Akhir Kisah Dua Semester

Akhir Kisah Dua Semester
Chapter 38 – Membeli Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Santi menatap mamanya dengan tatapan sendu. “Do’ain ya, Ma? Supaya pernikahan Santi langgeng?” ucapnya lalu memeluk mamanya.


“Itu pasti, Nak. Do’a mama selalu menyertai kalian,” jawab Halimah.


Halimah mengusap kepala Santi dengan lembut. Rindunya sudah tercurahkan meski hanya sebentar saja, karena Santi tidak mungkin akan tinggal di rumahnya lagi.


“Satu yang mama ingin sampaikan padamu, bahwa rumah tangga itu tidak perkara soal mencintai atau tidak mencintai. Rumah tangga itu saling melengkapi sesama pasangan, jangan egois dan mau menang sendiri. Kamu sebagai istri, kamu harus bisa menjaga nama baik suamimu, dan kehormatan dirimu sebagai seorang istri. Apalagi kamu akan menjadi seorang ibu, tentunya akan menjadi guru untuk anak-anakmu kelak. Ibu adalah guru yang paling utama untuk anak. Mama ini sudah gagal menjadi seorang ibu, papamu terlalu berkuasa di atas segalanya, hingga mama hanya bisa diam saat anak perempuan mama terkekang oleh papanya,” tutur Halimah.


“Iya, Ma. Santi akan ingat pesan mama ini. Mama jangan pernah merasa gagal menjadi seorang ibu. Mama adalah ibu terbaikku. Terima kasih, mama masih mau menerimaku, meski aku selalu mengecewakan mama,” ucap Santi.


Halimah kembali memeluk Santi, lalu mengusap perut Santi. “Nanti kalau mau melahirkan kabari mama,” ucap Halimah.


“Itu pasti, Ma,” ucap Santi.


“Kamu tinggal dengan ibunya Arya?” tanya Halimah.


“Iya, tinggal bareng ibu dan bapak. Mereka sangat baik, Ma,” jawab Santi.


“Pasti mereka orang-orang yang baik, Arya saja sangat baik.”


“Bu, Santi pamit, ya?” pamit Santi.


“Sebetulnya mama ingin kamu tinggal di sini, San. Tapi mama takut kalau papamu masih seperti itu, yang ada nanti malah kandunganmu ada apa-apa kalau di sini. Papamu masih belum bisa menerima kamu yang pergi saat mau menikah dengan lelaki yang papamu pilihkan,” ucap Halimah.


“Sudah, yang penting Santi setiap hari bisa komunikasi  dengan mama, itu lebih dari cukup, Ma. Izinkan Santi ikut dengan suami Santi. Arya baik, Ma. Sangat baik,” ucap Santi.


“Iya dia sangat baik, kamu beruntung menikah dengannya,” ucap Halimah. “Oh iya, San. Selama kamu pergi, mamalah yang diam-diam mengurus salon dan butik kamu. Mama titipkan dengan Asti untuk salon kamu, dan Tina untuk butik kamu. Mereka yang mama percaya untuk mengurus usahamu, mereka melaporkan pada mama lewat email, dan uang dari usahamu mama simpan sendiri di sini. Ini kartunya, selama kamu pergi salon dan butik kamu berjalan, tidak ada hambatan. Sekarang kamu sudah pulang, kamu bisa tengok usahamu.”


“Terima kasih ya, Ma,” ucap Santi dengan memeluk mamanya.


Meski Hermawan melarang Halimah untuk membantu mengurus usaha Santi, Halimah tidak kehabisan akal, dia tetap menghandle semua usaha Santi bagaimana pun caranya.


Arya dan Santi pamit untuk pulang. “Bu Arya pamit, ya?” ucap Arya.


“Iya, Arya. Hati-hati, ya? Titip Santi. Kalau ada  apa-apa dengan Santi, bilang sama mama,” ucap Halimah.

__ADS_1


“Iya, bu,” jawab Arya.


“Santi memanggil saya mama, masa menantu mama memanggilnya ibu?” protes Halimah.


“Ah iya, Ma,” ucap Arya.


Halimah melihat mereka sampai mobil mereka hilang dari pandangannya. Ada yang hilang saat Santi kembali pulang ke rumah suaminya. Rasanya Halimah masih ingin bersama Santi, pertemuan hari ini terasa sangat singkat sekali menurut Halimah.


Halimah masuk ke dalam rumahnya, dan langsung menuju kamarnya. Ia melihat suaminya yang sedang duduk memunggui dirinya. Mengetahui istrinya sudah masuk ke dalam kamar, Hermawan beranjak dari tempat tidurnya, dia menghadap, menatap Halimah dengan tatapan tajam, “apa anak pembangkang kamu sudah pergi dari sini?!” desis Hermawan penuh amarah.


“Dia anak yang baik, dia hanya korban keegoisanmu, Her!” erang Halimah dengan penuh amarah. “Kalau kau tidak mengekangnya, mengatur setiap apa yang ia lakukan, dia tidak akan berontak seperti itu, Her!” desis Halimah dengan penuh kepedihan mengingat suaminya yang terlalu egois mengekang Santi.


“Aku melakukannya demi kebaikannya, supaya tidak seperti kamu!” teriak Hermawan tepat di depan wajah Halimah.


“Kau tidak sadar, kenapa aku seperti itu, Her? Harusnya kau sadar!” pekik Halimah dengan penuh penekanan.


“Kau sama saja, seperti putrimu, wanita yang tidak tahu diuntung!” erang Hermawan.


“Ya, kau pun sama, suami yang tidak tahu terima kasih, suami yang egois, dan seorang papa yang egois!”


“Kau berani bicara seperti itu padaku? Apa kau mau aku usir dari rumah ini?”


“Menghargai? Harusnya dari dulu kamu menerapkan  rasa menghargai itu pada suamimu, Halimah!”


Halimah tidak peduli dengan ucapan suaminya. Dia membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil beberapa setel pakaiannya dan menatanya ke dalam koper.


Hermawan hanya melihat istrinya yang sedang menata pakaiannya ke dalam koper. Ia tidak habis pikir sampai mengusir Halimah dari rumahnya. Ucapannya sudah terlanjur melantun dan Halimah pun memenuhi ucapannya untuk pergi dari rumahnya.


“Semoga kamu menyesal atas apa yang kamu perbuat selama ini, Mas Hermawan yang terhormat!” ucap Halimah sebelum meningalkan rumahnya.


“Letakkan kopermu, Halimah!” teriak Hermawan.


“Kenapa? Takut aku akan meninggalkamu, Hermawan? Kalau aku mau, dari dulu aku meninggalkanmu, Her!” jawab Halimah. “Kamu sudah menyuruh aku pergi, aku akan pergi sekarang! Tidak usah kau cari aku!” Halimah langsung pergi dari rumahnya. Ia tidak peduli lagi ancaman suaminya, yang terpenting adalah dia akan bebas menemui Santi setelah pergi dari rumah suaminya.


Halimah menyeka air matanya. Ia juga sebetulnya tidak ingin meninggalkan suaminya, tapi suaminya sudah mengusir dirinya. “Semua ini berawal dariku, iya terjadinya hal seperti ini juga awalnya dariku. Aku yang salah. Hermawan tidak akan seotoriter itu pada Santi jika awalnya bukan aku yang mulai,” batin Halimah.

__ADS_1


Halimah memesan taksi. Ia memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, ia pun tidak memberitahukan pada Santi dulu kalau dirinya pergi dari rumah. Ia tidak mau membuat Santi panik, dan akhirnya berimbas pada kandungannya.


Sedangkan Hermawan, dia terpekur sendiri. Ia menatap foto pernikahannya yang ia pajang di dinding. Hermawan meneteskan air matanya. Ia tidak habis pikir sampai mengusir Halimah dari rumahnya.


^^^


Santi meminta Arya untuk mengantarkan ke butik dan salon miliknya. Arya menurutinya apalagi hari ini dia free. Arya mengantar Santi ke salonnya lebih dulu. Santi menatap Salon yang ia bangun dari nol hasil dari jerih payahnya sendiri saat menjadi model. Santi melihatnya dari dalam mobil, lalu ia tersenyum bangga dan haru melihat Salonnya sedang ramai pengunjung.


“Aku tidak menyangka usahaku ini akan seramai ini, dan karyawanku juga masih setia semua untuk mengurus usahaku,” ucap Santi.


“Kalau kamu selalu menanam kebaikan pada orang lain, pasti kamu dapat feedback yang baik juga dari orang itu,” tutur Arya.


“Iya benar apa katamu, Ar,” jawab Santi.


“Ayo turun?” ajak Arya.


“Ar, aku rasa nanti saja kalau sepi aku masuknya,” jawab Santi.


“Kenapa?” tanya Arya.


“Masih banyak orang, kalau aku masuk, pasti semuanya masih sibuk. Besok saja deh,” jawab Santi.


“Oh ya sudah besok saja. Ini mau ke mana lagi?” tanya Arya.


“Ke butik yuk? Aku Cuma lihat saja dari depan, masuknya nanti, kapan-kapan saja, lalu habis itu kita makan yuk, Ar? Aku pengin makan bakso,” pinta Santi.


“Oke, kita ke butik dulu, lalu makan bakso,” jawab Arya dengan semangat.


Arya tahu kenapa Santi tidak mau masuk ke dalam Salonnya. Itu semua karena ia tidak mau orang lain melihat keadaannya, dan tidak mau salonnya tiba-tiba sepi karena kehadirannya. Bagi Arya, mau Santi seperti apa, itu tidak pengaruh bagi Arya. Bahkan dirinya ingin sekali mengenalkan Santi pada semua karyawan kantornya, tapi Santi masih belum mau dikenalkan pada semua karyawannya di kantor Arya.


Pulang dari makan bakso, Arya mengajar Santi ke mall untuk belanja perlengkapan bayi. “Ke mall yuk? Cari perlengkapan bayi buat anak kita?” ajak Arya.


“Ehm ... oke, kita ke sana,” jawab Santi.


Sesampainya di mall, Arya mengambil troli lalu dia mendorong troli dari lorong ke  lorong untuk mengambil perlengkapan bayi dari mulai popok, selimut, baju, celana, baju hangat, bedong, kaos kaki, sepatu, dan perlengkapan bayi lainnya. Arya malah yang sibuk memilihkan ia bahagai sekali sebentar lagi akan menjadi ayah, meski bayi yang dikandung Santi bukan darah dagingnya.

__ADS_1


Santi sampai termangu memandangnya. Bingung tapi juga terharu. Beginikah rasanya didampingi seorang suami? Berdebar-debar menantikan kehadiran sang buah hati. Mesra, hangat, bahagia adalah perasaan-perasaan yang Santi alami setiap kali berada di sisi Arya.


“Tuhan, seandainya saja Arya bisa mencintaiku, dan seandainya tidak ada perjanjian dua semester itu, aku mungkin wanita yang paling bahagia memiliki suami seperti Arya. Menjadi istri sementaranya saja aku sudah sebahagia ini,” batin Santi.


__ADS_2