
Sudah dua bulan Santi berada di rumah papanya. Ia selalu menghindari Arya, meski Arya pulang ke rumah orang tua Santi, Santi selalu menghindari Arya ketika berada di kamar bersama Arya.
Pagi ini Santi kembali menemui Naira, Naira meminta bertemu Santi lagi. Santi tahu dia akan menagih janjinya, apalagi ini sudah dua bulan. Santi memang meminta waktu pada Naira, untuk menunggu kesehatan papanya pulih. Santi juga memutuskan untuk membicarakan semuanya pada kedua orang tuanya. Santi sudah yakin untuk berpisah dengan Arya, apalagi sekarang sudah berdamai dengan papanya. Jadi Santi semakin yakin untuk berpisah dengan Arya.
Santi sampai di tempat yang sudah Naira janjikan. Naira tidak lupa akan itu, dia tetap ingin Santi melepaskan Arya. Santi duduk di depan Naira. Naira menatapnya dengan tatapan sinis.
“Bagaimana papamu sudah sembuh, kan? Sudah bisa berjalan normal? Sudah dua bulan, San! Bahkan mau tiga bulan!”
“Aku akan urus perceraianku dengan Arya. Kamu tenang saja!” jawab Santi.
“Bagus! Gitu dong, janji itu utang!” sarkas Naira.
“Dan membanu harusnya tanpa pamrih! Apalagi sampai memita suami oang!” Santi membalas ucapan Naira.
“Kamu yang mengambil Arya dariku, San! Kamu yang masuk ke tengah-tengah hubungan kami. Saat aku sedang berjuang mendapatkan restu, kenapa kamu hadir? Kenapa kamu mengambil milikku?” ucap Naira. “Tinggal selangkah lagi aku akan bersama Arya, tinggal meminta restu ibunya Arya, tapi kamu menghancurkan semuanya, dan Arya memilih kamu karena ibunya lebih setuju ke kamu. Padahal kamu itu hamil di luar nikah! Dan bukan anak Arya yang kamu kandung!”
“Tidak usah membahas ke sana-sana! Kamu hanya ingin Arya kembali padamu, kan? Oke aku akan tepati janjimu, tapi aku tidak jamin Arya menerima keputusanku untuk bercerai darinya!” cetus Santi. “Ingat, aku ini istri sahnya. Kamu tahu suami istri bagaimana kalau di kamar? Arya sudah menyentuhku, dan karena itu Arya tidak akan meninggalkan aku!” Santi tertawa menyindir Naira. Dia langsung pergi meninggalkan Santi.
Naira mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka perkataan Santi akan melukai hatinya. Ia tidak terima Arya sudah menyentuh Santi. Tidak ada yang salah Arya menyentuh Santi, dia adalah suami Santi, jadi mau menyentuhnya sah-sah saja. Tapi, Naira tidak terima mendengar itu.
^^^
Santi mendapat kejutan dari Arya, dia diajak Arya untuk melihat rumah barunya. Santi menggeleng tidak percaya Arya membelikan rumah semewah itu dan di atas namakan dirinya.
“Aku gak bisa menerima ini, Ar,” tolak Santi.
“Kamu istriku jadi berhak menerima ini, San,” jawab Arya.
“Aku tidak bisa, Ar!” Santi meninggalkan Arya di dalam rumah, dia tidak mau lagi menerima apa pun dari Arya sejak ia mengetahui Arya diam-diam masih menemui Naira.
Santi sudah terlalu percaya kalau Arya akan mengatasi masalahnya dengan Naira, tapi ternyata Arya malah sering bertemu Naira diam-diam.
“Santi, tunggu!” Arya meraih tangan Santi.
“Mau apa lagi sih, Ar? Kita sudah mau selesai, Ar. Sudah, tidak usah lanjutkan pernikahan kita! Aku akan bilang dengan orang tuamu, Ar. Kita memang menikah di atas hitam dan putih, sudah jangan bawa aku terlalu jauh, Ar. Tolong hentikan ini semua. Aku masih belum tahu hatimu, aku masih belum tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku,” isak Santi.
“Kamu ini bicara apa, San? Kok tiba-tiba kamu begini?” tanya Arya.
“Aku punya janji pada Naira, dan aku akan tepati itu. Aku sudah mengajukan gugatan cerai, Ar. Aku sudah meminta temanku yang pengacara mengurus semua itu. Maaf, Ar.” Santi langsung menghentikan taksi dan pulang ke rumahnya.
Arya mengikuti taksi yang membawa Santi pulang ke rumahnya. Sebetulnya Santi tidak mau semua itu terjadi. Tapi janji adalah janji, Santi bukan orang yang suka mengingkari janji. Santi sampai di rumahnya. Ia berjalan sedikit cepat dengan raut tidak baik-baik saja melewati Hermawan yang sedang bersama dengan Rozak, di teras rumah sedang main catur.
“Santi, kamu kenapa?” tanya Hermawan.
Santi hanya menatap papanya dengan tatapan sendu. Ia tidak menjawab pertanyaan papanya, dan langsung masuk ke dalam. Di dalam ada ibu mertuanya dan mamanya yang sedang mengobrol dengan menjaga Anin yang sedang main. Santi juga menghiraukan Anin yang memanggil-manggil dirinya.
__ADS_1
“San, ini Anin manggil kamu lho? Kamu kenapa sih?” tanya Halimah.
Santi ngeloyor masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintunya lalu mengunci pintunya.
Sedangkan di luar Arya tergopoh-gopoh mengejar Santi. Dia juga tidak menghiraukan Rozak dan Hermawan yang sedang main catur di teras rumahnya.
“Arya ... Arya ... ini ada apa sih? Kamu sama Santi kenapa?” tanya Hermawan.
“Ah ... sebentar, Pa!” jawabnya lalu langsung masuk ke dalam.
Arya juga melewati ibunya dan mama mertuanya yang sedang bersama Anin, karena dia mengejar Santi.
“Santi ... buka pintunya! Kita bicarakan semua ini dengan baik-baik, San!” Arya terus mengetuk pintu kamar Santi.
Halimah mendekati Arya, dia menanyakan pada Arya apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi Halimah melihat gelagat Santi yang mencurigakan seperti sedang ada masalah dengan Arya. Arni juga sudah curiga kalau rumah tangga Santi dan Arya sedang tidak baik-baik saja.
“Santi ... buka pintunya, Nak? Kamu ini kenapa?” Halimah juga mengetuk pintu kamar Santi berkali-kali.
Hermawan juga masuk, memastikan apa yang terjadi pada putrinya dan menantunya. Ini jawaban untuk Hermawan selama ini, benar Santi dan Arya sedang ada masalah.
“Buka pintu, Nak. Kamu kenapa? Semua bisa dibicarakan baik-baik, Santi?” Hermawan mengetuk pintu kamar Santi.
Santi menyeka air matanya. Dia mengambil dokumen dari pengacara yang mengurus perceraiannya, dan juga mengambil surat perjanjian dulu sebelum menikah dengan Arya yang masih ia simpan. Ini saatnya Santi menghentikan semuanya. Demi setetes darah untuk menyelamatkan papanya, dia rela mempertaruhkan pernikahannya. Dia rela menyerahkan suaminya untuk Naira. Dia sudah menyetujui semua itu, dia tidak mau ingkar janji dengan apa yang sudah ia katakan. Santi membuka pintu kamarnya. Dia memandang semua orang yang ada di depan kamarnya, lalu langsung memeluk papanya.
“Maafkan Santi, Pa,” ucapnya dengan terisak.
“Bisa kita bicara, aku akan menyampaikan sesuatu,” ucap Santi.
“Aku mohon jangan lakukan ini, San? Aku mohon ada cara lain untuk semua itu. Kita bicarakan baik-baik ya, San?” bujuk Arya.
“Kita bicarakan semua ini bersama, secara kekeluargaan, Mas. Memang ini salahku, tapi aku lakukan semua ini demi papa. Mungkin kalau semua ini terjadi pada bapak, kamu juga akan melakukan hal yang sama, meski taruhannya adalah aku,” ucap Santi.
“Ini maksudnya apa, Santi? Apa Arya? Jelaskan pada kami!” Hermawan sedikit menaikan nada bicaranya.
“Kita bicara di sana, Pa. Ada yang ingin Santi sampaikan.” Ucap Santi. Dia berjalan ke arah kursi yang ada di ruang tengah. Mereka berkumpul bersama di sana, dan Santi langsung membahas yang akan disampaikan.
Santi menyodorkan map berwarna biru muda yang isinya gugatan cerainya. Hermawan langsung mengambil dan membacanya secara teliti. “Apa-apaan kamu! Kenapa tiba-tiba kamu menggugat cerai Arya?!” Hermawan tidak percaya anaknya menggugat cerai suaminya.
“Maafkan Santi, Pa, Ma,” ucap Santi dengan terisak. “Maafkan Santi, Pak, Bu.”
“Ini kenapa? Ada apa dengan kalian?” tanya Rozak.
“San, cukup! Kita bicarakan semua ini bersama. Mumpung orang tua kita berkumpul. Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu, San! Tidak akan!” tegas Arya.
“Untuk apa, Ar? Toh memang pernikahan kita seharusnya sudah berakhir sejak Anin lahir, kan?” ucap Santi.
__ADS_1
“Ini kalian kenapa sih?” tanya Arni. “Jelaskan pada ibu!”
Santi menjelaskan semuanya. Dia juga menjelaskan bahwa pernikahannya memang ada sebuah perjanjian. Perjanjian pernikahan dua semester. Akhirnya semua tahu. “Jadi karena ini?” tanya Arni. “Kalau hanya masalah ini apa tidak bisa dibicarakan lagi? Ibu merasa ini sudah lewat lama, sudah lupakan saja perjanjian ini?” ujar Arni.
“Bukan itu saja aku mengajukan gugatan in, Bu,” ucap Santi.
“Lalu karena apa??”
“Naira, aku sudah kadung janji dengan Naira, Bu, untuk melepaskan Arya. Bu, restui mereka, demi aku,” ucap Santi.
“Kamu bilang apa? Karena Naira? Semudab itu kamu mengakhiri pernikahan kamu, San? Hanya demi dia?” Bu Arni tidak menyangka Santi akan seperti itu.
“Itu juga karena sebab, Bu. Kalau bukan karena aku berutang nyawa dengan Naira, aku tidak akan melepaskan Mas Arya,” ucap Santi.
“Janji apa, San? Kamu punya perjanjian apa dengan Naira?” tanya Arni.
Santi menjelaskan semuanya, dia menjelaskan sedetail mungkin, ia sudah tidak mau menutup-nutupinya.
“Kalau pernikahan kalian taruhannya, papa lebih baik tidak usah hidup, San!” tukas Hermawan.
“Pa, Santi tidak mungkin membiarkan papa seperti itu. Santi tidak mau, Pa!” ucap Santi. “Apa pun akan aku lakukan demi papa, untuk menebus semua kesalahan Santi, menebus semua dosa-dosa Santi yang sudah Santi lakukan pada papa,” ucap Santi terisak.
“Tapi tidak seperti ini caranya, Santi? Kamu bisa bicarakan semua ini dengan kami. Ada kami waktu itu, kenapa kamu tidak mau bicara dengan kami?” ucap Arni dengan kecewa.
“Kita tidak banyak waktu saat itu, Bu. Ibu tahu sendiri papa saat itu harus segera ditangani, kan? Kalau terlambat papa tidak ada lagi, aku tidak mau, Bu. Aku belum bisa membahagiakan papa, banyak waktu yang ingin aku perbaiki dengan papa,” ucap Santi. “Restui Mas Arya dengan Naira, Bu. Santi mohon,” ucap Santi dengan menggenggam tangan Arni.
“Kamu benar-benar membuat ibu kecewa, San! Mudah sekali kamu mempertaruhkan pernikahanmu!” cetus Arni.
“Semua ini Santi lakukan demi papa, Bu. Kalau tidak seperti ini aku tidak bisa menebus semua kesalahanku pada papa. Aku sangat menyayangi papa, mencintai papa, pun aku sangat mencintai Mas Arya. Aku tidak bisa kehilangan dua-duanya, tapi aku harus memilih. Hanya Naira yang saat itu bisa menolong papa, hanya Naira, Bu. Siapa lagi? Semua orang di kantor Mas Arya tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan papa, sekali ada dua orang itu sedang di luar kota. Di rumah, asisten ibu tidak ada, di rumah mama tidak ada, siapa lagi kalau bukan Naira, Bu? Aku harus cari siapa lagi yang golongan darahnya sama dengan papa?” jelas Santi dengan terisak.
“Tapi kamu jangan begini, jangan pertaruhkan pernikahan kalian!”
“Bu, aku berutang nyawa dengan Naira, tolong demi aku restui Naira dan Mas Arya. Aku yakin mereka masih sama-sama mencintai,” ucap Santi.
“Aku mencintaimu, San! Aku sangat mencintaimu! Aku sudah melupakan Naira!” cetus Arya.
“Kalau sudah melupakan kenapa mas selalu menemui Naira? Selalu jemput Naira di tempat kerjanya? Apa seperti ini yang mas bilang mencintaiku?” Santi memperlihatkan foto Arya dengan Naira dari ponselnya. Arya terlihat sedang memeluk Naira, dan satunya terlihat Arya sedang mengecup kening Naira. “Bisa jelaskan, Mas?” pinta Santi.
“San ini tidak seperti yang kamu kira, San!”
“Ini sudah jelas, Mas. Sudah, memang aku harus melepaskanmu, Mas.”
Arni tidak percaya, Arya masih menemui Naira, apalagi sampai pelukan dan mencium kening Naira. Arni tidak tahu kenapa anaknya tidak bisa melupakan perempuan itu, yang ayahnya sudah membuat dirinya terluka.
“Ma, Pa, maafkan Santi. Santi tidak bisa melanjutkan pernikahan ini dengan Mas Arya. Papa jangan marah lagi dengan Santi ya, Pa?” ucap Santi.
__ADS_1
Hermawan memeluk putrinya, tidak disangka anaknya rela mengorbankan semua itu demi dirinya. Hermawan tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menangis memeluk Santi. “Tidak, aku tidak bisa membiarkan anakku bercerai! Aku akan cari tahu siapa Naira! Perempuan gila yang sudah meminta syarat donor darah dengan merusak pernikahan!” batin Hermawan.