
Memalui hasil tes, hanya golongan darah Pak Rozak saja yang dinyatakan cocok dengan golongan darah Hermawan. Beliau sama-sama memliki golongan darah O seperti Hermawan. Pertugas rumah sakit dengan cekatan mengambil darah Pak Rozak. Namun, masih kurang satu kantung darah lagi untuk Hermawan.
“Kenapa aku tidak cocok darahnya dengan papa, Ar?” tanya Santi dengan dipeluk Arya. “Papa masih butuh satu kantung lagi, Ar. Siapa yang golongan darahnya sama dengan papa?” ucap Santi pilu.
Santi melepaskan pelukan Arya, dia berjalan cepat ke arah mamanya, dan bertanya apa golongan darah mamanya, dia pun bertanya pada ibu mertuanya, kali saja sama dengan papanya.
“Mama, ibu ... golongan darah Santi dan Mas Arya tidak sama dengan papa, golongan darah Santi AB, mas Arya A, dan papa O. Hanya bapak yang sama dengan papa golongan darahnya, papa masih butuh satu kantung lagi, Ma, Bu. Di rumah sakit juga tidak ada, di PMI pusat tadi juga kosong. Ibu, mama, bantu papa,” pinta Santi.
“Golongan darah mama A, San,” ucap Halimah.
“Ibu juga A, sama dengan mamamu,” ucap Arni.
Santi tidak tahu harus mencari ke mana lagi, dia pun bingung dengan apa yang mamanya katakan, golongan darahnya AB, sedang papanya O dan mamanya A.
“Harusnya golongan darahku A, atau O. Tapi, kenapa golongan darahku, AB?” batin Santi.
Santi berpikir keras dengan apa yang mamanya katakan. Bisa-bisanya golongan darahnya tidak sesuai dengan kedua orang tuanya, bahkan melenceng sangat jauh. Santi berusaha tenang dulu, ia tidak mau memikirkan itu dulu, yang ia pikirkan adalah keselamatan papanya.
“Ar, kita harus cari ke mana lagi? Kamu ada teman yang punya golongan darah O?” tanya Santi. “Ipul, Asep, atau karyawan kamu lainnya mungkin? Mbak Hani dan Asisten semua asisten di rumah mungkin?”
“Aku akan cari tahu ya, Sayang? Kamu jangan panik.” Arya terus menenangkan istrinya.
Arya mencoba menghubungi kantor, dan meminta sekretarisnya mendata siapa saja yang memiliki golongan darah O. Dan, tenyata jawabannya hanya ada dua orang, dan itu pun mereka sekarang sedang berangkat ke luar kota untuk mengantar study tour, sampai tiga hari.
“Tidak ada, San. Ada dua, tapi orangnya lagi antar study tour tiga hari,” ucap Arya.
“Asisten di rumah juga tidak ada, Mas? Bagaimana ini, Mas?” ucap Santi semakin panik, saat setelah menghubungi Hani, menanyakan semua asisten golongan darahnya apa, dan jawabannya tidak ada yang sama golongan darahnya dengan golongan darah papanya.
Arya ingin sekali bicara pada Santi, ada satu orang yang ia kenal, yang memiliki golongan darah yang sama dengan papanya Santi. Namun, ia ragu untuk memberitahukan pada Santi. Tapi kalau tidak memberitahukan, mau cari ke mana lagi?
“San,” panggil Arya.
“Iya, mas,” jawab Santi.
“Aku mau bilang, tapi kamu jangan marah, ya?” ucap Arya.
“Iya, bicaralah, aku gak akan marah,” jawab Santi.
“Ada satu temanku, yang golongan darahnya sama dengan papa,” ucap Arya.
“Siapa, Mas? Katakan siapa? Berapa pun akan aku bayar, dia minta apa akan aku turuti, aku janji itu, asal dia mau memberikan darah untuk papa, Mas. Aku mohon hubungi teman kamu!” Santi memohon pada Arya supaya dia menghubungi teman Arya itu.
“Iya, tapi dia ....”
“Dia ke mana lagi? Lagi di luar kota lagi? Iya, begitu?”
“Bukan, San.”
“Lalu kenapa, Mas? Kalau dia di sini, hubungi sekarang, Mas!” pinta Santi memohon dan setengah memaksa.
“Dia Naira, San. Tidak mungkin aku hubungi dia, karena aku menjaga perasaanmu, San,” ucap Arya dengan menunduk.
“Hubungi dia demi papa, Mas. Aku mohon, apa pun syaratnya!” ucap Santi.
__ADS_1
“San, aku gak yakin syarat yang akan ia minta bukan uang atau barang, aku takut syarat yang ia ajukan macam-macam, bahkan sampai imbasnya ke pernikahan kita, San.”
“Mas, aku mohon, papa butuh darah, apa pun syaratnya!”
“Aku takut dia meminta kamu menjauhiku, kalau begitu bagaimana? Aku tidak bisa, jangan taruhkan aku atau pernikahan kita, San!”
“Astaga ... Ya Tuhan ... susah sekali mencari sesuatu kalau sedang kepepet!” ucap Santi. “Mas, belum tentu dia meminta syarat itu, kan? Kita kan belum tahu?”
“Ya kita belum tahu, tapi kalau dia maunya begitu?”
“Mas, telefon dia, apa pun syaratnya!”
“Aku gak mau kalau mempertaruhkan pernikahan kita, San!”
“Demi papa, aku mohon, Mas ....” ucap Santi dengan menunduk, lalu bersimpuh di depan Arya.
Arya tidak tahu lagi harus bagaimana, karena dia memang tahu Naira golongan darahnya O. Dia dulu pernah mengantar Naira donor darah untuk saudaranya, yang golongan darahnya O. Arya akhirnya memenuhi permintaan Santi, ia menelefon Naira, dan Naira dengan cepat menuju ke rumah sakit yang diberitahukan Arya.
“Kita ke depan, jangan sampai mama dan ibu tahu Naira ke sini,” pinta Santi.
Santi tidak peduli, apa yang nantinya Naira minta, meski ia harus kehilangan Arya, karena Naira meminta Arya. Bagi Santi, yang terpenting adalah papanya. Ia ingin menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan hingga mengecewakan papanya.
Santi sudah sampai di lobi rumah sakit. Dia menunggu Naira yang datang. Tak menunggu lama Naira sampai di rumah sakit. Dia melihat Arya, dan langsung menemuinya.
“Siapa yang butuh darah, Ar?” tanya Naira.
“Papaku, Nai. Aku mohon, berikan darahmu untuk papa,” ucap Santi dengan terisak.
“Iya aku tahu, berapa pun yang kamu minta aku akan berikan, apa pun yang kamu mau, Nai. Katakan berapa,” ucap Santi.
“Aku gak mau uang. Aku mau Arya kembali padaku, bukannya kalian hanya sementara kan menikahnya?” ucap Naira.
Santi diam, ternyata benar suaminya, Naira meminta syarat yang akan merusak pernikahannya. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya Naira yang bisa mendonorkan darahnya untuk papanya Santi, harapan terakhir ada pada Naira. Santi harus bisa melepaskan Arya, demi papanya. Biar pun dirnya ragu, dia anak kandung orang tuanya atau bukan, dia tidak peduli. Dia mau papanya sembuh, itu saja yang sekarang Santi pikirkan.
“Iya, aku terima permintaanmu, Nai,” ucap Santi menyerah.
“Gak, San! Aku yakin bisa untuk menemukan darah O selain dari dia!” tolak Arya.
“Mas ini darurat, mas lihat kan tadi dokter dan suster bilang apa? Harus segera, karena operasi akan segera dilakukan!”
“Tapi gak gini dong, Nai! Ini syaratnya tidak sesuai, Nai!” protes Arya.
“Kalau gak mau ya sudah,” ucap Naira.
“Mas, aku mohon,” ucap Santi dengan terisak.
“Aku mencintaimu, San. Aku tidak bisa,” tolak Arya dengan tegas.
“Aku juga mencintaimu, tapi bagaimana dengan papa, Ar? Papa butuh darah, aku mohon kamu mau menerima ini. Tuhan memberikan jodoh tidak pernah tertukar, Ar. Aku mohon, kita menikah juga karena kontrak, kan? Harusnya memang kita sudah menyudahinya sekarang, Ar,” ucap Santi.
“Enggak, San! Aku gak mau!”
“Mas, aku mohon,” isak Santi.
__ADS_1
“Sudah dramanya? Bagaimana? Kalau gak mau ya sudah,” ucap Naira.
“Iya, Nai. Ikut aku ke ruang transfusi darah,” ucap Santi.
“San, tapi?”
“Mas, aku mohon,” pinta Santi.
Demi Santi, Arya menuruti syarat dari Naira. Ia tidak tahu kenapa sampai serumit ini. Naira diantar Santi dan Arya ke ruang transfusi darah untuk diambil darahnya. Setelah selesai, Naira meminta Santi dan Arya menemuinya besok atau lusa, untuk membicarakan permintaannya.
“Aku tunggu kalian besok pagi!” ucap Naira.
“Naira, apa tidak ada syarat lain?” tanya Arya.
“Aku tahu kamu masih mencintaiku, Ar. Kalau tidak, kenapa kamu juga masih kepo dengan hidupku? Tanya-tanya soal siapa calon suamiku? Yang dijodohkan oleh ayahku? Tolong, kalau kamu tidak mencintai Santi sepenuhnya lepaskan, dan kembali padaku,” jawab Naira.
Arya memang kadang masih melihat story Naira di whatsApp, facebook, dan intagramnya. Tiga bulan yang lalu dia memang tunangan, tapi kenapa dia meminta Arya kembali padanya, padahal Naira akan menikah.
“Aku sangat mencintai Santi! Aku hanya tanya padamu apa tidak boleh? Tanya soal siapa calon suamimu?” ucap Arya.
“Calon suamiku sudah meninggal, tiga minggu yang lalu, karena kecelakaan!” jawab Naira. “Aku tunggu besok!” ucap Naira lalu berlalu pergi meninggalkan Santi dan Arya.
Santi tidak mau memikirkan semua itu, ia hanya memikiran papanya. Ia terus berdoa, supaya operasi papanya berjalan dengan lancar. Sepintas ia mengingat ucapan mamanya, soal golongan darah yang mamanya miliki, dan itu berbeda dengan Santi. Harusnya Santi memiliki golongan darah yang sama dengan mamanya atau papanya, tapi dua-duanya berbeda dengan Santi. Papanya O, mamanya A, dan santi AB.
Santi melepaskan tangan Arya yang sedang menggandengnya. Ia berlari lagi, meninggalkan Arya, dan menerobos ke dalam ruang tempat transfusi.
“Santi, tunggu! Kamu mau apa?”
“Aku mau bicara dengan suster. Kamu tunggu di depan, ini penting!” jawab Santi.
“Aku temani.” Santi hanya mengangguk dan membiarkan Arya menemaninya.
Santi melihat perawat medis sedang duduk di belakang meja. Perwaat itu pula yang sebelumnya melakukan tes terhadap Santi. Tanpa permisi, Santi langsung menyambar kursi dan duduk di hadapan petugas itu.
“Tolong jelakan, Suster,” sergah Santi dengan suara tercekat, berjuang menahan air mata yang mengintip di balik bulu matanya. “Bagaimanakah golongan darah itu diturunkan pada anak-anak kita?” tanya Santi.
Dengan sabar, perawat itu tersenyum. Seperti memaklumi keadaan Santi yang labil, karena papanya tengah mengalami kecelakaan dan harus segera dioprasi. Meskipun tercengang dengan pertanyaan Santi yang tiba-tiba, perawat itu berusaha menjelaskan dengan tenang.
“Golongan darah memiliki arti penting dalam kehidupan kita,” ujar perawat itu dengan bahasa yang mudah dipahami. “Karena golongan darah itu herediter, membuktikan keturunan. Jika kecelakaan atau operasi yang membutuhkan darah, resipien atau penerima darah, harus menerima dari donor yang memiliki golongan darah yang sama. Jika tidak akan menyebabkan aglutinasi atau penggumpalan darah. Darah yang disumbangkan donor pun harus dipastikan bebas dari virus penyakit menular yang membahayakan.”
“Jika golongan darah ibu saya A, dan ayah saya O, bagaimanakah golongan darah anak-anaknya?” tanya Santi.
“Sebagian akan mewarisi golongan darah ibu, dan sebagian lagi mewarisi golongan darah ayah,” jelasnya.
“Jadi, kemungkinannya adalah 50% bergolongan darah A dan 50% bergolongan darah O?” tanya Santi.
“Betul.” Perawat itu menjawab seraya mengangguk.
“Lalu kenapa golongan darah saya AB, Sus?” ratap Santi, perlahan mulai mengerti kenyataan yang terjadi.
“Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda,” sahut perawat itu dengan raut wajah menyesal. “Masalah ini harus dibuktikan lebih jauh, namun hanya ada satu jawaban. Anda bukan anak kandung orang tua anda.”
Tubuh Santi gemetar mendengar pernyataan perawat tersebut. Arya memeluknya erat, Santi menangis, meratapi nasibnya, sebetulnya dirinya anak siapa.
__ADS_1