Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 57 -


__ADS_3

Hermawan tahu Santi tidak menemui Jessi. Tadi dia menyuruh orang mengikuti Santi, dan ternyata Santi pergi bersama Fano untuk makan malam bersama. Hermawan tidak menyangka putrinya akan seperti itu, diam-diam menemui Fano lagi, padahal statusnya masih suami Arya.


Arya datang mengantarkan Anin pulang, tapi saat Arya akan pamit pulang, Anin malah menangisinya. Akhirnya Arya menemani Anin lebih dulu sampai Santi pulang ke rumah.


“Santi pergi ke mana katanya, Pa?” tanya Arya.


“Di—dia sedang menemui pengacaranya,” jawab Hermawan. Ingin sekali Hermawan menceritakan sebenarnya pada Arya, tapi Hermawan tidak mau masalah yang Santi dan Arya hadapi akan semakin rumit. Tapi, bagaimana pun Santi masih istri Arya, dan Hermawan tidak mau menutupi kesalahan anaknya.


“Oh, dia masih terus meminta pisah ya, Pa?” tanya Arya.


“Kamu yang sabar, papa tidak tahu kenapa dia akhir-akhir ini sering labil perasaannya. Mungkin karena dia kembal bertemu Fano. Tadi sore dia ....”


“Sebentar, ini Fano mantannya Santi? Ayah kandung Anin?” potong Arya.


“Iya, Ar, tadi sore papa sudah curiga, pulang-pulang saat dia tahu Anin dibawa kamu, dia langsung marah dengan mama dan papa. Dia bilang yang berhak atas Anin itu Fano. Ya tiba-tiba dia menyebut nama Fano, orang yang selama ini sudah bikin dia kecewa, dan dia sangat membencinya,” jelas Hermawan. “Tadi papa sempat curiga, dia bilang mau pergi sama pengacaranya, tapi dandanan dia seperti akan menemui seorang yang spesial, makanya papa nyuruh orang buat ikutin Santi.”


Arya hanya diam, dia tidak menyangka Santi akan seperti itu. Itu artinya tidak ada lagi kesempatan untuk kembali bersama Santi.


“Kamu tidak usah khawatir, papa jamin, Santi tidak akan berpaling darimu, tidak akan ada perceraian di antara kalian, asal kalian masih sama-sama saling mencintai,” ujar Hermawan. “Sekarang papa tanya sama kamu, apa kamu mencintai Santi? Atau kamu akan kembali dengan Naira, sesuai dengan permintaan Naira?”


“Aku sangat mencintai Santi, Pa. Sangat.” Jawab Arya dengan lugas.


“Kalau kamu mencintainya, kamu harus yakinkan Santi. Lihat seberapa jauh dia akan menemui lelaki itu,” ujar Hermawan. “Sekarang, papa minta, kamu harus tegas lagi dengan Santi, tinggallah di sini, temani Santi, kalau kamu mencintai Santi, kamu pasti bisa menaklukkan hati Santi.”


“Tapi, mana mungkin Santi mau, Pa?”


“Bilang dengan dia, ini permintaan terakhir kamu sebelum benar-benar berpisah. Kalau tidak, kamu tidak akan menandatangani surat gugatannya,” tutur Hermawan.


“Lalu apa aku harus menandatanganinya?”


“Ya.” jawabnya tegas. “Banyak orang yang akan bercerai akhirnya rujuk. Buat Santi menyesal ketika kamu sudah menandatangani surat gugatan itu. Papa yakin, kamu bisa menaklukkan hati dia lagi. Papa percayakan semuanya padamu. Ikuti apa kata papa. Karena papa tidak mau pernikahan anak papa hancur hanya karena kesalah pahaman yang tak kunjung usai.”


Arya paham dengan apa yang dibicarakan oleh papa mertuanya. Iya benar, dia harus bisa membujuk Santi, dia harus ada di samping Santi sebelum benar-benar bercerai. “Oke, aku akan mulai permainan ini, San. Kamu akan tetap menjadi milikku!” ucap Arya dalam hati.


Arya menuruti apa kata papa mertuanya, dia pun meminta izin pada kedua orang tuanya untuk tetap berada di samping Santi selama proses cerai berjalan. Biar saja, toh dirinya belum menalak Santi sama sekali, kecuali nanti kalau dia sudah menytujui gugatan Santi.


Santi pulang dengan diantar Fano. Fano tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan yang sunyi, karena dari tadi setelah keluar dari restoran mereka berdebat hebat, sama-sama bicara menggunakan otot. Kini Fano menatap lembut Santi, “Aku minta maaf, San,” bisik Fano. Fano memegangi tangan Santi, lalu menciumnya. “Aku ingin melihat Anin, San,” pinta Fano.


“Belum saatnya, Fan,” jawab Santi.


“Kapan?”

__ADS_1


“Aku akan cari waktu.”


“San, aku mohon kembalilah padaku,” mohon Fano dengan sungguh-sungguh.


“Aku belum berani ambil keputusan, Fan.” Jawab Santi dengan perasaan gundah.


Fano menarik lembut tangan Santi, di usapnya pipi Santi dengan lembut. Sentuhannya masih sama seperti dulu, saat bersama dirinya. “Jangan begini, Fan. Aku mohon,”


Di tengah kesnunyian, dan jarang sekali mobil yang berlalu lalang melewati jalan tersebut, Fano dan Santi saling diam membisu. Membiarkan detik-detik berlalu dengan tenang, seperti kabut yang merambat perlahan. Tidak ternoda sepatah kata pun.


Mereka hanya saling menatap, saling mengukur isi hati masing-masing. Dan dalam kesunyian, ternyata cinta bicara lebih indah. Keheningan justru mengungkapkan perasaan yang tak terbatas daripada ribuan kata-kata yang diucapkan.


Perlahan Fano mendekatkan tubuhnya ke arah Santi.  Santi ingin memberontak. Ingin berlari sejauh mungkin, tapi tubuhnya kelu. Fano mengusap pipi Santi, lalu bibir Santi dengan lembut dan penuh gairah.


Santi memalingkan wajahnya, tetapi Fano memutar bahu Santi hingga mau tak mau Santi harus menatap Fani. Jarak mereka semakin dekat. Begitu lekat. Santi bisa menghirup seluruh kekuatan diri Fano yang menghanyutkan, daya pesona lelaki yang gagah dan menaklukkan.


Fano kembali membelai lembut wajah Santi, mengusap leher perempuan itu, lalu turun ke dadanya dengan begitu lembut. Begitu memabukkan, membangkitkan gairah Santi seperti dulu saat bersama Fano. Fano berhasi membuka resleting gaun Santi, di membukannya perlahan, dan Santi hanya pasrah dengan memejamkan matanya. Satu tahun lebih dia berpisah dengan Fano, ternyata tidak menghapus sedikit pun kenangannya terhadap lelaki itu. Bahkan dengan mata tertutup seprti sekarang, ia masih merasakan hal yang sama seperti dulu.


Santi masih begitu hafal desah napa Fano. Aroma tubuhnya yang mengundang gairah hebat. Bau keringatnya yang bercampur dengan parfumnya yang khas seperti dulu. Dan, otot-otot yang keras dan kuat, seperti batu karang yang siap menghujam pantai yang tandus.


Kini bukan hanya jemari Fano saja yang  menyentuh tubuh Santi. Bibirnya pun mulai bermain menjelajahi setiap inci tubuh Santi. Membuat seluruh titik syaraf di sekujur kulitnya berteriak penuh kerinduan.


“Kau Cuma bagian dari masa laluku yang kelam, Fan. Aku tak boleh meraihnya kembali.” Batin Santi menjerit. Namun, Santi malah semakin kuat menutup matanya. “Kenapa? Kenapa semakin aku menolak, justru aku semakin menginginkan Fano untuk berbuat lebih? Sama hebatnya seperti dia menginginkan diriku?” Hasrat Santi terus meronta.


Santi merasakan bagaiama Fano memagut bibirnya dengan gejolak yang dahsyat. Merasakan bagaimana sentuhan lembut bibir Fano di dada dan sekujur tubuhnya. Menggelakan, mencari-cari pelampiasan. Seperti badai gelombang meridukan pantai. Seperti samudra mengamuk dengan ombak yang bergulung-gulung. Menerjang dari tengah lautan lalu pecah berdebur di tepi pantai.


“Aku tak ingin badai ini berakhir, Fan. Badai yang membuatku merasa hidup kembali, badai yang telah mengisi seluruh rongga diriku dengan gairah dan kenikmatan.


Namun, tiba-tiba saja bayangan wajah seseorang menyeruak ke dalam benak Santi. Bayangan yang setiap hari begitu lekat dengan dirinya. Seraut wajah yang begitu dicintainya, dipujanya, dikaguminya.


Bukan. Bukan Fano yang saat ini sedang menjelajahi tubuhnya dengan sentuhan dan kecupan lembut. Bukan Fano yang bertakhta di hatinya lagi. Bukan Fano yang mengisi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan!


“Suamiku lebih berhak atas diriku! Dia yang telah berkorban begitu banyak untuk menyelamatkan diriku  dari kehancuran. Mas Arya, maafkan aku,” batin Santi menangis mengingat Arya. Bagaimana pun Arya masih berhak menyentuhnya, karena Arya masih suaminya.


Santi mendorong tubuh Fano jauh-jauh untuk menghentikan pertarungan di dalam dirinya. Santi terengah-engah merasakan dirinya dilumat kecewa terhadap Fano. Namun, juga cinta dan rindu kepada Arya yang telah lama ia usir dari rumahnya.


“Jalankan mobilnya atau aku turun!” erang Santi dengan penuh kecewa.


“Kenapa, San?”


“Jangan bertanya lagi! Kau harusnya tahu apa jawabannya! Aku ini istri orang, dan kamu milik wanita lain! Stop, Fan! Aku tidak mau mengulang lagi masa kelamku bersama kamu. Kita memang akan berpisah dengan pasangan kita masing-masing, tapi jangan nodai pernikahan yang suci. Cerai dengan baik-baik, lalu jalani hubungan dengan baik-baik lagi bersama siapa pun nantinya! Karena aku tidak berharap sedikit pun kita kembali!” erang Santi dengan penuh kekecewaan. “Jalankan mobilnya atau aku keluar!” teriak Santi

__ADS_1


Fano diam, menuruti kata-kata Santi. Fano tahu Santi begitu kecewa, apalagi dia sampai melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan terhadap Santi. “Maafkan aku, San,” ucap Fano lirih, tapi Santi hanya diam dengan mengusap air matanya


Santi sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya begitu sepi sekali, biasanya jam sepuluh malam papanya masih menonton TV dengan mamanya, tapi ini sudah sepi sekali, dan lampu juga sudah dimatikan semua. Hanya lampu penerang saat malam yang menyala.


“Ma ... Pa ... udah pada tidurkah?” Santi memanggil-manggil mama dan papanya. “Maaf Santi pulang terlambat, karena tadi bertemu dengan teman lama Santi juga,” imbuhnya dengan mengetuk pintu kamar mamanya.


Tidak ada jawaban, Santi membuka pintu kamar mama dan papanya, dan ternyata kosong tidak ada orang sama sekali, padahal mobil papanya ada di luar.


“Ma, Pa? Kok gak ada?” ucap Santi.


Santi keluar dari kamar mamanya. Dia terjingkat saat lampu ruanga menyala dan menampakkan sosok yang ia rindukan tapi gengsi untuk bilang rindu padanya. “Baru pulang, San?” Arya menyambut kepulangan Santi.


“Mas Arya kok di sini?”


“Aku menginap di sini selama beberapa minggu. Papa dan mamamu ada urusan bisnis, mereka menitipkan kamu dan Anin padaku, toh aku masih suamimu, kan? Meski kita mau berpisah?” jawab Arya.


“Terseah! Aku capek!” tukas Santi, lalu langsung  masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu gak marah aku di sini?”


“Marah pun percuma!” jawabnya.


Arya mengekori Santi ke kamar, Santi hanya diam, dia meletakkan tasnya, lalu mengambil  baju tidurnya, dan langsung ke kamar mandi untuk berganti. Ia tidak berani ganti baju di depan Arya. Dia yakin Fano banyak meninggalkan tanda merah di dadanya, dan mungkin di lehernya juga.


Arya merebahkan dirinya di sebelah Anin. Dia mengecup kening Anin dengan sayang, “Ayah sayang sekali sama kamu, meskipun nanti ayah dan ibu tidak sama-sama lagi, ayah tidak akan pernah melupakanmu, Nak. Ayah selamanya akan sayang denganmu,” ucap Arya lirih.


Santi mengusap air mata yang sudah menggenang di sudut matanya saat mendengar Arya bicara seperti itu pada Anin. Arya memang begitu tulus menyayangi dan mencintai Anin, juga dirinya. Santi beranjak naik ke atas tempat tidurnya. Dia tidur di sisi kiri Anin, sedangkan Arya di sisi kanan Anin.


Santi dan Arya saling diam. Santi masih membayangkan tadi kejadian dengan Fano yang sangat memalukan sekali. Harga diri Santi jatuh di depan Fano. Dia padahal masih berstatus istri orang, tapi dia sudah melakukan hal yang semestinya tidak dia lakuka dengan Fano pun masih milik orang lain.


“Kau dari mana, San?” tanya Arya.


“Ehm ... ketemu sama Je—Jessi,” jawabnya gugup.


“Yakin ketemu Jessi? Bukan Fano?”


“Ke—kenapa kamu tiba-tiba bilang Fano?”


“Buka ponselmu, aku kirim foto,” ucap Arya.


Bergegas Santi mengambil ponselnya, lalu ia melihat foto kiriman dari Arya.

__ADS_1


__ADS_2