“Di dalam? Maksudnya? Ini toko kan tertutup, Ar?” Santi bingung dengan ucapan Arya, tapi ia hanya bisa menurutinya, Santi turun dari mobil, menyusul Arya yang sedang membuka pintu toko.
“Ayo masuk,” ajak Arya.
Terlihat di dalam toko sudah ada beberapa etalase, manekin, dan beberpa tumpuk pakaian yang masih di dalam plastik. Arya memberikan semua ini untuk Santi. Supaya Santi mengelola toko miliknya itu. Sebetulnya itu juga ruko itu milik orang tua bapaknya. Sudah ada niatan mau dijual, tapi kata Pak Rozak sayang kalau di jual, mending direnovasi lalu dikontrakkan, karena kalau dikontrakkan ada perputaran uangnya. Sekarang Arya menyewa ini pada bapaknya, ya meski ini milik bapaknya, dan nantinya juga akan menjadi miliknya, ia tetap menyewa, untung saja yang kemarin menyewa sudah tidak mau melanjutkan sewanya lagi.
“Ini apa, Ar?” tanya Santi.
“Supaya kamu tidak jenuh, aku mau kamu mengurus butik ini,” jawab Arya.
“Tapi, Ar? Aku ini sudah terlalu merepotkanmu, rumah itu kamu yang sewa, kamu mau menikahiku, meski sampai anakku lahir, sekarang kamu malah ngasih seperti ini? Ini kamu sewa atau bagaimana?”
“Aku menyewa, mana sanggup aku belikan ruko dua lantai, San?” jawab Arya. “Gak usah mikir uang sewanya, kamu kembangkan bisnis kamu di sini, aku percaya kamu ini bisa kok. Apalagi kamu itu desainer, plus model. Jadi cocok kan kalau kamu mengelola sebuah butik, dan di butik kamu ini menjual hasil dari desain kamu, ya mungkin awal bisa mulai dengan stok ini. Kamu hanya perlu mengembangkannya, San. Aku yakin kamu pasti bisa,” tutur Arya.
“Arya ... kamu ini baik sekali, ini udah ada stok barang, udah lengkap etalasenya, sudah ada rak, manekin, dan lainnya. Masa iya aku hanya menata barang saja? Aku bingung mau balas semua ini dengan cara apa, Ar. Aku hanya bisa berterima kasih padamu. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku memang butuh pekerjaan, supaya aku tidak jenuh, dan aku juga butuh uang buat biaya hidupku nanti dengan anakku,” ucap Santi. “Sekali lagi terima kasih, Ar.”
“Sudah anggap ini itu hadiah atau kado pernikahan dari aku. Aku kan sudah janji sama kamu mau mencarikan ruko? Di sini lumayan mahal-mahal ruko yang dijual, jadi aku bisanya hanya sewa, San. Gak apa-apa, kan? Yang penting kamu kan ada kesibukan, kamu gak jenuh, gak mikir macam-macam lagi, kamu bisa memutar otak kamu lagi ke bisnis, dan ke hal yang positif. Mulai dari nol ya, San. Aku yakin kamu bisa kok.”
“Hmm ... aku gak akan mengecewakan kamu, Ar. Terima kasih suami kontakku?” ucapnya dengan terkekeh. “Sudah aku pengin menata ini dulu, terus aku pengin cari hari yang baik untuk grand opening toko ini.” Santi langsung melihat-lihat stok baju yang sudah tersedia, ia melihat-lihat modelnya. Semua bagus, dan modelnya kekinian.
“Ar,” panggil Santi.
“Ya, gimana? Modelnya gak kuno banget kan bajunya? Aku ada kenalan suplier baju-baju batik, gaun, dan lainnya, ini aku ambil dari mereka semua,” ucap Arya.
“Bagus, ini modelnya kekinian semua, ya selera anak muda sekarang. Baju batik couplenya juga model sekarang semua. Mungkin kalau sudah lancar aku memang harus berinvestasi juga di toko ini. Aku kan kemarin dapat uang dari mama, bolehkan aku ikutkan untuk modal di toko ini?”
“Boleh, tapi kalau kamu butuh, ya tidak usah. Kalau mau uang itu berputar dan jadi banyak, ya silakan buat modal. Lagian kamu itu punya suami. Selama kamu jadi istriku, aku yang akan menanggung semua beban hidupmu di sini. Aku akan tanggung jawab semuanya, tapi satu yang tidak bisa aku lakukan.”
“Apa, Ar?” tanya Santi penasaran.
Arya tersenyum gemas melihat wajah Santi yang sangat penasaran. Arya mendekati Santi, ia mengusap kepala Santi dengan lembut. Arya menatap Santi yang terlihat cantik dengan rambut yang digeraikan, Arya menyelipkan rambut Santi ke belakang telinga, dan merapikannya karena sedikit berantakan. “Aku tidak bisa menyentuhmu layaknya suami istri, itu yang tidak bisa aku lakukan, San,” jawabnya dengan mengulas senyuman di depan Santi, tangannya masih mengusap lembut kepala Santi.
“Aku kira apa, Ar. Kalau itu kan memang sudah kita bicarakan sebelum menikah, kan?” ucap Santi.
“I—iya, ya sudah yuk aku bantu tata ini, nanti aku juga bantu kamu cari hari yang baik untuk grand opening butik ini,” ucap Arya.
“Kira-kira nama butik ini apa ya, Ar?” tanya Santi.
“Boleh aku kasih nama?”
“Ya, boleh lah,” jawab Santi.
“Anindya Boutique, bagus tidak?”
“Anindya? Siapa itu Anindya?”
“Nama anak kamu, nanti kalau lahir perempuan,” jawab Arya.
“Kalau laki-laki?”
“Kalau laki-laki, Anindito mungkin? Eh tapi gak bagus, bagus sih, tapi kurang sreg saja. Nanti aku pikirkan lagi kalau anak kita lahir laki-laki,” jawab Arya.
“Anak kita?”
__ADS_1
“Kamu istriku, anakmu juga anakku, kan?” jawab Arya dengan santai.
Santi hanya diam mendengar jawaban Arya. Arya memang sangat peduli dengan Santi, ia baik, dan sangat perhatian dengan kahamilan Santi. Arya juga yang selalu memerhatikan asupan makanan dan minuman Santi supaya anak dalam kandungannya sehat.
“Kenapa kamu siapnya nama anak perempuan?” tanya Santi.
“Karena kamu cantik saat hamil, terus cengeng dan cepat ngambek,” jawab Arya terkekeh.
“Ih nyebelin kamu!” tukas Santi.
“Kan kenyataannya, Santi? Tadi pagi saja kamu ngambek, kan?”
“Gimana aku gak ngambek, sudah tahu aku lapar, malah telfonan sama oky jelly drink!” kesalnya.
“Naira, bukan oky jelly drink!” ucap Arya membetulkan.
“Habisnya itu penunda lapar kamu sih, katanya sudah lapar, masih saja cengengesan telfonan!”
Arya hanya mengulas senyum. Ia melanjutkan menata baju ke dalam etalase. Dia mengambil beberapa model saja untuk ia gantung dan ia pasang pada manekin. Santi pun demikian, ia menata pakaian ke dalam etalase yang baru ia lap.
“Ar, kamu beli etalase ini baru semua, apa bekas?” tanya Santi.
“Ada yang bekas satu, tapi memang masih bagus barangnya. Ini yang di depanku, ini aku beli sama orang yang dikenalkan Mbak Sri, katanya memang jualan etalase dan lemari bekas gitu. Ya aku coba ke sana, tapi memang bagus, aku ambil satu itu, untuk melengkapi,” jelas Arya.
“Iya soalnya masih kelihatan bagus semua, dan masih baru sepertinya.”
Sampai siang mereka membersihkan ruko dan menata semua stok barang. Mereka menata hingga rapi, hanya berdua saja, sambil mengobrol dan semakin akrab.
“Makan yuk, San?” ajak Arya.
“Sebentar ini masih belum selesai,” jawab Santi.
“Boleh, yang penting enak dan mengenyangkan,” jawab Santi.
“Ya sudah aku pesankan sebentar.” Baru saja akan membuka aplikasi untuk memesan makanan, ponsel Arya berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Naira, Arya mereject telefon dari Naira. Ia menghargai Santi, dan belajar dari pengalamannya tadi pagi, saat mau makan Naira menelefonnya. Tapi, Naira menelefon dia lagi, Arya terpaksa menerimanya.
“Nai, sorry aku sedang sibuk sekali, telefon nanti saja, ya?”
Arya langsung mematikan telefon dari Naira. Santi tersenyum melihat Arya yang bicara seperti itu.
“Aku belum terlalu lapar, Ar. Kenapa jawabnya gitu? Nanti Naira marah, aku pernah digituin sama Fano saja marah kok, telefon lagi gih. Aku nanti pesan sendiri juga tidak apa-apa, kali saja penting, kan?” ucap Santi.
Arya menautkan alisnya, keningnya berkerut dan menaikan bahunya. “Ini kamu kok aneh?” Arya bingung sendiri dengan sikap Santi.
“Aneh bagaimana, Ar? Aku bilang, aku belum lapar banget, jadi masih bisa santai, singanya belum keluar taring dan tanduk,” jawab Santi terkekeh.
“Tanduk? Sejak kapan singa bertanduk? Sepertinya tidak ada singa bertanduk?” ucap Arya dengan terkekeh.
“Ada, singanya Santi,” jawab Santi.
“Kamu ada-ada saja, San. Ini mau pesan apa?” tanya Arya.
“Mau pesan sekarang? Gak telfon Naira dulu?”
“Iya sekarang, aku sudah lapar,” jawab Arya.
“Pengin nasi padang, dua porsi dong, Ar. Pakai perkedel 3 sama rendangnya 2,” pinta Santi.
Mata Arya membulat mendengar Santi yang meminta nasi padang dua porsi dengan perkedel tiga, dan rendangnya 2. “Ini kamu kerasukan apa, San? Kemarin juga makan nasi padang seporsi gak habis?”
__ADS_1
Santi terkikik gelih melihat ekspresi wajah Arya. “Ya gak kerasukan apa-apa, Ar? Lagian kamu main percaya saja? Sudah satu porsi saja, pakai rendang, dan perkedel dua. Terus sayuran dan kuahnya dibanyakin.”
“Oke, aku pesan sekarang. Minumnya teh hangat saja, ya?”
“Ih pengin es jeruk.”
“Jangan es, jeruk hangat, ya?”
“Iya deh, sama air mineralnya juga ya, Ar?”
“Iya, Santi.”
Arya memesan makanan untuk Santi dan dirinya. Ia melihat Santi yang bahagia sekali, dan semangat. Mungkin karena dia sudah tidak akan jenuh lagi, karena sudah memiliki usaha. Sebetulnya tadi Arya ingin menerima telefon dari Naira. Benar kata Santi, pasti Naira marah, dan ternyata Naira benar marah, sampai chat berkali-kali pada Arya.
“Kamu tidak biasanya gini, Ar. Meski sesibuk apa pun kamu, kamu tetap akan mengangkat telefonku, kecuali ada ibu dan bapakmu, kamu tidak berani angkat telefon dari aku. Ibu kamu sedang di luar, kamu gak usah alasan ada ibu kamu, aku lihat ibu kamu di toko kok! Kamu kok beda ya dari kemarin, Ar? Mana yang katanya mau memperjuangkan hubungan ini? Aku ini capek, Ar! Ayah dan ibuku sudah setuju, tapi kamu belum gerak untuk bicara semuanya dengan ibumu!”
Arya gusar dengan mengusap kasar kepalanya. Naira benar-benar marah, sampai ia telefon lagi pun direject.
“Benar kan pacarmu marah?” ucap Santi yang melihat Arya gusar dari setelah pesan makanan. “Telefon !” titah Santi.
“Nanti saja deh, habis makan,” jawab Arya.
“Jangan nanti-nanti. Wajah kamu juga gelisah gitu? Gak usah gak enak sama aku, aku belum lapar soalnya, kamu tahu kan kalau orang lapar itu resek?” Santi terkekeh melihat ekspresi wajah Arya yang lucu.
“Gak usah gitu wajahnya, Ar?” Santi kembali membereskan barang-barang dan menatanya di etalase.
“Aku suka kamu yang resek, gemes lihatnya,” ucap Arya.
“Giliran aku resek, ntar kamu kabur? Sudah sana telefon Naira lagi, sebelum tanduknya singa keluar!”
“Singa gak punya tanduk, Santi?”
Arya keluar dari toko, ia menelefon Naira. Santi mengembuskan kasar napasnya saat Arya menelefon Naira. Ada rasa yang aneh pada diri Santi saat melihat suaminya menelfon Naira, yang tak lain kekasihnya.
“Kok gini sih rasanya? Jangan gini dong? Jangan baper, Arya kan hanya suami sementara? Jangan pakai hati, San. Kamu jangan sampai disakiti pria lagi, cukup Fano yang terakhir, yang menyakiti kamu. Jangan main-main hati lagi, kosongkan hatimu dulu, dan fokus dengan kehamilanmu,” ucap Santi dengan menatap Arya yang sedang menelefon Naira.
Wajah Arya terlihat begitu sumringah, mungkin Naira sudah tidak marah lagi, kelihatannya Arya sudah berhasil membujuk Naira. Santi keluar karena melihat ojek online yang mengantar makanannya. Belum sempat keluar dia mendengar Arya bicara dengan lembut pada Naira.
“Jangan ngambek, Nai. Aku juga kangen kamu. Sudah ya, aku sedang sibuk di luar.”
“Iya, love you too Sayang ....”
Santi tidak jadi keluar, dia membalikkan tubuhnya dengan perasaan yang tak keruan. Hatinya terasa perih mendengar Arya mengungkapkan cinta pada kekasihnya, padahal sudah jelas hubungan mereka ditentang oleh kedua orang tua mereka.
“Santi? Kok masuk lagi?” Arya tadi memang melihat Santi keluar akan menerima makanan dari ojol, tapi dia langsung masuk lagi.
“Ah mau ambil dompet di tas,” jawab Santi gugup.
“Dompet? Itu ditangan kamu apa?” Santi tidak sada dirinya sedang memegang dompetnya.
“Ah iya ini dompet, tapi uangnya di dalam, pakai uang pas saja nanti aku ambil di tas, berapa totalnya? Ini adanya uang ratusan ribu di dompet, barangkali abang ojolnya tidak ada kembalian?” jawabnya gugup.
“Sudah gak usah, biar aku yang bayar saja,” ucap Arya.
Arya menerima pesanannya. Lalu membawanya masuk. Santi menyiapkan tempat untuk makan, mereka makan di ruang belakang. Ada meja kecil untuk makan, dan juga sudah ada perlengkapan dapur.
Santi langsung membuka makanannya, ia sudah lapar sebetulnya, tapi masih bisa ia tahan, karena ia sedang senang hatinya. Senang karena sudah tidak akan jenuh lagi di rumah. Ia sudah ada pekerjaan, jadi ia senang, meski tadi sedikit sakit hati melihat Arya yang bahagia saat menelefon Naira.
Arya mengusap bibir Santi yang belepotan memaki ujung jarinya. Santi sedikit gugup, tapi ia mencoba biasa saja dengan perlakuan Arya. Ia tidak mau lagi terbawa suasana, ia tidak mau meneguk manis apa yang Arya lakukan.
__ADS_1
“Aku harus biasa saja, aku tidak boleh terlalu larut dengan perasaan yang makin menguasai rongga hatiku. Gak, aku gak boleh terlalu nyaman, hingga timbul cinta pada Arya. Ingat, dia hanya membantumu, dia hanya menolongmu, jadi jangan kegeeran dengan perbuatan manis dia. Dia itu punya pacar!” ucap Santi dalam hati.