
Santi sedang berada di salonnya. Dia dari tadi di ruangannya saja, sambil live di sosial media, untuk mereview produk. Seperti itu sekarang kesibukan Santi yang menjadi artis sosial media. Dia sekarang sibuk seperti itu dan mengurus salon juga butiknya. Selesai live, dia sempatkan menelefon mamanya, menanyakan kabar putri kesayangannya, dan memberitahukan kalau dia agk terlambat pulang karena mau bertemu dengan klien.
Santi mendengar pintu ruangannya diketuk oleh karyawannya. “Iya masuk!” jawab Santi setengah teriak.
“Bu, ada yang nyari ibu di luar.” Karyawan Santi memberitahukan dirinya bahwa di depan ada tamu yang menunggu.
“Siapa? Perempuan atau laki-laki?” tanya Santi.
“Perempuan, tadi bilang namanya Naira,” jawabnya.
“Oh iya, sebentar aku siap-siap, ajak dia di ruang tamu untuk menunggu saya, lalu buatkan dia teh,” titah Santi.
“Baik, Bu,” jawabnya.
Santi memijit keningnya, dia tidak tahu mau apa Naira datang. Padahal sudah jelas Santi sekarang sudah tidak dengan Arya lagi, dan Santi sedang mengurus perceraiannya dengan Arya.
“Mau apa sih tuh orang? Apa belum jelas yang aku bilang kemarin, kalau aku sudah menggugat cerai Arya?” gerutu Santi.
Santi keluar dari ruangannya. Dia melihat dulu ke tempat perawatan, masih sangat ramai, dan masih banyak yang mengantre untuk perawatan. Tempat spanya juga sangat ramai hari ini. Dia harus jaga image, supaya tidak ada perdebatan antara dirinya dengan Naira, karena masih banyak sekali customer di salon dan spanya.
Santi berjalan ke arah ruang tamu khusus untuk orang yang ingin menemui dirinya. Dia melihat Naira yang sedang duduk menunggu dirinya.
“Ada apa, Nai?” tanya Santi lalu duduk di depan Naira.
“Bagaimana perkembangan perceraian kamu dengan Arya? Kok sepertinya sepi, tidak ada kemajuan? Sudah sampai mana prosesnya? Apa kamu hanya pura-pura saja, hah?” tanya Naira.
“Silakan hubungi nomor ini.” Santi memberikan kartu nama pengacara yang menangani kasus perceraiannya. “Dia yang mengurus perceraianku dengan Arya, aku hanya menunggu kapan tanggal sidangnya, mungkin memang lama, karena aku dan Arya menikah bukan di sini,” imbuhnya.
Memang pengacara Santi bilang seperti itu, padahal itu semua karena Hermawan yang meminta pengacara Santi memperlambat perceraian Santi dengan Arya.
“Kamu tanya saja sama Arya, jangan mendesakku saja. Arya saja tidak mau tanda tangan surat gugatan sampai sekarang? Mana mungkin bisa diproses?” ujar Santi.
Santi memang memasrahkan semuanya pada pengacaranya. Ia terima beres saja, karena dia tidak mau repot. Ia tinggal menunggu persetujuan dari Arya, lalu menunggu kapan jadwal sidang cerainya.
“Bujuk dia apa tidak bisa?” ucap Naira memaksa.
“Bujuk? Lihat mukanya saja aku sudah tidak sudi lagi! Silakan temui dia, aku sudah tidak dengan Arya, sudah berbulan-bulan aku tidak tahu bagaimana, paling waktu kemarin dia ke pesta ulang tahun Anin, tapi aku tidak menemuinya,” jelas Santi.
“Kamu tidak menutupinya?”
“Apa yang harus ditutup-tutupi? Aku sedang menikmati karierku. Silakan saja temui ibunya Arya? Kamu takut? Atau orang tua Arya langsung mengusir kamu?” ucap Santi.
Naira hanya diam. Iya seharusnya dia menemui Arya saja, atau orang tuanya. Dia tidak menemui Arya karena Arya selalu menghindar, mau ke rumah Arya, dia juga tidak mau memohon-mohon pada kedua orang tua Arya, karena percuma.
“Sudah hanya tanya itu? Kalau sudah, tehnya dihabiskan, dan silakan pulang. Temui Arya saja, tahu kan kantornya Arya di mana? Atau rumahnya,” ucap Santi.
Naira beranjak dari tempat duduknya dengan tatapan sinis pada Santi. Sia-sia juga Naira mendesak Santi terus, dan pada kenyataannya memang Santi sudah menggugat Arya, sudah tidak serumah lagi, hanya saja Arya yang tidak mau pisah dari Santi.
“Sia-sia saja aku desak Santi, pada Akhirnya, Arya yang terus menolak perceraian itu. Santi sudah memenuhi permintaanku, tapi Arya yang belum mau pisah dengan Santi. Apa sih lebihnya dia? Sampai Arya mudah sekali berpaling dariku? Sudah hamil diluar nikah? Anin juga bukan anaknya, kok ya Arya secinta itu sama Santi dan anaknya? Aku yang dari dulu, sejak SMA bersama, kok mudah sekali dilupakan Arya? Santi yang baru ia kenal beberapa bulan, Arya tidak mau melepaskannya?” batin Naira.
Naira tidak tahu mau apa lagi. Ayahnya juga tidak mau kalau dirinya lama menunggu Arya yang tidak jelas. Santoso sudah muak sekali dengan anaknya yang terlalu memperjuangkan cintanya pada Arya, sedangkan Arya malah santai dan terus menolak gugatan Santi. Apalagi Santoso tahu bagaimana Arya, dia anak siapa dan bagaimana silsilahnya. Santoso ingin anaknya menikah dengan laki-laki yang jelas silsilah keluarganya. Apa salahnya seorang ayah ingin yang terbaik untuk anaknya? Santoso akui, Arya memang laki-laki baik, tapi silsilah keluarganya tidak jelas, siapa ayah kandung Arya tidak jelas.
Naira sudah hampir menikah dengan laki-laki yang dijodohkan dengan dirinya saat itu, tapi laki-laki itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas dua bulan sebelum menikah dengan Naira. Sampai saat ini, Naira masih sendiri, dan berharap Arya kembali padanya.
__ADS_1
Santoso menyerah, dia juga tahu Naira masih meminta Santi bercerai dengan Arya, karena Santi berutang nyawa dengan Naira.
“Tambah gila kamu, Nai!” hardik Santoso gemas melihat anaknya baru saja masuk ke dalam rumah.
“Ayah kenapa, aku baru pulang kerja, malah langsung dikatai gila?” ucap Naira.
“Cukup, Nai! Jangan merusak rumah tangga orang!” ujar ibunya.
“Ini ibu juga kenapa sih?”
“Stop, Nai! Jangan minta Santi untuk pisah dengan Arya! Kamu tidak tahu siapa Santi!” ucap Santoso.
“Ini kok ayah bahas Santi? Santi istri Arya, kan? Ya tahu dia model, memang kenapa, Yah? Bukannya ayah kemarin sudah tahu siapa Santi, dan ayah juga mendukung apa yang aku lakukan?”
“Mulai sekarang, jangan pernah kamu usik rumah tangga mereka! Stop, Nai! Ayah malu, kamu tidak tahu siapa papanya Santi, kamu tidak tahu kalau ayah ini banyak utang sama papanya Santi. Kamu membuat ayah malu, Nai!”
“Memang siapa papanya Santi?”
“Dia itu yang membantu ayah, saat dulu usaha ayah bangkrut, dan terlilit uatang, Nai. Kalau tidak ada Hermawan, ayah tidak bisa menguliahkan kamu, tidak ada lagi usaha ayah, ayah justru yang berutang budi dengan beliau! Ayah tidak menyangka, hanya karena kamu mendonorkan darah untuk Hermawan kamu minta anaknya cerai dengan suaminya, kalau tahu Hermawan butuh darah, berapa kantong pun akan ayah kasih! Karena papa sudah berutang budi padanya, kalau tidak ada Hermawan, mungkin papa sudah jadi gembel, kehilangan usaha yang ayah bangun sejak muda, dan kamu tidak akan menjadi sarjana.”
Hermawan dan Rozak, baru saja dari rumah Santoso untuk bertemu Naira, dan memperingatkan Naira untuk tidak lagi mendesak Santi untuk bercerai dengan Arya. Betapa kagetnya Hermawan, ternyata Naira adalah anak dari Santoso, orang yang dulu sangat dekat, dan pernah ia bantu saat usahanya diambang kebangrutan. Santoso benar-benar malu karena perbuatan anaknya yang seperti itu.
Naira terdiam dengan penuturan ayahnya. Sesempit itu dunia? Ternyata papanya Santilah yang membuat usaha ayahnya bangkit lagi hingga sekarang.
“Tolong jangan bikin malu ayah, Hermawan sudah banyak membantu ayah, Nai. Ayah mohon sama kamu, sekali ini saja kamu nurut sama ayah. Cukup, Nai! Hentikan ambisimu untuk memiliki Arya. Sejak awal ayah sudah tidak setuju kamu dengan Arya, karena ayah tahu Arya bagaimana. Tidak mungkin ayah rela kamu dinikahi laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya, meski Arya sekarang sudah menjadi pengusaha sukses, tapi tetap saja ayah masih berat melepas kamu untuk menikah dengan Arya, apalagi caranya seperti itu,” ucap Santoso.
Naira tidak menjawab apa-apa, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Merenungi apa yang diucapkan ayahnya tadi.
Santi kembali melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Ia bersiap untuk pulang, karena klien tidak jadi bertemu sore ini. Santi mengemasi meja kerjanya. Dan, tidak sengaja dia menjatuhkan kertas, seperti selembar foto. Ia mengambilnya, dan melihat foto siapa yang jatuh.
“Fano?” Ucap Santi dengan tersenyum memandangai foto Fano.
Santi teringat memori lama dengan Fano, orang yang sekarang mungkin sudah Santi benci, karena membuat dirinya kecewa. Fano memang setia, meski dia kehidupanya kental dengan dunia malam, karena pekerjaannya sebagai DJ. Meskipun banyak para kaum hawa yang menggandrungi dirinya, tetap saja Santi adalah kekasihnya yang paling ia cintai. Namun, karena dia masih ingin bebas, saat mendengar Santi hamil, ia tidak mau bertanggung jawab. Itu karena dirinya belum siap menjadi ayah, dan Fano tidak tahan dengan aturan papanya Santi yang otoriter dan terlalu mengekang.
Pertemuan di pekalongan kala itu, juga sedikit membuat Santi berdebar-debar meski dia kecewa dan marah dengan Fano, bahkan ia sudah membenci Fano yang lepas dari tanggung jawab. Hati Santi tidak bisa berbohong kala itu, ia masih merasakan denyut jantung yang tidak keruan melihat Fano datang menemuinya, dan meminta memperbaik semuanya.
“Apa kabar kamu, Fan?” ucap Santi. Ia menyimpan lagi foto itu ke dalam laci.
Namun, setelah mengingat Fano, bayangan Arya menghampirinya. Arya yang akhir-akhir ini ia rindukan meski ia masih jengkel karena Arya masih saja menemui Naira.
“Aku sudah percaya penuh padamu, kalau kamu adalah sosok pria yang sangat bertanggung jawab, aku sudah percayakan hati ini hanya untukmu, dan aku juga sudah percayakan raga ini untuk kamu sentuh, kamu nikmati, karena aku istrimu, Mas. Tapi kenapa kau kecewakan aku? Kamu menemui Naira, dan memberiku rumah, tapi sama dengan rumah impianmu dengan Naira? Apa maksudnya? Aku ini kau anggap apa, Mas? Kau begitu tulus meyakinkan diriku, tapi kenapa kamu malah seperti itu?” ucap Santi, dengan menyeka matanya yang basah, karena mengeluarkan air mata.
Santi mendengar suara pintu ruangannya diketuk. “Masuk!” ucap Santi.
“Bu ada yang mencari ibu?”
“Siapa, Mbak? Perempuan atau laki-laki?”
“Laki-laki, Bu,” jawabnya.
“Pak Arya bukan?”
“Bukan, orangnya tampan, gagah. Ya sama dengan Pak Arya, gak kalah cakepnya, Bu,” jawabnya memuji pria yang datang menemui Santi.
__ADS_1
“Lain kali ditanya namanya ya, Mbak?”
“Sudah, Bu, tapi dia bilang, ibu pasti mengenalnya,” jawabnya.
Santi berpikir sejenak, ia semakin penasaran, siapa yang datang menemuinya saat sudah selesai jam kerjanya. “Ya sudah saya temui,” ucap Santi.
Santi keluar, dia sekalian membawa tasnya, karena sudah mau pulang. Untung saja hari ini ia tidak jadi bertemu klien, jadi dia tidak gugup untuk menemui tamu misterius itu. Santi berjalan menuju ruang tamu, saat tiba di sana, Santi membelelak terkesima memandang pria yang berdiri di kejauhan. Semula ia tak yakin dengan penglihatannya. Ia tak percaya melihat Fano berdiri di sana. Di ruang tamu khusus yang ada di salon dan spa miliknya.
Rupanya satu tahun lebih sudah banyak mengubah Fano. Kini Fano jauh lebih memikat, lebih dewasa, dan lebih gagah. Garis-garis ketampanannya semakin tajam terlihat di wajahnya. Fano mengenakan jas dan dasi. Persis seperti pria eksekutif yang sukses. Tidak seperti dulu, yang berpakaian mengikuti model kekinian, apalagi notabennya dia adalah seorang DJ, tidak mungkin dia memakai jas dan dasi dengan formal seperti itu.
“Astaga ... itu Fano? Aku tidak salah lihat, kan? Dia pakai stelan jas dan mengenakan dasi? Biasanya hanya kaos oblong, celana pendek, atau celana jeans yang terkoyak-koyak bagian lututnya? Ini dia serapi itu? Tidak salah aku melihatnya?” batin Santi.
Begitu melihat Santi muncul, Fano bergegas mendekatinya. Bahkan gaya berjalannya pun kini makin menggoda. Peragawan saja kalah. Ia sungguh menawan, Santi sampai tak berkedip mengaguminya.
“Santi ....” Panggilnya dengan penuh kerinduan. Ia membukan lengannya lebar-lebar, siap untuk memeluk Santi.
Sedetik Fano menunggu reaksi Santi, tapi Santi hanya tertegun bingung. Ia berdiri canggung tidak tergugah untuk menyambut pelukan Fano, sehingga Fano menjatuhkan kedua lengannya yang sudah terlanjur terangkat.
“Fano?” ucap Santi serba salah. Merasa tidak siap dengan pertemuan yang mendadak itu. “Kenapa kamu di sini? Ada keperluan apa? Atau mau reservasi perawatan? Untuk siapa? Ini salon dan spa khusus wanita, Fan? Oh kekasihmu mungkin?” ucap Santi dengan gugup.
“Tidak, bukan seperti itu, San,” sela Fano tersenyum. “Aku memang sengaja datang ke sini, ingin bertemu denganmu,” jelasnya.
“Kok kamu tahu aku di sini?”
“Ya kamu baru saja live di sosial media kamu, aku lihat ruangan tempat kamu kerja masih sama, jadi aku yakin kamu di sini? Karena aku ingin bertemu denganmu,” jawab Fano.
“Bertemu denganku? Untuk?” ucap Santi sedikit salah tingkah.
“Iya, aku ingin bertemu denganku, apa kau tidak merindukanku?” cetus Fano dengan menatap Santi lekat-lekat.
“Rindu? Apakah masih ada rindu di hatiku untukmu, Fan? Setelah kamu mengecewakanku, mencampakkan aku, dan bilang kalau anak yang aku kandung bukan anakmu? Sekarang tanpa rasa bersalah kau bilang rindu? Ke mana saja saat aku butuh kamu, butuh dekapan hangatmu yang menenangkan aku, butuh kamu untuk sandaran hidupku saat aku tak baik-baik saja? Bahkan saat itu bayanganmu pun sulit untuk kuraih?” batin Santi.
Santi tercenung membisu. Waktu seolah berhenti berputar. Menyeretnya kembali pada lembaran hari-hari yang telah lama berlalu, ke suatu masa ketika ia pernah begitu mencintai pria yang ada di depannya itu.
“San, bagaimana kabarmu?” tanya Fano.
“Baik, sangat baik, Fan,” jawab Santi. “Kamu?” tanya Santi.
“Ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,” jawab Fano.
“Silakan duduk, Fan. Aku buatkan kopi ya?”
“Tidak usah, aku ingin mengajakmu pergi sebentar, mau?”
“Ke mana? Aku ini punya suami, kamu mau ajak istri orang?” jawab Santi.
“Iya aku paham kamu sudah menikah, tapi banyak sekali yang ingin aku ceritakan, dan aku sedikit tahu tentang hubunganmu dengan suamimu. Kamu mau bercerai darinya, kan?” tanya Fano.
“Dari mana kamu tahu?”
“Nanti akan aku kasih tahu, kita sudah lama gak ke pantai ya, San? Mau ke sana, sambil ngobrol mungkin?” ajak Fano. “Kamu sudah mau pulang, bukan?”
“Iya, ini mau pulang, ya sudah kita ke pantai.” Santi mengiyakan ajakan Fano. Dia ikut mobil Fano, dan menitipkan mobilnya di salon, karena salon tutup sampai jam sembilan malam. Santi mau diajak Fano karena dia penasaran darimana Fano tahu kalau dirinya akan bercerai dengan Arya.
__ADS_1