Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 14 – Curhatan Masa Lalu


__ADS_3

“Mulus, halus, putih, bersih, sempurna sekali tubuh Santi?” ucap Arya dengan lirih tanpa ia sadari. “Idih, kenapa aku bayangin itu sih? Ya wajar mungkin naluri laki-laki, lihat yang mulus mata gak mau berkedip. Tapi, perempuan seperti Santi mungkin hanya indah dipandang jutaan mata saat dirinya berjalan dan berlenggok di atas catwalk,” imbuhnya dengan masih membayangkan punggung Santi yang mulus.


Otaknya penuh dengan bayang-bayang tubuh Santi yang mulus itu. Tapi, Arya langsung menepiskannya begitu saja. Dia tidak ingin melamun hal-hal yang negatif yang nantinya akan menjadi masalah dalam hidupnya dan tujuannya. Tujuan Arya adalah menolong Santi, menolong anaknya Santi supaya lahir memiliki ayah. Dan, mungkin jika Santi berkehendak, dia tidak akan menyudahi pernikahannya. Adanya perjanjian dua semester itu karena Santi yang mau, Santi yang mengizinkan Arya menikahinya hanya sampai anaknya lahir. Karena, Santi yakin dia tidak bisa sendirian tanpa orang yang ia kenal saat melahirkan anaknya. Dia butuh Arya, orang yang pertama kali ia ajak kabur, dan menyelamatkannya dari paksaan papanya untuk menikah dengan orang bayaran papanya.


^^^


Keesokan harinya seperti yang Arya janjikan tadi, dia ingin mengajak Santi ke suatu tempat. Arya sebenarnya ingin membicarakan soal pertemuaanya dengan Mamanya Santi. Arya tidak mau menutupinya dari Santi walau bagaimana pun, Bu Halimah sangat menyayangi Santi. Bu Halimah seperti itu karena dia patuh dengan perintah suaminya. Apalagi suaminya sangat keras kepala. Menurut Rozak, Hermawan memang orang yang keras, dan ucapannya tidak pernah main-main.


Santi sudah siap dengan dandanan sederhananya. Santi menganggap mungkin Arya akan mengajaknya berkencan, untuk pendekatan sebelum menikah. Tapi, rupanya Santi menganggap itu terlalu tinggi cara berpikirnya. Santi buru-buru menepiskan pikiran itu dari otaknya. Dia tidak mau kecewa bila ternyata Arya malah bukan mengajaknya untuk berkencan.


“Jangan muluk deh mikirnya, Santi? Masa Arya mau ngajak kamu kencan? Ada-ada saja. Ingat, dia hanya menolong kamu, bukan menikahi kamu karena mencintai kamu. Jangan bodoh jadi perempuan!” ucapnya lirih, setelah mengoleskan lip cream berwarena nude di bibirnya yang seksi.


Santi masih berlenggak-lenggok di depan cermin, menatap tubuhnya yang  semakin berisi. Itu semua karena pengaruh dirinya sedang mengandung. Perutnya juga semakin terlihat membuncit. Tapi, meski sudah memasuki bulan ke-enam, perut Santi masih belum membuncit sekali.


“Maafkan mama ya, Sayang? Kalau mama egois, kadang ingin melenyapkan kamu. Maafkan mama. Mulai sekarang mama akan jagain kamu dengan baik, mama sayang kamu, Nak,” ucap Santi dengan mengusap perutnya.


Setelah dirasa dandanannya sudah sempurna, Santi mengambil tasnya, dan langsung keluar menemui Arya yang sudah menunggu cukup lama di ruang tamu.


“Sudah dandannya? Cuma gitu saja sampai dua jam aku menunggu kamu, Santi,” ucap Arya.


“Kayak gak tahu aja kalau perempuan dandannya lama,” ucap Santi.


“Ada perempuan yang dandannya sangat singkat, gak lama kek kamu?” ucap Arya.


“Masa? Siapa? Pasti orang yang sangat spesial sekali ya di hidup kamu?” tanya Santi.


“Iya, sangat spesial sekali,” jawab Arya.


“Siapa? Kekasihmu?” tanya Santi.

__ADS_1


“Ibuku, dan satu lagi, mantan kekasihku,” jawab Arya.


“Oh ....” Ucap Santi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mantan kamu pasti sangat cantik, ya?” tanya Santi.


Sebenarnya ada sedikit nyeri di hati Santi, saat mendengar Arya menyebut mantan kekasihnya. Apalagi Arya bilang kalau mantannya itu wanita yang sangat spesial sekali.


“Iya, Cantik. Kan semua perempuan itu cantik. Tergantung selera sih tapi. Tapi ya lebih cantik kamu, Santi?” jawab Arya.


Santi menoleh dengan gugup, dan mata yang membola mendengar Arya bilang kalau lebih cantik dirinya. Meski itu hanya basa-basi Arya saja, tapi itu cukup membuat Santi salah tingkah.


“Hah, kamu bisa saja, Ar? Cantik itu kan relatif sih? Ya memang semua perempuan itu cantik,” ucap Santi.


“Iya, kamu memang cantik. Kalau enggak cantik, mana bisa jadi model papan atas yang sedang naik daun?” jawab Arya.


“Kamu putus sudah lama?” tanya Santi.


“Sudah lama, aku lupa berapa tahun, yang jelas aku lulus kuliah?” jawab Arya. “Ya, kita masih sering komunikasi sih, sampai sekarang. Boleh dibilang kita putus karena terpaksa. Biasa masalah kasta, bibit, bebet, dan bobot. Yah ... siapa sih Arya? Hanya seorang sopir, mana mau sih orang tua yang sayang sama anaknya, terus anaknya mendapat suami sopir?  Sudah asal usul keluarganya tidak jelas? Yah, seperti itulah,” jelas Arya.


“Kan tadi aku bilang, gak ada orang tua yang ingin anaknya menikah dengan laki-laki yang berasal dari keluarga biasa saja, apalagi keluarga berantakan,” ucap Arya.


“Iya sih, aku juga kecewa dengan Fadli, yang katanya apa pun rintangannya dia masih ingin bersama aku, akan terus berada di sampingku. Tapi, apa? Setelah aku hamil, malah dia tidak mau bertanggung jawab, dia bilang dia ingin bebas, tidak mau ada ikatan untuk menikah,” ucap Santi.


“Ya sudah, anggap itu sebagai pelajaran berharga untuk kamu. Tapi, kamu masih berharap dia, kan? Masih cinta sama dia?” tanya Arya.


“Kalau itu? Perasaanku ke dia, memang belum berubah, Ar. Aku masih mencintainya, dan kalau pun dia berubah pikiran untuk mau menikahiku, mungkin juga aku akan mau. Walau bagaimana pun anak ini adalah anaknya, Ar,” ucap Santi.


“Iya sih, sulit untuk melupakan orang yang sangat kita cintai, apalagi kamu sudah mendapat benih cintanya di rahim kamu,” ucap Arya.


“Kalau kamu bagaimana, Ar? Masih cinta sama dia? Dan, ada gak keinginan untuk kembali, andaikata orang tua mantan kamu itu merestui kamu nantinya?” tanya Santi.

__ADS_1


“Kalau masalah cinta, kami masih sama-sama saling mencintai, bahkan masih sangat mencintai. Kami masih sering bertemu diam-diam, komunikasi diam-diam juga, tapi kalau untuk kembali lagi, aku tidak tahu. Dan, sepertinya orang tua dia tidak mungkin mau menerimaku. Kalau pun mau, ibuku yang sudah kadung sakit hati dengan ayahnya dia, pasti tidak memperbolehkan aku bersama dia lagi. Dan, aku tidak mau memaksakan, karena aku sangat menyayangi dan mencintai ibuku. Aku tidak bisa melukai hati ibuku, Santi,” jelas Arya.


Masih sama-sama saling mencintai, dan sangat mencintai. Kata-kata itu berhasil membuat hati Santi kelu mendengarnya. Bayangkan saja, satu minggu lagi Arya akan menikahi dirinya, tapi masih sangat mencintai mantan kekasihnya. Ya, sama juga dengan Santi yang masih mencintai Fadli. Tapi, cinta itu perlahan menjadi benci dan rasa kecewa. Tapi, setidaknnya Santi juga ingin menjadi istri yang baik untuk Arya, meski sementara dan mungkin tidak selayaknya suami istri betulan.


“Jadi pernah saling bertemu keluarga kamu dan mantan kamu?” tanya Santi.


“Iya, dulu pernah, saat aku ingin serius dengan hubungan kami. Tapi sayangnya, ayahnya dia tahu siapa ibuku, dan aku bagaimana hidupnya. Aku lahir tanpa seorang ayah, aku hanya seorang sopir taksi online, sebelum itu malah jadi tukang ojek. Dan, dari situlah muncul konflik yang tidak mengenakkan, ayahnya dia bicara yang tidak mengenakkan pada ibuku, ibu sakit hati, dan kita memilih untuk putus. Tapi, pada akhirnya ya gini, masih komunikasi, dia pernah punya pacar lagi, tapi sudah putus, karena dia tidak bisa melupakan aku. Katanya sih begitu, gak tahu kenyataannya,” jelas Arya.


“Lalu kamu mau menikahi aku dia tahu? Kan kalian masih saling komunikasi?” tanya Santi.


“Komunikasi tapi jarang, San. Jadi aku pun tidak mau menceritakan ini. Kita menikah kan di sini? Diam-diam pula?” ucap Arya.


“Iya sih,” ucap Santi.


“Sudah yuk berangkat, malah jadinya kita ngobrol gini?” ajak Arya.


“Bukan ngobrol lagi, tapi kita kek curhat masa lalu kita, ya?” ucap Santi.


“Iya juga sih? Ya sudah yuk berangkat?” ajak Arya.


“Ini kita mau ke mana sih? Mau ngajak kencan aku, ya?” tanya Santi.


“Kencan? Boleh juga? Ajak kencan calon istri dadakan. Itu kalau kamu mau, tapi kayaknya enggak deh?” ujar Arya.


“Sok tahu kamu! Kalau aku mau?” ucap Santi.


“Ya ayok ....!” Arya meraih tangan Santi, menggamitnya lalu keluar dari rumah.


Santi tersenyum, melihat tangan Arya erat menggamit jemarinya. Tidak menyangka Santi iseng bilang kencan tapi Arya menanggapinya seperti itu. Ya, meski hanya candaan saja, tapi sedikit membuat mood Santi cukup baik hari ini, dan dandanannya yang cantik juga tidak sia-sia.

__ADS_1


“Ih apaan sih? Kok rasanya gini amat, ya? Santi ingat, Arya masih sangat mencintai kekasihnya, besar kemungkinan mereka akan kembali setelah kontrak pernikahan ini selesai! Jangan lambungkan hati kamu saat ini, jalani ini sesuai perjanjian! Bukannya kamu yang menolak untuk tidak mau di sentuh Arya, dan tidur pun kamu maunya terpisah setelah menikah? Jangan senang seperti ini, slow ... biasa saja!” gumam Santi merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2