Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Kebahagiaan Aisyah


__ADS_3

Cinta. Kata yang penuh makna dan penuh arti. Manusia tidak akan bisa mengendalikannya hanya dengan hati, tapi juga dengan akal. Bagaskara dan Aisyah tak ubahnya dua orang tersangka yang tengah di interogasi.


"Ais kan udah jelasin semuanya, kenapa masih pada liatin kaya gitu!" kesal Aisyah.


"Cieee.. Cieeee.. Pipinya merona merah jambu monyettt.." goda Ashila.


"Apaan sih, Cil! Elu tuh monyetnya!" Aisyah mencubit lengan sahabat baiknya itu.


"Udah.. Udah..! Malah pada ribut! Pokoknya Ibu gak mau tau, kalian berdua gak boleh deket-deketan dulu! Ibu tuh takut terjadi hal-hal yang kalian inginkan tau!"


"Neng! Hal-hal yang tidak diinginkan!" bantah dokter Andra.


"Ihhh Akang! Hal-hal yang mereka inginkan lah..!" sanggah Bu Halimah.


"Oh iya! Buat kita ya tidak diinginkan, mereka mah ingin-ingin aja.." goda dokter Andra.


Nabila dan Riki hanya terkekeh melihat Bagaskara dan Aisyah tak ubah bahan godaan dokter Andra, Ashila dan Bu Halimah.


"Heii kalian berdua! Jangan cekikikan berduaan ya, ntar yang ketiganya syaithooonn..!"


"Kan kamu Cil, syaithooon nya!" ledek Aisyah.


Mereka semua pun tertawa melihat Ashila yang mengerucutkan bibirnya. Bagaskara sendiri merasa terkesima saat melihat tawa Aisyah untuk pertama kalinya.


* * *


Persiapan pernikahan Bu Halimah dan dokter Andra sudah tersusun rapi. Awalnya memang dokter Andra hanya akan melaksanakan lamaran secara resmi terlebih dahulu. Tapi dia memutuskan untuk langsung melaksanakan pernikahan. Itu pun sudah atas persetujuan Mak Anih sebagai Ibu Bu Halimah.


"Mak Hajiiii..!" teriak Ashila membuat Bu Halimah menutup telinganya.


"Apaan sih, Acil! Ibu belum budeg kali, gak usah teriak-teriak begitu!" omel Bu Halimah.


"Hehehee.. Pinjem KTP sama KK dong!" pinta Ashila.


"Hah? Buat apa kamu pinjem KTP sama KK ibu?" tanya Bu Halimah keheranan.


"Buat pinjaman online!" ucap Ashila dengan sebal. "Buat surat pernyataan sebagai wali! Acil mau ngelamar kerja ini, cuman harus ada persetujuan wali!"


"Ishh.. Bilang dong! Yaudah tunggu sebentar!"


Ashila pun mengirim pesan grup panitia pernikahan Bu Halimah.


'Mission Completed!'


Berikutnya dia meminta tanda tangan Bu Halimah diatas kertas kosong, dengan dalih printer dikamarnya rusak. Makanya dia akan print surat pernyataan itu di rental komputer.


Misi berikutnya akan dilakukan oleh Nabila dan juga Riki. Mereka mengajak Bu Halimah untuk pergi ke butik milik sahabat baik Nabila.


"Ibuuu.. Mau temenin Bibil gak?" tanya Nabila sambil bermanja pada sang Ibu kost.


"Kemana Nak? Ibu masih riweuh bikin kue ini!" jawab Bu Halimah.


"Ke butik temen Bibil.. Kita mau pilihin kebaya pengantin buat Kakaknya Bang Riki! Tapi bingung.. Soalnya Ibu Bang Riki gak bisa anter.." lirih Nabila.


"Yaudah tunggu kue mateng yak! Lagian Riki nya juga belom dateng kan?"


"Oke Bu! Bang Riki tadi masih ada kerjaan.. Nanti siangan juga sih paling kesini nya, soalnya waktu kita terbatas. Bang Riki kan gak bisa sembarangan keluar tanpa izin.."


Cukup lama mereka menunggu, karena Riki bisa keluar pukul 3 sore. Riki datang dengan tergesa-gesa, apalagi cuaca mulai mendung. Dia pun langsung mengajak Bu Halimah dan Nabila berangkat.


"Buu.. Maaf! Saya terlambat!" ucap Riki dengan nafas terengah-engah. "Kita berangkat sekarang ya!"


"Haisshh.. Gak minum dulu, Nak?" tanya Bu Halimah.


"Bibil bawa botol minum kok Bu, buat Abang!" Nabila yang menjawab.


"Duh.. Ibu berasa jadi kambing congek nih! Akang mana akangg.." goda Bu Halimah.


Sepanjang perjalanan, Nabila terus menggali kebaya seperti apa yang Bu Halimah inginkan. Karena dia sendiri pun bingung.


"Ibu sih kalo kebaya, sukanya warna yang manis gitu kayak warna peach. Pernikahan kan selalu identik dengan putih. Tapi itu kan balik lagi ke selera calon istri Kakaknya Riki lah!"

__ADS_1


Sesampainya di butik, Nabila pun langsung melihat-lihat kebaya berwarna peach. Sedangkan Bu Halimah melihat-lihat gaun pernikahan yang sesuai seleranya.


"Ini lucu, Bil!" tunjuk Bu Halimah pada gaun berwarna hijau mint.


"Ishh Ibu.. Lucu yang peach atau hijau mint jadinya?" rengek Nabila.


"Dua-duanya sih lucu! Tapi kalo Ibu mah, nikah nanti mau pake yang hijau mint aja!" ucap Bu Halimah sambil terkekeh.


"Yaudah coba Ibu cobain dulu deh! Biar pas apa enggak gitu!" titah Nabila.


"Laaahh.. Kok Ibu? Kan Kakaknya Riki yang mo kawin.."


"Badan nya kebetulan sama kaya Ibu," jawab Riki yang melihat Nabila kesulitan.


"Ishh kalian ini, nyusahin Ibu deh!" omel Bu Halimah namun tetap mencoba gaun itu.


Riki pun melihat kebaya berwarna putih disebelah Nabila berdiri. Dia menghampiri Nabila dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Abang dulu pernah bermimpi, melangsungkan pernikahan sama kamu, Ila.. Bernuansa putih dan hijau army.. Tapi rasanya.. Mustahil.."


"Abang.." lirih Nabila.


"Boleh Abang minta sesuatu?" tanya Riki dan Nabila pun mendongak. "Cobalah kebaya putih ini.. Abang mau foto kamu pakai kebaya itu, sebagai penyemangat saat Abang satgas nanti!"


"Abang mau satgas?" Nabila membulatkan matanya.


"Setelah Bu Halimah dan dokter Andra menikah, Insya Allah.."


"Kemana?" tanya Nabila dengan lirih. "Berapa lama?"


"Afrika. Sebentar kok! Hanya 13 bulan.."


"Apa?!" Nabila tersentak kaget.


"Cobalah kebaya ini, anggap aja sebagai permintaan terakhir Abang."


"Abang! Ila gak suka Abang ngomong kaya gitu," lirih Nabila.


Bu Halimah dan Nabila keluar bersamaan. Riki sangat terpesona melihat Nabila dalam balutan kebaya putih. Hal yang sangat ia impikan dulu.


"Foto dulu, ya! Biar calon Kakak ipar saya bisa milih!" ucap Riki sambil memotret Bu Halimah dan Nabila beberapa kali.


"Mbak! Tolong fotokan saya!" pinta Riki pada pegawai butik.


Dia berdampingan bersama Nabila, hanya sebuah foto namun bisa membuat Riki sangat amat bahagia. Hanya sebuah potret yang akan menyimpan kenangan selamanya.


'Misi selesai!'


Kini giliran Aisyah, dia harus menemani dokter Andra mendaftarkan pernikahannya. Namun sayangnya dokter Andra mendapatkan panggilan operasi mendadak.


"Aisyah.."


"Lho, Mas Bagas? Kok disini?" tanya Aisyah keheranan.


"Saya diminta dokter Andra buat menemani kamu mendaftarkan pernikahannya!" jawab Bagaskara.


"Ishh.. Kebiasaan banget deh!" gumam Aisyah.


Mereka pun berjalan beriringan menuju Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Tak lupa berkas-berkas milik Bu Halimah dan juga dokter Andra.


"Assalamu'alaikum! Pak kami mau mendaftarkan pernikahan!" ucap Bagaskara membuat Aisyah menoleh.


"Walaikumsalam! Boleh.. Boleh.. Simpan dulu disini berkasnya ya! Sekarang didalam kebetulan sedang ada bimbingan pranikah. Kalian masuklah lebih dulu!" titah pegawai KUA.


"Tapi Pak.." ucapan Bagaskara terpotong.


"Ikut aja dulu bimbingan pranikah, nanti berkas kita urus setelah selesai.."


Wajah Aisyah terasa panas, begitu pun Bagaskara yang tiba-tiba merasa kegerahan dan kikuk sendiri. Apalagi banyak pembahasan dalam bimbingan pranikah. Termasuk tugas dan kewajiban suami istri. Usai bimbingan selesai, Aisyah dan Bagaskara kembali ketempat pendaftaran tadi.


"Ini berkas kalian? Kok berbeda?" tanya pegawai KUA.

__ADS_1


"Jelas beda lah, Pak! Yang mau nikah itu Ibu saya, bukan saya!" jawab Aisyah ketus.


"Yaa Allah.. Maaf.. Maaf Nak!" ucap sang pegawai. "Tapi nggak apa-apa, siapa tau berikutnya kalian berdua yang menikah!"


Entah kenapa baik Aisyah maupun Bagaskara merasakan jika jantung keduanya berdegup sangat kencang.


'Tugas selesai! Izin antar Ais kerumah orang tuanya!'


Aisyah memang akan kerumah orangtuanya untuk memberitahu rencana pernikahan Bu Halimah dan dokter Andra.


"Aisyah.."


"Iya Mas? Kenapa?" tanya Aisyah. Kini mereka dilanda gugup, padahal AC mobil menyala.


"Apa kamu sudah bisa membuka hati?"


Aisyah menoleh dan menatap Bagaskara, "Saya belum pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan saya belum pernah dekat dengan perempuan manapun. Tapi saya akui, saya jatuh hati sama kamu. Walaupun dimata kamu, saya adalah Arya."


Hening.. Aisyah menunduk dan meremas jarinya.


"Andai kamu bisa membuka hati.. Saya mau mengajukan khitbah.."


Deg!


"Mas Bagas.."


"Saya mau menjalani hubungan yang serius, Aisyah. Umur saya sudah cukup untuk menikah. Dan hanya kamu perempuan yang membuat saya seperti ini.."


"Apa kamu mau membuka hati kamu untuk saya?" tanya Bagaskara dengan serius.


"I-insya Allah, Mas.." jawab Aisyah dengan lirih.


'Maafin aku Mas Arya..'


"Alhamdulillah.. Jadi.. Boleh saya sekalian bertemu orang tua kamu untuk membicarakan khitbah?" Aisyah menganggukkan kepalanya.


Sekitar 45 menit perjalanan, mereka pun sampai dikediaman Aisyah. Bagaskara cukup terkejut, apalagi saat tau jika orang tua Aisyah seorang Polisi juga.


"Om Saep.."


"Bagaskara!"


Pak Saepudin menyambut kedatangan putra sahabatnya itu dengan pelukan hangat. Hingga Aisyah mengerenyitkan dahinya.


"Papa kenal sama Mas Bagas?" tanya Aisyah.


"Tentu saja, Ais.. Bagas ini yang mau Papa jodohkan sama kamu, Nak!"


Aisyah membulatkan matanya tak percaya, 'Allah.. Ternyata Engkau sudah menyiapkan skenario terbaik untuk hidupku..' batin Aisyah.


Setelah percakapan yang cukup lama. Bagaskara pun menyampaikan niat baiknya untuk mengkhitbah Aisyah.


"Om.. Maaf kalo Bagas lancang.. Tapi.. Bagas mau mengajukan khitbah untuk Aisyah.. Jika Om merestui, Insya Allah setelah acara pernikahan Bu Halimah dan dokter Andra saya akan membawa Mama dan Papa.."


"Masya Allah.. Om merestui sepenuhnya demi kebahagiaan Aisyah.. Tapi semuanya tetap ditangan Aisyah.." Pak Saepudin menatap putri pertamanya itu.


"Insya Allah, Pa. Ais sudah setuju sama Mas Bagas.."


Pak Saepudin sungguh bahagia, dia langsung memeluk Aisyah dengan erat. Bahkan Bagaskara pun tak mampu menahan rasa haru.


'Makasih Mas.. Aku bahagia..' ucap Aisyah tanpa suara.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2