Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Membuat Kenangan


__ADS_3

"Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita." - Fiersa Besari


Aisyah terus tersenyum menatap ponselnya, pesan dari sang kekasih membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Hal itu membuat Ashila berdecak sebal.


"Gilak ya! Orang jatuh cinta kaya orang kaga waras semua! Belanja cuuuyyy belanjaaaaaa!" omel Ashila sambil mendorong trolley di Supermarket.


"Aciiilll...! Gue lagi happy banget, Mas Arya ngajakin gue foto studio! Aaaaaaahhhh, gue happy...!" antusias Aisyah namun di hiraukan oleh Ashila.


"Serah elu dah, Ais! Yang penting lu bahagia.. Apapun itu lakuin lah! Buat kenangan sebanyak mungkin, karena setiap kenangan merupakan sebuah pelajaran berharga," ucap Ashila yang tiba-tiba saja menjadi sendu.


Tak ingin membuat mood Ashila hancur, akhirnya Aisyah menyimpan ponselnya dan kembali berbelanja bersama. Mereka membeli kebutuhan dapur dan juga kebutuhan mereka pribadi. Ini adalah hari jum'at, maka mereka membeli berbagai macam camilan untuk hari libur selama 2 hari esok.


Selesai berbelanja, Aisyah dan Ashila kembali pulang. Alangkah kagetnya mereka melihat dokter Andra sedang tertidur pulas di ruang tamu bersama Bu Halimah. Meskipun keduanya tertidur di sofa yang berbeda tetap saja hal itu mengundang tanya.


"Buu.. Bangun, Bu!" bisik Aisyah membangunkan Bu Halimah.


BRAAAAAKKKKKK


"KUTU KUPREEET!" teriak Bu Halimah.


"AYAM KAMPUSSS!" teriak dokter Andra.


Keduanya terbangun karena tersentak kaget, karena Ashila membuka pintu dengan sangat kencang. Ashila menatap Bu Halimah dan dokter Andra bergantian.


"Astaghfirullah, Acil! Kamu ngagetin Ibu aja sih!" omel Bu Halimah.


"Mohon maaf nih ye, Mak Hajiiii...! Acil lebih kaget! Buset dah diruang tamu ujan-ujan pada tidur bedua-duaan.. Ni pintu ngebuka Mak Haji, untung kagak di grebek Pak Yanto noh hansip yang jaga depan jalan!" omel Ashila membuat Bu Halimah membulatkan matanya.


Bu Halimah menoleh pada dokter Andra yang terlihat sangat linglung. "Lho! Dokter Andra ngapain masih disini? Saya kira dokter udah pulang!"


"Tadi saya mau pulang, tapi karena masih hujan ya saya nunggu disini. Lagian si Riki juga belom turun itu!" ucap dokter Andra membuat Aisyah dan Ashila berlari ke lantai 2, dimana kamar Nabila berada.


Benar saja, Riki masih terlelap menggenggam erat tangan Nabila. Ponselnya berkali-kali berdering, namun dia belum juga bangun dari tidurnya.


"Ck! Ditinggal kerja kenape pada ngelunjak sih! Ahh elah!" Ashila hendak membuka pintu secara kasar kembali, tapi di tahan oleh Aisyah.


"Pelan-pelan, Cil! Jangan di biasain kaya gitu, mungkin mereka sama-sama lelah menghadapi kenyataan yang ternyata sangat amat menyakitkan," ucap Aisyah menasehati.


Bu Halimah membangunkan Riki, karena kini sudah jam 7 malam. "Nak Riki.. Bangun.. Sudah malam, kamu harus pulang!"


Riki mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat. Kepalanya terasa berputar, dia mencoba bangun tapi hampir saja rubuh. Untung dokter Andra datang dan menahan tubuh Riki yang tinggi.


"Badannya demam, biar saya bawa ke Rumah Sakit aja!" ucap dokter Andra. Aisyah dan Ashila membantu dokter Andra membukakan pintu mobilnya.


"Saya titip mobil Riki, nanti mungkin ada yang ngambil kesini!" Ashila menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Aisyah membangunkan Nabila, karena dia belum makan lagi sejak siang tadi. "Bibil.. Bangun.. Makan dulu yuk.."


Nabila membuka matanya, genggaman tangannya terasa kosong. Padahal tadi, dia merasakan genggaman hangat itu. Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja.


"Bil.. Udah ya, makan dulu yuk.. Jangan dulu pikirin apapun ya.." bujuk Aisyah.


"Gue kesiksa, Ais.. Kenapa semuanya harus kaya gini? Gue kangen dia, rasa ini tetap sama. Walaupun bertahun-tahun dia tinggalin gue.. Tapi gue tetep sayang dia.. Gue minta dia pergi dari hidup gue, tapi dia bilang mau perjuangin gue.." isak Nabila.


"Udah.. Udah.. Sekarang jangan pikirin apapun dulu. Please ya, Bil.. Nurut.. Kalo A Farhan tau, dia bisa langsung kesini. Jawaban apa yang bakalan lu kasih, kalo dia liat kondisi lu sekarang ini?" pertanyaan Aisyah membuat Nabila menahan sekuat tenaga airmatanya.


Usai makan dan minum obat, Nabila kembali tertidur. Aisyah dan Ashila pun kembali ke kamar untuk beristirahat.


* * *


Pagi harinya, Ashila dikejutkan kedatangan laki-laki menyebalkan tempo hari. Dia adalah Defri, junior dari Riki yang akan mengambil mobil.


"Astaghfirulloh, pagi-pagi udah disamperin makhluk macam ini!" gumam Ashila.


Ashila menatap Defri, sepertinya lelaki itu cukup tampan. Hanya saja sangat menyebalkan dimata Ashila. Dia sama sekali tidak menyapa Ashila seperti biasanya, bahkan terkesan sangat cuek. Usai Bu Halimah memberikan kunci mobil, dia pun pergi begitu saja.


"Bu.. Dia siapanya si Bang Riki?" tanya Ashila.


"K.E.P.O" jawab Bu Halimah, lalu dia masuk kedalam rumah.


"Mo kemana neh.. Cantik benerrr..." goda Ashila.


"Mau ketemu ayank dongggg...! Emang situ dirumah doang," ledek Aisyah.


"Udah deh sono berangkat, daripada godain orang mulu!" omel Ashila.


Akhirnya Aisyah pun berangkat menuju Kodam 3 Siliwangi, dimana Arya bertugas. Karena Arya belum memiliki kendaraan disana, maka mereka akan pergi menggunakan motor Aisyah. Sesampainya di gerbang masuk, Aisyah melihat Arya dengan gagahnya berdiri menggunakan seragam lorengnya.


'Masya Allah, calon imamku...' batin Aisyah terpesona.


"Kenapa? Mas ganteng ya? Sayang sampe gak ngedip gitu!" goda Arya membuat Aisyah terkesiap.


"Apa sih, Mas?!" pipi Aisyah merona karena malu.


Kini Aisyah berada dalam boncengan Arya, dia melajukan motor sepelan mungkin. Karena dia ingin membuat kenangan-kenangan indah bersama Aisyah. Walaupun dia tau, bahwa keduanya mungkin tidak akan pernah bisa bersama sesuai impian keduanya.


"Ada angin apa Mas tiba-tiba ajak Ais foto studio?" tanya Aisyah.


"Sayang keberatan?" Arya bertanya kembali, Aisyah menggelengkan kepalanya. Dia mendekap Arya dengan sangat erat.


"Mas pengen banyak buat kenangan indah sama kamu, sayang. Selama ini kan kita jauh, belum pernah mengukir kenangan bersama. Maka mulai hari ini, Mas akan banyak mengukir kenangan sama kamu. Kenangan indah yang akan selalu kita kenang seumur hidup," Arya mengelus lengan Aisyah yg kini memeluknya.

__ADS_1


Mereka sampai di The Blits self foto studio. Disana tak ada kameramen, karena mereka sendiri yang akan menjadi fotografernya. Dan hal itu sengaja dipilih Arya, karena rasanya akan terasa canggung jika terlalu banyak permintaan untuk berfoto.


Keduanya tampak serasi, Arya dengan seragam loreng nya yang membuat dirinyanterlihat sangat gagah. Juga Aisyah yang menggunakan baju berwarna hijau army. Banyak sekali pose yang mereka lakukan. Aisyah terlihat sangat bahagia hari itu.


'Apakah kamu akan tetap bahagia seperti ini, saat mengetahui hal yang sesungguhnya?' batin Arya, saat menatap Aisyah yang begitu antusias memilih foto untuk dicetak.


"Mas Arya, pilih dong! Yang mana aja yang mau dicetak?" rengek Aisyah dengan manja.


"Cetak aja semuanya sayang.. Biar kenangan kita ga akan pernah ada yang terlewatkan," Arya mengusap kepala Aisyah dengan lembut.


"Makasih ya, Mas Arya. Hari ini aku bahagiaaaaa banget!"


"Sama-sama sayang, Mas juga bahagia. Sangat bahagia..."


Keduanya menghabiskan waktu bersama. Usai berfoto mereka membeli jajanan street food didekat Taman Kota. Sambil menikmati cakue dan lumpia basah, mereka saling bercerita dan bercanda tawa. Hingga waktu shalat dzuhur tiba, Aisyah mengajak Arya untuk melakukan shalat dzuhur terlebih dahulu.


"Mas, kita cari mesjid dulu ya! Setelah sholat baru kita cari makan siang," pinta Aisyah.


"I-iya sayang!" gugup Arya.


Mesjid Al Ukhuwah, menjadi saksi dua anak manusia yang saling mencinta namun terhalang tembok yang begitu tinggi.. Tembok yang mungkin tak ada satu pun dari mereka yang mampu melewatinya.


Aisyah sudah selesai sholat, dia berniat menunggu Arya di parkiran. Hanya saja, laki-laki itu sudah berada disana.


"Mas, lama nunggu ya? Maaf.. Aku kelamaan berdo'anya.." lirih Aisyah.


"Gak apa-apa sayang, emang kamu do'ain apa sih?" tanya Arya menggodanya.


"Do'a semoga hubungan kita segera di halalkan lah, Mas! Karena buat aku, itu aamiinku yang paling serius."


Wajah Arya memaksakan senyumannya, "Aamiin sayang, semoga do'a mu sampai ke langit."


Setiap kisah memiliki ujiannya masing-masing. Dan ujian yang akan dilewati oleh Aisyah dan juga Arya mungkin jauh lebih berat. Tapi bagi Arya saat ini, dia ingin membuat berbagai kenangan indah bersama perempuan yang amat sangat dia cintai.


"Besok kan hari minggu, temani Mas lari pagi ya.. Persiapan binsik Mas minggu depan," pinta Arya dan Aisyah menganggukkan kepalanya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2