
Santi tidak menyangka, Arya yang hanya sebatas sopir bisa membelikan ponsel keluaran terbaru yang Santi inginkan. Tanpa menawar dan tanpa keberatan Arya langsung membelikannya. Sedikit tercenung menatap Arya yang sedang berbicara dengan penjual ponsel di tengah pusat perbelanjaan yang ada di kota Pekalongan. Seperti akrab dengan orang tersebut, dan gaya bicaranya juga seperti bukan seorang sopir. Lebih elegant gaya bicara Arya dengan orang, dan sepertinya dia sangat tahu soal dunia tekhnik dan dunia bisnis.
Arya mengajak bicara Santi, tapi Santi masih saja tercenung menatap wajah tampan Arya yang pantasnya bukan seorang sopir, tapi seorang CEO yang tampan dan keren, dengan balutan kaos yang sepertinya juga itu kaos mahal dan bermerk.
“Dia sopir beneran bukan sih? Kok penampilannya rapi, bersih, sopan, tampan pula? Enggak seperti sopir-sopir lainnya,” ucap Santi dalam hati dengan terus menatap wajah Arya.
Arya sampai melambaikan tangan di depan wajah Santi, karena Santi diajak bicara tidak meyahuti tapi malah menatap wajah Arya seperti itu.
“Santi ... hey! Kamu kok malah melamun?” Arya terpaksa menepuk bahu Santi hingga Santi terjingkat.
“Ah iya, maa—maaf, Ar. Aku melamun,” jawabnya gugup dengan wajah merah merona karena Arya menatap dirinya dengan tatapan indah. Iya, matanya yang indah berhasil menghipnotis Santi seketika.
“Kamu kenapa sih, Santi? Pakai lihatin aku gitu lagi? Ini gimana? Jadi ponsel yang ini?” Tanya Arya dengan sedikit canggung juga karena Santi menatapnya seperti itu.
“Eng—enggak apa-apa sih? Ya aku mau yang itu,” jawab Santi.
“Oke, yang ini, Mas.” Arya mengeluarkan uang cash untuk membayar ponsel yang Santi pilih.
Santi masih tidak percaya kalau Arya yang katanya seorang sopir mampu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membelikan ponsel keluaran terbaru yang dirinya mau.
“Ini orang sopir atau apa sih? Masa iya bisa ngeluarin uang sebanyak itu? Kemarin juga sudah menyewakan rumah untuk tempat tinggalku? Masa seorang sopir uangnya banyak sekali?” Santi berkata dalam hati, dia semkin bingung tentang Arya itu siapa.
Tapi, dia cepat-cepat menepiskan rasa penasarannya pada Arya. Santi malah memikirkan apa yang Arya usulkan tadi sebelum dirinya membeli ponsel. Pernikahan dua semestrer yang Arya usulkan, hanya untuk supaya bayi yang berada di dalam kandungannya tidak lahir tanpa seorang ayah.
“Menikah dengan dia? Aku saja tidak tahu siapa dia? Asal usulnya bagaimana? Tapi, aku memang butuh agar anak ini lahir ada ayahnya. Tapi, bukan dia! Harusnya Fano yang menikahi aku, bukan dia atau laki-laki yang lain!” Hati Santi semakin memberontak, ingin rasanya dia menolak Arya, tapi nanti pasti Arya memberitahukan persembunyiannya pada kedua orang tuanya, terutama papanya yang selama ini ingin dirinya menikah daripada membuat aib keluarganya.
Papanya sangat otoriter kepada dirinya. Dia tahu kalau dia anak semata wayangnya, tapi tidak seotoriter itu juga harusnya dengan Santi. Santi seperti tidak ada ruang untuk bergerak. Sama sekali tidak bisa, bahkan saat dia kuliah di Amerika saja dia harus dikawal oleh bodyguard untuk mengawasi gerak-gerik Santi saat jauh dari papa mamanya. Padahal Santi memilih kuliah di luar negeri karena dirinya ingin bebas, bebas bergaul dengan teman laki-laki di sana, atau dengan teman perempuan sebayanya.
Tapi, yang sangat disayangkan Hermawan, dia bisa kecolongan anak gadisnya dihamili oleh pemuda yang tidak jelas asal usulnya, yang hanya mementingkan kebebasa dan dunia malam. Pemilik kelab malam dan seorang Disk Jockey yang suka dengan dunia kebebasan. Keluarga Fano yang berantakan pun membuat Hermawan tidak ingin Santi dinikahi oleh Fano. Dan, beruntungnya Fano tidak mau bertanggung jawab dengan alasan dia masih ingin bebas, tidak mau terikat dengan pernikahan.
Santi selalu tidak kehilangan akal untuk bisa keluar, menikmati dunia malam. Papanya juga semakin hari semakin kesal dengan Santi yang lama-kelamaan mulai menantang dirinya, apalagi Santi telah membuktikan pada dirinya kalau dia bisa sukses membesarkan butiknya, dan salon kecantikan yang dia miliki. Selain menjadi Model dan bintang iklan Santi juga memiliki beberapa butik khusus batik dan bebrapa salon kecantikan. Sejak itu Hermawan mempercayai Santi kalau dia sekarang sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri, tapi ternyata itu salah. Santi malah terjerumus ke dalam dunia malam semenjak bertemu dengan Fano.
__ADS_1
“Kenapa melamuin, Santi? Kamu dari tadi melamun terus? Yuk pulang, ini ponselnya sudah selesai kok, sudah bisa dipakai,” ucap Arya dengan memberikan paperbag berisi ponsel keluaran terbaru dan paling mahal di toko.
“Gak jadi deh, itu ponsel buat kamu saja.” Santi langsung ngeloyor pergi meninggalkan Arya.
Arya berlari mengejar Santi. Arya yakin Santi memikirkan ajakan dia untuk menikah, padahal kalau Santi tidak mau pun Arya tidak akan memaksanya. Tapi, Arya tetap harus memberitahukan keluarga Santi di Jakarta.
“Santi ... Santi ... tunggu! Jangan lari-lari seperti ini, Santi? Kamu sedang hamil ngapain lari-lari gini sih?! Gak sayang sama anakmu!” Arya meraih tangan Santi, tapi Santi langsung menepisnya.
“Aku mau pulang!” ucap Santi dengan nada kasar.
“Pulang ke mana? Jakarta? Ayo dengan senang hati aku antar kamu? Syukur deh kalau kamu mau pulang,” ucap Arya.
“Ya ke kontrakan lah! Masa ke Jakarta, aku gak mau berurusan lagi dengan orang rumah! Aku sudah bisa menentukan bagaimana hidup aku ke depan, aku tidak ingin papa terus ikut campur dengan hidupku!” ucap Santi dengan tatapan nanar pada Arya.
“Kamu kenapa sih tiba-tiba kek gini, Santi? Udah yuk pulang!” Arya menggandeng tangan Santi dan membawanya ke mobil.
Santi tidak tahu kenapa dia merasa kalau dirinya sangat merepotkan Arya. Semua Arya yang menanggung hidupnya selama dia kabur, dan tidak mungkin juga dia akan membiarkan Arya terus menanggung hidupnya selama dia kabur? Kalau dia pulang, sama saja nantinya dia akan pulang ke kandang singa lagi?
“Dia sudah membuat hidupku susah, Ar! Tidak ada gunanya anak ini lahir, menjadi bebanku saja! Kalau aku tidak hamil, mungkin kontrak iklanku akan diperpanjang oleh pihak perusahaan, tapi karena ada dia di perutku, semuanya hilang, Ar. Aku kehilangan pekerjaanku, dan aku pun kehilangan ayah dari anak ini yang tidak mau bertanggung jawab,” ucap Santi dengan tatapan sendu.
Kehamilan Santi memang sudah diketahui banyak publik. Semua tahu Santi hamil di luar nikah, dan karena itu kariernya di dunia modeling terancam hancur. Bukan hanya terancam lagi, sekarang sudah benar-benar hancur, dan semua itu karena papanya membocorkan pada Agency juga perusahaan di mana Santi bekerja.
Dari awal Santi menekuni dunia modeling, papanya sudah tidak merestuinya, tapi Santi tetap ngotot dengan papanya, tidak mau meninggalkan dunia modeling yang dari kecil sudah menjadi impiannya. Papanya yang sangat menyayangi Santi, dan karena dia putri satu-satunya, akhirnya papanya memperbolehkan Santi mengikuti jejak ibunya dulu, menjadi model. Meski Hermawan sangat benci sekali dengan profesi itu.
Walau sangat benci dengan profesi anaknya, tapi Hermawan ingin melihat anaknya bahagia, apa pun yang Santi mau dia turuti, namun bersyarat. Ya, semua bersyarat! Syaratnya dia setiap mau fashion show, atau ada pemotretan harus didampingi dirinya atau kalau dirinya sibuk Hermawan menyuruh dua bodyguard untuk mengawal Santi ke mana pun dia pergi. Selama meniti karier di dunia modeling, Santi tidak begitu bebas, hingga saat dia meminta izin pada papanya kalau dia ingin menekuni di bidang usaha butik dan salon kecantikan, Hermawan sedikit demi sedikit memberikan ruang untuk Santi melangkah sendiri. Namun, saat dia ada jadwal pemotretan, tetap saja Santi diantar bodyguard atau papanya. Papanya yang merangkap menjadi manager Santi, beliau yang mengatur Santi bagaimana saat menjalani pekerjaannya sebagai model.
“Santi, jangan menyalahkan anak yang tidak berdosa ini. Sudah kamu tidak boleh seperti itu. Sekarang kamu pikirkan bagaimana caranya supaya anak ini lahir dengan selamat dan sehat. Kamu harus memikirkan masa depan anak kamu dari sekarang, jangan memikirkan apa-apa dulu selain itu,” tutur Arya.
“Aku gak tahu, Ar. Aku bingung, di sini sekarang aku kabur, hanya karena menghindari pernikahan terlaknat itu, terus di sini aku pun tidak tahu akan seperti apa ke depannya? Semua uangku, semua tabunganku aku tinggal di sana. Hanya ini yang aku bawa, yang tanpa sangkut paut papa dan mama. Kartu ini aku miliki tanpa sepengetahuan papa dan mama, dan ini mungkin tidak cukup untuk biaya hidupku sampai aku melahirkan dan membesarkan anakku sendiri? Coba kalau dia enggak hadir di rahimku? Semua akan baik-baik saja, aku masih menikmati hidupku, menikmati hari-hari dengan Fano, dan dengan teman-temanku,” keluh Santi.
“Kalau masalah biaya hidup, kenapa mesti dipikirkan? Aku akan bantu kamu cari kerja, aku juga tadi sudah bilang, kalau aku akan bertanggung jawab dengan kaburnya kamu ke sini, aku akan bertanggung jawab, Santi ....” Ucap Arya meyakinkan.
__ADS_1
“Tapi, Ar? Sama saja kalau kamu minta aku menikah dengan kamu, seperti aku nikah dengan laki-laki pilahan papa dong?” ucap Santi.
“Beda dong, Santi? Laki-laki itu kan dibayar papa kamu? Aku di sini, aku akan bertanggung jawab penuh dengan kamu, aku yang akan menanggung semua biaya hidup kamu selama di sini, atau aku antar kamu pulang saja?”
“Kamu memberi pilihan atau mengancam sih, Ar?!” tanya Santi dengan kesal.
“Ya, terserah kamu mau anggap aku memberi ancaman atau pilihan?” jawab Arya santai.
“Nyebelin kamu!” tukas Santi.
“Gimana? Kalau kamu mau menikah denganku, besok aku cari info ke KUA, setelah itu, semua akan beres, kamu menikah dengan aku , tetap tinggal di sini, semua orang tidak akan pernah tahu kamu di sini, khususnya keluarga besar kamu dan kedua orang tuamu. Bagaimana?”
“Tapi, Ar?”
“Tapi apa? Apa kamu tidak percaya aku akan menanggung semua hidupmu? Apa karena aku seorang sopir? Sehingga kamu meragukan aku?” tanya Arya.
“Aku gak mau saja merepotkan kamu, Ar? Aku tahu gaji seorang sopir itu seberapa? Kamu tidak mungkin bisa menanggung semua biaya hidupku dan anakku?” ucap Santi.
“Aku punya cukup banyak tabungan, aku bisa menanggung semuanya sampai anak kamu besar, dan siap untuk kamu besarkan sendiri. Nanti aku bantu kamu cari pekerjaan di sini, biar kamu tidak jenuh saat aku berada di Jakarta,” ucap Arya.
Santi terus memikirkan apa yang Arya minta. Menjadi istri Arya, yang belum asal usulnya di mata Santi. Kalau dia tidak menikah, pasti ujungnya Arya beneran memulangkan dia ke Jakarta, dan dia malah akan dinikahkan dengan om-om yang katanya hanya mengincar harta papanya saja.
“Ar, oke ini keputusan aku. Aku ikuti saran kamu, aku mau menikah dengan kamu, tapi harus ada hitam di atas putih. Perjanjian setelah menikah, dan pernikahan kita hanya satu tahun. Tolong carikan aku pekerjaan setelah aku menikah dengan kamu,” ucap Santi.
“Kamu yakin? Kalau kamu yakin, setelah menikah aku akan mencarikan kamu pekerjaan, biar kamu tidak jenuh saja. Nanti aku kasih kamu pekerjaan, kamu juga perancang busana, kan?” tanya Arya.
“Ya, aku memang kuliah desainer, khusus perancang busana sebelum aku kuliah di Amerika,” jawab Santi.
“Nanti aku carikan pekerjaan yang cocok. Kita urus persiapan pernikahan kita, seminggu lagi kita menikah,” ucap Arya.
Santi mengangguk, akhirnya Santi memutuskan untuk menikah dengan Arya dengan perjanjian pernikahan yang hanya berlangsung dua semester saja.
__ADS_1