
"Terkadang kita dikuatkan oleh ujian-ujian yang hebat, mulai dari kehilangan orang tua, pasangan, sahabat dan banyak hal lainnya. Dan Allah letakkan kita pada situasi yang membuat hidup kita seakan ingin menyerah, hidup menjadi hancur berantakan. Namun itu semua bukan karena Allah ingin melihat hidupmu hancur. Itu semua karena Allah yau mana yang terbaik untuk umatnya. Allah tahu rahasia dibalik sebuah kesabaran dan Allah lebih tahu nilai kecil dan besar dari sebuah keikhlasan.."
"Maka dari itu, ikhlaslah dalam menerima ketetapan dari-Nya. Bermuhasabahlah agar kita semakin bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Hidupkan kembali hati, mulailah untuk lebih mencintai dirimu. Dan belajarlah menjadi seorang hamba yang baik hari demi hari. Jangan sampai cintamu untuk manusia, melebihi cintamu terhadap Allah Sang Maha Pencipta.."
Semua nasihat-nasihat baik, selalu Pak Saepudin dan Bu Fatimah ucapkan pada Aisyah. Mereka berharap, Aisyah tidak akan terus berlarut dalam kesedihannya.
"Nak.. Makan dulu, ya! Ini Ibu tadi beliin pecel lele favorite kamu," Bu Halimah mencoba membujuk Aisyah, karena dia belum makan apapun sejak kejadian itu.
"Pecel lele.. Ini favorite Mas Arya, Bu.. Bukan favorite Ais.." lirih Aisyah kembali terisak, namun dia memakan pecel lele itu dengan lahap.
"Lihat Mas.. Bahkan aku tidak pernah lupa makanan favoritr kamu," ucapan Aisyah membuat mereka tak tahan lagi untuk membendung air mata.
Lain hal nya dengan Ashila dan juga Nabila, kini mereka berada di Alunara kost dan para Ayah mereka pun akan menginap disana. Farhan pun berbincang cukup serius dengan sang calon mertua.
"Farhan minta maaf sama Bapak, kalo Farhan sedikit mengabaikan Nabila.. Tapi Farhan lakukan semua itu demi masa depan kami, Pak! Bukan semata karena Farhan tidak memprioritaskan Nabila.." lirih Farhan, namun terdapat ketegasan didalamnya.
Pak Arifin menghela nafasnya, "Sebenarnya perempuan itu hanya perlu di yakinkan, apapun itu yang mengganggu pikirannya, Nak Farhan. Yakinkan saja Nabila, bahwa kamu sedang memperjuangkan masa depan kalian. Dan yakinkan dia bahwa tidak akan pernah ada hal buruk yang akan terjadi dalam kehidupan kalian.."
"Farhan udah terus meyakinkan Nabila, Pak.. Tapi terakhir kali, kami bertengkar di telepon. Nabila marah dan merasa jika Farhan gak peduli, padahal Farhan juga lelah Pak.."
"Jangan pernah tinggikan suaramu! Jika dia marah, dengarkan saja! Karena saat dia marah dan mengeluarkan keluh kesahnya, sebenarnya kamu sedang mendengarkan isi hatinya! Bukan semata-mata karena amarahnya! Yakinkan dia dengan sebaik-baiknya caramu! Dia saya besarkan dengan penuh kasih sayang, jika kamu tidak bisa memperlakukan dia dengan baik maka tinggalkan!" tegas Pak Arifin membuat Farhan terdiam.
Nabila yang hendak memberikan minuman pun terdiam membisu. Dia tidak berani mendekat atau pun pergi. Hatinya begitu terluka, karena memang akhir-akhir ini Farhan jarang memberi kabar. Sekalinya menghubungi, mereka selalu berdebat.
"Tadi.. Farhan lihat Nabila memeluk erat laki-laki lain. Farhan diam, karena Farhan gak mau kehilangan Nabila, Pak. Farhan sedang berjuang untuk dia.." lirih Farhan.
"Bapak tau!" ucap Pak Arifin.
Deg!
"Kamu akan bertanya kan? Kenapa Bapak tidak menegur dia atau Bapak tidak melarang mereka?" tanya Pak Arifin dan Farhan hanya mengangguk pasrah.
"Dia adalah laki-laki yang melamar Nabila sejak dulu, sejak mereka SMA. Bapak hanya mengira jika dia main-main, tapi kenyataannya tidak. Yang harus kamu tau, dia pun berjuang untuk pindah ke Bandung. Demi Nabila, demi wanita pertama dan cinta pertama dalam hidupnya. Tapi setelah tau Nabila sudah bertunangan dengan kamu, apa dia mencoba merebut Nabila dari kamu? Tidak!"
__ADS_1
"Dia berkorban.. Dia merelakan cintanya berbahagia dengan pilihan hidupnya, dan itu kamu! Dia menjaga Nabila dari jauh, juga melindungi Nabila dengan semampunya. Dia tidak mau melihat setetes airmata pun jatuh di pipinya.. Tidakkah kamu merasa bahwa cintamu belum ada apa-apanya?"
Tak hanya Farhan, tapi Nabila pun tersentak hingga gelas dalam nampan yang ia bawa pecah. Hatinya hancur, sakit bahkan terluka.
"Bila..!" Farhan mendekati Nabila, namun perempuan itu mundur satu langkah.
"Kenapa Pak? Kenapa Bapak gak pernah cerita?" tanya Nabila dengan lirih.
"Karena Bapak menganggap ucapan anak SMA itu hanya bualan semata. Maafkan Bapak, Bibil.. Sebenernya, sehari setelah ujian Akademi Militernya di umumkan, dia datang kerumah buat ngasih tau kamu. Tapi Bapak menyembunyikan semua itu, karena Bapak gak mau kamu menunggu sebuah kesia-siaan nantinya. Maafkan Bapak, Bil.."
"Allah.. Selama ini Bibil udah salah sangka sama Bang Riki, selama ini Bibil yang menyakiti dia, bukan dia yang menyakiti Bibil.."
"Sayang.. Tolong hargai, Aa.. Aa ini calon suami kamu, jangan sampai hubungan kita hancur hanya karena seseorang di masa lalu.. Selangkah lagi kita menuju pelaminan, sayang.. Ini mungkin ujian untuk kita.." lirih Farhan.
Nabila tidak bisa menjawab, dia langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci diri disana. Hatinya sangat terluka dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Farhan pun berpamitan pulang, dia rasa kali ini harus mengalah. Demi keutuhan hubungannya dengan Nabila.
* * *
"Neng, udah makan siang?" tanya dokter Andra saat dia berkunjung ke kamar rawat inap Aisyah.
"Alhamdulillah.. Sudah Kang, tadi sekalian suapin Ais.. Soalnya Bu Fatimah sama Pak Saepudin harus pulang dulu, kasian Aini gak ada yang kasih makan.." jawab Bu Halimah terkekeh.
"Ibu sama dokter Andra cocok banget, kapan di halalin?" tanya Aisyah yang mulai membaik.
Pipi Bu Halimah memerah seperti tomat rebus, "Anak ini, ya! Sembuhlah dulu.. Nanti jika sudah waktunya, saya pasti melamar Bu Halimah.."
"Hush.. Hush.. Sana kerja! Jangan makan gaji buta," usir Bu Halimah, karena dia sudah tidak tahan dengan getaran dalam hatinya yang hampir meledak.
"Ih ngusir.. Udah sah, akang kerem ya! Dihati akang, selamanya.. Sampai maut memisahkan.."
Dokter Andra pun keluar dari ruangan Aisyah dengan hati yang berbunga. Dia bahkan sudah menyusun rencana untuk berlibur bersama Bu Halimah dan anak-anaknya. Namun, bukankah dalam setiap hubungan selalu ada saja ujiannya?
Postingan dokter Andra di media sosialnya selalu berkaitan dengan Bu Halimah dan hal itu membuat mantan istrinya sangat marah. Dia bahkan sudah menyimpan dendam pada Bu Halimah dan berniat mencelakakannya.
__ADS_1
"Kalo Andra gak bisa balik sama aku, gak ada satu pun orang yang bisa gantiin posisi aku!!!"
Aluna dan Inara sangat bahagia saat tau jika dokter Andra mengajak mereka berlibur bersama. Bahkan Aluna sudah berceloteh pada Mak Anih, sang nenek.
"Mak.. Dede mau main ke pantai sama Papa dokter!" antusias Aluna.
"Wah! Yang bener, de? Mak Anih di ajakin enggak?" tanya Mak Anih.
"Nanti Dede tanya sama Papa dokter ya! Supaya Mak juga bisa ikut, Papa dokter baik Mak.. Dia sayang sama Dede.. Gak kaya Ayah!"
Deg!
Bu Halimah yang baru saja tiba di rumah merasa tersentak saat mendengat ucapan sang anak. Mungkin Aluna memang kehilangan sosok sang Ayah, setelah perceraian mereka berlangsung.
'Maafin Ibu ya, Nak.. Ibu salah..' batin Bu Halimah.
Dia pun menghampiri Aluna dan memeluknya dengan erat. Gadis kecil itu terus berceloteh mengenai liburannya. Mereka akan pergi pekan depan, selain untuk mengajak mereka berlibur, dokter Andra pun ingin memperjelas hubungannya dengan Bu Halimah.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan percakapan mereka, karena Ashila dan Nabila berada di kamar maka Bu Halimah yang membukakan pintu. Dan dia begitu terkejut saat melihat seseorang dari masa lalunya.
"Aku mau ketemu anak-anak.. Aku rindu mereka.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1