Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 61 - Mengunjungi Rumah Zahra


__ADS_3

Arya melihat Santi yang sudah berdandan, bersiap untuk pergi merayakan ulang tahun Fano. Pun dengan Anin. Dia juga sudah terlihat rapi dengan pakaian barunya yang kemarin baru dibelikan oleh Fano. Tapi, Anin rasanya tidak nyaman dengan bajunya. Ia terus menarik-narik bajunya, mungkin karena tidak suka, atau karena memang tidak nyaman di pakai. Atau bisa jadi karena tidak suka dengan orang yang membelikan baju tersebut.


Santi juga sudah terlihat begitu anggun dan cantik dengan gaun favoritnya, dan favorit Arya juga. Dengan pulasan make up yang natural, menambahkan kesan cantik dan anggun pada diri Santi. Sebetulnya Fano membelikan baju untuk Santi, tapi Santi tidak mau memakainya.


“Kamu gak pakai baju yang dibelikan mantanmu itu, San?” tanya Arya.


“Gak bagus, gak suka modelnya, lagian belum aku cuci,” jawab Santi.


“Nanti kalau Fano tanya?”


“Ya jawab saja masih di londry, gaun begitu mana bisa mbok yang cuci, Mas? Harus dicuci di tempat khusus cuci gaun seperti itu, Mas. Orang beli kemarin, malam ini mau dipakai ya gak bisa. Masuk akal kan kalau aku alasannya begitu?” jawab Santi dengan santai.


“Kan gak usah cuci juga gak masalah, San?”


“Ya kali gak dicuci, gatel tahu badannya!” tukas Santi.


Arya memandang Santi dengan sedih. Santi dandan begitu cantik, dan mempersembahkan dandanannya untuk mantan kekasihnya.


“San, apa kau akan kembali dengan Fano saat kita bercerai nanti?” tanya Arya. “Apa kamu tega memisahkan aku dan Anin?”


Santi menghela napas panjang. “Aku tidak tahu, Mas. Sudah jangan bahas ini, aku hanya akan menghadiri undangannya, dan itu pun aku bimbang mau datang atau tidak. Harusnya saat-saat seperti ini aku butuh waktu sendiri, bukan hal seperti ini,” jelas Santi. “Tapi Fano tiba-tiba datang seperti ini, dan dia tahu aku mau pisah, saat aku bicara dengan Jessi di restoran, dia mendengar semuanya.”


“Apa pun keputusanmu, asal aku masih bisa bertemu Anin, aku terima. Sungguh aku tidak bisa jauh dari Anin, San. Aku tidak bisa. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku, dan tak bisa aku lepaskan begitu saja,” ucap Arya.


“Tentu saja, kau masih bisa menemui Anin kapan pun kalau meskipun kita sudah bercerai,” ucap Santi. “Ayo, Nin, kita berangkat makan malam dengan papa Fano,” ajak Santi.


“Gak mau, mau ayah!” teriak Anin.


“Iya ayp ayah antar kalian, ya?” ucap Arya.


“Gak usah mas, aku sendiri saja sama Anin,” ucap Santi.


“Jangan begitu, ini sudah malam, aku antar, dan aku tidak akan ganggu acara kalian kok,” ucap Arya.


Arya hanya ingin memastikan Santi dan Anin baik-baik saja sampai tujuan. Lagian selama Santi menikah dengan dirnya, dia tidak pernah memakai mobil sendiri, ke mana pun selalu Arya yang mengantarnya, dan sejak pisah rumah dengan Arya kemarin, Santi juga seringnya naik taksi sendiri. Malam ini daripada pakai taksi, Arya yang akan mengantarnya saja.


“Aku naik taksi saja mas,” ucap Santi.


“Gak usah sama aku saja, sebentar aku ambil kunci mobilnya,” ucap Arya.


Mau tidak mau Santi harus menuruti apa kata Arya, apalagi Arya masih menjadi suaminya. Jadi mau tidak mau Santi harus menuruti Arya. Santi juga bimbang ingin bertemu dengan Fano, karena ia juga tidak mau menyakiti hati istri Fano. Meski pun istri Fano yang meminta untuk diceraikan, tetap saja yang namanya perempuan, pasti sakit hatinya saat suaminya akan menceraikannya demi cinta masa lalunya.


“Ayo berangkat,” ajak Arya.


“Gak mau!” Anin teriak histeris saat Arya mengajaknya berangkat.


“Kok nangis gitu?”


“Nin gak mau, Yah!” pekiknya dengan berlinang air mata.


“Kan sama ayah, ayo jangan nangis, duh putri ayah sudah cantik masa menangis? Jangan nangis dong?” bujuk Arya. “Nanti paling sebentar, dan ayah akan temani Anin terus.”


Anin akhirnya mau, tapi tetap saja Anin menangis, terisak-isak, dan mulutnya terus menyuarakan protes. “Tidak mau, ayah ....!” seperti itu sepanjang perjalanan ke restoran untuk menemui Fano.


Anin terus menangis di dalam mobil sambil dipangku Santi. Ia berontak, menarik-narik baju Santi dan bajunya, seakan ingin dilepasnya. Anin menatap ibunya dengan tatapan sengit sekali. Lalu tangannya terangkat untuk menjambka rambut ibunya yang sudah rapi. Anin juga menarik kemeja Arya, dia menjerit-jerit tidak mau pergi.

__ADS_1


“Ayah ... pulang! Ayo!” teriaknya hingga Arya dan Santi tidak tega melihat Anin berontak seperti itu.


“Pulang ....!” jerit Anin dengan memukul jendela mobil. “Ayo pulang!” pekiknya dengan sedih.


Mendengar tangisan Anin yang menyayat hati, Santi sekejap tercenung. Santi sadar sekarang, bahwa tidak ada yang lain di hati Anin selain Ayah Arya. Tidak ada yang lain, yang ia cintai, selain Arya. Mendengar nama Fano saja Anin sudah ketakutan histeris, ia sudah berontak dan teriak-teriak, sejak keluar dari rumahnya.


Tiba-tiba saja Santi seperti disentakkan kesadarannya. Ia menatap Arya dengan penuh arti. “Ar, putar balik, kita ke langsung saja ke jalan mangga besar, kita ke rumah Zahra,” pinta Santi.


“Zahra istrinya Fano?” tanya Arya dan Santi hanya mengangguk. “Untuk apa?”


“Sudah kita ke sana sekarang!”


“Lalu makan malammu?” tanya Arya.


“Tidak jadi!” jawabnya singkat.


Santi mengambil ponselnya, lalu ia mematikan ponselnya supaya Fano tidak bisa menghubunginya. Melihat Anin menangis terus, Santi mengurungkan niatnya untuk menemui Fano, dan meminta Arya menemui istri Fano di rumahnya. Karena Santi yakin tidak mungkin Fano sekarang di rumahnya, karena Fano bilang ia sudah mau jalan ke restoran.


Santi sudah berada di depan rumah Fano yang menjulang tinggi bak istana. Sekejap ia ragu-ragu untuk keluar dari mobil, apalagi tangis Anin  belum juga selesai. Anin masih menangis di pangkuannya, dan meminta pulang terus.


“Ayo ikut ibu turun? Ibu mau ketemu teman, namanya Tante Zahra, dia orangnya cantik,” ajak Santi.


“Tante?”


“Iya, bukan Om Fano, tapi Tante Zahra yang akan ibu temui. Ayo ikut turun, ya?” ajak Santi. Dan, Anin mengangguk. “Mas tunggu di pos satpam saja, ya? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Zahra,” pinta Santi.


“Iya, Mas nunggu di pos satpam saja. Kamu masuk dan temui Zahra,” jawab Arya. “Memang kamu yakin akan bertemu dengannya?” tanya Arya.’


“Yakin tidak yakin sih mas,” jawab Santi.


Memang Santi tidak begitu yakin dengan keputusannya untuk menemui Zahra malam ini. Entah keputusannya ini benar atau tidak. Atau malah akan menambah runyam persoalan?


Santi menggendong Anin turun dari mobil. Seorang Satpam mendekati Santi dan bertanya ingin mencari siapa. Santi bilang dia akan menemui Zahra. Satpam tersebut langsung sigap untuk mengantarkan Santi ke ruang tamu untuk bertemu Zahra.


“Aku tunggu di pos ya, San?” ucap Arya.


“Iya, Mas, aku gak lama kok,” jawab Santi.


Santi diantar Satpam ke ruang tamu untuk menunggu Zahra. Dan tidak menungu lama muncul perempuan bertubuh gempal, namun dia memiliki wajah yang cantik, dan kulitnya begitu putih. Dia berdandan cantik dengan menggunakan gaun malam yang mewah, cantik, dan anggun. Sekilas Santi melihat perempuan menyeka sudut matanya, dia terlihat seperti habis menangis.


Santi yakin itu pasti Zahra. Mau siapa lagi kalau bukan Zahra? Santi dan Zahra saling bertukar pandang. Dua perempuan, sama-sama cantik, sama-sama mengenakan gaun malam. Mereka menyadari persamaan situasi yang menimpa mereka. Berdandan untuk merayakan ulang tahun Fano, tetapi justru Fano tidak hadir di tengah mereka. Membuat suasana itu semakin memilukan.


Zahra memangdangi Santi dengan hati remuk. Perempuan yang berdiri di hadapannya terlihat begitu cantik jelita. Wajahnya demikian menawan, tubuhnya demikian memikat, langsing, bokongnya berisi, jenjang kakinya sempurna, serba sempurna yang ada di dalam diri Santi. Santi juga seorang influencer yang sangat terkenal. Semua orang pasti tahu Santi, apalagi dia mantan model terkenal, dan bintang iklan. Semakin lengkap daya pesonanya sebagai perempuan. Santi juga memiliki anak yang tak kalah cantiknya. Keistimewaan yang hanya dimiliki perempuan sejati.


Santi adalah perempuan yang utuh. Sempurna. Di hadapannya, Zahra hanya seonggok sampah yang t dan tak ada nilainya.


“Akhirnya mimpi buruk ini pun datang juga. Ketika perempuan ini muncul di hadapanku untuk merebut suamiku. Menghancurkan hidupku. Memorak-porandakan kebahagaiaanku.” Batin Zahra dengan menyeka air matanya yang menetes di pelupuk matanya.


“Maaf, aku Santi.” Cetus Santi memecahkan kesunyian di antara mereka.


“Ya, aku tahu.” Jawab Zahra dengan menyeka air mata menggunakan ujung jarinya. Ia mencoba tersenyum meskipun gagal. Lalu dengan hati teriris ia berkata, “Bahkan sebelum kau datang, aku sudah mengenalmu. Fano begitu memujamu.”


“Maaf jika kedatanganku mengganggumu,” sergah Santi tidak enak hati.


“Cepar atau lambat saat ini pasti akan tiba juga,” desah Zahra pilu. “Kupikir aku akan siap menghadapinya. Tapi ternyata tak seorang pun sanggup jika harus merelakan suaminya pada perempuan lain.” Sesekali Zahra memandangi Santi dengan pedih hati.

__ADS_1


“Tapi ini adalah keputusan yang kubuat sendiri,” desah Zahra pilu. “Aku betul-betul harus menguatkan diri untuk melewati saat-saat paling berat dalam hidupku, menyerahkan suamiku, pada perempuan yang lebih pantas memilikinya.”


“Aku datang ke sini bukan untuk membuatmu sedih,” ucap Santi pilu.


“Aku senang kau datang, Santi.” Jawab Zahra memaksakan diri untuk tersenyum tulus, meskipun hatinya menjerit. Diulurkan tangannya untuk menjabat tangan Santi. “Aku Zahra.”


“Senang bertemu denganmu, Zahra.” Sahut Santi dengan membalas genggaman tangan Zahra.


Zahra membungkuk untuk menyapa gadis kecil yang berdiri bingung di sisi ibunya.


“Dan ini pasti Anin?” Zahra tersenyum ramaha pada Anin.


Meski baru bertemu dengan Zahra, Anin terlihat langsung menyukainya. Ia memberikan senyum paling menggemaskan pada Zahra. Pipinya yang chubby bersemu merah saat ia sedang tersenyum seperti itu.


“Ayo ikut Tante,” ajak Zahra pada Anin. Ia juga mengajak Santi untuk masuk ke dalam. “Tante punya kue tart lezat sekali.”


Mereka melangkah beriringan menuju ruang makan. Santi begitu terkesima melihat meja makan yang tertata rapi, indah, dan dihiasi dengan lauk-pauk yang ditata mengundang selera. Santi paham, Zahra telah menyiapkan pesta kecil untuk suaminya,  sedangkan Fano justru mengajak Santi untuk merayakannya di luar.


Mungkin itu sebabnya tadi Santi sempat melihat Zahra meneteska air matanya ketika ia baru saja tiba. Santi bisa membayangkan bagaimana sakit dan sedihnya Zahra saat ini, karena Fano tidak pulang, malah mengajak dirinya makan malam untuk merayakan ulang tahunnya.


Dengan cekatan Zahra memotong kue untuk Santi dan Anin. Anin tampak antusias melihat potongan kue disodorkan kepadanya. Tidak sabar ingin mencomot buah ceri yang merah segar. Santi memangku Anin dan membantu menyuapkan kue ke mulut Anin.


“Aku datang untuk meminta maaf, Zahra,” ucap Santi penuh dengan penyesalan. “Aku tidak ingin membuat semuanya menjadi begini.”


Zahra menyentuh punggung tangan Santi dan tersenyum lembut. “Aku rela menyerahkan Fano kembali kepadamu, Santi,” ucap Zahra perlahan. “Aku senang karena Fano tidak memilih permpuan lain, tetapi ia memilih kembali kepadamu, perempuan yang pernah dicintainya. Mungkin Fano tidak pernah tahu bahwa di luar perjodohan ini, aku betul-betul mencintainya.”


“Kau bisa mempertahankannya kalau kau mau, Zahra ....”


“Tapi, aku bukan perempuan seutuhnya. Rahimku bermasalah, dan itu yang menyebabkan Fano meninggalkanku.”


“Tapi, kalian bisa mengangkat anak? Bukankah banyak juga pasangan yang berbahagia dengan mengadopsi anak? Bahkan ada yang bahagia tanpa memiliki anak?”


“Aku tidak yakin Fano mau. Karena bagi Fano, tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga dengan anak-anak kandungnya. Aku tak mungkin memberikan keturunan pada Fano. Jadi tidak ada tujuannya kami melanjutkan perkawinan ini.” Ucap Zahra dengan raut wajah murung. “Dengar-dengar kamu juga akan bercerai dengan suamimu? Apa itu karena kau akan kembali pada Fano?”


“Oh bukan! Bukan seperti itu!” Santi langsung menjawabnya dengan tegas. “Aku akan bercerai, karena ada sesuatu, bukan karena Fano.”


Cukup lama Santi dan Zahra mengobrol. Santi sadar di depan Arya menunggu. Santi langsung pamit pada Zahra untuk pulang.


“Sebaiknya kami pulang, ini sudah malam. Suamiku juga menunggu di depan,” pamit Santi.


“Kau dengan suamimu? Kenapa tidak diajak masuk?”


“Karena ini urusan perempuan, jadi aku tidak enak mengajak dia masuk,” jawab Santi.


Zahra memeluk Santi dengan hangat sebelum Santi keluar dari rumahnya. Santi juga membalas pelukannya dengan hangat.


“Terima kasih, Zahra, sudah mengizinkan aku bertamu di sini."


“Iya, sama-sama, aku titip Fano ya, San?” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku yakin kau bisa menjaga, merawa, dan mencintai Fano dengan sepenuh hati.”


“Aku tidak janji untuk itu, Zahra. Masalah hidupku bukan soal Fano saja, bukan soal untuk kembali pada Fano. Hidupku adalah Anin, jadi apa yang Anin mau aku menurutinya,” jawab Santi lugas.


Zahra tersenyum, dia membungkuk lalu menyentuh pipi Anin, ia memandangi wajah Anin dengan tatapan sendu. Direngkuhnya tubuh Anin erat-erat dengan kedua tangannya.


“Kamu yang pintar ya? Sering-sering main ke sini ya, Sayang? Jenguk tante, biar tante tidak kesepian,” pinta Zahra. “Mau kan main ke sini lagi?” Anin hanya mengangguk pelan. Dipeluknya lagi Anin, lalu diciumi pipinya.

__ADS_1


Santi sampai harus memalingkan wajahnya. Tidak tahan dengan pemandangan menyedihkan di hadapannya itu. Dua bulir air matanya menetes begitu saja dari pelupuk matanya.


“Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya Zahra. Bagaimana putus asanya menjadi perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan. Bagaiman hancur hatinya saat ia rela menyerahkan suami yang dicintainya kepada perempuan lain. Jujur aku pun tak rela menyerahkan Arya pada Naira, apalagi Zahra?” batin Santi.


__ADS_2