Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 23 – Oky Jelly Drink Penunda Lapar


__ADS_3

Arya mendekati Santi yang sedang berjemur pagi di teras samping rumahnya. “Bagaimana tidurmu semalam?” Arya berdiri di sebelah Santi, meregangkan ototnya yang masih kaku.


Santi melirik Arya yang berada di sampingnya, seraya mengulas senyum. “Ya lumayan nyenyak, mungkin karena efek capek kali ya? Kamu sendiri?” jawab Santi.


“Cukup lelap sih, kita cari sarapan di luar yuk? Sambil aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu,” ajak Arya.


“Mau nunjukkin apa?” tanya Santi.


“Nanti kamu tahu, ya sudah sana mandi, terus siap-siap,” titah Arya.


“Okey.” Santi berlalu menggalkan Arya.


Arya melihat Santi berjalan masuk ke dalam. Santi terlihat anggun di pagi hari. Wajahnya nampak berseri meski matanya sedikit sembab, mungkin semalam dia habis menangis atau karena kurang tidur. Santi terlihat natural sekali pagi ini, wajahnya terlihat asli, berseri tanpa polesan make up.


Arya masuk ke kamarnya, dia juga harus siap-siap untuk pergi sarapan dengan Santi. Hari ini tidak ada asisten di rumah, karena Arya sengaja meliburkan mereka tiga hari. Arya memakai arlojinya, ia tersenyum memandangi arlojinya yang begitu berharga sekali, karena itu adalah pemberian dari Naira, saat kemarin ia ulang tahun.


“Nai, maafkan aku, aku sudah menikah, jika restu berpihak pada kita, mungkin dari dulu kita sudah hidup bahagia, Nai,” ucap Arya.


Arya sedikit mengingat semua kenangan dengan Naira. Arya tidak bisa melupakan semua kenangan dengan Naira, tidak mudah bagi Arya untuk melupakannya.


“Ar ... sudah siap?” Santi mengetuk pintu kamar Arya.


“Ya, sudah!” Jawabnya dengan sedikit teriak.


Arya bergegas keluar dari kamarnya. Ia melihat Santi yang sudah dandan rapi, berdiri di depan pintu kamarnya. Santi memakai pakaian yang agak longgar, dia semakin sadar dengan keadaan tubuhnya, jadi dia tidak berani lagi mengenakan pakaian yang terlalu seksi, dan menyiksa bayi yang ada di perutnya.


Arya masih terpaku melihat penampilan santi yang terlihat sederhana tapi terkesan elegan. “Jangan bengong, Ar! Ada yang salah dengan pakaianku?”


“Ehm ... tumben sih kamu pakai baju yang gak ketat. Bagus seperti itu saja, dress ini cocok sekali dipakai kamu, kamu terlihat anggun dan cantik,” puji Arya.


“Kamu bisa saja. Ini dress kegedean sebetulnya, tapi karena aku rasa tubuhku tambah melar, ya jadi kelihatan pas,” ucap Santi.


“Iya, pas banget, cocok, bagus, cantik,” ucap Arya dengan gugup.


“Gak usah gugup gitu, Pak Arya. Sudah jangan lihat terus, nanti kamu jatuh cinta! Ayo buruan, lapar nih!” Santi menarik tangan Arya, Santi memang sudah lapar, padahal tadi sebelum Arya bangun, dia sudah makan roti dan susu hamil rasa cokelat yang ia buat sendiri. Biasaya Arya yang membuatkan, tapi tadi pagi ia bangun lebih dulu, dan Santi sempat melihat ke kamar Arya, Arya masih tertidur pulas.

__ADS_1


Arya mendengar ponselnya berdering saat sudah siap menyalakan mesin mobilnya. Ia melihat nama Naira memanggilnya.


“Sebentar aku terima telfon dulu ya, San?” Santi mengangguk, lalu Arya keluar dari dalam mobil untuk menerima telefon dari Naira.


Santi membuang napasnya dengan kasar setelah Arya keluar dari mobilnya, dan bersandar di pintu mobil sambil menerima telefon dari Naira. Ada rasa aneh di hati Santi melihat Arya begitu bahagia sedang menerima telefon dari Naira. Terlihat Arya juga seperti tertawa lebar, menampakkan kebahagiaan.


Arya kembali masuk ke dalam mobil. Santi menatap keluar, ia tidak menghiraukan Arya yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.


“San, pakai seatbeltnya?” titah Arya.


“Oh iya,” jawabnya.


“Maaf lama, ya?”


“Hmm gak masalah,” jawab Santi. “Bahagia sekali dapat telefon dari pacar,” imbuhnya.


“Mantan, San,” jelas Arya.


“Oh mantan, mantan tapi masih mesra, ya?” ucap Santi lalu membuang muka.


“San, kamu kenapa?”


“Kok gitu bicaranya? Kenapa? Cemburu kah?”


“Idih ngapain cemburu? Sudah buruan aku sudah lapar, nanti keburu Oky Jelly Drink telefon lagi, kamu yang kenyang aku yang mual karena kelaparan!”


Arya hanya tersenyum geli melihat Santi yang aneh sikapnya. Arya tahu dia kesal, seharusnya juga Arya tidak menerima telefon dari Naira, untuk menjaga hati Santi. Bagaimana pun Santi kan istri sahnya, meski hanya satu tahun saja.


“Sudah jangan ngambek, kasihan anak kita, ya? Kamu mau makan apa? Bubur ayam atau makan apa?” tanya Arya.


“Terserah kamu saja, kamu mau mengarahkan mobilnya ke mana!” jawab Santi tanpa melihat Arya.


“Hei ... jangan ngambek, aku minta maaf, ya?” Arya mengusap kepala Santi dengan lembut.


“Gak usah pegang-pegang, Arya!” Santi menepiskan tangan Arya dari kepalanya. “Aku tahu kita ini suami istri, meski sah sebagai suami istri, kita hanya menikah di atas sebuah perjanjian! Jadi gak usah sentuh-sentuh!”

__ADS_1


“Oke, aku gak mau sentuh singa betina yang lagi kelaparan, takut dimakan,” ucap Arya.


Arya tahu Santi kesal dan marah, karena sudah sangat lapar. Bisa jadi dia juga cemburu, tapi kalau cemburu kemungkinan tidak juga, karena Santi kan masih mengharapkan Fano?


“Yuk turun, kita akan makan Pindang Tetel,  Kamu pasti belum pernah, kan?” ajak Arya.


“Hmmm ....” Santi hanya bergumam saja, lalu bergegas turun dari mobil.


Arya mengangkat bahunya, dia tahu Santi masih marah, mungkin iya karena lapar, dan bisa jadi dia marah atau cemburu.


Arya mengejar Santi yang berjalan cukup keras, apalagi Santi memakai high heels, dia takut Santi terjatuh, apalagi sedang hamil. Arya langsung meraih tangan Santi dan menggandengnya masuk ke dalam rumah makan. “Santi, jangan keras-keras jalannya, kamu sedang hamil, dah gitu kamu ternyata pakai heels pula?”


“Ih apaan sih! Gak apa-apa kali? Lebay sekali kamu!” ucap Santi, tapi Santi tidak melepaskan tangan Arya. Ia membiarkan Arya menggamit tangannya.


Santi duduk di kursi lebih dulu, lalu Arya memesan makanan dan minuman. Santi baru mendengar nama makanan pindang tetel, ia sudah membayangkan pagi-pagi sekali harus makan ikan pindang, yang katanya khas Pekalongan, tapi ada yang aneh, ia melihat ke meja samping yang dimakan sejenis soto, tapi lebih mirip ke rawon.


Arya kembali duduk di sebelah Santi, Santi masih bingung dengan nama makanannya, namanya pindang, tapi yang orang makan adalah sejenis rawon, dan aromanya juga bukan aroma ikan, aromanya lebih ke daging sapi, mirip dengan rawon.


“Ar, ini namanya pindang tetel, tapi yang mereka makan kok kayak rawon atau soto gitu?” tanya Santi.


“Katanya orang pekalongan, dan ini tanah kelahiran kamu? Kok kamu gak tahu pindang tetel?” jawab Arya.


“Ih benar aku gak tahu Arya!”


“Iya pindang tetel itu kayak rawon, mirip ke rawon lah. Ini makanan khas Ambokembang, Kedungwuni, Pekalongan. Terbuat dari tetelan daging sapi, kuahnya agak encer, gak kaya rawon yang sedikit kenta. Dan kuahnya gurih, cokelat agak kehitaman, karena ada bumbu kluweknya, kamu tahu kluwek?”


“Gak lah, masak aja gak pernah!” jawab Santi.


“Permisi, Pak, Bu.” Pelayan dengan sopan mengantarkan pesanan mereka.’


“Terima kasih, Mbak,” jawab Arya dan Santi bersama. Benar kata Arya, kuahnya hitam kecoklatan, dan kelihatannya segar sekali.


“Ini ada kerupuknya?” tanya Santi.


"Ini namanya kerupuk usek, kerupuknya gak digoreng pakai minyak, pakainya pasir. Ayo kamu harus coba, nih pakai lontong, biar kamu kenyang, aku janji deh, tiap hari kita kuliner terus, sarapan, makan siang, dan makan malam. Nanti aku ajak kamu kuliner lainnya, sebelum mbak berangkat, kan mereka libur tiga hari,” ucap Arya.

__ADS_1


“Oke aku coba, sepertinya segar sekali.”


Benar Santi hanya lapar, ketemu makanan langsung moodnya balik lagi. Wajahnya sumringah, dan langsung menyantap makanannya dengan lahap. Arya melihatnya cukup lega, dia juga yang salah, sudah membuat mood Santi berantakan, sudah tahu orang hamil itu sensitif sekali, apalagi kalau lapar.


__ADS_2