
Arya menaikan selimut Santi. Santi langsung tidur pulas dengan menghadap ke arah Arya. Arya tersenyum melihat Santi yang sudah pulas. Ia mengusap kepala Santi dengan lembut. “Tidur yang lelap, semua akan baik-baik saja, San. Ada aku di sini,” ucap Arya. Arya memejamkan matanya dengan menghadapa ke arah Santi.
Santi terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya, dan langsung melihat Arya yang masih tertidur pulas. Santi melirik jam dinding di kamar Arya, sudah pukul enam pagi. Santi tersenyum menatap Arya yang begitu tampan. “Aku tidak menyangka, aku sudah bersuami, dan aku memiliki suami sebaik dan setampan ini. Ar, andai kamu tahu, lama kita bersama, hatiku makin menghangat, tapi sayangnya kita menikah hanya sebatas kontrak saja,” ucap Santi lirih.
Santi beringsut membenarkan posisi tidurnya, ia ingin turun dari ranjang, tapi tangan Arya meraih tangan Santi. “San, mau ke mana? Gak morning kiss dulu sama suami?” ucap Arya dengan mengulas senyum menggoda.
“Jangan menggodaku, Ar! Nanti kalau aku kasih betulan, bisa tidak tanggung jawab dengan hatiku, yang mungkin bisa jadi aku jatuh hati padamu?” jawab Santi.
“Aku gak menggodaku, benar kan kita suami istri? Wajar kan ciuman?”
“Janjimu apa, Ar? Gak akan nyentuh aku, kan? Sudah jangan ngigau, Ar!”
“Bercanda saja, gak usah ngambek seperti itu,” ucap Arya dengan mengusap lengan Santi.
“Sudah aku buatkan kopi untuk kamu dulu, sana mandi, lalu siap-siap ke Jakarta,” titah Santi.
“Aku sebetulnya belum ingin pulang, San. Kalau saja besok gak ada kerjaan antar ke luar kota, aku tidak akan pulang,” ucap Arya.
“Mau apa gak pulang, Ar? Kamu itu jangan malas-malas kerja, sekarang beban kamu itu nambah.”
“Biar saja, kan bosku enakan, San?”
“Huss jangan begitu, kamu itu sudah dikasih kepercayaan sama bos kamu, jangan sia-siakan kepercayaan dari bosmu,” tutur Santi.
“Iya sih, ya sudah aku mandi ya, San.” Arya beranjak dari tempat tidurnya. Setelah Arya ke kamar mandi, Santi memberanikan diri membuka lemari pakaian Arya dan menyiapkan baju kerja Arya.
Untung Arya tidak lupa membawa baju seragam sopir, jadi Santi tidak akan curiga dengan apa yang sedang Arya lakoni sekarang. Tapi, ada yang mengganjal di hati Santi. Ia melihat baju kerja Santi bertuliskan Dirgantara Tour & Travel. Santi sedikit curiga dengan nama tempat kerja Arya, yang namanya sama dengan nama belakang Arya.
“Dirgantara? Kan nama bekalang Arya? Kok aku baru ngeh, ya? Nama tempat kerja Arya sama dengan nama belakang Arya? Masa Arya pemilik Dirgantara? Tapi kalau di lihat dari penampilannya, memang Arya lebih pantas jadi bos daripada Pak Saiful, tapi kalau dia bos, kok kemarin saat aku kabur dia yang bawa mobil pengantin?” ucap Santi.
Santi bergegas pergi dari kamar Arya, ia meletakkan baju dan celana Arya yang ia ambilkan, lalu dia langsung ke dapur, membuatkan kopi untuk Arya dan susu untuk dirinya.
Santi sudah berada di meja makan, ia menaruh kopi dan roti untuk Arya. Masakan untuk sarapan belum matang, dan masih disiapkan oleh Mbak Sri. Santi memang tidak bisa memasak. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya belum terbiasa. Memasak barang yang terlihat, Santi yakin dia akan bisa dan terbiasa memasak seiring berjalannya waktu, karena dia masih belajar dengan asisten kalau Arya tidak di rumah.
“San?” panggil Arya lalu duduk di sebelah Santi.
“Ya, ini kopinya, aku bikinkan roti panggang juga. Maaf aku belum bisa memasak, ya Cuma bikinkan roti sama kopi, tapi sebentar lagi masakan selesai kok,” ucap Santi.
“Terima kasih, jangan begitu, nanti juga bisa kalau sudah terbiasa. Mungkin kamu kan dari dulu gak terbiasa memasak, San?”
“Ya kamu tahu sendiri lah, hidupk bagaimana, Ar?” jawab Santi.
“Oh iya, San. Ini kamu yang siapin bajuku?” tanya Arya.
“Iya, maaf sudah lancang buka-buka lemari baju kamu,” jawab Santi.
“Ya tidak masalah, aku senang disiapkan baju, rasanya benar-benar memiliki istri, disiapkan baju kerja, dibuatkan kopi, dan roti panggang. Thanks, ya?” ucap Arya.
“Iya, sama-sama,” jawab Santi.
“San, ikut yuk?” ajak Arya.
“Ke mana?”
“Jakarta, gak pengin ketemu mama kamu?” jawab Arya.
“Pengin banget, Ar, tapi aku takut mama marah, apalagi papa, pasti kecewa sekali denganku. Biarlah papa begitu, toh papa juga sudah berhasil membuat aku jadi anak pemberontak? Coba dulu papa gak terlalu mengekan aku, kamu tahu rasanya kan, terkekang itu bagaimana? Kek kucing dilepas, tapi ekornya terikat. Kucing itu masih biasa makan, masih bisa jalan, masih bisa hidup, tapi gak bebas, Ar! Tapi ternyata kebebasanku ini malah kebablasan gini, dan orang yang menghamiliku tidak tanggung jawab pula? Orang yang katanya apa pun yang nantinya terjadi padaku dia akan bertanggung jawab sepenuhnya, dan buktinya? Dia dengan enteng bilang tidak mau tanggung jawab atas kehamilanku,” ratap Santi.
“Sudah jangan diingat, nanti malah bikin hormon kamu gak stabil lagi. Kandunganmu kan sudah mendekati HPL, jadi kamu tidak boleh banyak pikiran,” tutur Arya.
Santi mengangguk, iya benar kata Arya dirinya harus bisa menjaga kesehatan dan mood supaya tidak ada masalah saat mendekati persalinan. Santi menatap Arya yang sedang meneguk kopi buatannya. “Bagaimana rasanya? Sudah pas atau masih kemanisan? Atau mungkin malah kurang gula?” tanya Santi.
__ADS_1
“Pas, ini sudah pas sekali, kamu makin pintar buat kopinya, ini begitu nikmat” puji Arya.
“Terima kasih pujiannya, kamu tinggi banget mujinya, Ar?”
“Memang ini enak, takarannya pas, jadi nikmat sekali,” jujur Arya.
Santi mengingat nama perusahaan trevel tempat di mana Arya kerja, namanya sama dengan nama belakang Arya. “Ar, itu gak salah tempat kerja kamu namanya sama dengan nama belakang kamu?” tanya Santi.
“Uhuk ... Ehem ... hmm ....” Arya sedikit tersedak mendengar ucapan Santi. Iya dia lupa kalau baju seragam ada nama perusahaannya, dan nama itu memakai nama belakangnya.
“Hati-hati, Ar. Aku tanya gitu saja kok gugup? Atau jangan-jangan kamu bosnya, ya?”
“Bos bagaimana? Ya memang namanya sama dengan nama belakangku, aku saja gak tahu kok namanya bisa sama?” jawab Arya setelah meredakan rasa gugupnya.
“Aku kira kamu bosnya?”
“Kenapa kalau aku bosnya?” tanya Arya.
“Ya pantas lah kalau kamu jadi bos, kan kamu nih berwibawa, layak jadi bos ketimbang Pak Saiful. Gak nyangka bos kamu sekocak itu, Ar? Aku kira bos kamu lebih berwibawa dari kamu, lebih garang, dan lebih tampan tentunya, ehh tidak sesuai dugaanku kemarin, ternyata bos kam kocak, pantas saja kamu sesantai itu kerjanya?” ucap Santi.
“Jangan begitu, jangan lihat penampilan orang dari fisiknya saja. Gak nyangka kan Pak Saiful yang tampilannya begitu adalah seorang bos?” ucap Arya.
“Aku saja gak nyangka, kalau aku bisa tunduk di depan Ipul? Itu semua karena kamu, San,” ucap Arya dalam hati.
“Iya gak nyangka banget sih, aku kira malah kamu bosnya?”
“Kalau aku gimana?”
“Ya gak gimana-gimana? Memang ngaruh buat aku, kamu bos atau bukan? Bagiku kamu itu orang yang sangat baik, Ar. Kamu bos atau bukan, itu gak masalah, gak ngaruh, Ar!” jawab Santi.
Arya paham, Santi memang tidak membeda-bedakan status sosial, tapi Arya sendiri yang tidak enak hati, jika dia mengakui dirinya adalah pemilik Dirgantara, itu semua karena dia sudah terlanjur berperan sebagai sopir di depan Santi. Ya kali dia bilang bos, dia juga malu kalau mau mengakui dirinya sebagai bos.
Tidak terasa obrolan ringan mereka berlangsung satu jam. Arya dan Santi sama-sama menikmati obrolannya, hingga Arya lupa kalau dia harus pagi-pagi berangkat ke Jakarta, karena biar sampai sana sore hari.
“Iya, ya? Sampai Mbak Sri selesai memasak, dan Mbak Tati sudah jemurin pakaian,” jawab Santi dengan terkekeh. “Kamu mau sarapan dulu, Ar? Sudah selesai tu Mbak Sri masaknya?” tanya Santi.
“Ehm ... sedikit saja, kasihan Mbak Sri sudah masak, kalau gak dimakan,” jawab Arya.
“Ya sudah aku ambil masakannya dulu, ya?”
Santi mengambil masakan dan menatanya di meja makan. Sebetulnya ia ingin sekali memasak kalau Arya di rumah, tapi ia belum berani mencoba, takut masakannya kurang cocok di lidah Arya. Padahal kata Mbak Sri dan Mbak Tati, masakan dirinya selalu pas. Santi setiap hari memasak kalau Arya ada di jakarta, keinginannya untuk bisa memasak sangat tinggi, jadi ia tidak pernah menyerah untuk belajar memasak.
Santi mengambilkan sarapan untuk Arya, dan dirinya sendiri. Mereka menikmati sarapan paginya. Arya memang sudah terbiasa sarapan nasi, kalau roti dan kopi, ia anggap sebagai cemilan saja. Makan ya nasi, kalau yang lain itu hanya sebatas makanan pelengkap saja, atau penunda saat lapar.
“Kamu gak pakai nasi, San?” tanya Arya.
“Iya nanti saja siangan pakai nasinya. Ini sayur saja, orang tadi sudah makan roti kok, masih agak kenyang,” jawab Santi.
“Roti itu cemilan bagiku, bukan makanan,” ujar Arya.
“Hmm ... kamu itu, aku sudah biasa sarapan pakai roti, Ar, jadi ya nasi kalau siang, bahkan kadang aku menghindari nasi, kamu tahu sendiri kan profesiku sebelum hidupku hancur begini apa?”
“Iya sih, tapi kalau aku, belum makan nasi namanya belum makan, San?”
“Orang Indonesia banget, ya? Belum makan nasi namanya belum makan,” ucap Santi.
“Hmmm ... mentang-mentang lama hidup di Luar Negeri? Jadi lupa sama sarapan yang benar?” ledek Arya.
“Yang benar itu harus menggunakan takaran, Ar. Biar tubuh kita ideal, biar pas takaran gizinya yang masuk,” jelas Santi.
“Iya deh iya, kalah aku bicara sama model papan atas. Tapi ingat, kamu ini lagi hamil, jangan sampai telat makan, jangan sampai kelaparan, pokoknya gak usah mikir tubuh tambah melar, mikirnya kamu dan anak kamu sehat,” tutur Arya.
__ADS_1
“Iya sih, lebih fokus ke situ sekarang.”
“Kamu jadi ikut tidak? Ayo ikut ke Jakarta, gak pengin ketemu mama kamu?”
“Nanti saja deh, Ar. Aku belum siap ketemu mama, ya meski setiap hari sudah bertukar kabar, dan telefonan, tapi masih belum berani ketemu mama. Lagian kerjaanku juga banyak,” jawab Santi.
“Ya sudah, nanti kalau sudah siap kamu ikut ke jakarta, ya? Mama kamu ingin ke sini, tapi kamu tahu papa kamu bagaimana, kan??”
“Aku yakin papa melarang mama menemuiku, papa mungkin sangat membenciku sekarang, kecewa sekali denganku, tapi biarlah, nanti aku juga ada rencana pengin ketemu papa, ya meski papa gak mau menemuiku, yang penting aku mencoba, apa salahnya mencoba, kan? Aku yang muda, kan aku yang harusnya bisa meluluhkan hati papa?” jawab Santi.
“Iya, kamu memang harus begitu, bagaimana pun, kamu itu anaknya, jadi papamu pasti akan memaafkanmu, meski sudah sangat kecewa tehadapmu,” jelas Arya.
Selesai sarapan Arya pamit ke Jakarta. Rasanya ia masih ingin di rumah dengan Santi, tapi nanti malam dia harus menemui klien, dan besok ada rapat, jadi tidak mungkin Arya meninggalkan pekerjaannya itu. Tapi, ia berbohong dengan Santi, kalau Arya besok akan mengantar orang ke luar kota.
“Aku berangkat ya, San? Jaga diri baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telefon aku, atau bilang sama Mbak Sri dan Mbak Tati.”
“Iya, Ar. Kamu hati-hati, ya? Kalau sudah sampai, kamu kabari aku.” Santi mencium tangan Arya. Entah kenapa pagi ini ia reflek mencium tangan suaminya, padahal biasanya tidak sama sekali. Arya pun reflek mendekatkan wajahnya pada wajah Santi, lalu mengecup kening Santi.
“Kayak suami istri betulan, ya?” ucap Santi dengan terkekeh.
“Ya kan memang betulan, San? Dikira kemarin aku ngucapin qobul di depan penghulu pura-pura? Nikah sebetulnya tidak boleh buat mainan, San. Dan, tidak usah pakai perjanjian juga sebetulnya, kita buang saja perjanjiannya bagaimana?”
“Aku gak mau, Ar. Aku mau menikah dengan orang yang mencintaiku, dan aku cintai. Gak mungkin dong aku harus hidup dengan orang yang raganya di sini, tapi hatinya di sana, di perempuan lain?” Ucap Santi dengan menyentuh dada Arya.
“Kita bicarakan nanti, ya? Jaga diri baik-baik, jaga kesehatan kamu. Aku di Jakarta paling tiga hari kok. Kamu mau aku bawakan apa kalau nanti aku pulang?”
“Apa ya? Bawain Asinan Bogor, ya?” pinta Santi.
“Oke, apalagi?”
“Apa sih, terserah kamu saja, Ar. Yang penting makanan, yang enak-enak, tahu sendiri kan aku suka ngemil sekarang?”
“Iya, nanti aku bawakan. Aku berangkat, ya?”
Santi melambaikan tangannya, hatinya sedikit menghangat mengingat kejadian tadi, saat Arya mencium keningnya. Ia merasa seperti memiliki suami betulan, semalam dia tidur sekamar dengan Arya, pagi harinya menyiapkan baju kerja Arya, membuatkan kopi, dan saat Arya akan berangkat kerja, dia mencium tangan Arya, lalu Arya mencium keningnya.
“Tidak apa-apa meski semua ini sementara. Setidaknya aku sudah merasakan menjadi seorang istri, meski nantinya harus berpisah dengan Arya,” gumam Santi.
^^^
Arya sudah sampai di kantornya, sore hari sebelum semua karyawannya pulang, Arya sudah sampai di kantor.
“Bapak kira kamu gak pulang, Ar? Bagaimana bisa bapak menghadapi klien kalau kamu gak pulang?” ucap Rozak.
“Arya pasti pulang dong, Pak? Tenang saja,” jawab Arya.
“Bagaimana Santi? Dia sehat?” tanya Rozak. “Ibumu setiap hari minta ke sana, katanya kangen sama Santi.”
“Santi dia sehat, kandungannya baik-baik saja, butiknya juga sekarang tambah rame, dia juga sudah kerja sama dengan agency model, karena baju-baju yang Santi desain, sesuai dengan yang mereka mau, dia pandai berbisnis ternyata, Pak,” jelas Arya.
“Anaknya Hermawan masa gak pandai bisnis? Oh iya bapak kemarin ketemu mertuamu di ruko, biasa ngobrol sambil ngopi santai, dia tanya Santi, kelihatannya dia rindu, tapi dia itu gengsi, biar saja, biar sakit nahan rindu sama anaknya,” ujar Rozak.
“Tadi aku mau ajak Santi, tapi dia masih sibuk dengan butiknya, terus masih belum berani ketemu mamanya, padahal ya setiap hari telefonan, tapi mungkin masih sedikit takut atau gimana ketemu mamanya.”
“Iya, kalau sudah tepat saja waktunya kamu ajak istri kamu ke sini.” Ucap Rozak.
“Iya, aku akan ajak istriku ke sini. Nanti kalau dia sudah tidak sibuk,” jawab Arya.
“Santi mau melahirkan di sana?”
“Iya dong, masa di sini?” jawab Arya.
__ADS_1
Seorang perempuan yang baru keluar dari ruang kerjanya tidak sengaja mendengar Arya dan Rozak bicara soal Santi.
“Tadi Pak Arya bilang apa? Istri? Melahirkan? Sejak kapan Pak Arya punya istri? Cepat sekali masa sudah hamil? Perasaan selama ini Pak Arya dan Mbak Naira masih berhubunga? Aku saja sering melihat mereka jalan bareng? Apa Pak Arya dijodohkan, dan nikah diam-diam karena sama Mbak Naira gak dapat restu dari orang tua mereka? Ah kalau gini kasihan Mbak Naira dong? Kek di bohongi Pak Arya? Aku harus kasih tahu Mbak Naira nih?” gumam Kartika, sekretaris Arya.