Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 41 – Belajar Memasak


__ADS_3

Sedangkan Santi, ia di rumah dengan ibu mertuanya dan ditemani dengan mamanya juga. Halimah sering ke rumah Arni untuk melihat putrinya dan cucunya. Ia tidak peduli Hermawan yang selalu mendiaminya di rumah. Sejak Santi melahirkan dia lebih sering di rumah, tidak pernah ke kantor, atau ke rukonya, usahanya ia titipkan pada orang yang ia suruh, kadang Halimah yang menghandlenya, karena ia juga ingin melihat bagaimana perkembangan bisnisnya.


Halimah tahu, Hermawan sangat terpukul dengan Santi yang semakin berontak karena sering diatur hidupnya. Halimah paham, dari kecil santi terlalu dikekang oleh papanya karena sesuatu, karena papanya tidak ingin ada kejadian yang seperti dulu.


“Arni, apa kamu tidak kerepotan ada putriku di sini?” tanya Halimah.


“Kerepotan bagaimana, Halimah? Santi sudah aku anggap seperti anak perempuanku sendiri. Aku sangat menyayanginya,” jawab Arni.


“Terima kasih, kamu sudah mau menerima putriku, meski kamu tahu bagaimana masa lalu putriku,” ucap Halimah.


“Setiap orang pasti punya masa lalu, Halimah. Tidak hanya Santi saja yang memiliki masa lalu kelam. Aku pun sama, pernah memiliki masa lalu kelam dalam hidupku, dan mungkin malah lebih parah dari Santi. Mungkin jika aku tidak bertemu dengan Mas Rozak, aku masih terdiam meratapi masa laluku,” ujar Arni.


“Iya, semua manusia pasti punya masa lalu, Arni. Aku pun sama, tapi ya sudah, kalau hidup kita sudah baik-baik saja, lebih  baik jangan ungkit masa lalu kita, Ar,” cetus Halimah.


“Kita memang harus bangkit, dan tidak boleh larut dalam masa lalu yang kelam. Biar saja masa lalu itu pergi, kita boleh mengingatnya untuk dijadikan sebuah pelajaran, bukan untuk diingat, hingga kita larut di dalamnya, dan selalu meratapi keadaan, padahal kalau kita lakukan hal yang positif dalam hidup, hidup kita akan lebih baik,” tutur Arni.


“Benar sekali, Ar. Aku tidak menyangka Santi akan seperti ini, dan aku tahu itu semua kesalahanku dari awal, karena aku tidak berani membantah Mas Hermawan. Dia yang mengatur segelanya tentang Santi, sejak umur lima tahun, Santis sudah diatur oleh papanya, hingga sekarang maunya Mas Hermawan begitu,” ucap Halimah.


“Iya, Santi sering cerita dengan aku soal papanya yang otoriter, tapi ya aku tidak sepenuhnya menyalahkan papanya Santi, mungkin karena kekhawtirannya pada Santi jadi papanya seperti itu, over protektif, karena Santi perempuan,” ujar Arni.


“Iya kamu benar, Ar,” ucap Halimah.


“Tapi bukan seperti itu tujuan papanya Santi mengekang Santi, itu semua karena papanya Santi tidak mau Santi seperti aku,” batin Halimah.


Santi baru saja dari dapur, mumpung bayinya sedang tidur, dan di kamar ada mama dan ibu mertuanya, Santi belajar memasak dengan asisten di rumah ibu mertuanya. Tidak mungkin Santi berlaku seperti ratu terus, dia makan sudah ada yang menyiapkan, baju sudah ada yang mencuci dan menyetrikakan, dia tinggal duduk manis saja di rumah, hanya mengurus bayinya saja, karena di rumah sudah ada asisten sendiri-sendiri. Bagian masak ada sendiri, nyuci ada sendiri, nyapu dan ngepel ada sendiri, pun tukang kebun juga ada sendiri. Ya rumah Arya tergolong sangat mewah dan hanya dihuni ibu dan bapaknya Arya, juga Arya,  malah di rumah kebanyakan asisten, daripada penghuninya.


“Mbak Santi duduk saja, sudah nanti kalau di sini dimarahin ibu lho?” ujar juru masak di rumah Arya.


“Ah mbak ini, aku juga pengin bisa masak, Mbak. Setidaknya perempuan harus bisa lah masak, dikit-dikit. Ya meski hanya masak nasi. Jujur aku belum bisa masak nasi, takarannya aku kurang pas. Waktu di pekalongan, takarannya juga kebanyakan air, jadi lembek kek bubur nasinya, terus yang kedua malah kurang air, eh nasinya keras, ngepyur gitu masih kayak beras,” jelas Santi dnegan terkekeh. “Ajari dong mbak biar bisa pas takarannya,” pinta Santi.


“Ya sudah, mumpung ini baru mau masak nasi, saya ajari mbak deh,” ucapnya mengiyakan permintaan Santi.


“Oke, ini bagaimana?”


“Mbak ambil beras dua gelas takar yang di dalam tempat beras, lalu taruh di sini, terus cuci.”


“Kalau cuci beras aku sudah bisa mbak, ini aku cuci, ya?”


“Setelah selesai, mbak taruh di sini, dan kasih air bersih yang ada di tampungan itu, ukur satu ruas jari lebih, soalnya beras ini agak suka air, jadi takaran airnya harus lebih satu ruas jari, kita juga harus kenali beras yang mau kita masak dulu, Mbak. Ada yang beras yang gak suka airnya kebanyakan, jadi lembek kalau kebanyakan air, kalau ini agak di lebihin dikit airnya, kalau gak nanti nasinya agak keras,” tutur juru masak tersebut.


“Oh jadi harus kenalan sama berasnya dulu ya, Mbak?”


“Iya, harus kenalin berasnya bagaimana,” jawabnya.


“Ya sudah, yuk kenalan, aku Santi, kamu siapa? Suka air gak?” ucap Santi dengan menatap berasnya ramah sebelum menuangkan air ke dalam beras.


“Bukan begitu,  Mbak? Mbak ini lucu dan kocak juga, aku kira Mbak galak sekali.”


“Ya Tuhan ... mbak ih su’udzon bener deh sama aku?” ucap Santi. “Ini sudah ya kenalannya? Aku tuang ya, Mbak?”


“Iya tuang saja, mbak airnya, ukur satu ruas jari telunjuk lebih,” tuturnya.


Santi ikuti petunjuk dari juru masak di rumah mertuanya itu. Lalu ia taruh di alat penanak nasi, dan menutupnya, lalu menyalakannya sesuai dengan petunjuk.

__ADS_1


“Mbak mau masak apa?” tanya Santi.


“Sayur asam, goreng tempe, sama pecak ikan irisan. Ini menu kesukaan Mas Arya dan bapak, pokoknya kalau siang harus ada menu ini, Mbak,” jawabnya.


“Boleh dong aku belajar, biar aku bisa,” pinta Santi.


“Mbak, nanti dedek bayinya bangun gimana? Nanti ibu marah lho lihat mbak di sini?” ujarnya.


“Sudah gak apa-apa, Mbak. Anin baru saja menyusu kok, masa mau bangun lagi? Ada eyang utinya juga, jadi gak apa-apa,” ucap Santi.


“Ya sudah deh, sini belajar masak.” Ucap Hani sang juru masak, yang menyerah karena Santi memaksanya.


Santi memerhatikan apa yang Hani ajarkan, ia sangat antusias belajar memasak, dan ternyata memasak sangat menyenangkan sekali. Santi mengiris-iris sayurannya, dan menyiapkan bumbunya. Ia ingat-ingat bumbu yang digunakan untuk memasak. Ia sedikit demi sedikit belajar untuk menjadi istri yang terbaik untuk Arya.


“Sudah coba koreksi rasanya, Mbak,” ucap Hani. Santi mengambil sendok, lalu mengambil kuah sayurnya sedikit, dan mengoreksi rasanya.”Kayaknya kurang asin dikit, Mbak. Asemnya udah pas,” ucap Santi.


“Coba saya cicipi juga,” ucap Hani. Hani mencicipinya, dan benar, kurang asin sedikit. “Coba mbak ambil garam sepucuk sendok takar saja,” titah Hani.


Santi menambahkan garam sesuai petunjuk Hani, lalu ia koreksi lagi rasa sayurnya. “Hmmm ... ini sudah pas sepertinya, coba deh mbak Hani koreksi,” ucapnya lalu meminta Hani mencicipi lagi.


“Oke, rasanya pas,” ucap Hani. “Itu mbak bisa masak? Bilangnya tidak bisa?” ucap Hani.


“Kan ini tadi juga aku nurut apa kata mbak? Resepnya dari mbak, aku tinggal ikuti instruksi mbak saja?” jawab Santi.


“Sama saja, Mbak, ini juga mbak yang masak. Biasanya ada yang ikuti cara saya, dia hanya menuruti apa yang saya tuturkan, hasilnya tidak sesuai, tapi ini enak sekali, Mbak, segarnya dapat, cocok seperti yang saya masak biasanya,” ucap Hani.


“Lalu habis ini apalagi, Mbak?” tanya Santi.


“Bumbunya?”


“Kalau ini yang simple saja mbak, pakai bumbu racik yang beli saja, gak usah bikin, paling ditambah garam sedikit sama bumbu kaldu saja,” jawabnya.


“Takarannya?” tanya Santi.


“Sebetulnya sesuai selera, tapi kalau saya ini kan mau gorengnya dua papan tempe, ya bumbunya satu bungkus, tambah garang satu sendok teh, sama kaldu bubuk setengah sendok teh, lalu kasih air, tempenya irisnya, terus dimarinasi sebentar,” jelasnya.


“Oke, sini aku bisa,” ucap Santi.


Santi menyiapkan bumbu sesuai dengan yang Hani ajarkan tadi, “begini kan, Mbak?” tanyanya.


“Iya betul,” jawabnya. “Airnya jangan terlalu kebanyakan, Mbak,” ujar Hani,


Santi melanjutkan memarinasi tempe, setelah selesia, ia melanjutkan menggoreng ikan irisan, dan membuat sambal untuk pecak ikan. Dia belajar menggoreng ikan yang kadang meletup-letup minyaknya, tapi Santi berusaha tenang tidak heboh dan takut, paling kadang kala ia sedikit menjauh. Ia lalu mengulek sambal untuk pecak ikan yang sudah ia goreng tadi.


“Mbak koreksi sambalnya dong?” pinta Santi pada Hani. Hani mencolek sambal dengan tempe goreng, dan hasilnya sangat pas.


“Enak, pas, mbak cepat sekali nih langsung lolos praktiknya,” puji Hani.


“Ini juga bumbu yang ngajarin mbak? Gak tahu nanti kalau masak sendiri,” jawab Santi.


“Ini sudah siap semua, kan? Oh iya nasinya sudah matang, kan?”


“Iya, sudah siap semua, nasinya juga sudah matang, nasinya hasilnya bagus, gak lembek, dan gak keras,” jawab Hani.

__ADS_1


“Aku tata di meja makan, ya? Itu sudah mau jam makan siang,” ucap Santi.


“Iya, sini aku bantu, Mbak.”


Santi menata makan siang dibantu dengan Hani. Arni keluar mencari Santi yang dari tadi tidak masuk ke kemar, untung saja Anin tidak bangun, dan tidak rewel, jadi Arni melupakan Santi yang lama ke belakang menaruh gelas kotor dari kamarnya.


“Ini kamu kok nata makanan, San? Ibu tungguin dari tadi sama mamamu, gak nongol-nongol malah di sini nata makanan?” ucap Arni.


“Bu, ada koki baru lho?” ucap Hani.


“Maksudmu koki baru bagaimana, Han?” tanya Arni.


“Nah ini mbak Santi kokinya?” jawab Hani.


“Kamu masak, San? Ibu kan bilang, gak usah bisa masak pun tidak apa-apa, Santi? Kamu itu fokus sama Anin saja, kalau begini kan tubuh kamu bau masakan, bau ikan, bau terasi?” ucap Arni.


“Ih ibu, apa salahnya latihan masak, Bu? Ya meski sedikit-sedikit bisanya,” jawab Santi.


“Ibu gak mau cicipi masakanku?”


“Coba ibu cicipi, kamu itu sudah dibilangin kamu duduk santai saja. Ibu tidak butuh menantu yang bisa memasak, ibu butuh menantu yang mencintai anak ibu, dan mencintai anak-anaknya,” cetus Arni, lalu mencicipi masakan Santi. “Tapi, kamu pintar juga memasak? Sayurnya pas, ikan irisannya juga pas sekali sambalnya, gak terlalu pedas,” puji Arni.


“Ih ibu, makasih atas pujiannya, ya sudah Santi ganti baju dulu, kasihan Anin kalau mau menyusu nanti bau asem, bau terasi, dan bau ikan,” ucap Santi lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Arni menggelangkan kepalanya. Sudah berkali-kali dirinya melarang Santi untuk memasak, sekarang dia kecolongan, menantunya belajar memasak juga, dan masakannya juga tidak buruk, cocok di lidahnya.


“Pandai masak juga menantuku,” puji Arni lirih, lalu mengambil sepoton tempe goreng, dan memakannya.


Santi masuk ke dalam kamarnya, dia melihat mamanya sedang menggendong Anin, karena tadi terbangun. Halimah kira Anin ingin menyusu, ternyata setelah digendong, malah tidur lagi.


“Kamu ini dari mana, San? Lama sekali mama dan ibumu menunggu?” tanya Halimah.


“Santi masak, Ma. Nanti makan siang bareng ya, Ma? Nunggu Mas Arya dan bapak pulang. Mama pulang nanti sore, kan? Atau menginap?” tanya Santi.


“Nanti sore saja pulang, kalau menginap papamu ngamuk nanti, ya meski sering mendiami mama, papamu suka ngamuk kalau mama kelamaan keluar,” jawab Halimah.


“Ya sudah Santi bersih-bersih dulu, sama ganti baju, Ma,” pamit Santi, lalu ke kamar mandi.


Setelah selesai bersih-bersih dan ganti baju, Santi mengmbil ponselnya, lalu memotret masakan di meja makan dan potret itu dikirimkan ke kontak suaminya.


“Makan siang di rumah ya, Mas? Aku sudah masak.” Tulis pesannya di bawah gambar yang ia kirim pada Arya.


Arya yang sedang di kantor, dan habis rapat, kebetulan dia juga akan pulang karena sudah lapar, dia melihat pesan dari istrinya.


“Dia kirim gambar apa ini? Mungkin foto Anin dengan dirinya?” ucap Arya lalu membuka foto yang Santi kirimkan.


“Dia memasak? Bisa memangnya?” ucapnya dengan tersenyum bangga.


“Wah ... sedap sekali sepertinya. Aku pulang sekarang, jadi kangen kamu sama Anin, dan ingin cepat-cepat menikmati masakan istri tercinta.” Tulisnya membalas pesan dari Santi.


Arya juga merepost fotonya ke story whatsappnya. Dengan caption, masakan istri selalu bikin kangen. Dan, tiba-tiba nomor yang ia kenal mengomentari foto yang Arya post.


“Istri sementara saja, kan? Heran dengan kamu, Ar, dia itu perempuan kotor tapi kamu nikahi! Kurang apa aku ini, Ar?” ~ Naira.

__ADS_1


__ADS_2