Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 21 – Hitam Di Atas Putih


__ADS_3

Arya mendapati Santi yang sedang duduk termenung di ruang tamu. Semua tamu dari keluarga Arya termasuk bosnya Arya dan Asep sudah terlelap tidur. Arya belum juga memejamkan matanya, karena ia masih tidak menyangka dengan keputusannya untuk menikahi Santi. Memang ini adalah ide gila Arya untuk menikahi Santi, karena ia tidak ingin anak Santi lahir tanpa seorang ayah.


Arya mendudukkan dirinya di sebelah Santi, Sandikit terjingkat karena perbuatannya itu. “Belum tidur, San? Orang hamil jangan begadang, tidak baik, kasihan anakmu,” ucap Arya.


“Ngagetin kamu, Ar!” tukas Santi. “Belum ngantuk, Ar,” lanjutnya.


Arya tahu apa yang Santi rasakan malam ini, ia pun merasakannya. Bagaimana bisa setelah besok mereka sah menjadi suami-istri, tapi mereka hanya menikah hitam di atas putih. Di dalam pernikahan mereka ada sebuah perjanjian yang hanya berlaku satu tahun ke depan.


“Aku tahu apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya,” ungkap Arya.


“Memang apa yang aku rasakan, dan kamu rasakan? Yakin sama?” ujar Santi.


“Ya mungkin sama sih?” jawab Arya. “Sudah sana tidur,” titah Arya.


“Hmmm ...,” jawabnya hanya bergumam.


Santi dari tadi belum bisa tidur, karena ia masih memikirkan nasib pernikahannya dengan Arya nanti. Pernikahan yang hanya sebatas hitam di atas putih saja, di mana setelah satu tahun, pernikahan itu akan berakhir. Padahal Santi berharap di kemudian hari setelah pernikahannya, Arya lah yang akan menjadi pendamping hidupnya, karena Arya adalah sosok pria yang baik, yang selama ini ia temui. Tapi, bagaimana bisa seperti itu? Santi menyadari Arya hanya menolongnya saja, tidak mencintai dirinya, karena ada wanita lain yang masih sangat Arya cintai, namun tidak ada restu dari orang tua mereka untuk melanjutka hubungannya.


Berbeda dengan dirinya. Meski dirinya masih mencintai Fano, tapi Fano sudah berhasil membuatnya berantakan, membuat hidupnya hancur, dan membuat hatinya luluh lantak karena perbuatan dan penolakan Fano saat dimintai tanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Santi.


“Ar,” panggil Santi dengan suara berat.


“Ya, ada apa?”


“Boleh aku tanya?”


“Hmm ... silakan,” jawab Arya.

__ADS_1


“Pacar kamu tahu kalau kamu besok akan menikah?” tanya Santi.


Arya mengembuskan napasnya sedikit berat. Bagaimana dia memberitahu pada Naira, kalau dirinya besok akan menikahi wanita yang tengah hamil? Meski hanya sebatas pernikahan hitam di atas putih, ia tidak mau memberitahu Naira, karena akan menyakiti Naira. “Tidak aku tidak memberitahu dia,” jawabnya berat.


“Oh, aku kira kamu memberitahu dia,” ucap Santi.


“Mana tega aku memberitahukan itu padanya, San? Meski pernikahan kita hanya sebatas hitam di atas putih, aku tidak bisa memberitahukan padanya,” jelas Arya.


“Kenapa? Kamu masih mencintainya? Dan, apa setelah semuanya berakhir kamu mau kembali dengannya?” tanya Santi.


“Kamu tanyanya kok aneh gitu? Iya, aku masih mencintainya, sampai detik ini. Tapi, aku mikir perasaan ibu dan bapak yang sudah disakiti oleh bapaknya Naira,” jelas Arya.


“Tapi kalian masih saling berhubungan, kan?”


“I—iya sih, hubungan kami baik-baik saja? Tadi saja kami ....”


“Iya, tadi baru saja aku telfonan sama dia,” jawab Arya. “Kamu kenapa sih, San? Sudah jangan bahas Naira, ya? Gak usah mikir yang enggak-enggak,” lanjutnya. “Apa ini yang membuat kamu tidak bisa tidur?” tanya Arya.


Santi menarik napasnya. Ia memang tidak bisa tidur karena ia memikirkan ucapan Arya dengan Naira saat tadi sedang telfonan. Dari raut wajah Arya, menyiratkan kerinduan yang dalam pada Naira. Santi benar-benar merasa iri dengan Naira, yang dicintai kekasihnya begitu dalam, meski hubungannya ditentang oleh orang tuanya. Tidak seperti dirinya, ia mendapatkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan hanya merusak dirinya saja. Yang pertama sopir pribadinya dulu, dan yang kedua Fano.


“Idih, masa karena itu aku sampai gak bisa tidur? Gak lah! Aku kangen mama saja, di saat aku akan menikah dengan orang yang baik seperti kamu, mama gak mendampingi aku, papa juga. Tapi, aku gak terlalu mengharap papa, papa pasti tidak akan pernah mau memaafkan aku, Ar. Padahal aku sayang sekali sama papa. Aku gini karena semua ini bentuk protesku pada papa. Ya sudah kalau memang papa sudah kecewa dan benci sama aku, aku bisa apa?” jelas Santi menutupi kegundahan hatinya.


“Papa kamu hanya sedang kecewa saja, San. Pasti suatu hari nanti papa kamu akan mengerti kamu kok, kamu yang sabar, ya? Sudah sekarang kamu tidur, besok kamu akan capek, lho?” tutur Arya.


“Iya nanti, aku belum ngantuk, Ar. Sana kalau kamu mau tidur, lagian kan besok Cuma acara keluarga saja, gak ada tamu dari mana pun? Paling orang sini yang nantinya akan ikut menyaksikan. Jadi aku gak terlalu capek.”


“Iya, tapi kamu ini sedang hamil. Orang hamil jangan begadang, San?”

__ADS_1


“Iya deh iya, ini aku ke kamar. Kamu juga istirahat sana, nanti kecapean, kan mau nikah? Butuh tenaga ekstra lho untuk malam pertama, Pak Arya?” ucap Santi dengan menggoda Arya.


“Tenaga ekstra? Hmmm betul juga?” Ucap Arya dengan terkekeh. “Malam pertama, sepertinya seru ya besok malam. Ada malam pertama. Oke, aku akan persiapkan tenaga ekstra untuk besok malam. Apa kamu sudah siap calon Nyonya Arya?” ledek Arya.


“Nantang, Pak? Nanti giliran aku bertindak kamu kabur? Sudah gak usah sok-sok’an bicara begitu? Aku mau tidur! Bye calon suami kontrak ...,” ucapnya sambil melambaikan tangan pada Arya.


“Ini kontrak bagaimana?”


“Kan Cuma satu tahun, kek ngontrak rumah, kan? Kalau ini beda ngontrak rumah tangga!” jawab Santi, lalu pergi meninggalkan Arya di ruang tamu.


Arya hanya tersenyum melihat kelakuan Santi. “Bye juga calon istri kontrakku. Selamat tidur, semoga mimpiin calon suamimu yang tampan ini,” ucap Arya.


Santi menghentikan langkahnya, dan menolah ke arah Arya. “Huweekkk ... tampan dari mana ya, Pak? Tampan kalau di lihat dari atas Gunung Semeru, dan lihatnya pakai sedotan Cotton Buds!”


“Wah mulai ngejek nih. Gini-gini aku sopir paling tampan lho?” ujar Arya.


“Masa bodoh! Aku gak mau mimpiin kamu!” tukas Santi lalu pergi meninggalkan Arya.


“Santi ... hati-hati jalannya! Kamu lagi hamil jalan kok setengah lari gitu?!” seru Arya.


“Aku baik-baik saja. Anakku juga, gak usah lebai!’ jawab Santi.


Santi masuk ke kamarnya. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Santi berpikir, kalau Arya hanya peduli dengan anaknya Santi saja, dia tidak memedulikan Santi.


“Entah nanti kalau anakku sudah lahir, bagaimana nantinya sikap Arya denganku? Apa masih sama perhatian denganku, atau akan cuek dan tidak peduli denganku, karena itu adalah waktu di mana aku akan berpisah dengan orang sebaik Arya. Gak aku gak cinta, aku hanya kagum, dan suka dengan dia yang sangat baik padaku,” gumam Santi.


Arya masih memikirkan ucapan Naira tadi, yang katanya akan terus membujuk ibunya Arya supaya bisa memaafkan dirinya dan kedua orang tuanya. Ibunya Arya masih belum bisa merestui hubungan Arya dengan Naira, meski ayah Naira sudah sedikit memberikan lampu hijau pada Arya. Mungkin karena kondisi ekonomi Arya yang sekaragng, Arya sudah sukses dibandingkan dulu, jadi kedua orang tua Naira merestui.

__ADS_1


“Tapi aku tidak bisa melawan restu ibu. Apalagi ibu kelihatannya sayang sekali dengan Santi? Aku masih sangat mencintaimu, Nai. Tapi, aku menghargai ibuku. Betulkan cinta tak pernah tergantikan? Sekali pun telah menorehkan luka dan dendam?” gumama Arya.


__ADS_2