
Semua orang bisa berdamai dengan lukanya, tapi tidak semua orang bisa berdamai dengan traumanya. Begitu pun juga dengan Aisyah, kini dia harus berjuang melawan trauma yang ada pada dirinya.
"Alhamdulillah.. Akhirnya kita pulang juga sekarang!" ucap Ashila sambil membereskan barang-barang milik Aisyah.
"Sudah hari ke berapa?" tanya Aisyah.
"Maksudnya?" Ashila menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah hari ke berapa Mas Arya pergi? Rasanya baru kemaren aku ketemu dia di Paskal, eh sekarang Mas Arya ninggalin aku juga disana. Andai aja.."
"Ais..! Jangan berandai-andai.. Kita belajar ikhlas ya!" Nabila memeluk Aisyah dengan erat.
Aisyah menganggukkan kepalanya, "Aku mau ke makam Mas Arya, Bil.. Bisa minta tolong dianterin Bang Riki atau Mas Defri gak?" pinta Aisyah.
"Nanti gue tanya Mas Defri, karena setau gue dia di makamkan di kampung halamannya. Ais.. Kuat ya! Kita lewati semuanya sama-sama," lirih Ashila lalu ikut memeluk kedua sahabatnya itu.
Jika ada ungkapan bahwa lebih baik ditinggalkan namun kita masih bisa lihat senyum diwajahnya, dibandingkan ditinggal pergi karena kematian, itu benar adanya. Aisyah menyesali semua yang telah terjadi antara dirinya dan Arya.
Usai administrasi diselesaikan Nabila, Bu Halimah dan Pak Rachmat pun sudah datang menjemput. Aisyah pun keluar dari Rumah Sakit dengan menggunakan kursi roda. Namun saat melihat kendaraan lain, dia merasa ketakutan. Bayangan nya kembali saat dia tertabrak truk itu, dan Arya pun menyelamatkan hidupnya.
"Enggak.. Enggak.. Mas Arya! Mas Arya! Jangaaannnn...!" teriak Aisyah histeris.
Bu Halimah dan Nabila langsung memeluk Aisyah dengan erat. "Gak apa-apa, Nak.. Ibu disini, istighfar.. Yuk Ibu bantu.."
Tangan Aisyah gemetar parah, hingga Ashila menyimpulkan jika trauma yang dialami sahabatnya itu begitu dalam. Dia segera mengirim pesan pada sang adik yang baru saja lulus sebagai seorang psikologi.
To Naysila : De, kalo sempet mampir ke kosan Teteh. Kayaknya Ais butuh pendampingan kamu!
Singkat namun mudah di pahami. Setelah mendapatkan jawaban dari sang adik, Ashila pun merasa tenang. Kini Aisyah sudah duduk didalam mobil dan di apit oleh Bu Halimah juga Nabila.
"Pelan-pelan ya, Pak!" pinta Ashila dan Pak Rachmat menganggukkan kepalanya.
Sepanjang jalan Aisyah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Bu Halimah, sungguh dia merasa tak sanggup. Rasa takut mendera dalam dadanya dan bayangan-bayangan itu kembali menghantuinya.
Sesampainya di Alunara kost, kedua orang tua Aisyah menyambutnya. Karena mereka baru datang bersama dengan Aini. Dia memeluk erat sang Kakak dan memberikan semangat. Mereka berkumpul di ruang tengah, Aluna dan Inara memghibur Aisyah dengan tingkah konyol kedua anak Bu Halimah tersebut.
"Ais.. Papa gak tenang kalo kamu masih dalam kondisi yang kurang baik seperti ini, sebaiknya kita pulang ke rumah sampe kamu merasa kondisi kamu jauh lebih baik. Biar Papa dan Mama juga bisa tetep memperhatikan kamu dan juga Aini.." ucap Pak Saepudin.
Aisyah menggelengkan kepalanya, "Ais mau disini, Pa.. Ais gak apa-apa kok! Lagian ada Bu Halimah, ada Mak Anih, ada Bibil, ada Acil, ada Aluna sama Inara.. Ais yakin akan cepet pulih.. Cukup do'akan Ais yang terbaik aja ya, Pa, Ma.."
"Tapi Nak, kamu masih tanggung jawab Mama sama Papa.. Selama kamu belum menikah, kamu adalah tanggung jawab kami.. Mama mohon.." pinta Bu Fatimah.
__ADS_1
"Tolong jangan paksa Ais, Ma.. Selama ini Ais lebih banyak menuruti keinginan kalian, izinkan Ais menata hidup Ais kembali disini, sendiri.. Ais mohon, ridhoi setiap langkah yang Ais ambil.." lirih Aisyah.
Pada akhirnya kedua orang tua Aisyah pun mengalah. Karena memang selama ini, Aisyah sudah mengikuti semua keinginan mereka. Bahkan Aisyah harus mengubur mimpinya untuk menjadi seorang designer.
Aisyah meminta untuk beristirahat, maka untuk sementara kamar Bu Halimah menjadi tempatnya. Aisyah mencoba untuk tidak mengingat Arya, namun setiap ia memejamkan mata selalu terbayang wajah laki-laki yang amat dicintainya itu.
"Mas.. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, memberikan segala hal terbaik untukku. Kenangan indah itu, teramat menyakitkan saat ku ingat.. Karena hal itu mengingatkan aku juga, bahwa akhirnya kita tidak bisa bersama.. Terimakasih sudah mengorbankan hidupmu untukku, akan aku pastikan cinta ini abadi selamanya.." lirih Aisyah, dia menangis hingga terlelap dalam tidurnya.
Sore hari, Riki mengajak Defri untuk bertemu dengan Aisyah. Karena ada beberapa hal yang harus mereka sampaikan kepada Aisyah.
"Bang.. Tapi apa harus? Saya hanya takut, nantinya Aisyah semakin merasa bersalah.." ucap Defri membuat Riki menghembuskan nafas beratnya.
"Saya juga bingung.. Tapi ini amanat dari keluarga Arya dan juga Arya sendiri. Ternyata anak itu benar-benar mencintai Aisyah sedalam itu.."
"Gimana kalo kita sampaikan dulu sama orang tua Aisyah, Bang.. Tadi Cila bilang, orang tua Aisyah ada disana.. Setelah itu, terserah bagaimana orang tua Aisyah akan menyampaikannya," Defri memberikan sebuah ide dan Riki menyetujuinya.
Mereka pun akhirnya sampai di Alunara kost, sosok pertama yang Riki lihat adalah Nabila. Perempuan yang sangat amat dicintainya itu tengah melamun di teras, hingga tidak menyadari kehadiran keduanya. Bahkan setelah Riki dan Defri mengucap salam sebanyak dua kali, Nabila belum juga sadar dari lamunannya.
"Astagfirulloh si Bibil! Ada tamu malah ngelamun!" omel Ashila, namun Nabila pun tak merespon.
"Biarkan saja.." cegah Riki, saat Ashila akan menegurnya.
Defri dan Riki pun masuk kedalam rumah, mereka menyampaikan semua amanat dari keluarga Arya. Termasuk dengan sebuah ruko yang Arya beli dengan uangnya sendiri dan diatas namakan untuk Aisyah.
"Kami hanya menyampaikan, Pak. Karena memang sejak lama, sejak kami dinas di Surabaya, Arya sudah menyiapkan semua ini untuk Aisyah. Kendati pun perbedaan keduanya begitu besar, tapi cinta Arya terhadap Aisyah itu tulus.." ucap Riki sambil menyerahkan surat-surat yang dititipkan padanya.
"Astagfirullah.. Yaa Allah.." lirih Bu Fatimah yang tidak tau harus menjawab apa.
"Saya sudah lama bersama-sama dengan Arya, bahkan dari masa pendidikan pun kami bersama-sama. Arya sangat mencintai Aisyah, bahkan dia pernah mengucapkan niatnya pada saya, bahwa dia akan mencari hidayahnya sendiri untuk bisa menjadi imam bagi Aisyah.. Dia pernah mengatakan, akan mewujudkan semua impian Aisyah.." lirih Defri.
"Allah.. Arya.." lirih Bu Halimah. "Begini saja, semua ini gak bisa kita langsung kasih ke Aisyah. Bagaimanapun saat ini kondisi Aisyah belum stabil, kita gak mau terjadi hal-hal lain kedepannya. Untuk sementara surat-surat ini kalian saja yang simpan, setelah kondisi Aisyah membaik baru kalian berikan semua ini sama dia.."
Riki dan Defri kompak menggelengkan kepalanya, "Saya harus tugas ke Aceh selama tiga bulan, begitu pun Bang Riki yang akan sibuk dengan tugas-tugasnya. Jadi rasanya kurang tepat jika kami yang menyimpannya.."
"Kalo gitu, Ibu aja yang simpan. Ibu disini sebagai penengah bukan? Suatu saat nanti, Ibu bisa berikan semua itu pada Aisyah," usul Riki dan diangguki oleh kedua orang tua Aisyah.
"Benar, Bu Halimah.. Sebaiknya Ibu saja yang menyimpan, karena nantinya Ibu yang akan lebih banyak mendampingi Aisyah dibandingkan dengan kami," ucap Pak Saepudin dan Bu Halimah pun menyetujuinya.
Usai berbincang, Ashila mengajak Defri ke dapur untuk membuat camilan. Sedangkan Riki menghampiri Nabila yang masih betah dalam lamunannya.
"Ila.." panggil Riki, anehnya Nabila langsung menoleh.
__ADS_1
"Abang!" kaget Nabila. "Sejak kapan Abang disitu?"
"Sudah hampir dua jam Abang disini dan kamu baru menyadarinya? Terlalu emang ya kamu ini!" ucap Riki sambil mengacak kepala Nabila.
"Hah? Boong ah! Aku dari tadi disini, kok!" ucap Nabila mengelak.
"Iya kamu memang disini sejak tadi. Tapi pikiranmu? Hatimu? Apa ada hal yang bikin kamu gak nyaman?" tanya Riki dan Nabila menggelengkan kepalanya.
"Abang tau.. Kamu ini pandai sekali menyembunyikan perasaan, Ila.. Tapi kamu lupa, Bang Iki kamu ini akan selalu tau apa yang kamu rasakan!" Riki terkekeh, sedangkan Nabila sudah mulai berkaca-kaca.
"Maafin Ila ya, Bang! Ila baru tau kalo..."
"Gak usah marah sama Bapak, Ila.. Lagipula semuanya salah Abang.. Abang yang gak pernah kasih kamu kabar sama sekali, karena memang Abang selalu sibuk.."
Hening..
"Ila.. Abang tau apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi jangan pernah berlarut dalam kecewa ya.. Lebih baik, sekarang kamu menata hati dan menata hidup kamu lebih dulu. Minta pendapat sama kedua orang tuamu, jangan lupa libatkan Allah dalam segala keputusan yang akan kamu ambil.."
"Abang.."
"Dia menemui Abang, Ila.. Dia menyadari kesalahannya dan Abang tau bahwa dia sangat mencintai kamu.. Istikharah yang baik dan benar, maka kamu akan mendapatkan petunjuk itu.."
"Sejak dulu Abang bilang kan? Abang gak akan pernah merebut kamu dari dia, kecuali memang takdir Allah yang menyatukan kita. Ingatlah selalu pesan Abang! Bahagiakan dirimu dulu, baru kamu bisa bahagiakan orang lain.. Jangan mengambil keputusan disaat emosi, apalagi hubungan kalian sudah melibatkan keluarga, paham kan?" tanya Riki dan Nabila menganggukkan kepalanya.
Di kamar Bu Halimah, Aisyah baru saja membuka matanya. Dia tersentak dengan mimpi yang baru saja ia alami. "Mas Arya.. Haruskah aku menata kembali hidupku tanpamu? Tapi itu rasanya sulit sekali, Mas.." Aisyah kembali terisak.
"Nak.. Kamu kenapa?" tanya Bu Halimah yang baru saja masuk sambil membawakan makanan untuk Aisyah.
"Bu.. Ais mimpi.. Mas Arya peluk Ais, dia bilang Ais harus bangkit dan menata hidup Ais kembali.." Aisyah menangis tersedu.
"Nak.. Mimpi hanyalah bunga tidur.. Tapi menurut Ibu, perlahan kamu memang harus bangkit.. Arya pun gak akan mau liat kamu kaya gini.. Bismillah.. Perlahan.. Kamu harus menata kembali hidup kamu, ya?"
Aisyah tak menjawab, namun yang ada dalam benaknya hanya kata 'Bisakah?'
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤