
Suasana riuh orang-orang yang tengah berlalu lalang tidak membuat Nabila terusik. Besok adalah pelaksanaan hari pernikahan Aisyah. Mereka semua sudah berkumpul dirumah Aisyah. Termasuk orang tua Nabila dan Ashila, juga Bu Halimah dan dokter Andra yang sengaja mengambil cuti karena tak ada pasien mendesak.
"Woy! Ngelamun mulu, anak gadis pamali tau ngelamun disini!" dokter Andra mengejutkan Nabila.
"Issshhh! Dokter Andra ketularan Acil nih isengnya!" kesal Nabila karena memang sangat terkejut. Karena pikirannya tengah tertuju pada calon suaminya yang jauh disana.
Hampir sebulan berlalu, hanya 3x Riki baru menghubungi Nabila. Dia pun harus mengerti, apalagi kini Riki menjabat menjadi Komandan Kompi. Yang artinya banyak hal yang menjadi tanggung jawab Riki saat ini.
"Kangen dia ya?" tanya dokter Andra dan Nabila hanya bisa menundukkan kepalanya. "Sabar.. Ini pilihan kamu, Bila. Terimalah semua pedih karena kerinduan, Insya Allah nanti akan berbuah manis.."
"Iya dok.." lirih Nabila menahan tangis.
"Sst! Dah jangan nangis! Besok hari bahagia sahabat kamu, masa sedih begitu. Sana gabung sama yang lain, mereka lagi perawatan lho!" bisik dokter Andra dan Nabila pun menganggukkan kepalanya.
Dengan langkah gontai, Nabila menuju kamar Aisyah. Sahabat baiknya itu sedang dipakaikan henna ditangannya. Begitu pun Ashila yang tengah dipakaikan masker di wajahnya.
"Sini Bil.." Ashila bicara tak jelas, karena takut maskernya pecah.
"Ngomong apaan sih lu," Nabila terkekeh.
"Kamu dari mana Bil? Dari tadi juga ditungguin!" omel Aisyah.
"Ishh.. Heran deh, penganten hobi nya marah-marah muluk! Dah kayak emak tau gak!" Nabila merangkul bahu Aisyah.
"Abis lu sih.. Situ rebahan, nanti sama Teh Aning dipasangin masker sama luluran!" titah Aisyah dan Nabila menganggukkan kepalanya.
"Masker aja deh, Ais.. Kagak usah luluran, gue pan belum jadi calon manten!" ucap Nabila yang tersirat akan sebuah kesedihan.
"Gak usah banyak demo deh!" omel Aisyah lagi. "Tinggal rebahan doang apa susahnya!"
Akhirnya Nabila terkekeh dan lebih memilih menurut, daripada dia mendengar celotehan Aisyah. Seluruh tubuh Nabila mulai di lulur, setelah itu dia baru dipakaikan masker di wajahnya. Karena terlalu larut dalam pikirannya, hingga akhirnya dia tertidur lelap.
Ashila mengelus kepala Nabila dengan lembut, "Insya Allah.. Kesabaran lu dalam menanti Bang Riki akan berbuah manis nantinya, Bil. Kita bakalan selalu ada buat dampingin lu."
"Cil.. Gue melow! Jangan ngomong gitu dong.. Mulai besok, gue gak akan bisa 24/7 bareng kalian," lirih Aisyah.
"Ais.. Kita bakalan ngelewati fase itu, mau gak mau dan suka gak suka.. Insya Allah, ini yang terbaik buat kita. Saat kita udah punya pasangan masing-masing, bukan berarti kita gak bisa sama-sama lagi. Asal satu hal, komunikasi kita gak boleh keputus.."
Aisyah dan Ashila berpelukan, hingga Nabila pun terbangun dan.. "Tumben lu bijak, Cil!"
__ADS_1
"Astagfirullah.." Ashila dan Aisyah tersentak kaget. "Parah lu ya, Bil! Untung jantung si Ais kagak copot, bisa berabe ceritanya entar!"
Nabila terkekeh dan memeluk kedua sahabatnya itu, "Maaf deh, maaf.. Kita harus berbahagia ya.. Gue juga turut bahagia atas pernikahan kalian.."
"Gue masih dua bulan lagi, Bibil!" omel Ashila. "Kita saling do'akan yang terbaik ya!"
Bu Halimah yang mengantarkan makanan, mengusap airmata haru nya. "Kalian pelukan kaya teletubies gak ajak-ajak Ibu!"
Ketiga gadis itu merentangkan tangannya, mereka saling berpelukan dengan erat. Bu Halimah mengecup kening ketiga gadis itu satu persatu.
"Insya Allah.. Sebentar lagi kalian semua akan memasuki babak baru dalam kehidupan kalian, kehidupan yang sesungguhnya. Apapun yang kalian alami, simpanlah semua nya dengan baik. Jagalah aib suami kalian, kalo memang kalian gak sanggup memendam semuanya sendiri, bicarakan baik-baik dengan suami kalian. Karena dalam rumah tangga.. Komunikasi adalah kunci yang paling utama.."
Mereka menganggukkan kepalanya, kebersamaan selama beberapa tahun terakhir mengukir banyak kenangan. Alunara Kost akan tetap menjadi tempat terbaik bagi mereka, sebuah ikatan yang melebihi keluarga.
* * *
Pengajian pra nikah Aisyah dan Bagaskara pun berlangsung dengan khidmat. Tangis haru menjadi penghias suasana sore hari ini. Apalagi saat Aisyah meminta restu pada kedua orang tuanya.
"Yaa Allah.. Entar gue nangis begini gak ya!" lirih Ashila.
"Pasti lah! Namanya juga minta restu, Cil. Gimana coba kalo nanti tiba-tiba Papa gak ngerestuin elu," celetuk Nabila disela tangisannya.
"Ishhh.. Amit-amit dah! Elu kalo ngomong suka sekate-kate deh Bil!" omel Ashila membuat semua orang menoleh.
"Aww.. Sakit Mak Haji! Main jewer aja, malu-maluin Acil aja dah! Untung kaga ada calon suami," omel Ashila sambil memegangi telinganya.
"Au ah.."
Usai pengajian, mereka menikmati hidangan yang sudah disajikan. Semua keluarga berkumpul, mereka membahas semua persiapan pernikahan Aisyah dan Bagaskara juga pernikahan Ashila dan Defri. Hanya Nabila yang merasa sepi ditengah keramaian, dia menoleh pada semua orang yang sangat antusias membahas pernikahan. Himgga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan menghirup udara malam yang cukup cerah.
"Allah.. Aku merindukannya.. Tolong lindungi dia.. Sehatkanlah lahir dan batinnya.."
Tanpa sadar, sebulir air mata menetes begitu saja. Kerinduan yang mendalam, rasa ingin bertemu dan memeluk sang calon suami begitu menggebu. Hanya satu kabar yang Nabila butuhkan. Kabar bahwa Riki baik-baik saja.
"Nak.." panggil Bu Halimah membuat Nabila menoleh.
"Ibu.. Kok disini? Didalem lagi rame lho.."
"Ibu cari kamu dari tadi, Nak! Ibu yang harusnya tanya, kamu ngapain disini sendirian?" Bu Halimah merangkul bahu Nabila.
__ADS_1
"Cari angin aja, Bu! Gerah!" jawab Nabila asal.
"Dingin lho, Bil.. Anginnya kenceng, tambah ini kan sekitar pegunungan. Masa iya kamu kegerahan. Jangan bohong dong sama Ibu.."
Tangis Nabila tak bisa terbendung, dikejauhan semua orang menyaksikan itu. Mereka tak berani mendekat, takut Nabila merasa tak nyaman. Hingga akhirnya Bu Halimah yang menghampiri Nabila atas permintaan kedua orang tuanya.
"Kamu rindu Abang ya?" tanya Bu Halimah dan Nabila menganggukkan kepalanya.
"Nak.. Lihat ibu!" Nabila pun mendongakkan kepalanya, Bu Halimah menghapus air mata di pipi gadis itu.
"Seperti apa rasanya menunggu? Seperti apa rasanya menanti?" tanya Bu Halimah, sedang Nabila hanya terdiam. "Apakah duduk di kursi seperti yang kamu lakukan tadi? Melihat orang berlalu lalang. Atau.. Sambil liat ponsel, berharap sebuah notifikasi masuk?"
Nabila menundukkan kepalanya dan Bu Halimah membawanya kedalam pelukan. Karena Bu Halimah tau, hanya itu yang Nabila butuhkan.
"Menanti gak kaya gitu, Nak.. Menanti adalah hidup sambil tetap mencintai orang yang sedang berada jauh disana. Menunggu adalah memiliki sabar setiap hari yang berlalu. Berserah diri sepenuhnya sama apapun yang sudah ditentukan Allah. Percaya bahwa di ujung air mata akan ada senyuman bahagia. Menanti adalah menaati Allah sambil mematahkan hati sendiri.."
"Mungkin menanti itu sama dengan kita gak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tau bahwa qadarmu sudah Allah tulis di Lauhul Mahfudz bahkan sebelum kamu lahir. Kamu hanya perlu percaya ditengah rasa sakit karena rindu dan air mata, bahwa Allah menjanjikan akhir yang baik bagi mereka yang taat. Dan ketika Allah berjanji, Allah gak akan pernah mengingkari janjinya.."
"Yang harus kamu lakukan.. Hanyalah berdo'a dan percaya atas ketetapan Allah.. Bahwa dia yang ditakdirkan buat kamu, akan kembali dalam keadaan yang baik.."
Nabila pun menganggukkan kepalanya sambil menghapus airmata yang mengalir dipipinya. Saat dia menoleh, kedua sahabatnya itu tengah menatapnya dengan linangan air mata.
"Maaf ya, kita gak peka sama perasaan lu, Bil.." lirih Aisyah.
"Enggak Ais, gue yang minta maaf udah ngerusak suasana bahagia lu. Gue cuman.. Rindu.."
"Kita ngerti kok, Bil!" Ashila menghampiri Nabila dan memeluknya. "Percayalah.. Bang Riki baik-baik aja! Nanti gue marahin dia kalo ada ngehubungin ke elu.. Seenak jidat aja kaga ngabarin!"
"Hei anak muda.. Ingat! Dulu calon suamimu tiga bulan tak ada kabar.."
"Ishhh.. Dasar dokter bucin! Pake di omongin segala.."
Semoga penantian Nabila akan berakhir dengan.. Bahagia. Semoga yak! 😏
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤