
Santi mengguncang-guncangkan lengan Halimah, sambil menumpahkan tangisannya. “Katakan, Mama! Katakan!” pekik Santi dengan terisak-isak. “Anak siapa aku ini sebenarya?”
Halimah diam membeku. Sekujur tubuhnya seperti dijerat ribuan utas tali yang menariknya mendekat. Halimah meronta, melawan, dan ingin berlari menjauh. Tapi seluruh kenangan itu seperti gelombang yang menggulung menerjangnya, menyeretnya untuk menghampiri kembali suatu masa yang ingin dilupakannya.
Halimah tidak mungkin berkelit. Masa lalu telah menggoreskan. Tak mungkin dihapus.
Bukan maksud Halimah untuk berpaling. Ketika usaha suaminya bangkrut, yang sudah digeluti bersama selama kurang lebih lima belas tahun, dan mereka harus rela kehilangan semuanya. Mulai dari harta, kebanggaan gengsi, dan harga dirinya. Usaha yang mereka geluti selama masih merajut kasih, sebelum menikah, saat itu harus kandas. Sebagai wanita sosialita, itu sungguh sangat menyedihkan bagi Halimah.
Saat itu Halimah mengambil alih tanggung jawab untuk mencari nafkah, karena Hermawan semakin terpuruk dalam ketidakberdayaannya. Merasa tidak berguna bagi laki-laki. Rasa percaya diri Hermawan runtuh tak berbekas. Halimah diterima bekerja di sebuah perusahaan asing dengan jabatan tinggi. Dengan gaji yang begitu fantastis juga saat itu. Dengan pengalaman dan pendidikan Halimah yang tinggi, tentu saja perusahaan langsung merekrut Halimah dan memosisikan Halimah COO (Chief Executive Officer). Apalagi saat itu meski Halimah sudah menikah dan dia dia masih berpenampilan menarik, dan juga belum dikaruniai anak. Halimah dan Hermawan sudah menikah delapan tahun lamanya, tapi belum dikarunia seorang anak.
Semangat Hermawan sedikit demi sedikit pulih setelah Halimah berhasil mengumpulkan uang dari jerih payahnya bekerja di perushaan milik saudara suaminya dan memberi modal kepada Hermawan untuk membuka usaha baru. Padahal saat itu adiknya Hermawan sudah memberikan mandat pada Hermawan untuk bekerja saja di perusahaannya, sebagai COO, tapi Hermawan saat itu masih terpuruk, dan tidak berdaya, setelah perusahaannya bangkrut. Jadi jabatan itu dikasihkan kepada Halimah, karena Halimah juga mumpuni dibidang itu.
Saat itu Hermawan sangat berterima kasih sekali dengan Halimah, karena dia sudah mengembalikan rasa percaya dirinya lagi, meski sedikit. Hermawan merintis usaha barunya sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya usaha barunya bertambah maju, dan bisa mengembalikan perekonomiannya seperti dulu. Dia juga bisa melunasi utang-utangnya dulu. Di samping itu, Halimah juga semakin bagus kariernya di perusahaan adiknya Hermawan. Hermawan juga semakin sibuk dengan usaha barunya. Ia belum lagi melibatkan Halimah untuk terjun bersama lagi mengurus usahanya seperti dulu, karena dia juga butuh uang tambahan modal, dan dari Halimah bekerja, dia mendapat itu. Jadi Hermawan membiarkan Istrinya terus berkarier di perusahaan adiknya.
Halimah dan Hermawan saling sibuk sendiri. Mereka hanya bertemu saat pagi dan malam saja. Hermawan ingin kembali berjaya lagi, demi istrinya, supaya istrinya tidak bekerja lagi di perusahaan adiknya. Ia berusaha terus mengembangkan usahanya, hingga ia lupa memiliki istri yang juga butuh akan perhatiannya.
Halimah sudah merasa jenuh bekerja, dia ingin di rumah, dan ingin menjadi istri yang selalu berada di samping Hermawan, tapi Hermawan seakan lupa itu, saat Halimah ingin menikmati waktu bersama, dia sudah susah payah mengajukan cuti, tapi Hermawan masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia lupa istrinya juga butuh perhatiannya. Meski Halimah bekerja, ia masih tetap memerhatikan suaminya, ia berusaha memenuhi kewajibannya sebagai istri, tapi Hermawan kadang sudah tidak ada mood untuk meminta haknya pada Halimah. Dan, itu membuat Halimah menerima perhatian adik suaminya yang selalu perhatian dengan dirinya.
Hubungan gelap Halimah dan Herdika, adik kandung Hermawan terjadi begitu saja seiring berjalannya waktu. Halimah yang merasa selama dua tahun ini tidak pernah mendapat perhatian dan sentuhan hangat suaminya, kini gelora hasratnya muncul ketika Herdika memberikan kehangatan batinnya yang dua tahun belakangan kosong, dingin, dan usang, karena Hermawan terlalu sibuk menata kembali usaha barunya.
Hingga hubungan gelap itu, menumbuhkan benih di rahim Halimah. Halimah hamil setelah enam bulan berhubungan dengan Herdika. Halimah tidak menyangka itu bisa terjadi, selama delapan tahun dia tidak hamil dengan Hermawan, kini ia tengah mengandung anak dari adik iparnya. Halimah memutar otaknya, bagaimana caranya ia harus berterus terang pada suaminya, apalagi kandungannya sudah mau memasuki bulan keenam. Untung saja tubuh Halimah kecil, dan perutnya tidak terlihat sedang hamil. Ia akhirnya memberanikan diri untuk meminta cerai dengan suaminya, karena Herdika juga akan mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
“Apa-apaan ini, Lim!” pekik Hermawan saat melihat surat gugatan dari pengadilan agama.
“Hubungan kita sudah tidak sehat, Her,” jawab Halimah.
“Tidak sehat bagaimana, Halimah? Hubungan kita selama ini baik-baik saja, bukan?” cetus Hermawan.
__ADS_1
“Iya, baik-baik saja di luar kamar, kalau di kamar, di atas ranjang, apa baik-baik saja, Her? Aku merindukan Hermawan yang dulu, yang selalu memanjakan aku dalam keadaan apa pun, Her! Dua tahun aku menahan sendiri. Batinku menjerit, Her. Kita memang perlu membangun usaha kita lagi, tapi jangan runtuhkan batinku, Her?” ucapnya dalam isak tangisnya.
“Hanya karena masalah ranjang kamu menggugatku, Lim? Ini sungguh tidak masuk akal!” desisnya kacau. “Aku tidak akan mengabulkannya sampai kapan pun, Halimah! Kamu bisa sabar? Aku melakukan semua ini demi kamu, demi kita, supaya bisa seperti dulu!” erangnya.
“Tapi tidak melupakan kewajibanmu sebagai suami, Mas! Kewajiban kamu memanjakan istri, mengerti istri! Uang kita bisa cari sama-sama, Mas. Tapi keharmonisan, dan kebahagiaan rumah tangga juga itu paling utama!” ucapnya dengan terisak.
“Aku tidak bisa, Halimah. Aku tidak akan pernah menceraikanmu!” tegas Hermawan. “Aku melakukan semua ini demi kamu, Halimah! Demi kamu! Agar kamu bisa bahagia, kamu bisa bersenang-senang lagi seperti dulu, kita sebentar lagi akan memetik hasil seperti dulu, Halimah. Aku mohon, jangan seperti ini, kamu yang sabar. Aku tidak bisa, aku sangat mencintaimu, Halimah. Aku mohon jangan ceraikan aku, aku akan perbaiki semua, kamu tidak usah bekerja lagi, sebentar lagi kamu akan di rumah, menikmati semuanya seperti dulu, aku mohon, Halimah.” Ucapan Hermawan semakin merendah. Bagaimana pun dia bisa seperti itu juga karena Halimah, dia bisa mendirikan usaha lagi karena Halimah.
“Aku tidak bisa, Her. Keputusan ini sudah aku pikirkan baik-baik. Aku tidak bisa bertahan denganmu. Maafkan aku.”
“Aku mencintaimu, Halimah, aku mohon jangan seperti ini. Oke, aku minta maaf aku sudah melupakan kewajibanku, tapi itu semata karenamu. Semua demi kamu, Halimah. Aku mohon jangan seperti ini.” Hermawan terus membujuk Halimah, tapi Halimah tetap menolaknya, dia akhirnya menceritakan semuanya, dan menunjukkan hasil kalau dirinya tengah hamil anak dari adik kandungnya.
“Ini apa, Halimah?” tanya Hermawan dengan suara bergetar melihat hasil tes dari laboratorium yang menyatakan Halimah hamil. “Kamu hamil, Sayang? Kamu hamil?” ucapnya dengan mata berbinar, namun seketika surut saat mengingat dua tahun terakhir dia tidak menyentuh istrinya di atas ranjang. “Sebentar, kau hamil? Hamil dengan siapa? Aku selama dua tahun ini tidak menyentuhmu, Halimah?”
Halimah diam membeku, dia hanya bisa mengeluarkan air matanya di depan suami. Dirinya merasa hina di depan suaminya, karena sudah mengkhianatinya.
Halimah semakin terisak, dia hanya bisa menangis di depan suaminya. Cengkerman tangan Hermawan yang keras tidak ia rasakan, yang ia rasakan hanya rasa bersalah terhadap Hermawan karena sudah mengkhianatinya.
“Katakan padaku, siapa yang sudah menanam benih di rahimmu, Halimah! Katakan! Jangan hanya menangis saja!”
“Ma—maafkan aku, Mas. Maafkan aku. Aku khilaf, aku akui aku kesepian, aku ingin kebutuhan itu, Mas. Maafkan aku,” isak Halimah, dengan bersimpuh memohon ampun di kaki Hermawan.
Hermawan tidak menyangka Halimah akan seperti itu, mengkhianatinya hanya kepuasan batinnya yang sudah lama diabaikannya. Padahal Hermawan sedang berusaha susah payah mengembalikan semuanya seperti dulu.
“Dengan siapa kamu hamil?” tanya Hermawan dengan nada suara sedikit menurun.
Halimah belum bisa menjawabnya, dia hanya bisa menangis saja, dan masih memeluk kaki Hermawan.
__ADS_1
“Dengan siapa kamu hamil, Halimah! Jangan buat aku semakin mengasarimu, jawab siapa yang menghamilimu!” pekik Hermawan.
“Her—Herdika, Mas. Maafkan aku,” ucap Halimah.
“Dia adikku, Halimah! Kenapa kamu bisa melakukan itu dengannya?” Hermawan tidak habis pikir istri dan adiknya sendiri mengkhianati dirinya.
“Aku minta maaf, aku memang salah, aku terlalu kesepian, Mas. Herdika hadir di tengah kegelisahan batinku yang meronta,” jawab Halimah. “Lepaskan aku, Mas. Aku sudha tidak pantas untukmu, diri ini sudah sangat hina, Mas,” ucapnya.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!” tegas Hermawan.
“Aku hamil anak adikmu, biar dia yang bertanggung jawab atas semuanya, aku tidak bisa denganmu, Mas. Aku malu dengan diri ini yang sudah mengkhianatimu, biarkan aku pergi,” ucapnya dengan melepaskan pelukannya di kaki Hermawan.
“Aku yang akan bertanggung jawab, karena kamu istriku!” tegas Hermawan.
“Tidak, mulai malam ini aku pergi, Mas. Maafkan aku, aku akan mengurus perceraian kita, meski kamu menolaknya,” ucap Halimah lalu pergi membawa kopernya.
“Aku tidak akan menceraikanmu, Halimah, tidak akan!” erang Hermawan. Ia mencegah Halimah yang akan pergi dari rumah, tapi di depan sudah ada Herdika yang menjemputnya.
“Kamu!” geram Hermawan.
“Aku minta maaf mas, aku khilaf, aku dan Halimah sama-sama mau, dan izinkan aku bertanggung jawab, ada anakku di dalam rahim Halimah,” ucap Herdika.
“Kamu tega, Dik! Tega kamu! Aku sangat mencintai Halimah, aku tidak akan melepaskannya!”
“Terserah mas, dia sedang hamil anakku, biar dia denganku, menentramkan pikirannya.” Herdika menggamit tangan Halimah, dan mengajaknya pergi.
“Maafkan aku, Mas. Aku harus pergi,” ucap Halimah dengan berat.
__ADS_1
“Gak, Halimah! Jangan pergi!” Hermawan mencegahnya tapi sia-sia, karena Halimah sudah masuk ke dalam mobil Herdika dan Herdika langsung menancapkan gas untuk pergi dari rumah Hermawan.