Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 55 - Terlalu Egois


__ADS_3

“Menikahlah denganku, San. Aku akan menceraikan Zahra, dan ceraikan suamimu, aku janji akan membahagiakanmu, menebus dosa-dosaku karena mencampakkanmu, menebus waktu yang terbuang karena keegoisanku. Aku mohon, menikahlah denganku, Santi.” Fano mengenggam tangan Santi, menciumnya berkali-kali, dan memohon supaya Santi kembali padanya.


“Rasanya tidak pantas, Fan. Kita kembali tapi menyakiti orang lain. Meski aku akan berpisah dengan Arya, tapi kamu tidak seharusnya menceraikan Zahra demi aku. Kita sudah punya hidup masing-masing, Fan. Tidak bisa untuk kembali seperti dulu, apalagi Anin hanya mengenal Arya sebagai ayahnya, bukan kamu,” ucap Santi.


Fano tercenung mendegar pernyataan Santi kalau Anin hanya tahu Arya sebagai ayahnya, bukan dirinya. Jadi selama ini Santi tidak memberitahukan Anin kalau dia papanya.


“San, aku janji, aku akan menebus semua yang telah hilang. Izinkan aku mendapatkanmu lagi, San.” Fano masih tetap memohon pada Santi.


“Aku tidak bisa, Fan. Selama kamu pergi, sosok Arya yang selalu menjadi pelindungku, dia yang selalu menjagaku dengan sepenuh hati, dan maaf aku sudah nyaman dengannya,” ucap Santi.


“Kalau nyaman kenapa pisah? Kenapa meminta cerai? Dan tadi, kamu membalas ciuamanku dengan lembut , dan rasanya masih seperti dulu, saat aku dan kamu masih bersama, kau tadi membalasnya dengan penuh gairah yang menggebu, San!”


“Ada sesuatu yang membuat aku harus berpisah darinya, Fan. Tidak usah kau tahu, ini masalahku dengan dia. Jujur saja, kami sama-sama masih mencintai, tapi kami memang harus berpisah. Dan, untuk ciuman tadi. Mungkin karena aku terlalu terbawa perasaan yang dulu, tapi maaf sepertinya bukan perasaan cinta kepadamu yang membuat aku membalas kecupanmu tadi dengan bergairah,” jelas Santi.


“Apa karena perjanjian pernikahan itu?” tanya Fano penasaran.


“Bukan, ada masalah lain, yang tak perlu kamu tahu, karena ini masalah rumah tanggaku dengan Arya. Dan, selama ini Arya masih belum mau menandatangani surat gugatanku. Dia selalu menolaknya,” jelas Santi.


“Aku berharap kamu segera pisah darinya, karena aku juga akan mengurus percerianku dengan Zahra. Kami memang sudah sepakat berpisah, aku bilang aku akan mencarimu, lalu akan menikahimu. Dia setuju,” ujar Fano.


“Jangan seperti itu, Fan.”


“Pernikahanku ini pernikahan bisnis, dan aku juga tahu istriku tidak mencintaiku, karena aku juga tidak mencintainya.”


Santi diam mendengar penuturan Fano. Dia begitu mudahnya mempermainkan pernikahan. Bisa-bisanya dia akan menceraikan Zahra hanya ingin hidup dengan Santi.


“Apakah Fano datang kembali hanya untuk menyakiti hatiku lagi? Hanya untuk menorehkan luka lama dan menambahkannya dengan kepedihan yang baru?” batin Santi.


“Aku mohon, San. Aku masih sangat mencintaimu, kepergianmu karena aku mencampakkanmu telah menyadarkanku, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang berarti dalam hidupku,” ucap Fano dengan sendu.


“Kalau aku berarti untukmu, kamu tidak mungkin membiarkanku pergi dan menikah dengan orang lain, Fan. Dan, satu yang membuat aku kecewa denganmu, teramat sangat kecewa, ketika kamu bilang anak yang aku kandung bukan anakmu. Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu, sedangkan selama aku denganmu, tidak pernah ada laki-laki yang dekat denganmu, hanya kamu saja, tidak ada yang lain, Fano. Tapi kamu tega sekali bicara bahwa anak yang aku kandung bukan anakmu? Kecewa rasanya, Fan!” pekik Santi dengan tatapan sendu, sudut matanya mulai tergenang air mata, yang hampir jatuh.


“Iya karena aku bingung saat itu, San. Aku belum siap menjadi ayah, aku belum siap menikah, aku masih ingin bebas saat itu. Aku tidak mau ada ikatan. Apalagi papamu, papamu sangat otoriter mengatur hidupmu!”


“Papa melakukan itu, karena papa menyayangiku. Anak perempuan satu-satunya yang sangat papa banggakan, tapi apa yang aku lakukan? Aku sudah mengecewakan papa, dengan aku hamil di luar nikah, ditambah kamu tidak mau bertanggung jawab! Kalau kamu mau bicara baik-baik, mau bertanggung jawab, papa juga akan terima, Fan! Tapi apa? Tidak adak itikad baik darimu, kamu malah mencampakkanku!” ucap Santi dengan getir. “Aku tidak menyalahkan papa yang otoroter terhadapku, Fan! Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengan papa pada Anin! Aku akan melindunginya, aku tidak akan membebaskan dia, tapi bukan berarti aku mengekangnya, aku hanya tidak mau apa yang sudah terjadi padaku, terjadi pada Anin juga!”

__ADS_1


Fano terdiam, ia menantap Santi yang sedang menyeka air matanya. Batin Santi bertarung, ia masih dilema untuk berpisah dengan Arya, dan tiba-tiba Fano datang dengan membawa seonggok kenangan saat dulu bersama


“Aku mohon, maafkan aku, dan aku mohon, kembalilah denganku, San. Aku masih sangat mencintaimu, dan aku yakin kamu pun sama, kamu masih sangat mencintaiku. Jangan membohongi hatimu, San,” cetus Fano. “Aku ingin kita seperti dulu, aku akan perbaiki semuanya, San. Aku janji itu. Aku masih sangat mencintaimu.” Fano mengusap lembut pipi Santi, dan mencium kening Santi, perlahan ciuman itu mendarat di bibir Santi, dan Santi kembali membalasnya. Santi menyadarinya, dia melepaskan tautan bibirnya, dan menjauhkan Fano dari dirinya.


“Mengapa aku membiarkan diriku terperosok ke dalam lumpur yang sama? Ingat Santi! Sekarang Fano sudah menikah, dia milik wanita lain, kamu tidak boleh seperti ini! Pun dengan dirimu, kamu juga masih suami orang, kamu masih milik Arya, karena Arya belum menalakmu!” batin Santi menjerit lirih, Santi memegangi dadanya yang terasa berdenyut cepat. Jantungnya berpacu saat mengingat tadi, saat kedua kalinya ia berciuman dengan Fano. “Masih tersisakah cinta di lubuk hatiku untuk Fano? Atau justru cinta itu tetap membara? Tidak memudar sedikit pun, meskipun dulu Fano telah menggoreskan luka di hatiku.” Batin Santi, dengan merasakan hatinya bertarung hebat karena kejadian tadi.


Santi membelakangi Fano. Dia terus mengusap air matanya yang sudah berhambur membasahi pipi. Fano memeluk Santi dari belakang, “aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, kembalilah padaku, San,” pintanya lirih.


“Kita sudah tidak bisa bersama, Fan. Kamu sudah menikahi perempuan lain. Meski kamu tidak mencintainya, tapi kamu milik perempuan lain,” ucap Santi getir.


Santi melepaskan pelukan Fano, ia tidak mau lagi terjebak rasa yang seperti ini, apalagi masalah dirinya dengan Arya masih belum ada titik terang. “Aku mau pulang, sudah sore, kasihan Anin sendirian,” ucap Santi.


Santi berjalan mendahulu Fano, ke arah mobil Fano yang terparkir cukup jauh dari pantai. Santi masih menyeka air matanya yang kerap jatuh di pipi. “Kenapa kamu justru menikahi perempuan lain yang tidak kamu cintai, Fan? Lalu kenapa setelah menikah kamu datang lagi padaku dan meminta diriku kembali padamu, lalu kau menceraikan istrimu. Kalau begitu, cinta hanya permainan bagimu, Fan! Begitu mudahnya kau berpaling pada wanita lain,” batin Santi.


Santi semakin mempercepat jalannya, ia sudah ingin pulang, bahkan ia ingin pulang dengan menggunakan taksi, tidak bersama Fano.


“Aku tidak akan menemui Fano lagi. Akan kulupakan semuanya tentang Fano. Biarlah sisa cintaku pada Fano hanya menjadi rekah masa lalu,” tekad Santi dengan gundah.


Fano tidak memperbolehkan Santi pulang sendiri. Bagaimana pun dia yang menjemput Santi di salon, jadi ia harus mengantarnya lagi ke Salon. Santi duduk di sisi Fano yang sedang mengemudikan mobilnya. Kehadiran Fano yang terlihat san penuh dengan kerinduan sore ini membuat Santi mengingkari janjinya sendiri. Pertahanan dalam diri Santi seketika hancul lebur saat Fano mendekapnya penuh dengan kerinduan dan cinta yang seperti dulu, dan tado masih bisa Santi rasakan.


Ingin rasanya Santi menjawab iya dirinya sibuk, karena akan mereview produk, dan banyak laporan butik dan salon yang harus ia kerjakan, tapi bibirnya kelu. “Aku tidak sibuk, malam ini hanya di rumah dengan Anin,” jawab Santi dengan sedikit bimbang.


“Maukah makan malam denganku malam ini?” ajak Fano dengan menatap Santi dengan sorot mata yang sama seperti dulu. Sorot mata yang membuat Santi merasa hanya dirinya perempuan yang pantas dicintai Fano di dunia ini.


“Tidak, aku tidak mau, aku tidak akan pergi denganmu lagi!” jawab Santi, dan jawaban itu hanya terlintas di hati Santi saja.


“Ya, Fan.” Sahut Santi dengan mengigit bibirnya. “Aku mau, nanti share saja di mana restorannya.”


“Aku mau, Fan. Asalakan pergi bersamamu.” Batin Santi kelu, entah kenapa dia menjadi selabil ini setelah bertemu Fano.


^^^


Santi sampai di rumahnya. Tidak seperti biasnya yang setiap pulang ia disambut Anin dengan opa dan omanya, tapi sore ini dia hanya disambut mama dan papanya saja, tidak ada Anin di antara mereka, dan tidak mungkin menjelang Maghrib Anin tidur, kalau pun tidak omanya akan menjaga Santi di dalam kamarnya.


“Ini kok tumben mama dan papa saja yang nyambut Santi pulang? Mana Anin? Apa dia tidur?” tanya Santi.

__ADS_1


“A—Anin sedang dengan Arya. Arya ingin mengajakanya bermain di rumahnya. Kakung sama utinya juga kangen, tadi ke sini bersama jemput Anin,” jelas Halimah.


“Kok mama kasih mereka buat bawa Anin? Mama kok begitu? Kenapa gak pamit Santi, sih!” erang Santi dengan kecewa.


“Mama rasa tidak perlu pamit denganmu, toh Arya masih suamimu, dan dia ayahnya Anin?” jawab Halimah santai.


“Ma, dia memang masih suamiku! Tapi, dia bukan ayah kandung Anin! Ayah kandung Anin itu Fano, bukan Arya! Aku sudah memutuskan untuk kembali dengan Fano setelah bercerai!” Entah kenapa Santi bicara seperti itu di hadapan kedua orang tuanya.


“Apa kamu bilang? Kamu akan kembali dengan Fano? Ingat, Santi, dia sudah mencampakkanmu! Dia sudah membuang kamu dan Anin hingga kamu menderita! Hamil tanpa suami! Sekarang kamu bilang mau kembali dengan Fano? Kamu ini masih istri Arya!” Erang Halimah dengan penuh kemurkaan mendengar Santi akan kembali dengan mantan kekasihnya yang sudah mencampakkannya dulu.


“Santi memang masih istrinya Mas Arya, Ma! Tapi, Santi sudah mau berpisah dengan dia! Santi sudah bertemu Fano, Santi memutuskan untuk kembali dengan Fano, dengan atau tanpa restu mama dan papa!” cetus Santi. “Terserah mama mau memberikan kesempatan Arya menemui Anin sampai kapan, biar saja, toh sebentar lagi aku akan bercerai dengan Arya, dan Anin akan aku bawa untuk hidup dengan Fano.”


“Kamu gila, Santi! Kamu tidak sadar dia sudah menyakitimu? Dia sudah membuat hidupmu berantakan! Dia sudah mencampakkanmu, Santi!” Halimah makin naik pitam medengar Santi bicara seperti itu. Tidak seperti biasanya, kali ini Halimah benar-benar kecewa dengan putrinya, dia sangat marah dan ingin mengumpat kasar.


“Ini sudah keputusan Santi, Ma,” ucap Santi lalu pergi meninggalkan mama dan papanya ke kamar.


“Santi, jangan mengambil keputusan saat sedang emosi, Nak. Pikirkan baik-baik, papa tahu hatimu masih berantakan, tenangkan hatimu, dan ambillah keputusan saat hatimu sudah tenang,” tutur Hermawan dengan penuh pengertian dan bijaksana.


Santi berhenti melangkahkan kakinya saat papanya berbicara dengan nada begitu lembut dan pengertian. Santi kira papanya akan marah, dan mengumpat tidak baik, ternyata papanya justru sedikit membukakan hatinya, dia membenarkan ucapan papanya, kalau hatinya sedang berantakan, dan tidak baik-baik saja. “Iya, Santi akan pikirkan dengan tenang, Pa,” jawab Santi lembut.


“Mandilah, supaya pikiranmu fresh, papa minta, kamu pikirkan baik-baik. Papa minta maaf, papa sudah mengizinkan Arya membawa Anin. Jangan salahkan mamamu saja, papa juga salah sudah mengizinkan Arya membawa Anin, tapi bagaimana pun Arya juga sudah menganggap Anin putrinya sendiri, dia sangat menyayangi dan mencintai Anin. Dia juga sangat merindukan Anin,” ucap Hermawan.


“Iya, Pa,” jawab Santi, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Ucapan papanya yang  begitu lembut dan pengertian, membuat Santi tersadar, kalau ucapannya tadi membuat hati mamanya sakit. Iya, Arya memang menyayangi Anin, Arya juga berhak menemui Anin, dan mengajak Anin ke rumahnya.


“Apa aku ini egois? Aku hanya melihat Arya memeluk Naira, aku sampai seperti ini? Aku sampai kecewa parah dengannya, sedangkan tadi? Aku berulang kali berkecupan mesra dengan Fano? Mungkin jika Arya melihatnya, Arya akan lebih kecewa dariku. Ya Tuhan ... aku harus bagaimana? Sedangkan aku sudah berjanji pada Naira, mengembalikan Mas Arya padanya? Aku sudah berutang nyawa dengannya. Dia sudah menyelamatkan papaku,” ucap Santi dengan hati dilema gundah gulana.


Halimah menangis di pelukan Hermawan. Ia sebetulnya tidak mau membentak Santi seperti tadi, tapi mendengar nama Fano, dan Santi bilang, dia akan kembali dengan Fano lagi, setelah bercerai dengan Arya.


“Aku hanya takut Santi sepertiku, Mas. Dia masih istri orang, aku tidak mau anakku melakukan dosa yang sama denganku, aku yakin Santi sudah bertemu kembali dengan Fano,” ucap Halimah dengan terisak.


“Kamu tenangkan pikiranmu dulu, semua akan baik-baik saja. Santi tidak akan seperti itu, aku tahu Santi seperti apa, meski aku kurang dekat dengannya, karena aku selalu mengekangnya, tapi aku paham dia seperti apa. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja, Ma,” ucap Hermawan dengan menenangkan hati istrinya.


Halimah merasakan pelukan hangat suaminya. Kini suaminya lebih bijaksana dibandingkan dulu. Hermawan tidak lagi menggunakan otot saat bicara dengan Santi, saat menegur Santi. Sekarang dia lebih sabar, dan bicara dari hati ke hati dengan Santi, juga dirinya.

__ADS_1


Santi mendengar apa yang telah papa dan mamanya bicarakan. “Sekhawatir itu mama denganku? Aku janji, Ma. Aku tidak akan seperti itu. Iya aku memang harus membicarakan semua ini baik-baik dengan Mas Arya, aku tidak boleh egois seperti ini,” ucap Santi dalam hati, saat setelah mendengarkan apa yang papa dan mamanya bicarakan di ruang tengah.


__ADS_2