Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 25 – Makin Ke Sini Makin Aneh


__ADS_3

Santi sudah bisa beradaptasi dengan keadaannya sekarang. Ia tidak mau melibatkan hatinya saat bersama dengan Arya. Santi fokus dengan bisnisnya sekarang, karena itu adalah bekal untuk dirinya nanti setelah kontrak pernikahannya selesai dengan Arya. Meski hanya pernikahan kontrak, Santi sebisa mungkin mencoba menjadi istri yang baik untuk Arya. Saat Arya di rumah, ia berperan sebagai istri, memasak, menyiapkan makanan, dan membuatkan kopi atau teh. Meski hanya berperan di dapur saja, setidaknya Santi bisa merasakan mengurus suami.


Arya sudah mulai bekerja lagi, tidak mungkin Arya akan bekerja di rumah terus, karena nantinya Santi akan curiga. Yang Santi tahu, dia seorang supir, tidak mungkin bekerja hanya di rumah saja. Satu minggu sekali dia pulang ke Jakarta, dan setiap weekend, Arya kembali ke Pekalongan. Namun, Arya kadang tidak benar-benar balik ke Jakarta, kecuali ada hal penting baru ia pulang ke Jakarta. Arya menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal di dekat rumah Santi, itu semua ia lakukan karena ingin terus memantau Santi, ingin tahu keadaan Santi bagaimana.


Sudah dua bulan mereka menjadi sepasang suami istri, itu artinya usia kandungan Santi sudah memasuki bulan ke delapan. Sebab itu, Arya tidak ingin melepaskan Santi begitu saja. Meski ada dua asisten di rumah, tetap saja Arya khawatir dengan keadaan Santi.


“Besok kamu balik ke Jakarta lagi?” tanya Santi.


“Iya, kenapa? Masih pengin ditemani aku di rumah?”


“Enggak sih, sepi saja gak ada kamu di rumah,” jawab Santi.


“Rame ya kalau aku di rumah, rame debat sama kamu.”


“Hmmm ... itu yang aku maksud. Gak ada teman untuk ribut dan berdebat,” jawab Santi.


Arya menyimpulkan senyumannya melihat Santi yang ekspresi wajahnya menunjukkan kecewa karena dia masih ingin Arya di rumah. Arya hanya dua hari saja di rumah Santi. Dia di jakarta hanya dua sampai tiga hari saja, dan sisanya ia habiskan di rumah kontrakannya yang dekat dengan rumah Santi. Selama dua bulan ini Santi tidak tahu kalau Arya tinggal di rumah dekat dengan rumahnya.


“Bagaimana butik?” tanya Arya.


“Alhamdulillah lancar, omsetnya terus naik, apalagi semua baju hasil desainku banyak diminati, aku juga sudah punya beberapa customer tetap, dia model juga, dan manajernya selalu ingin baju desain terbaru darik,” jelas Santi.


“Wah bagus itu, apa dia tahu kamu model juga? Kamu model cukup terkenal lho?”


“Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu. Di sini ternyata banyak juga yang berprofesi sebagai model, malah masih fresh sekali, kebanyakan anak SMP dan SMA, mereka semua berbakat, kemarin aku diajak Rani melihat fashion show, dan kamu tahu, salah satu model yang memakai baju desain dari aku, dapat juara satu. Dari situlah, ada yang kenal siapa aku, mungkin butik rame juga karena mereka yang saling getok tular merekomendasikan untuk ke butikku,” Jelas Santi.


“Kamu bagaimana, kalau di sini ada yang kenal kamu? Bahkan bisa jadi media akan meliputmu, kalau kamu ada di sini?” tanya Arya.


“Ya mau bagaimana lagi? Setertutup apa aku sembunyi, tetap saja pasti ada salah satu di antara mereka yang tahu aku. Lagian mama dan papaku juga sudah tahu aku di sini. Biar saja mereka tahu, kalau aku di sini semakin sukses,” jawab Santi.


“Kamu gak bawa-bawa namaku juga, kan? Gak bilang aku ini suami kamu, kalau ditanya orang?” tanya Arya dengan raut wajah yang sedikit takut.


Arya takut saja penyamarannya terbongkar. Kalau masalah terbongkar sudah menikah dia tidak masalah, yang ia takutkan adalah saat ada yang mengenal dirinya adalah pemilik Dirgantara Tour n Travel. Bagaimana jadinya kalau mereka mengetahui, sedangkan Santi tidak tahu? Pasti Santi akan kecewa dengannya, karena sudah membohonginya.


“Kenapa? Pasti takut ya, kalau ada yang tahu suamiku itu kamu? Takut Naira tahu, kan?”


“I—iya begitu sih, lebih tepatnya,” jawab Arya gugup. Padahal ia tidak mau menjawab seperti itu, untuk apa dirinya takut karena akan ketahuan Naira kalau dirinya sudah menikah? Yang ia takutkan adalah jika Santi tahu dirinya adalah bos besar Dirgantara Tour n Travel,  itu saja yang Arya takut kan.


“Tenang saja, Ar. Gak akan lah aku ngenalin kamu sebagai suamiku, jika nanti ada awak media menemuiku. Ya, aku harap sih, dengan aku seperti ini, Fano tahu, kalau aku bisa hidup tanpa dia, dan aku menjadi lebih baik tanpanya, aku bisa tanpa dia. Jadi, kamu gak usah takut kalau aku akan mengekspose kamu, apalagi bilang kamu suamiku? Lagian semua dunia permodelan di kota sudah tahu scandalku seperti apa. Sudah rame, Ar,” jelas Santi.


Sebetulnya hati Santi pedih bicara seperti itu. Dia jadi salah paham dengan Arya yang takut terekspose sebagai suaminya. Padahal sama sekali bukan karena Naira. Meski Santi sekarang agak cuek, dan berusaha menyibukkan dirinya, tanpa terbawa perasaan dengan Arya, tetap saja perasaannya tidak bisa ia bohongi. Ia sangat cemburu dan marah kalau Arya menyinggung soal Naira.


“Fano?”


“Iya, biar saja Fano tahu aku bisa hidup tanpanya, dan bisa menjaga benih yang ia titipkan di rahimku,” jawab Santi.


“Kalau Fano kembali? Apa kamu akan kembali menerimanya?” tanya Arya.


“Kalau sekarang tidak, tapi tidak tahu nanti, kalau aku sudah berpisah dengan kamu,” jawab Santi.


“Apa kamu sangat menanti perpisahan kita, San?”

__ADS_1


“Dinanti atau tidak, pasti akan tiba waktunya untuk berpisah kan, Ar?”


“Iya juga, tapi apa tidak ada selain kata perpisahan, San?” tanya Arya.


Santi menaikkan alisnya, ia tidak bisa mencerna apa yang Arya katakan. “Maksudmu bagaimana, Ar? Tidak ada kata lain selain perpisahan yang bagaimana?”


“Apa tidak bisa pernikahan kita selamanya? Itu maksudnya, San,” jawab Arya spontan.


“I—ini kamu gak lagi ngelindur kan, Ar?” tanya Santi semakin bingung.


“Enggak, ngelindur gimana sih, San? Ya, bisa kan kita gak usah pisah, lalu perjanjian itu biarkan saja, tidak berlaku lagi?” ucap Arya.


Arya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia memang sudah jatuh hati dengan Santi, tapi ia juga masih bingung dengan statusnya yang Santi ketahui adalah seorang sopir travel. Bukan seorang pemilik Dirgantara Tour n Travel.


“Hei, aku tidak mau hidup dengan orang yang tidak mencintaiku, Ar. Gak bisa gini, Ar. Perjanjian ya tetap perjanjian. Kamu mencintai Naira, harusnya ya kamu perjuangkan dong? Bujuk ibumu, jangan menyerah gitu saja, lalu melampiaskannya ke aku? Kita harus tetap pada perjanjian awal, Ar. Adanya aku mau menikah dengan kamu juga karena perjanjian yang kamu tawarkan? Kalau tidak, mana mau aku? Hidup dan menikah dengan orang yang tidak aku cintai, juga orang itu tidak mencitaiku?”


“Iya aku mencintai, Naira. Tapi, ibu tidak merestuinya, San. Meski ayah dan ibunya Naira sudah setuju, tetap saja ibu tidak bakal menyetujuinya. Ibuku hanya menganggap kamu menantunya, dan ibu sudah terlanjur menyayangimu, San.”


“Iya aku tahu, meski ibu sayang denganku, tapi gak bisa dong aku hidup dengan orang yang tidak mencintaiku? Gak mau aku, Ar. Udah jangan bahas ini, tunggu saja akhirnya nanti seperti apa.”


“Apa tidak boleh jika aku belajar mencintaimu?” tanya Arya.


Santi menggeleng pelan. Ia tidak percaya kalau Arya berkata seperti itu. “Aku gak menerima orang yang masih  belajar, Ar! Takutnya kalau gagal akan pergi begitu saja. Sudah jangan bahas ini. Aku sudah tidak mau lagi berbicara soal cinta. Tidak ada cinta di dunia ini pun aku masih bisa hidup bahagia, Ar.”


“Maaf kalau aku bicara seperti ini, San. Ya kita jalani saja sesuai dengan perjanjian, sekali lagi maaf.”


“Okey, tidak masalah kok. Sudah malam, aku mau istirahat. Kamu juga besok pagi-pagi sudah harus berangkat, kan?” Ucap Santi dengan berlalu meninggalkan Arya di ruang tengah.


Arya hanya mengangguk saja. Sebetulnya Arya juga tidak mau cepat-cepat mengutarakan niatnya untuk bicara soal kontrak pernikahannya, juga bicara soal perasaannya pada Santi. Ia sudah tidak mau bohong dengan perasaannya lagi, kalau dia sekarang sudah jatuh cinta pada Santi. Tapi, ia masih bingung dengan statusnya di depan Santi. Beruntung tadi Santi menjawab dengan bijak, kalau Santi akan tetap berada di jalur perjanjian. Tidak mau mengikuti apa yang Arya mau.


Naira juga merasa Arya sudah berbeda sekali. Apalagi Arya sudah tidak punya waktu untuk bertemu dengannya, hingga Naira curiga dengan Arya. Kadang ia menanyakan Kartika, sekretaris Arya, untuk menanyakan ada Arya tidak di kantornya. Kartika bilang, Arya sering keluar kantor, dan jarang di kantor. Yang sering di kantor adalah Pak Rozak.


Karyawan yang tahu Arya menikahi Santi hanya Saiful dan Asep saja. Lainnya tidak tahu menahu soal itu. Karena yang terlibat dalam kaburnya Santi adalah Asep. Karena Asep Arya jadi sopir dadakan saat itu.


Arya masuk ke dalam kamarnya, ia letakkan ponselnya di atas meja kecil samping tempat tidurnya.  Baru saja ia akan merebahkan dirinya di tempat tidur, ponsel Arya bergetar, ada panggilan masuk dari Naira. Arya membiarkannya, hingga getarnya selesai, tapi Naira menghubungi Arya lagi. Ia tidak menyerah, terus menghubungi Arya, hingga Arya terganggu dengan getaran poselnya.


“Ada apa, Nai?” tanya Arya dengan nada bicara yang ia buat-buat seperti orang yang baru saja bangun tidur.


“Ar, aku kangen,” rajuk Naira manja.


“Kamu malam-malam telfon hanya bicara begitu saja, Nai? Aku ngantuk sekali, Nai,” ucap Arya dengan nada sedikit kesal. Kali ini Arya tidak dibuat-buat, kalau dirinya memang kesal dengan Naira yang makin ke sini makin bucin, karena kedua orang tuanya sudah merestui dirinya dengan Arya.


“Kamu kok sekarang gitu, Ar? Kenapa sih aku perhatikan sudah tiga bulan ini kamu beda sekali? Kamu cuek denganku, kamu tidak pernah menghubungiku terlebih dulu, kamu benar-benar beda, Ar!”


“Beda bagaimana, Nai? Aku masih sama begini-begini saja kok?”


“Kamu juga tidak pernah di kantor, kan?”


“Kamu tahu aku jarang di kantor dari siapa?” tanya Arya.


“Dari sekretaris kamu lah, mau dari siapa lagi, Arya?” jawab Naira.

__ADS_1


“Kamu kok sekarang tambah kepo ya, Nai? Aku ini kerjaan banyak sekali, Naila? Kalau aku senggang, pastinya aku akan temui kamu, aku juga akan telefon kamu lebih dulu? Kamu harusnya tahu dong keadaan aku seperti apa? Aku gak hanya leha-leha saja, aku juga harus kerja, harus membangun timku agar lebih maju,” jelas Arya.


“Ya namanya aku kangen, Ar? Ar besok ketemu, ya? Hampir satu bulan aku tidak ketemu kamu, Ar,” pinta Naila.


“Kalau ada waktu aku akan menemuimu, Naila Sayang ...,” jawab Arya. “Kamu ini jam segini kok belum tidur? Sudah malam lho, Nai?”


“Arya, ini masih jam sembilan kamu bilang sudah malam? Biasanya saja kita masih ketemu jam segini, kan? Ini kamu malah sekarang tumben sekali, tidurmu selalu awal dari kemarin?”


“Ya karena aku merasa capek, Nai? Aku juga kadang kan gantiin sopir, gak hanya di kantor saja, Nay?” jelas Arya.


“Lagian kamu itu bos, bisa-bisanya kamu gantiin tugas sopir?”


“Itu usahaku, aku yang mimpin, ya terserah aku?” jawab Arya sedikit meninggi.


“Ar, kamu benar-benar beda, ya?”


“Beda bagaimana, Nai? Sudah sana istirahat, aku sudah ngantuk sekali, Nai.”


Arya mengeluarkan jurus seribu alasan untuk mengakhiri telefon dari Naira. Ia tidak mau seperti kemarin saat telefon dengan Naira, Naira malah membahas hal yang tidak semestinya dibahas. Entah Naira ingin memancing dirinya atau bagaimana Arya tidak tahu. Naira tiba-tiba merayu dengan suara manja, yang meningkatkan gairah seorang pria. Baru kali ini Arya mendengar Naira seperti itu. Justru Naira lah yang berbeda. Naira semakin liar bicaranya, yang selalu menjurus ke intim. Padahal Naira adalah sosok perempuan yang pendiam, perempuan yang sangat sopan tutur katanya. Tapi, sekarang dia bertambah liar. Saat bertemu, Naira juga sudah berani nyosor mencium Arya lebih dulu.


“Ar, temani tidur, ya?”


“Aku ngantuk, Naira? Gimana mau menemani tidur. Sudah sana kamu tidur, sudah ya, Nay? Bye ....” Arya langsung memutuskan sepihak telefon dari Naira. Ia tidak mau lagi terjebak seperti semalam, mendengarkan Naira yang sedikit mengeluarkan suara seksinya  yang membuat Arya panas dingin.


Arya menonaktifkan telefonnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, Arya mendengar pintu kamarnya diketuk Santi, ia juga mendengar Santi memanggilnya.


“Arya ... buka pintunya ....” Santi terdengar memanggil Arya dengan nada memelas.


Arya menyibakkan selimutnya, ia kesal sekali, baru saja mau istirahat Santi memanggilnya. “Tadi Naira, ini Santi? Huh ....” Arya membuang napasnya dengan kasar. Lalu beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya.


“Ada apa, Santi?” tanya  Arya.


“Gak bisa tidur?” jawabnya setengah merajuk manja.


“Lalu?” tanya Arya bingung.


“Temani aku tidur,” pintanya. “Di sofa, jangan di kamar,” imbuhnya.


Entah kenapa Santi ingin sekali ditemani Arya tidur, tapi tidak mau di kamarnya. Ia ingin tidur di sofa seperti semalam, dengan berbantal paha Arya, dan Arya pun menurutinya, meski ia terpaksa harus tidur dengan duduk sampai pagi.


“Seperti kemarin malam?” tanya Arya.


“Iya, gak bisa tidur kalau di kamar,” jawab Santi.


“Nanti badan kamu sakit lagi seperti tadi pagi?”


“Tapi gak bisa tidur di kamar,” jawabnya manja.


“Tidur di kamarku, aku gak akan macam-macam. Badanku sakit semua tadi pagi, San. Kalau aku harus tidur seperti semalam, sambil duduk, aku tidak sanggup, apalagi besok mau perjalanan jauh.”


“Ya sudah di sini gak apa-apa.” Santi langsung nyelonong masuk, dan langsung merebahkan diri di tempat tidur Arya.

__ADS_1


Arya hanya menggeleng melihat kelakuan Santi. Dia terlihat langsung tertidur pulas, tanpa Arya usap kepalanya seperti semalam.


“Kamu makin ke sini makin aneh, San?” ucap Arya lirih.


__ADS_2