Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 27 – Tidak Bisa Melawan Restu


__ADS_3

Sudah tiga hari Arya di Jakarta, dia sangat sibuk dan padat acara, sampai kurang komunikasi dengan Santi. Walaupun tetap memberi kabar pada Santi, tetap saja tidak seintens biasanya, tiga hari di Jakarta, Arya hanya memiliki waktu sedikit untuk berkomunikasi dengan Santi, itu  semua karena ia harus menemui beberapa klien yang kemarin sempat Arya batalkan pertemuannya, karena dia masih di Pekalongan.


“Pak Arya,” panggil Kartika.


“Iya ada apa, Tik?”


“Tadi saat bapak meeting, Mbak Naira telefon, katanya ponsel Pak Arya tidak aktif,” jawab Kartika.


“Kamu kan tahu sendiri setiap kali saya meeting ponsel pasti saya matikan? Ini saja baru saya aktifkan,” jawab Arya. “Oh iya, Kartika, berkas dari Pak Anwar dan Pak Giri tolong bawa ke ruangan saya,” ucap Arya, sambil sekilas matanya melirik ponselnya yang sedang menampilkan tampilan chat dari Santi. Seulas senyuman Arya lolos dari bibirnya. Kartika mengeryitkan keningnya melihat ekspresi bosnya itu yang terlihat bahagia sekali dari kemarin saat melihat chat dari seseorang, dan Kartika yakin itu bukan dari Naira.


“Baik, Pak.” Jawab Kartika lalu kembali ke meja kerjanya.


“Kartika!” panggil Arya.


“Iya, Pak, ada apa lagi?” tanya Kartika.


“Kalau nanti Naira telefon, bilang saya sibuk,” ucap Arya.


“Ba—baik, Pak. Apa bapak kemarin belum menemui Mbak Naira?”


“Sudah,” jawab Arya, lalu pergi meninggalkan Kartika. Kartika masih melihat Arya yang berjalan sambil membalas chat, dan terlihat Arya seperti bahagia sekali.


“Apa mungkin yang chat Pak Arya istrinya? Jadi benar Pak Arya sudah punya istri? Kok bisa sih?” ucap Kartika dengan terus memandangi Arya.


Arya memang menghindari Naira. Sekarang Naira semakin agresif, Arya sedikit takut dengan sikap Naira yang akhir-akhir ini berubah, setelah mendapatkan restu dari ayah ibunya.


Ponsel Arya berdering, Santi memanggilnya, dari tadi memang Santi menghubunginya, tapi memang ponsel Arya mati. Arya langsung menjawab telefon itu.


“Iya, San. Kenapa? Kangen? Bagaimana kamu sehat? Sudah makan dan minum susu?”


“Sudah semua, Ar. Kamu tumben tiga hari ini di Jakarta matiin hape terus? Pasti lagi pergi-pergi sama Naira, ya?”


“Aku kan bilang, aku sibuk, aku antar orang ke luar kota, hape juga low, ya aku matiin dulu.”


“Kamu pulang kapan?”


“Kenapa tanya aku pulang? Kangen, ya? Besok aku pulang.” Arya masuk ke dalam ruangannya.


Kartika yakin kalau yang menelefon Arya itu adalah istrinya, karena terlihat Arya begitu mesra, apalagi sampai bilang kangen-kangenan.


“Pulang? Memang pulang ke mana sih? Memang istri Pak Arya siapa? Kayaknya kok Pak Arya sekarang memprioritaskan istrinya? Di kantor juga sampai hari rabu saja? Biasanya kan full seminggu? Apa aku harus bilang Mbak Naira? Kemarin aku takut mau kasih info yang aku dengar ke Mbak Naira, karena belum terlalu falid, tapi sekarang, aku sudah yakin kalau Pak Arya memang memiliki istri,” gumam Kartika lalu bergegas kembali ke meja kerjanya.


Kartika menyiapkan file yang Arya minta tadi. Ia segera mencarinya, dan mengecek semuanya. Setelah semuanya siap, ia membawa ke ruangan Arya.


Arya masih bicara dengan Santi. Arya yakin Santi sedang mencari tahu tentang dirinya.


“Ar, Jangan lupa asinannya.”


“Iya, nanti aku belikan. Sudah aku dipanggil Pak Saiful, mau ngasih laporan, besok aku pulang sekalian antar orang, karena satu arah aku pulang.” Ucap Arya saat mendengar pintu ruangannya diketuk.


“Ada orang ketuk pintu, Ar?”


“Aku mau ke ruangan Pak Saiful ini, sudah di depannya, aku yang mengetuk pintunya,” jawab Arya.


“Oh ya sudah, Ar. Kamu enak, ya? Hari kerja kamu Cuma tiga hari?”


“Kata siapa? Kan aku pulang sehari saja, besoknya ya aku harus kerja lagi, San? Sudah dulu ya, San? Nanti aku sambung lagi.”


“Oke, hati-hati kerjanya, ya?”


“Iya, istriku?”

__ADS_1


“Bye Suamiku ....”


“Iya, sana istirahat.”


Arya mematikan telefonnya, lalu ia mempersilakan Kartika masuk ke ruangannya. Kartika padahal tadi sudah mau masuk, tapi ia mendengar Arya menyebut kata istriku. Kartika langsung menutup pintu lagi, ia tidak jadi masuk ke ruangan Arya.


“Ini Pak berkasnya.” Kartika menaruh berkas di meja Arya, Arya mengeceknya, ia mengangguk, “oke terima kasih,” ucap Arya.


Ponsel Arya kembali berdering, nama Naira muncul di layar ponselnya. Arya terlihat sungkan menerima telefonnya.


“Ada apa lagi sih, Nai?” ucap Arya lirih dan terdengar oleh Kartika.


“Ini sudah benar, Pak? Kalau sudah saya keluar, ya?” pamit Kartika.


“Iya, silakan. Oh iya Kartika, saya akan keluar kota, senin baru kembali, kalau ada apa-apa urusannya sana bapak, ya? Bapak yang akan di sini,” ucap Arya.


“Iya, Pak.”


Arya menggeser tombol hijau, lalu menerima telefon Naira. Dia sebenarnya tidak mau diganggu Naira. Naira sudah berubah, bukan perempuan yang anggun dan lemah lembut lagi. Naira benar-benar berubah drastis setelah sebulan yang lalu mengajak Arya bertemu dengan kedua orang tuanya. Naira lebih berani memulai lebih dulu, dari mencium, memeluk, bahkan Naira sedikit memancing Arya supaya melakukan lebih dari ciuman.


“Ada apa, Nai?” tanya Arya.


“Kamu dari tadi ke mana, Ar? Aku dari tadi menghubungi kamu, Ar?” ucap Naira sedikit jengkel di balik telefon.


“Aku sibuk, Nai. Besok juga mau ke luar kota,” jawab Arya.


“Sama siapa, dan mau apa?”


“Urusan pekerjaan, sendirian,” jawab Arya.


“Mau aku temani?”


“Ini tidak salah dengar kamu mau menemaniku?”


“Gak usah, aku sendiri saja,” ucap Arya. Terdengar Naira mengecapkan mulutnya, mungkin Naira kecewa, karena sekarang Arya seperti menghindari dirinya.


“Ar, kamu kok berubah? Kenapa sih?” tanya Naira.


“Berubah gimana, San? Aku biasa saja kok?” jawab Arya. “Aku ini keluar kota mau kerja, bukan mau jalan-jalan,” imbuhnya.


“Tapi biasanya kamu juga ajak aku, kan?”


“Santi, maaf kali ini aku tidak bisa mengajak kamu, karena menginap,” jawab Arya. “Oke kalau seperti dulu gak menginap aku gak masalah?” imbuhnya.


Arya memang sering mengajak Naira ke luar kota, kalau memang hanya sampai malam saja, tidak sampai menginap.


“Kenapa kalau menginap? Kan bisa pesan kamar hotel beda? Gak satu kamar, Ar?” jawab Naira.


“Nai, gak gitu dong? Kan harus izin sama ibu dan ayahmu, juga ibu sama bapakku. Mana mungkin ibu mengizinkanku dengan kamu? Kamu tahu sendiri, kan?”


“Biasanya juga gitu, kan? Kamu diam-diam dari ibumu, dan dari orang tuaku? Sekarang ayah juga sudah bisa menerima kamu, dan minta maaf sama ibu dan bapakmu? Kurang apalagi coba, Ar?”


“Ibu tetap tidak memperbolehkan, Nai. Tidak pernah merestui kita. Itu kenapa aku menghindari kamu, aku tidak dapat restu dari ibu, aku tidak mau melawan restu ibu, karena apa yang aku miliki sekarang, semua ini berkat restu dari ibu. Aku tidak mau jika aku melawa restu karena perempuan, ibu jadi murka padaku, aku tidak mau. Doa ibu adalah doa yang diijabah, aku tidak mungkin mendustai ibu, aku tidak bisa, Nai.”


“Kenapa kamu secepat ini berubah pikiran, Ar?! Kamu jahat sekali, aku juga sudah berjuang supaya ayah dan ibu menerima kamu lagi?!”


Naira mematikan teleponnya sepihak. Arya hanya mengangkat bahunya, dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Arya sebetulnya tidak tega bicara seperti itu pada Naira, tapi Arya juga tidak mungkin membohongi ibunya, dia tidak mau menjalani hubungan diam-diam lagi. Bagaimana mungkin ibunya menerima Naira, kalau ibu masih marah dengan orang tua Naira, khususnya ayah Naira yang sudah merendahkan ibu.


Memang saat itu Arya masih belum sesukses ini, dan Arya juga tidak jelas siapa ayahnya di mata masyarakat dulu, itu sebabnya ayahnya Naira yang memang sudah kaya raya dari dulu menolak dan menentang hubungan Arya dan Naira.


“Sekarang aku sudah begini, dan aku begini karena ibu, masa iya aku akan mengkhianati ibu demi Naira? Iya aku mencintainya, tapi mana bisa aku menyakiti ibu? Lebih baik aku meninggalkan Naira, toh aku belum pernah melakukan apa pun dengan dia, ya hanya sebatas ciuman, dan itu hal wajar dalam sebuah pacaran. Aku tidak bisa melanjutkan semua ini dengan Naira, ibu tidak akan setuju aku dengan Naira. apalagi ibu sangat sayang dengan Santi meski masa lalu Santi seperti itu, dan anak yang Santi kandung itu anak orang?” gumam Arya.

__ADS_1


Arya bergegas pulang setelah pekerjaannya selesai. Sore ini Arya berniat menemui Naira untuk menyudahi semuanya. Ia ingin fokus dengan pekerjaannya dan fokus dengan Santi yang sebentar lagi mau melahirkan. Ia tidak mau Santi berpikiran macam-macam. Dia tahu Santi sedikit cemburu kalau menyinggung soal Naira.


Arya melajukan mobilnya untuk ke rumah Naira. ia benar-benar ingin menyudahinya. Padahal hubungan mereka terjalin lagi sudah satu tahun lebih, dan satu tahun itu Naira berusaha meminta restu dengan ayah dan ibunya. Jelas saja ayah dan ibunya setuju, Arya sudah sukses, bisnisnya sudah terkenal di mana-mana. Mana mungkin ayahnya Naira menolak? Biar pun Arya ayahnya tidak jelas siapa menurut Santoso, tapi melihat Arya yang sekarang tajir melintir, Santoso mendukung putrinya kembali lagi dengan Arya. Bahkan selalu mendesak Naira supaya cepat dinikahi Arya, apa pun caranya.


“Ada apa, Nak Arya? Kok sepertinya mau ada hal serius yang ingin kamu bicarakan dengan ayah dan ibu?” tanya Santoso.


“Iya, kamu kok tiba-tiba ke sini?” tanya Naira.


“Sebelumnya, saya minta maaf, karena datang tidak memberi kabar dulu. Ada hal yang ingin saya sampaikan pada ayah dan ibu, juga kamu, Nai,”  ucap Arya.


“Apa kamu akan segera melamar anak kami?” tanya Santoso.


“Iya, Ar, apa kamu akan melamarku?” tanya Naira.


Arya mengumpulkan keberaniannya lebih dulu untuk bicara dengan mereka, Arya yakin ini adalah keputusan yang sangat tepat sekali. Ia tidak mau menggantungkan Naira, karena tidak bisa memberi kepastian kapan ibunya akan merestui dirinya dengan Naira. Tidak mungkin selamanya Arya akan menjalin hubungan tanpa ada status yang jelas, apalagi dirinya sudah berumur, pun Naira.


“Sebelumnya saya minta maaf. Saya ke sini, karena mau bicara penting, bahwa saya tidak bisa lagi melanjutkan hubungan saya dengan Naira,” ucap Arya.


“Ar, ini kenapa kok jadi gini? Katanya kamu mau berusaha bilang sama ibu, kok kamu nyerah gini? Aku sudah membujuk ayah dan ibu, Ar! Kamu kok gini?” Naira mengerang kacau mendengar penuturan Arya.


“Ini maksudnya apa? Kamu mau mempermainkan putriku? Sudah untung saya memberi restu kamu malah memutuskan sepihak!” erang Santoso.


“Kenapa jadi begini, Arya? Memang dasar keturunan tidak jelas, ya begini tidak jelas!” umpat Yayu, ibu dari Naira.


“Iya, saya memang tidak jelas asal usulnya, siapa bapak saya juga, tidak jelas. Tapi, saya percaya ibu, dan bapak kandung saya sampai sekarang masih,” jawab Arya santai. “Saya hanya tidak mau melawan ibu saya. Saya sudah jadi seperti ini juga karena ibu, bukan karena siapa-siapa. Semua ini karena ibu, saya bisa memiliki apa yang saya impikan. Ibu yang merestui. Sedangkan saya ingin memiliki Naira, tapi ibu tidak merestuinya, saya tidak mungkin melawannya. Jadi maaf, daripada saya menggantungkan hubungan dengan Naira yang tanpa kepastian, alangkah baiknya, sudahi saja. Naira berhak memiliki suami yang lebih dari saya.”


“Ar, kamu jahat sekali!” Naira menangis dengan memeluk ibunya.


“Iya aku jahat, tapi aku tidak mau terlalu menyakitimu, dengan melanjutkan hubungan tanpa restu dari ibu,” jawab Arya.


“Kamu jahat, Ar! Aku sudah berjuang supaya ayah merestui kita, tapi kamu?!”


“Aku juga sudah berjuang, tapi ibu tetap tidak bisa. Kamu pernah aku bawa ke rumah, kan? Bagaimana tanggapan itu, ibu memalingkan wajah dari kamu, bicara dengan kamu ketus, dan bahkan ibu bilang sangat membenci kamu, Nai. Apa kamu mau memiliki mertua yang membencimu? Tidak, kan? Kamu akan tersiksa, Nai. Apalagi aku tidak mungkin keluar dari rumah ibu setelah aku menikah, otomatis kamu akan tinggal dengan ibu, mau kamu tinggal dengan mertua yang benci kamu? Aku melakukan ini mumpung belum semakin dalam hubungan kita, Nai. Aku tidak mau menyakiti kamu, hubungan tanpa restu itu tidak enak, Nai?” jelas Arya.


“Sombong sekali kamu! Menyesal saya merestui kamu, menerima kamu lagi! Ternyata benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama saja dengan ayahmu, dia suka mengkhianati istrinya, ya bagaimana ibumu tidak ditinggalkan, ibumu saja wanita murahan!”


“BRAAAKK!!!” Arya menggebrak meja, ia geram sekali ibunya dikatai wanita murahan oleh ibunya Naira.


“Jangan sesekali ibu bicara lagi seperti itu! Ternyata aku tidak salah memutuskan semua ini!” erang Arya.


“Silakan kamu menikah dengan laki-laki pilihan orang tuamu, Nai! Aku semakin yakin untuk menyudahi semua ini,” ucap Arya.


“Arya tapi gak gini, Ar. Aku rela ibumu tidak merestuiku dan membenciku, aku tidak bisa dengan laki-laki lain, Ar!” erang Naila dengan sesegukkan.


Tatapan Santoso menajam, rona wajahnya penuh dengan kemurkaan mendengar Naira memohon pada Arya. “Naira! Kamu jangan menjatuhkan harga dirimu di depan laki-laki seperti ini!”


“Nai, aku mohon kamu jangan gini, aku tidak bisa melanjutkannya, karena aku ... aku sudah menikah, Nai. Dua bulan yang lalu,” ucap Arya.


“Bught!” Santoso meninju wajah Arya dengan keras.


“Maaf, memang seperti ini adanya, saya sudah menikah. Ini buktinya.” Arya memperlihatkan buku nikahnya pada Naira, membukakannya dan memperlihatakan foto Arya dengan seorang perempuan di dalam buku nikah itu.


“Kamu kejam, Ar!” erang Naira.


“Itu kenapa aku jarang menemuimu, jarang mau jalan dengan kamu, dan memang kita jarang jalan meski hubungan kita sudah terjalin lagi, kan? Ya aku memang kejam inilah aku,” ucap Arya santai.


“Oh iya, Pak Santoso, bapak tadi bilang saya seperti ayah saya? Suka main perempuan, dan tidak bertanggung jawab, malah meninggalkan perempuan? Ya ini saya sedang melakukan apa yang Pak Santoso katakan soal ayah kandungku. Bedanya, saya meninggalkan anak bapak karena tidak mendapatkan restu dari ibu saya, dan meninggalkan anak bapak dalam keadaan masih utuh, belum tersentuh denganku, berbeda dengan ayah kandungku. Ayah kandungku meninggalkan ibu saat ibu hamil saya,” ucap Arya.


“Maafkan aku, Nai. Aku minta maaf dengan setulus hatiku. Ini memang kenyataan, aku sudah menikah, aku sudah kirim foto pernikahanku. Aku tidak mau menyembunyikan semua ini. Kamu ini perempuan baik, kamu pasti dapat laki-laki yang baik juga, Nai. Bukan seperti aku yang mengkhianatiku,” ucap Arya.


“Laki-laki biadab! Pergi kamu!” Naila menangis di pelukan ibunya.

__ADS_1


Arya sebetulnya tidak tega melakukan semua ini pada Naira. Tapi, mau bagaimana lagi, ibunya sangat membenci Naira, laantaran ayahnya Naira yang memulai. Tapi, setelah Arya memikirkan lagi, memang seharusnya lebih cepat memberitahukan Naira soal pernikahannya. Ia tidak mau menutupi semuanya, Arya juga tidak mau memutuskan Naira dengan alasan tidak direstui saja.


“Maafkan aku, Nai. Aku masih sangat mencintaimu, tapi ibu tidak merestui kita, Nai. Aku tidak bisa melawan restu,” ucap Arya dalam hati.


__ADS_2